
Sebelum membaca Vie mohon klik tombol Like jangan lupa ya, terus di vote juga, Rate bintang lima juga ya, apalagi mau kasih koin seikhlasnya boleh banget...
Happy Reading 😘😘
*****
"Maaf Lolita mending elo duduk di kursi aja, kalau di atas meja kata orang dulu pamali hehehe." ucap Ivan dengan polosnya.
"Hadeh salah nih taktik aku, kamu gak tergoda ya sama aku?" tanya Lolita lalu turun dari meja kerjanya.
"Orang gila aja bisa tergoda sama elo masa gue yang waras gini enggak." sahut Ivan.
"Ih si Ivan kalau ngomong ya suka bener hehehe eh bentar bukannya kamu gak waras ya?" tanya Lolita.
"Heh sembarangan gue waras tau gue sadar gue aja bisa kerja punya perusahaan masa gue kaga waras sih." sahut Ivan dengan nada agak kesal.
"Maksud nya tuh kamu gak suka perempuan tadi aja kan aku lihat pacar kamu cowok yang di ATM kan?" tanya Lolita menyelidiki Ivan dengan detail.
"Astagfirullah sembarangan si Lolita, cowok tadi itu tuh adek ipar gue hiiiyyy amit-amit kalau gue belok pacaran sama Anto, ooohhh gue paham nih maksud elo nanya gue belok tadi, elo pikir gue penyuka sesama jenis ya?" tanya Ivan.
"Jadi bukan?" tanya Lolita menegaskan.
"Bukan lah, gue normal gue punya istri kok, gue juga baru aja punya anak." ucap Ivan.
"Eh ngomong-ngomong gak ada minum nih haus juga gue?" tanya Ivan sambil mencari letak dispenser atau lemari pendingin di dalam ruangan kantor Lolita itu.
"Oh iya lupa, tapi kantor ku mau tutup Van, kita ngobrol di cafe aja yuk sambil ngopi." ajak Lolita.
Ivan melirik ke arah arloji mahal di tangan kirinya.
"Boleh deh yuk bentaran." sahut Ivan akhirnya menyetujui tawaran Lolita.
***
"Sore semuanya." Rendi datang menyapa Caca mencium kepala Caca saat Caca mencium punggung tangannya.
Rendi juga menyapa mama Maya. Hari itu Rendi menjemput Caca yang sedang berada di rumah mama Maya dan papa Adi.
__ADS_1
"Ayah mana mah?" tanya Rendi.
"Tadi ayah kamu di ajak main golf sama Barata." sahut mama Maya sambil memotong tumbuhan liar di tanaman bunga mawarnya.
"Wuidih ayah sama papa main golf ketemu cewek-cewek cantik lho mah nanti bukannya di jagain." Rendi menggoda mamanya itu.
"Yang kamu tuh ya iseng banget sih, bentar ya aku ambil minum buat kamu dulu." Caca masuk ke dalam rumah berniat mengambil minum untuk Rendi.
"Emang cakep-cakep ceweknya yang nemenin main golf?" tanya mama Maya penasaran juga.
"Cakep lah mah harus cakep kalau mau jadi Caddy apalagi yang main rata-rata bos besar beuh bisa di bungkus sekalian tuh Caddy." sahut Rendi makin menggoda mama Maya.
"Di bungkus? emang pada jualan apaan? makanan gitu?" tanya mama Maya makin kepo.
"Bukan makanan lagi mah tapi orangnya di bungkus." sahut Rendi.
"Orangnya di bungkus, ih jahat dong bisa mati kalau orangnya dibungkus nanti gak bisa nafas." ucap mama Maya mulai panik.
"Bukan itu mamah maksudnya di bungkus, gini lho maksudnya tuh di beli di pake ya jual diri gitu, itu juga kalau ada Caddy yang nakal tapi gak semua kok kan masih banyak perempuan yang kerjanya bener gak bakalan godain bos-bos yang main golf." sahut Rendi.
"Hah tetep aja gak bisa mama mau telpon ayah kamu nih mau tanya dia lagi ngapain kalau perlu video call." mama Maya langsung menuju ke dalam rumah mencari ponselnya.
"Mama parno biasa gak mau kehilangan ayah." ucap Rendi sambil tertawa.
"Ih kamu mah usil aja sih." Caca memukul bahu Rendi.
"Eh apa kabar anaknya ayah, lagi main apa di dalam perut bunda?" tanya Rendi sambil mengelus perut Caca dan merapatkan telinganya ke perut Caca.
"Yang kalau ngidam gak diturutin kan katanya bayinya bisa ngiler ya?" tanya Caca pada Rendi yang langsung berdebar detak jantungnya berharap Caca tak ingin sesuatu yang aneh-aneh saat itu.
"Emangnya kamu ngidam?" tanya Rendi langsung pada intinya ke Caca.
"Ummm aku tuh pengen jambu biji yang." sahut Caca.
"Alhamdulillah gampang banget nanti aku cari di supermarket apa toko buah buat kamu yang banyak." ucap Rendi dengan kelegaan terpancar dari nada suaranya.
"Gak usah banyak aku mau nya cuma satu kok jambu bijinya." ucap Caca
__ADS_1
"Nah lebih gampang lagi, nanti aku beliin."
jawab Rendi.
"Aku gak mau beli." Caca mengelus-elus perutnya yang kandungannya berusia hampir empat bulan.
"Aku maunya jambu biji yang di rumah depan kan kalau aku lagi di beranda atas kamar kita aku bisa lihat pohon jambu ya tuh, dan kayaknya enak banget Yang, aku mau jambu itu." ucap Caca dengan tatapan memelas dan nada merengek.
"Astagfirullah Ca rumah depan kan ada anjin* galaknya Ca mana bulldog lagi, aku ngeri ah, nanti aku suruh mbok Nah apa bibi Ncis buat ijin minta jambunya." sahut Rendi
Caca tiba-tiba ingin menangis mendengar ucapan Rendi barusan.
"Sayang kamu tuh beda ya, kamu gak perhatian sama aku, kamu sekarang maunya nyuruh orang lain bukan usaha kamu sendiri buat nyenengin aku." rengek Caca dengan tangisannya
"Eh jangan nangis dong nanti bayinya stress aku maunya dia lahir ke dunia ini dengan bahagia, jangan nangis ya please cup cup cup nanti aku yang ijin minta jambunya." pinta Rendi menenangkan Caca.
"Gak mau Yang aku maunya kamu ambilnya nanti malam terus gak usah bilang sama yang punya Jambi hehehe." sahut Caca dengan tatapan polosnya.
"Yaa Allah Caca itu namanya nyolong sayang, terus kamu mau makan jambu hasil nyolong? gak berkah tau nanti anak kita malah sakit, jadi badung gak nurut sama orang tua gara-gara dikasih makan makanan haram, aku gak mau ah." sahut Anan menegaskan.
"Ya udah ya udah gak usah nyolong, tapi jambunya ambil sama kamu sendiri ya naik ke atas pohon sekarang, ayo sekarang!" rengek Caca mendorong punggung Rendi pelan ke arah rumah di seberang rumah papa Adi dan mama Maya.
"Aku minum dulu ya bentar, aku habisin tehnya dulu nih." Rendi langsung menghabiskan secangkir teh manis buatan Caca.
"Huffhtt bismillah semoga yang punya rumah gak segalak bulldognya." gumam Rendi menuju rumah di seberang.
*****
Bersambung...
Mohon maaf jika masih ada typo.
Dear Readers tersayang mampir juga ke novel ku lainnya ya
- Pocong Tampan
- 9 Lives
__ADS_1
- Gue Bukan Player
Jangan lupa di like, rate bintang lima dan vote yak...