
Sebelum membaca Vie mohon klik tombol Like jangan lupa ya, terus di vote juga, Rate bintang lima juga ya, apalagi mau kasih koin seikhlasnya boleh banget...
Happy Reading 😘😘
****
Pagi itu setelah sarapan Ivan pamit berangkat kerja dengan Rani. Sementara mami Devi akan tinggal untuk menjaga bayi Cella karena kondisi mental Rani yang belum stabil setelah kehilangan bayi Marcello.
"Kak gue ikut ya ke kampus?" Anto langsung menghampiri Ivan.
"Mau gue bilang enggak boleh juga elo tetep masuk." sahut Ivan lalu Anto tertawa saat masuk ke dalam mobil Pajero milik Ivan.
"Anto, Lo tau psikiater terkenal di daerah sini?" tanya Ivan pada Anto saat mengantar Anto ke kampus.
"Sikikimuter, apaan sih kak?" tanya Anto.
"Psikiater Anto, bukan sikikimuter, nih
psikiater itu dokter spesialis yang mendalami ilmu kesehatan jiwa dan perilaku, jadi dia tuh tugasnya mengobati dan mencegah gangguan emosional, kejiwaan, maupun perilaku, tuh dokter mampu mendiagnosis dan menangani gangguan mental pada pasiennya." ucap Ivan menjelaskan.
"Wah parah Lo kak, berarti maksud Lo mau bilang kak Rani itu gila ya kaga waras gitu?" ucap Anto agak kesal mendengar kakaknya di bilang gila.
"Hadeh, bukan maksud gue bilang Rani itu gila, tapi menolong Rani supaya ikhlas sama kematian Marcello, dan dia bisa dengan tenang mengurusi Marcella dengan baik, apalagi Caca bilang Rani kemungkinan terkena sindrom baby blues, makanya gue mau cari dokter ahli kejiwaan." sahut Ivan sambil fokus menyetir.
"Gue makin gak ngerti tadi elo bilang cari sikiater apa si kikimuter itulah, nah sekarang kenapa elo bilang dokter ahli kejiwaan sih, jadi elo mau cari siapa?" tanya Anto mulai kesal.
"Au amat lah, tambah pusing gue malah ngomong sama elo Anto!" pekik Ivan.
Setelah sampai di depan kampus Anto, Ivan ikut turun dan memarkirkan mobilnya.
"Lo mau kemana kak, nganter gue sampai depan pintu terus gue salim gitu sama elo kayak anak yang lagi di anter sekolah sama ayahnya hahaha?" tanya Anto sambil tertawa.
"Ih pede banget sih Lo, gue mau ambil duit buat beli bensin tuh di ATM situ." Ivan menunjuk ruang ATM di kampus Anto.
"Oh begitu, ayo gue anterin." sahut Anto.
"Lo mau ngapain nganterin gue ke ATM, nah gue tau nih, Lo mau minta duit kan sama gue?" Ivan sudah menebak apa yang diinginkan Anto yang langsung meringis menggaruk kepalanya.
"Udah gue tebak dari muka Lo Nto." ucap Ivan tertawa.
BRUG... Ivan tak sengaja menabrak seorang perempuan saat berbalik menuju ruang ATM.
"Maaf ya aku gak sengaja." ucap perempuan itu.
"Lolita, elo itu Lolita kan?" tanya Ivan pada perempuan itu.
__ADS_1
"Siapa ya?" tanyanya.
"Gue Ivan temen Lo waktu SMA, inget gak?" tanya Ivan.
Perempuan bernama Lolita itu mengamati Ivan dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Oh iya aku inget elo temennya Fahmi kan? yang maaf udah meninggal itu?" tanya Lolita.
"Iya bener, apa kabar Lo ?" tanya Ivan.
"Puji Tuhan kabarku baik, kamu sendiri apa kabar?" tanya Lolita.
"Baik Alhamdulillah, eh sekarang kerja dimana?" tanya Ivan.
"Oh aku dokter Van." ucap Lolita.
"Wuih keren gak nyangka bukannya dulu elo ada di kelas paling **** ya di sekolah." ucap Ivan.
"Hahaha iya kamu masih inget aja, tapi aku berusaha lho supaya makin pinter dan tunjukkin ke orang-orang kayak kamu yang suka ngeremehin aku waktu sekolah kalau aku bisa jadi dokter." sahut Lolita dengan wajah bangga.
"Idih kata siapa gue suka ngeremehin elo, enggak kok. Oh iya lho dokter kandungan ya apa dokter anak nih?" tanya Ivan yang menepis tangan Anto yang sedari tadi menarik-narik bagian belakang kemejanya.
"Aku dokter spesialis kejiwaan Van." sahut Lolita.
"Apaan sih Nto?" Ivan membentak Anto.
"Gue aja belum ambil ATM." sahut Ivan mulai kesal.
"Ya jangan kak bisa di penjara Lo ambil ATM lagian juga berat." sahut Anto dengan santainya.
"Ih tutup botol bekas dasar Lo ya, duit maksud gue duit, eh bentar Lolita gue boleh minta kartu nama elo gak, gue lagi butuh dokter kejiwaan alias psikiater nih?" pinta Ivan pada Lolita.
"Buat Lo soal apa nih Lo sampe butuh psikiater?" tanya Lolita.
"Biasa masalah sama pasangan gue." Ivan berbicara sambil memandang Anto yang terus menarik kemejanya.
"Oh iya boleh, bentar nih." Lolita mencari dompetnya dan mengambil satu kartu nama dari sana lalu memberikan nya pada Ivan.
"Makasih ya Loli." ucap Ivan.
"Iya sama-sama, aku permisi duluan ya." ucap Lolita lalu pamit dari hadapan Ivan.
"Gak nyangka ih si Ivan bisa punya pasangan cowok ckckckckc." gumam Lolita saat meninggalkan Ivan.
"Anto ih nyebelin banget sih nih kaleng sarden." Ivan lalu masuk ke ruang ATM untuk menarik tunai sejumlah uang.
__ADS_1
"Nah gitu dong kakak ipar terbaik gue, makasih ya kak." Anto langsung pergi menuju ke dalam kampusnya setelah mendapat dua lembar uang kertas ratusan ribu dari Ivan.
"Dasar bocah semprul." Ivan mengutuk Anto saat masuk ke dalam mobilnya lalu menyalakan mesin mobilnya dan melaju menuju kantornya.
***
"Non Caca ini susunya." ucap Mbok Nah menyerahkan segelas susu untuk ibu hamil rasa coklat.
"Makasih ya mbok." ucap Caca.
"Non nanti jadi ke rumah papa non?" tanya mbok Nah.
"Tunggu Rendi pulang mbok, soalnya dia maunya dia sendiri yang anter aku." sahut Caca.
"Mbok Nah mau buat semur ayam kampung dulu ya buat nyonya Maya." ucap Mbok Nah.
"Emang mama Maya mau kemari mbok?" tanya Caca.
"Lah tadi non kan bilangnya mau kerumah papa Adi sama mama Maya jadi mbok Nah mau nitip gitu, nyonya Maya kan baik banget sama mbok waktu mbok operasi usus buntu nyonya Maya yang bayarin." ucap Mbok Nah.
"Ih gimana sih, Caca tuh maunya ke rumah papa Barata mbok bukan papa Adi." sahut Caca.
"Oalah mbok yang jelas toh non, kalau mau ke rumah tuan Barata bukan tuan Adi." ucap Mbok Nah.
"Tapi mbok, semur ayam kampung kayaknya enak deh." ucap Caca.
"Beres non, mbok beli ayam kampung dulu ya ke pasar semoga masih ada, daripada ngiler anak non nanti." sahut mbok Nah lalu bergegas menuju pasar.
****
Bersambung...
Mohon maaf jika masih ada typo.
Dear Readers tersayang mampir juga ke novel ku lainnya ya
- Pocong Tampan
- 9 Lives
- Gue Bukan Player
Jangan lupa di like, rate bintang lima dan vote yak...
HAPPY IED MUBARAK BUAT YANG MERAYAKAN, SELAMAT IDUL FITRI 1441 H
__ADS_1
MOHON MAAF LAHIR BATIN
Vie love you all 😘😘😘