
Sebelum membaca Vie mohon klik tombol Like jangan lupa ya, terus di vote juga, Rate bintang lima juga ya, apalagi mau kasih koin seikhlasnya boleh banget...
Happy Reading 😘😘
*****
Flashback...
"Gimana Nek anak ku lahir sehat?" tanya Mama Mirna, kondisi nya masih lemah setelah melahirkan.
"Nek...??"
"Iya iya sehat ndok, wess istirahat saiki yo." jawab Nek Lastri lalu pergi keluar ruangan.
Mirna meraih ponselnya dan menelpon suaminya Pak Adi.
"Mas kapan mau kesini?" tanya Mirna
"Besok ya sayang aku pastiin besok aku sampai disana. Perempuan atau Laki-laki?"
Tanya Pak Adi dari ujung telepon disana.
"Aku belum tau mas, aku cuma tanya sehat atau tidak, nanti aku minta antar Bu mau liat anak kita." ucap Mirna.
"Yaudah kamu istirahat yak, love you."
"Love you too Mas." Mirna menaruh ponselnya dan mencoba memejamkan matanya yang lelah.
Diluar sana Nek Lastri sedang kebingungan dia tahu betul kondisi Mirna yang rentan itu.
Bagaimana ini Mirna bisa bunuh diri jika tau anaknya meninggal.
__ADS_1
Batinnya sambil menggendong bayi laki-laki yang sudah tak bernyawa.
"Dokter Ratih, saya mohon bantu saya adakah bayi yang bisa saya adopsi? saya tak mau melihat Mirna menderita, berapapun saya bisa bayar." Nek Lastri memohon pada dokter yang membantu persalinan Mirna tadi.
"Maaf Bu, ini bukan wewenang saya." Dokter itu pergi meninggalkan Bu Lastri.
Seseorang perempuan menghampiri Nek Lastri.
"Maaf saya lancang mendengarkan pembicaraan anda, perkenalkan saya suster Dinda." ucap perempuan itu mengulurkan tangannya.
Nek Lastri masih menatapnya penuh keraguan.
"Saya bisa bantu ibu."
Betapa bahagianya mendengar perkataan suster Dinda bagai angin segar yang berhembus ke tubuhnya saat itu.
***
Suster Dinda membawa Nek Lastri ke Panti Asuhan Darma Bhakti.
"Kakak saya pemilik panti asuhan di sini, setahu saya, ada pengasuh yang melahirkan dua hari lalu dan meninggal, mungkin kakak saya bisa menyerahkannya pada anda. Anda bilang berapapun biayanya kan?" Suster Dinda menjelaskan.
"Berapapun.." Nek Lastri menjawab pasti dengan anggukan.
"Ini perkenalkan kak, Bu Lastri yang saya ceritakan tadi."
"Selamat datang Bu di panti asuhan saya, nama saya Ibu Retno." Wanita yang seumuran Bu Lastri itu mengulurkan tangannya mereka saling berjabat tangan kini.
"Pengasuh saya bernama Angelica ternyata maaf dia hamil, dia menyembunyikan kehamilannya pada kami. Dua hari lalu ia melahirkan diam-diam di kamarnya dan untungnya saya mengetahuinya dan membawanya ke rumah sakit, namun karena pendarahan hebat Angel tidak tertolong." Bu Retno menjelaskan dengan isakan tangisnya.
"Bagaimana kondisi bayinya Bu?" tanya Bu Lastri penuh harap.
__ADS_1
"Angel melahirkan bayi perempuan yang cantik, namun sampai saat ini kami masih belum tau siapa ayahnya karena sikap tertutup Angel saat bekerja di sini."
"Bayi perempuan ya... Hmmm baiklah saya adopsi dia tapi saya mohon rahasiakan hal ini pada siapapun termasuk anak saya Mirna. Yang dia tahu bayi itu adalah anaknya."
"Bagaimana penawaran nya kak?" sahut Suster Dinda bertanya pada Bu Retno.
"Baiklah saya hanya ingin penawaran yang sederhana cukup jadilah donatur panti ini setiap bulannya." pinta Bu Retno.
"Boleh minta nomer rekening panti?"
Suster Dinda menyodorkan secarik kertas dan menuliskan nomer rekening panti.
"Saya kirimkan seratus juta pada anda." sambil menunjukkan ponsel Bu Lastri tanda berhasil ia transfer uang ke rekening panti padahal uang itu adalah seluruh tabungan pensiunan suaminya ke rekening panti.
"Setiap bulan saya akan kesini untuk membawakan keperluan panti semoga usaha batik saya lancar selalu, mohon doakan."
Bu Retno mengangguk dan berterima kasih kepada Bu Lastri. Sebenarnya ia tak menyangka Bu Lastri akan mengirimkan uang sebesar itu karena ada yang merawat anak Angel dan menjadi donatur panti saja dia sudah sangat bersyukur.
"Baiklah Bu, saya akan mengurus bayi itu, cukup bilang saja pada anak ibu, saya dan bayinya sudah menunggu di rumah." ucap Suster Dinda
"Bagaimana saya menjelaskan pada Mirna."
"Bayi Bu Mirna harus masuk ruang perina untuk tindakan medis dan pindah rumah sakit, jadi mereka tidak bisa pulang bersama, yakin kan saja Bu Mirna saat pulang nanti, oiya saya akan berusaha menutupi dari Bu Mirna agar kondisi bayinya yang meninggal tidak sampai ke telinganya, sebaiknya kita bergegas kan Ibu Mirna akan dibolehkan pulang hari ini."
Bu Lastri mengangguk dan mengerti hatinya sekarang lega karena yang ia inginkan adalah cucunya bahagia.
***
Bersambung...
Happy Reading..
__ADS_1
Jangan lupa Vote, Like dan Komennya...
🤗😊😘😍