
Sebelum membaca Vie mohon klik tombol Like jangan lupa ya, terus di vote juga, Rate bintang lima juga ya, apalagi mau kasih koin seikhlasnya boleh banget...
Happy Reading 😘😘
*****
"Perasaan yang suami istri gue sama Ivan kenapa elo pada yang mesra mesraan depan kita?" Rani bertolak pinggang pada Rendi yang merangkul Caca dari belakang saat tiba di bandara Soeta.
"Sirik aja elo, gue begini biar gak lepas lagi nih ." sahut Rendi.
"Apaan sih emangnya aku burung apa lepas." Caca mencoba melepas rangkulan Rendi namun lagi lagi posisi Rendi kembali ketempat semula.
"Sini beb biar kita gak kalah hot dari mereka." Ivan merangkul Rani meniru Rendi.
"Cium beb cium." Rani memonyongkan bibirnya ke Ivan.
"Eh enggak enggak apa apaan sih kita di Indonesia nih kalo dikamar cuma elo berdua bebas mau ngapain kek jungkir balik salto sambil bugil kek ter.. se.. rah...!"
"Wah ide bagus tuh beb, kita coba kapan kapan jungkir balik salto di kamar sambil ena ena beb." sahut Ivan.
"Ahhh dasar pasangan mesum elo pada, ini mana nih si Anto lama banget jemputnya."
"Lagian tadi bukannya bareng bokap elo Ca pake nyuruh Anto jemput." ucap Rani.
"Ogah ah entar gue ketemu Nayla, belom siap gue."
"Gue masih gak nyangka nenek lampir itu adek elo Ca, ckckckck." Rani berdecak kecewa.
"Emang nih."
"Eh Nayla itu baik lho cuma ya kadang arogannya itu nyebelin tapi baik kok, nanti kalo udah kenyal juga nyaman." sahut Rendi.
"Oh jadi sekarang muji Nayla nih?" tanya Caca melirik Rendi.
"Emang gak boleh muji adek ipar sendiri?" Rendi menanya balik.
"Tau ah." Caca menyahut dengan tampang kesal di wajahnya.
"Udah udah noh Anto dateng." Ivan menunjuk arah datangnya Anto lalu mereka ber empat menaiki mobil yang dikendarai Anto.
***
Sesampainya di rumah Rendi dan Caca menyampaikan pesan dari Pak Barata dan menceritakan semua yang terjadi tentang Pak Barata dan Caca.
__ADS_1
"Dunia itu sempit yak, ternyata kamu itu anaknya sahabat papa sendiri Ca." ucap Papa Adi sambil menyeruput secangkir teh panasnya.
"Iya gak nyangka yak." sahut Mama Maya.
"Jadi nanti malem kita langsung lamaran aja ya Pah, Mah?" tanya Rendi memohon di lutut mamanya.
"Idih anak Mama gak sabaran banget main ngelamar aja, mama belum sempet cari rekomendasi EO buat kalian."
"Udah mah pake punya Rani sama Ivan aja pesta kebun di kebun raya aja mah lebih alami."
"Kalo hujan gimana? kasian yang dateng becek, gak ada ojek nanti capek deh jek." Mama Maya tertawa geli dengan candaannya.
Rendi, Caca dan Papa Adi hanya memandangnya datar.
"Garing ya mama hehehehe maaf." ucap Mama Maya.
"Aku maunya indoor aja Kak, di sini aja taman sini undang keluarga aja lebih seru cukup yang inti ya aja." sahut Caca.
"Kamu gak mau undang temen temen gitu?"
"Temen aku kan cuma Rani." Caca meringis menunjukkan deretan gigi putihnya.
"Yaudah Papa juga setuju, acara keluarga sama sahabat aja lebih khidmat."
"Ahhhsiyaaapp sayangku." Caca tersenyum genit melirik Rendi.
"Anak papa udah gede yak." sahut Papa Adi mencubit pipi Caca.
"Iyalah pah udah baligh, udah gede lah, udah pengen ngerasain kawin eh nikah."
"Hahhahaha tuh kan bukan Rendi doang hang ngebet."
Tawa Rendi disambut tawa oleh semuanya, sampai Mbok Nah datang membawakan kue bolu Surabaya, Mereke memutuskan untuk mengambil selfie bersama di sore ceria yang hangat itu.
***
"Papa... Nayla kangen."
"Papa juga Nay, oh iy kapan Fahri sampe ke Jakarta?"
"Katanya sih udah dijalan besok kali Pah sampenya."
"Bagus kalo gitu."
__ADS_1
"Oh iya nanti keluarga Rendi kan mau kesini sebaiknya aku pake baju apa ya Pa?"
tanya Nayla sambil merangkul pinggang papa Barata.
"Pake apa ja Nay asal sopan kaya biasa aja."
"Emmm harus spesial dong Pah, kan aku mau dilamar."
"HAH..?? dilamar?? kamu dapet kabar dari mana?" tanya Papa Bara heran.
"Kan emang bener kan aku mau dilamar?"
Papa Bara menarik nafasnya dalam - dalam mencoba mencari kata untuk menjelaskan ke Nayla.
"Nanti malam itu gak da lamaran Nay, Rendi dan keluarganya kesini itu membawa seseorang yang penting di hidup papa sama seperti kamu."
"Maksud Papa?"
"Maafin Papa sebelumnya karena sudah merahasiakan ini dari kamu dan adik kamu."
"Rahasia? rahasia apa Pah?"
"Sebenernya kamu dan Fahri itu punya seorang kakak, kakak perempuan, ceritanya panjang banget Nay, kamu mau denger?"
"Enggak, aku gak mau denger, aku gak mau punya kakak tiri siapapun itu aku gak mau..!!"
"Tapi kami harus tau Nay, sebentar aja kamu dengerin Papa, atau kamu mau seluruh aset kamu Papa ambil ?"
"Semuanya Pah? kartu, mobil, semuanya?"
Papa Barata mengangguk pasti mengiyakan pertanyaan Nayla, dia hapal betul tabiat putrinya yang pasti tak akan kuat menerima ancaman nya barusan.
"Oke coba ceritain, Nay bakal dengerin, kepaksa." sahut Nayla.
"Itu baru anak Papa."
Papa Barata menepuk kepala Nayla sambil menceritakan masa lalunya tentang Angelica cinta masa lalunya dan kehadiran putrinya.
***
Bersambung...
Happy Reading....
__ADS_1