Kakakku Cinta Pertamaku

Kakakku Cinta Pertamaku
Ego Papa Adi


__ADS_3

Sebelum membaca Vie mohon klik tombol Like jangan lupa ya, terus di vote juga, Rate bintang lima juga ya, apalagi mau kasih koin seikhlasnya boleh banget...


Happy Reading 😘😘


****


Setelah kejadian reka ulang adegan kemarin Caca malah menghindari Rendi saat dirumah. Caca masih merasa ragu dengan perasaanya namun kejadian kemarin itu juga membuat hatinya senang.


"Pah, Caca boleh bicara?"


Caca masuk keruang kerja ayahnya di malam itu sebelum dia pergi tidur.


"Masuk Ca, sini mau ngomong apa?"


Papa Adi melepaskan kaca mata baca dan menutup laptop di hadapannya.


"Sebenarnya Caca sama Rendi itu adik kakak bukan sih pa?" Tanya Caca agak ragu takut juga dia jika papanya itu marah.


"Hmmm... ini yang papa takutin pertanyaan nya." gumam papa.


"Kenapa pah?" Caca yakin barusan papa berbicara namun tak jelas ia tangkap dengan pendengarannya.


"Begini Ca lihat foto ini." Papa mengeluarkan sebuah foto keluarga dari laci kerjanya.


"Siapa itu pah, anak perempuan dan wanita itu?" tanya Caca penasaran.


"Ini ibu mu Mama Mirna, dan ini kamu." Papa menunjuk ke potret itu.


"Mama aku? lalu Mama Maya?"


"Dia mamanya Rendi."


"Jadi papa punya 2 istri?"


Papa mengangguk.


"Jadi aku dan Rendi memang adik kakak ya?"


Papa diam mematung bingung harus menjawab apa.

__ADS_1


"PAH...???" Caca mengagetkan papanya dengan pertanyaan yang ingin dia temukan jawabannya.


"Kenapa Ca?" Papa bertanya sekali lagi memastikan pertanyaan Caca.


"Aku sama Rendi adik kakak kan?"


Papa mengangguk kali ini berbohong... ya karena jika papa berkata jujur dia akan kehilangan Caca yang akan menanyakan siapa orang tuanya nanti dan akhirnya pergi dari sini.


"Yaudah kalo gitu Caca tidur dulu ya pah, good night." Caca memeluk papa nya kembali ke kamarnya.


"Maafin papa Ren..." gumam Papa.


***


Didepan pintu kamar Caca sudah ada seorang Rendi yang menunggunya dari tadi.


"Permisi kak, Caca mau tidur." Caca mencoba menepis Rendi untuk berpindah tempat dari depan pintunya.


"Ca, kamu kenapa sih? kemaren itu apa?" Rendi memegang bahu Caca kali ini.


"Maaf kak, kemaren itu mungkin Caca khilaf, tapi tadi papa sudah menjelaskan semuanya." ucap Caca menepis tangan Rendi untuk pergi dari bahunya.


"Apa yang papa bilang ke kamu?" tanya Rendi menegaskan.


"Sudah lah kak, meskipun kita lahir dari rahim yang berbeda namun kita satu darah ayah." jawab Caca lirih.


"APA...?" sahut Rendi terkejut.


Lalu ia bergegas pergi keruang kerja ayahnya.


Caca mengamati punggung Rendi yang tegap itu. Ada keinginan ia ingin menyandarkan kepalanya di punggung itu memeluk nya dari belakang dengan erat.


"Astagfirullahaladzim...maafin Caca Yaa Allah..." Caca menyeka air mata yang hampir menetes di ujung kelopak matanya.


Masuk ke kamar dengan iringan lantunan lagu yang pas dari Raisa di radio yang tadi sempat Caca nyalakan sebelum menemui papa nya.


Sudah... lupakan segala cerita...


Antara kita... ku tak ingin ku tak ingin

__ADS_1


Kau terluka... Karena cinta....


Ahhhhhh... Caca merebahkan tubuhnya di atas kasur dan membenamkan wajah nya pada bantal empuknya itu untuk bersiap menyambut mimpinya.


***


"Jadi benar ya, papa lebih milih sembunyiin kebenaran dari Caca?" tanya Rendi mulai geram.


"Ndi pikiran ego Caca dia bakal sedih banget dan pergi lagi dari kita belum lagi dia pasti akan mencari jati diri dia, siapa keluarga nya belum lagi apa kata relasi bisnis papa dengan keluarga papa yang kacau nanti." jawab Papa mencoba menjelaskan.


"Relasi bisnis hmmm ckkckckckck... jadi itu intinya." Nyinyir Rendi.


"Bukan maksud papa itu Ren, tap.."


"Ah sudah lah pah, memang dari dulu papa lebih baik mengorbankan kebahagian Rendi."


"Tapi ini demi kebaikan dan kebahagiaan Caca!" Kali ini suara papa meninggi.


"Papa tau gak kalo kebahagiaan Caca itu aku, dan begitu pula kebahagiaan aku itu Caca." balas Rendi lebih tinggi.


"Tapi kamu lupa ya, Caca itu hilang ingatan, apa dia tau kamu itu kebahagiaan nya?"


Rendi tak bisa menjawab dengan pertanyaan ini, karena kali ini kata-kata papa menang telak membuat Rendi tak berkutik sama sekali.


Rendi menunduk dan melangkahkan kakinya menuju pintu keluar ruangan papanya.


"Ren..Ren..to..to..tolong papah nak."


Papa mencengkeram dada kirinya lalu jatuh tersungkur.


Rendi langsung menghampiri papa Adi, menyangga kepala papa Adi dan berteriak


"MAMA....!!! BI....!!! MBOK...!!! TOLONG...!!!"


***


Bersambung...


Jangan lupa Vote Like dan Komennya

__ADS_1


Happy Reading... 🤗😍😘


__ADS_2