
Sebelum membaca Vie mohon klik tombol Like jangan lupa ya, terus di vote juga, Rate bintang lima juga ya, apalagi mau kasih koin seikhlasnya boleh banget...
Happy Reading 😘😘
*****
Papa Barata meminta Caca untuk pindah kerumahnya karena biar bagaimanapun Caca dan Rendi belum resmi menikah.
Ada penolakan di diri Caca namun menurut mama Maya ini bisa jadi ajang kedekatan keluarga kandung Caca yang sebenarnya.
Dan hari itu Caca terpaksa pindah ke rumah Papa Barata diantar oleh papa Adi , mama Maya, Rendi, Ivan dan Rani serta Anto juga menemani.
"Kalau bukan karena elo Ca, kaga sudi gue nginjek rumah nih nenek lampir." sungut Rani.
"Makasih ya Ran," Caca memeluk sahabatnya itu.
"Jadi gimana persiapan pernikahan elo Ca?" tanya Ivan.
"Kayanya ambil tempat sama konsep sama waktu kalian nikah deh." sahut Caca.
"Idih gak punya ide lain apa masa konsep gue elo ikutin."
"Ada sih, tamu undangan lebih sedikit cuma seratus orang doang terus gaun pengantin beda hehehehe."
"Sama aja Ca, kirain ada band siapa gitu biar rame."
"Enggak ah gue mau nya kekeluargaan aja."
"Cakeeeppp..." sahut Rendi yang memeluk Caca dari belakang dan mencium tengkuknya.
"Apaan sih malu tau ah risih." Caca melepas pelukan Rendi.
"Tau belom resmi belum halal kaya kita ya beb." Ivan memanas-manasi Rendi dengan menciumi Rani.
"Hadeh anak muda sekarang gak tau tempat yak 😂😂😂."
sahut papa Adi yang risih melihat kemesraan Rani dan Ivan.
__ADS_1
"Eh om sama Tante kaya gak pernah muda aja ."
"Pernah dong, kita pernah muda, masalahnya kalian sampe gak tua?" ledek Papa Adi.
"Idih om ngomongnya doain dong biar kita sampe tua sama-sama kaya om." ucap Rani
"Ahahhaha amin... dulu mah om masih muda malah malu-malu, om nih sama Tante liarnya di kamar berduaan." bisiknya .
"Awwww... ceritain dong om gaya gaya jaman dulu kalo ngamar." goda Rani.
"Aduh... si papa udahan ah ngomongin kaya gitu malu tuh si Anto sama Fahri ikut nyimak." Mama Maya mencubit pinggang papa Adi gemas.
***
Setelah rapih memindahkan barang-barang Caca ke kamar di rumah barunya semua tamu berkumpul mengadakan pesta barbeque di taman belakang.
"Hai Nay apa kabar?" Anto mencoba menyapa gadis pujaannya itu.
"Hai." jawab Nayla ketus.
"Nay ada yang mau aku tunjukin, taraaaa..."
"Aku punya kan akhirnya kaya perut Rendi."
Nayla melihat sekilas.
"Tapi Tampang elo gak kaya dia."
"Hmmmm sadis banget jawabannya." sahut Fahri yang melihat muka Anto hang cemberut kecewa.
"Kakak ku emang kaya gitu bucin Rendi akut dia."
"Oh baiklah elo liat nih adek ipar, sebulan aja eh dua bulan kasih waktu ke gue dia bakal jadi pacar gue." ucap Anto dengan pedenya.
"Dih.. eneg gue lama-lama disini." Nayla pergi meninggalkan Anto dan Fahri.
"Jadi sebulan ala dua bulan nih? taruhan satu juta."
__ADS_1
"Oke deal, dua bulan."
"Sebulan deh jadi dua juta gimana?"
"Emmmm... dua bulan aja deh hehehhe."
"Jiahhh cemen,, dua bulan kelamaan kali bro...!!"
"Udah dua bulan sekalian gue ngumpulin duitnya kali aja gue... kalah hehehhee. Tapi bantuin gue yak gimana cara dapetin kakak elo itu."
"Emmm kalo itu mah gampang tapi ada harga dong."
"Wah sompret juga nih adek ipar."
Anto mengacak-acak rambut Fahri.
Terjadi keributan di ujung sana Nayla yang sengaja menabrak Caca membuat piring penuh daging sapi yang barusan matang itu terjatuh.
"Wah cari ribut nih nenek lampir." Rani bersiap menggulung lengan ya menantang Nayla untuk berduel.
"Udah Ran, udah gak mau ribut gue sama adek sendiri."
"Eh gue gak pernah anggep elo kakak jadi jangan pernah anggap gue adek, ngerti elo...!!"
Nayla menunjuk Caca dengan makiannya.
"Tuh kan ngajak ribut, jangan pegangin aku Beb."
"Malu beb malu, udah ah diem aja."
Nayla menatap tajam ke arah Rani menantangnya untuk berduel dan akhirnya adegan jambak menjambak itu pun dimulai.
Semua mata tertuju pada adegan Nayla dan Rani, lalu mereka berusaha untuk merelai keduanya.
***
Bersambung...
__ADS_1
Happy Reading....