
Sebelum membaca Vie mohon klik tombol Like jangan lupa ya, terus di vote juga, Rate bintang lima juga ya, apalagi mau kasih koin seikhlasnya boleh banget...
Happy Reading 😘😘😘
*****
"Ehm ehm..."
sambil pura - pura terbatuk mbok Nah mengagetkan Caca dan Rendi yang sedari tadi mematung saling menatap.
Aduh hampir aja gue genggam tuh tangan Caca ganggu banget sih nih mbok gak tepat banget waktu datangnya. batin Rendi.
Caca langsung berdiri menghindari Rendi menuju mbok Nah.
"Maaf nih non, ada telpon katanya cari tuan Adi, ini katanya soal nyonya Mira." ucap mbok Nah pada Caca.
"Oke mbok thanks biar aku aja yang angkat kan papa juga lagi gak ada." ucap Caca
huffftt akhirnya selamat juga gue, dapet cara juga kan gue buat ngindarin Rendi.
batin Caca.
Caca mengangkat gagang telepon dan berbicara dengan si penelepon. Tiba-tiba saja...
Braakkk...!!
Caca jatuh tak sadarkan diri, meninggalkan gagang teleponnya tergantung begitu saja.
Dengan cepat Rendi dan mbok Nah langsung menghampiri. Rendi menggendong Caca menuju kamar Caca.
"Mbok cari minyak angin dulu ya den." ucap Mbok Nah.
Mbok Nah mencari minyak kayu putih dikamar Caca. Setelah ketemu lalu dia menempelkannya di hidung Caca. Tak lama Caca akhirnya siuman dan langsung menangis sejadi-jadinya sambil memeluk mbok Nah.
"Eh cerita ada apa ini non, kamu kenapa non?" tanya mbok Nah yang masih bingung dengan apa yang terjadi pada Caca.
"Mama mbok... mama aku hiks hiks mama aku udah gakda..."
jawab Caca dengan tangisnya yang makin pecah sambil memeluk mbok Nah yang langsung ikut menangis membalas pelukan Caca dengan erat.
Rendi hanya bisa memandangi keduanya.
"Mbok telpon tuan dulu ya non mbok mau kasih kabar, tolong den Rendi temenin non Caca dulu ya sebentar." ucap mbok Nah sambil mengusap air matanya lalu bergegas menghubungi tuan Adi papanya Caca.
"Iya mbok." jawab Rendi yang tadi berdiri di sisi kasur Caca. Rendi mendekati Caca saat mbok nah sudah keluar kamar menuju lantai bawah.
__ADS_1
Rendi mencoba menyentuh rambut Caca tapi tak jadi, ingin rasanya ia memberikan belaian disana, dan akhirnya ia memberanikan diri membelainya rambut Caca perlahan.
"Yang tabah ya Ca." ucapnya lirih kala itu pada Caca.
Spontan Caca memeluk Rendi dan membuat Rendi terkejut meski sebenarnya Rendi merasa senang ia harus sadar kala itu ia hanya digunakan sebagai penghibur kesedihan Caca. Rendi membiarkan Caca menangis dipelukannya.
"Menangis lah ca, gue akan selalu ada disini buat elo." ucap Rendi sambil mengelus rambut Caca dan memeluknya lebih erat lagi.
****
Mbok Nah mengingat pembicaraan terakhirnya malam itu dengan nyonya Mira, mamanya Caca.
Sebelum mamanya Caca mengalami kecelakaan mobil saat berada di Thailand untuk meliput acara fashion show disana yang menewaskan Mama dan supirnya tewas seketika karena tertabrak mobil truk yang dikendarai supir mabuk di dalamnya, mama Mira sempat menghubungi Mbok Nah malam sebelum kejadian.
Mamanya sempat menelpon Mbok Nah, dia membicarakan bahwa ia ingin berhenti dari pekerjaan nya. Dia sadar ingin selalu berada menemani Caca setelah pertengkaran dengan Caca pagi itu sebelum ia berangkat ke beberapa negara untuk menghadiri fashion show.
"Saya capek mbok mau berhenti kerja aja rasanya, saya kangen sama Caca." ucap Ibu Mira dari ponsel yang tak bisa berbicara dengan Caca kala itu karena sedang menginap di rumah Rani.
"Iya nyonya sebaiknya nyonya istirahat total saja berhenti bekerja demi non Caca kasihan non Caca dia kangen banget sama keberadaan non dan tuan." jawab mbok Nah.
"Hmmm iya mbok, ini liputan saya yang terakhir, saya janji mbok, nanti kalo Caca udah pulang suruh telpon saya ya mbok." pinta Bu Mira
"Iya nyah, nanti tak sampein." jawab mbok Nah.
"Mbok... makasih ya untuk semuanya, mbok selalu ada buat Caca, tolong jaga Caca ya mbok, sampaikan rasa cinta saya buat Caca, maaf saya belum bisa jadi ibu yang baik buat Caca." ucap Bu Mira dengan mengusap tetes air matanya yang mengalir di pipi.
Ujar mbok Nah lalu menutup gagang teleponnya.
Mbok menangis di dalam kamarnya mengingat pembicaraan nya dengan nyonya Mira.
***
Keesokan paginya di pemakaman sang mama Caca sedang memegang batu nisan yang tertulis nama
MIRA LESTARI WIJAYA
Ditemani mbok Nah yang memegang bahunya Caca menepuk-nepuk nya pelan agar tenang, karena Caca masih saja menangis tersedu-sedu.
Ada penyesalan di hatinya karena terakhir bertemu mamanya hari itu, ia malah memulai pertengkaran. Hari itu hari dimana mamanya menyempatkan diri ingin sarapan bersama harusnya menjadi firasat tersendiri buat Caca, akan tetapi Caca malah menanggapinya dengan perdebatan karena tertutup emosi akan kekesalannya pada sang mama.
Di pemakaman itu juga ada Rani dan keluarga nya serta beberapa saudara dan kerabat Caca yang hadir.
Papa Caca memeluk Caca saat pemakaman nya selesai, mereka saling menangis meski tak saling bicara.
Ponsel papa nya berdering ternyata hari itu juga papanya harus ke London untuk urusan bisnis, dan dia tak bisa menundanya.
__ADS_1
"Maafin papa Ca." ucap papanya lirih lalu mencium kening Caca kemudian pergi dari pemakaman.
Sekarang di samping Caca ada Rani yang menghiburnya sambil menaburi makam mamanya dengan bunga.
Langkah kaki berlari menuju arah Caca dan Rani. Rupanya Rendi yang berlari ke arah mereka dengan membawa seikat bunga di tangannya.
"Sorry banget ca, mobil gue bannya bocor tadi jadi gue telat kesini."
ucapnya lalu duduk dan meletakkan bunga itu diatas makam ibunya Caca. Dia menunduk menadahkan kedua tangan dan berdoa untuk ibunya Caca.
***
Dirumah Caca digelar acara tahlilan untuk mamanya.
"Maaf ya Ca, Ran, gue harus pulang, barusan mama gue telpon ada urusan mendadak."
ucap Rendi
"Elo gakmau masuk dulu Ren?" tanya Rani.
"Maaf ya gak bisa, mama gue udah nungguin maaf ya." ucap Rendi lalu menjabat tangan Caca untuk pamit dan menyentuh dagunya Caca pelan.
Caca mengangguk perlahan, lalu Rendi berlalu pergi menuju mobilnya.
Rani tersentak matanya melotot kaget melihat adegan barusan. Ada rasa panas di hati Rani melihat perlakuan Rendi ke Caca, namun hari itu Caca sedang berduka jadi Rani harus menahan emosinya dan menemani Caca. Rani mencoba untuk tidak membahas perlakuan Rendi tadi.
****
Note :
Ketika seseorang itu sudah tiada, maka kehadirannya baru akan terasa...
ini yang Vie rasain kala mama Vie meninggal saat Vie masih sekolah. Vie belum bisa ngebahagiain beliau. Jadi selama kalian masih punya mama Vie mohon jaga mama kalian baik-baik dan rawatlah mereka. ðŸ˜ðŸ˜
*****
Bersambung...
Tengok novel ku lainnya ya
- Pocong Tampan
- 9 Lives
- Gue Bukan Player
__ADS_1
Vie love you all readers...
😘😘😘