
Sebelum membaca Vie mohon klik tombol Like jangan lupa ya, terus di vote juga, Rate bintang lima juga ya, apalagi mau kasih koin seikhlasnya boleh banget...
Happy Reading 😘😘
*****
"Mau kemana lagi nih Ca?" tanya Rani.
Rani menjilati eskrim cone cokelat yang meleleh ditangannya.
"Emmm suvenir udah, cek catering udah, seragam panitia udah, bunga udah, apalagi ya Ran?" Caca mencoba mencari tahu apa yang tertinggal.
"Apa yak, kaya nya udah semua deh, cari cilok yuk." ajak Rani.
"Perasaan baru ngebakso, cendol item terus eskrim, sekarang cilok, perut elo masih muat Ran? gue begah nih..." sahut Caca.
"Tau nih laper Ca bawaannya.." ucap Rani.
"Wah jangan-jangan elo haaaaahhh iya kah Ran gue mau punya ponakan?" tanya Caca dengan raut wajah senang.
"Lah perasan bulan lalu gue masih dapet dah masa iyak sih, emang bawaan gue laper Ca, noh cilok noh yuk ah." ajak Rani tak mau membahas.
"Oke deh.." sahut Caca.
Caca menuruti kemauan Rani.
***
Pukul setengah delapan ponsel Caca berbunyi tertulis pesan dari Rendi
"Ke galeri dong surprise neh..."
"Dih orang masih di pingit gini kok masih aja ngajak ketemuan hmm.. bodo ah cuekin aja."
gumam Caca.
Tring tring...
"Ya Ran kenapa?" tanya Caca.
"Keluar Ca, ikut gue sekarang!" ucap Rani di sebrang sana dari ponselnya.
"Sekarang Ran?" tanya Caca.
"Iya sekarang buruan! gue sama Ivan udha didepan rumah elo nih." sahut Rani.
"Penting banget yak?" tanya Caca lagi.
__ADS_1
"Penting lah ngapain gue bela belain jemput elo sekarang udah buruan gak usa pake ganti baju." perintah Rani.
"Tapi gue udah pake piyama Ran." ucap Caca.
"Udah jaketin aja! buruan...!!" pekik Rani.
"Oke oke bentar."
Caca memakai jaketnya buru-buru keluar rumah menghampiri mobil Ivan dan Rani lalu ikut mereka entah kemana tujuannya.
"Ini kan galeri nya Rendi Ran?" tanya Caca heran.
"Iya emang, menurut elo?" ucap Rani menoleh ke Caca.
"Mau ngapain kesini? tadi Rendi juga nyuruh gue kesini." ucap Caca.
"HAH...??!! serius elo Rendi nyuruh elo kesini?" tanya Rani.
"Iya." Caca mengangguk.
"Kok bisa ya beb?" tanya Rani ke Ivan .
"Mana aku tau beb, coba aja kita masuk." ajak Ivan.
"Gue telpon Rendi yak." ucap Caca.
"Halo... kakak Caca tersayang." suara perempuan di ujung sana mengangkat ponsel Rendi.
"Oh... Rendi lagi sama aku nih cek aja ke ruangannya." sahut Nayla.
Tut Tut...
"Kok cewe yang angkat hapenya Rendi? terus suaranya kok kayak gue kenal ya, siapa ya?" ucap Caca dengan bingung.
"Coba kita keruangan nya Ca." ajak Rani namun langkah mereka terhenti saat melihat sosok Rendi mencegah mereka masuk.
"Sssttt jangan berisik." bisik Rendi.
"Kok kamu disini? tadi cewek yang angkat telpon kamu siapa?" tanya Caca berbisik.
"Husss udah ikutin aja, kamu keruangan aku tapi biasa aja terus kamu buka ruangan aku kamu pura-pura manggil aku yak." ucap Rendi.
"Aku gak ngerti kenapa?" tanya Caca masih berbisik.
"Udah ikutin aja Ca." sahut Rani.
Terdiam sejenak, akhirnya Caca memutuskan melangkahkan kakinya menaiki tangga menuju ruangan Rendi.
__ADS_1
"Ren, kamu dimana? Ren..." tanya Caca.
Caca membuka pintu ruangannya yang gelap. Terdengar suara perempuan sedang tertawa cekikikan.
"Bikin merinding gue dengernya, Ren...?" ucap Caca.
"Eh ada kak Caca, aduh maaf kak Caca tersayang." ucap suara perempuan di kegelapan itu.
Klik..
Caca menyalakan lampu ruangan dan melihat Nayla yang hanya mengenakan celana pendek mini dan tanktop putih tersenyum ke arah Caca.
"Yah ketauan kan Ren, duh maaf banget ya kak."
ucap Nayla sambil memakai celana jeans dan jaket Hoodie nya.
"Ren? Rendi maksud kamu?" tanya Caca.
"Iya... tuh lagi tidur disitu." sahut Nayla menunjuk ke sampingnya.
"Maksud elo gue Nay?" suara Rendi hadir dari balik tubuh Caca masuk ke ruangan bersama Rani dan Ivan.
"Kok kamu disitu Ren? terus yang ini siapa?"
Tanya Nayla heran lalu ditariknya selimut yang menutupi tubuh seorang pria itu.
"ANTO...???!!!"
Ucap semua yang ada disitu kecuali Rendi yang tertawa puas.
"Jadi yang tadi gue cium itu elo hah???" tanya Nayla dengan nada kesal di wajahnya.
Anto meringis dan menganggukkan kepalanya.
Nayla yang terlanjur malu menabrak pundak Caca keluar dari ruangan itu. Terdengar suara puas dan terbahak-bahak dari Rani Ivan dan Rendi.
Meski tak mengerti dengan kejadian ini Caca mengejar Nayla yang menangis saat keluar tadi.
"Ca udah biarin aja dia mau ngerjain elo tapi kita kerjain dia balik hahahaha." ucap Rani menahan Caca.
"Dia adek gue Ran, gue harus kejar dia."
Caca mengejar Nayla namun saat menyebrang jalan sebuah minibus kecil yang melaju cepat menabrak Nayla.
***
Bersambung...
__ADS_1
Happy Reading
semoga suka.