
Sebelum membaca Vie mohon klik tombol Like jangan lupa ya, terus di vote juga, Rate bintang lima juga ya, apalagi mau kasih koin seikhlasnya boleh banget...
Happy Reading 😘😘
****
Caca masih menemani Rani yang masih terisak di kamarnya.
"Udah Ran, ikhlasin, kalau elo gak ikhlas nanti dedek bayinya bakal sedih disana, dia itu kan nanti penolong elo buat masuk surga." ucap Caca mencoba menenangkan Rani dengan mengelus punggungnya.
"Baru juga sebulan gue gendong dia Ca, kenapa sih Allah gak adil sama gue hiks hiks." Rani masih sangat terpukul dengan kematian salah satu bayi kembarnya yang mengalami kecelakaan.
Rani tak sengaja membiarkannya bayinya tak sengaja tertutup selimut bayi wajahnya karena fokus menyusui bayi satunya, sehingga bayi kembar yang berjenis laki-laki miliknya tak bisa bernafas dan akhirnya meninggal.
"Kan harusnya elo sewa baby sitter Ran, apalgi elo punya bayi kembar pasti ekstra capek dan butuh bantuan." ucap Caca.
"Gue gak mau Ca gue yakin bisa urus anak gue." sahut Rani.
"Tapi buktinya apa beb? kamu gak becus kan ngurus anak kita." Ivan datang untuk menaruh bayi perempuan nya di ranjang bayi samping ranjang mereka.
"Van, jangan kaya gitu juga kali kasihan Rani dia masih terpukul." ucap Caca.
"Emang bener Ca, coba kalau dulu dia nurut pakai jasa baby sitter kan gak akan kaya gini akibatnya, udah tau baru jadi mama pasti butuh bantuan kan." ucap Ivan dengan nada ketusnya.
"Iya maaf aku nyesel maafin aku, kalau aja waktu bisa ku putar kembali aku akan nurutin perintah kamu." sahut Rani masih menangis terisak.
"Iyalah sekarang belakangan nyesel, namanya penyesalan pasti di belakang, coba kalau di awal namanya pendaftaran kan beb?" Ivan menatap Rani.
"Garing beb, gak lucu." sahut Rani.
"Siapa yang ngajakin kamu ngelucu orang aku lagi marahin kamu kok." sahut Ivan.
"Udah deh Van, kasian Rani kalau elo omelin apalagi pake bahas - bahas yang kemaren, udah ah sana, bilangin sama Rendi beliin gue rujak bebek bang Ali harus rujak bang Ali, terus gue maunya Rendi yang numbuk." pinta Caca sambil mengusap perutnya yang kehamilannya menginjak usia tiga bulan.
"Emang elo bakalan tau kalau Rendi yang numbuk?" tanya Ivan.
__ADS_1
"Tau lah, elo videoin pas dia numbuk dari awal sampai halus terus elo kirim ke gue." sahut Caca memberi perintah.
"Gue pikir Rani aja yang ngidam aneh eh elo lebih aneh ternyata." gumam Ivan lalu keluar dari kamar rani.
"Udah ya tenang ya sahabatku, tuh lihat wajah Marcella ih lucu banget tau, kalau lihat bayi tidur tuh bawaannya adem banget rasanya damai." ucap Caca sambil memandangi bayi perempuan milik Rani dan Ivan.
"Gue malah sebel Ca liatnya, gue mau tidur dulu lah." Rani merebahkan tubuhnya di atas ranjangnya lalu menutup tubuhnya dengan selimut.
"Ya udah istirahat ya, gue keluar dulu." ucap Caca lalu keluar dari kamar Rani membiarkannya beristirahat.
Di dapur rumah Rani, mama Maya dan Tante Devi mamanya Rani sedang mempersiapkan kue dan makanan lainnya untuk acara tahlilan nanti malam.
"Gimana Rani, Ca?" tanya mama Maya.
"Udah tenang ma sekarang lagi tidur, oh iya Tante, sepertinya Rani harus di awasi deh." ucap Caca pada Tante Devi.
"Di awasi kenapa?" tanya Tante Devi heran.
"Caca takut ya dia mengalami sindrom baby blues sama bayi perempuan nya si Marcella." ucap Caca sambil menuangkan jus apel uang baru saja dia ambil dari dalam lemari es ke dalam gelasnya.
"Ih kamu mah asal nyeletuk aja, itu sindrom baby blues ini tuh perasaan apa kondisi emosional yang dirasakan para wanita setelah melahirkan, nah yang Caca takutin tadi Rani berubah sama si Marcella dia kaya judes gitu, mungkin dia ngerasa gara-gara dia nyusuin Marcella, dia jadi kehilangan Marcello." ucap Caca menjelaskan.
"Wah kalau kaya gitu gak bisa di biarin nih, mama pernah denger lho gara-gara sindrom baby blues itu ada perempuan baru melahirkan udah tiga bulan sih usia anaknya eh dia gantung lho gara-gara anaknya ya nangis si ibunya jadi kesel." sahut mama Maya.
"Aaaaaa....!!" Tante Devi langsung spontan berteriak mengejutkan semua yang ada di dapur saat itu.
"Mama kenapa sih, ngagetin aja!" sahut Anto menegur mamanya.
"Mama gak mau kalau nanti kakak kamu Rani ngelakuin itu sama cella, mama harus ambil cella pindahin ke kamar mama nih sementara." Tante Devi langsung menghampiri bayi cella di kamar Rani.
"Ih kak Caca ih nakutin mama aja kasian tuh langsung stress ketakutan." Anto menimpuk Caca dengan separuh cabai hijau di tangannya sampai terkena mata Caca.
"Aduh perih Anto, ih gue lempar cobek sekalian nih." Caca langsung mengejar Anto yang kabur ke ruang tamu sampai menabrak Rendi yang baru masuk membawa rujak pesanan Caca. Rujak dalam kemasan gelas plastik itu terjatuh berserakan menimpa wajah Anto.
"ANTO...!!" Rendi meneriaki Anto yang menabraknya.
__ADS_1
"Sukurin rasain... makanya jangan iseng sama ibu hamil, kualat kan tuh, makan tuh rujak pedes." Caca merutuki Anto.
"Yang itu kan hasil tumbukan aku yang, capek loh numbuk nya tanya Ivan tuh, eh Ivan kemana sih?" Rendi mencari Ivan yang menghilang di belakangnya.
"Dih emang tadi Ivan gak ada sih di belakang kamu." ucap Caca.
"Ada Yang, tadi dia ngikutin aku terus kok dibelakang." sahut Rendi.
"Tolongin aku dong, perih nih muka aku panas semua." Anto memelas meminta pertolongan Caca dan Rendi yang masih mengacuhkannya.
"Coba cari yang Ivan kemana, nih ya aku mau cerita tadi tuh ada yang aneh sama Rani." Caca menarik lengan Rendi keluar dari rumah Rani mencari sosok Ivan.
"WOI...! kak Caca kak Rendi tolonglah...!" pekik Anto yang tak juga di hiraukan Caca dan Rendi.
"Anto ya ampun astagfirullah, nanti kan mau tahlilan kenapa berantakan gini sih?" mama Devi meneriaki Anto sambil menggendong cucunya.
"Ini kan gara-gara kak Rendi mah bawa rujak bebek numpahin ke muka aku nih panas semua muka aku, mana aku udah perawatan lagi bareng Nayla." Anto menggerutu dengan kesalnya.
"Pokoknya mama gak mau tau kamu beresin semuanya, sekarang...!!!" perintah mama Devi pada Anto.
****
Bersambung...
Dear Readers tersayang mampir ke novel ku lainnya ya...
- Pocong Tampan
- 9 Lives
- Gue Bukan Player
Jangan lupa di like, rate bintang lima dan vote yak...
Vie love you all 😘😘😘
__ADS_1