Kakakku Cinta Pertamaku

Kakakku Cinta Pertamaku
Amnesia


__ADS_3

Sebelum membaca Vie mohon klik tombol Like jangan lupa ya, terus di vote juga, Rate bintang lima juga ya, apalagi mau kasih koin seikhlasnya boleh banget...


Happy Reading 😘😘


*****


Caca terbaring dengan perban di kepalanya di tangannya terdapat infus yang masih melekat. Semua mata menatap ke arah Caca yang terbaring.


"Sebaiknya Caca dipindahkan ke Jakarta Mas." ucap Bu Maya.


"Iya pasti, biar lebih mudah kita menjaga Caca." jawab Pak Adi.


"Mah, Rendi pesenin hotel untuk Papa dan Mama menginap malam ini ya?" tanya Rendi.


"Iya sebaiknya antar mama mu istirahat biar Caca, Papa yang jaga."


"Dirumah nenek saja ndak usah pesen hotel." sahut Nenek Lastri.


Bu Maya mengangguk karena ia ingin sekali ngobrol-ngobrol dengan Nek Lastri apalagi mengenang persahabatan nya dulu dengan Mirna.


"Gimana kalau saya aja om yang jagain Caca?" Rani memberanikan diri untuk bertanya.


"Rani yakin gak capek?" Tanya Papa Adi seraya menepuk bahu Rani dengan lembut.


Rani menggangguk yakin.


"Gue ke rumah singgah ya kak, mau packing sama Ivan gimana?" tanya Anto.


"Ide bagus, yudah sana nanti gue kabarin kalo Caca udah sadar." jawab Rani.


"Tolong jagain dulu ya Ran, nanti abis nganter mama papa sama Nenek gue langsung kesini." sahut Rendi.


"Sipppp tenang aja." Rani tersenyum mengangguk.


***


Rani tertidur di samping Caca dengan menggenggam tangan Caca. Rani merasakan tangan Caca bergerak dan membuat Rani terbangun.


"Alhamdulillah Ca, elo udah sadar?" Rani menyeka air matanya yang tak sengaja menetes.

__ADS_1


Caca masih belum paham dengan lingkungan sekitar, ia pandangi sekeliling ruangan sambil meringis memegang kepalanya yang diperban.


"Elo mau minum gak?" tanya Rani.


Caca mengangguk. Rani memberikan segelas air dan sedotan untuk Caca minum.


"Elo mau duduk ya? bentar gue taikin kasur elo dulu ya." Rani memutar kenop disamping kasur untuk meninggikan posisi Caca.


"Gimana masih sakit ya kepala elo?" tanya Rani antusias.


"Mmm ma maaf... Anda siapa ya??"


***


Satu Minggu sejak kecelakaan yang menimpa Caca...


Akhirnya Caca sekarang di pindahkan ke rumah sakit di Jakarta. Ia mengalami gegar otak ringan yang menyebabkan Caca mengalami amnesia. Ia tak ingat siapapun juga yang mengunjunginya.


Nenek Lastri juga ikut ke Jakarta menemani Caca. Saat itu ia ingin sekali berada disisi Caca.


"Nek, kenapa saya lupa ya sama semuanya?"


tanya Caca dengan raut wajah sedih.


"Haiiii Rani yang cantik jelita wangi sepanjang hari datang."


"Banyak banget ndok bawaanmu?" tanya Nek Lastri.


"Oiya ini tempe mendoan kesukaan Caca buatan mama, terus salad buah, rujak buah, puding buah sama buah-buahannya o iya satu lagu ini Ca." Rani mengulurkan sebuah album foto dia bersama Caca sedari kecil.


Caca membuka album tersebut satu persatu sambil tersenyum, dilahapnya tempe mendoan buatan mamanya Rani.


"Enak banget ini."


"Iya lah enak elo suka banget di buatin itu kalo nginep kerumah gue, gimana Ca inget gak sama gue yang cantik jelita ini?" Rani mengedip-ngedipkan matanya sambil memamerkan senyum ala Pepsodent nya itu.


"Emmm belom..." Caca menggeleng pelan.


Rendi tiba-tiba masuk ke dalam ruangan membawa boneka beruang besar dan balon-balon bertuliskan "Get well soon sayangnya aku"

__ADS_1


"Eh apa-apaan ini?" tanya Rani heran.


Caca menerima boneka besar itu dari Rendi dan mengamati balon-balon itu.


"Iyalah gue kan calon suaminya Caca." jawab Rendi tersenyum lebar selebar-lebarnya.


Pletak... Rani menjitak kepala Rendi.


"Eh astagfirullahaladzim otak elo somplak...!!! dia adek elo!"


"Adaaw sakit Ran, elo tanya sama Nek Lastri nih, sotoy Luh."


Rani memandang Nek Lastri yang tersenyum dan mengangguk pelan.


"Maksudnya Nek, iya gitu?" Tanya Rani penuh harap.


"Iya ndok." jawabnya.


"Jadi ini orang berdua bukan kakak adik."


"Nek kandung yo bukan, nek masih koyo sodara Kaka adik yo masih." senyum Nenenk Lastri.


"Bentar deh bentar maksudnya apa ya, Caca gak ngerti ini lagi kenapa?" Caca heran dan bingung memandang Rendi dan Rani bergantian.


"Gini sayangku, kamu itu calon istri aku, Minggu depan kita bakal nikah." Rendi menggenggam tangan Caca.


"Somplak, jangan ngambil kesempatan elo, main Minggu depan aja." sahut Rani.


"Biarin aja sih ntar gue bilang bokap sama nyokap gue."


Caca melepaskan genggaman tangan Rendi dan menggelengkan kepalanya.


"Maaf, aku gak siap, entah siapapun kamu, please ijinkan aku untuk inget semuanya." ucap Caca lirih.


"Noh, kepedean kan elo, pelan-pelan aja dulu biar dia sembuh dulu cumi got." sahut Rani.


"Iye iye maaf, tapi aku janji Ca aku akan bantu kamu inget semuanya inget kenangan kita dulu yah yah?" pinta Rendi sambil menaruh kedua tangan Caca di dadanya.


Caca terlihat ragu namun akhirnya mengangguk pelan.

__ADS_1


*****


Bersambung...


__ADS_2