Kakakku Cinta Pertamaku

Kakakku Cinta Pertamaku
S2 - Usilnya Anto


__ADS_3

Sebelum membaca...


Jangan lupa Like, share and Rate bintang lima nya.


Happy Reading.


*****


“Aku kenyang tau, tadi aku udah makan habisnya kelamaan


nungguin kamu pulang.” Caca merengkuh pinggang Rendi, memeluknya erat.


“Kan kamu minta ramen harus asli dari Shibuya Ca.”


“Ya tapi ramennya gak enak, mungkin enak langsung makan


disana kali ya.” Caca tersenyum dan terkekeh.


“Ya ampun Ca, tiap hari aja kamu ngidam aneh sampai buat aku


ke luar negeri nurutin kamu, bisa bangkrut aku nih,” Rendi menggerutu,


tangannya berpura-pura ingin memukul Caca saking kesalnya.


Caca mengangkat kepalanya, “Iya maaf, maafin aku ya, nih


bilang sama dedek bayi jangan buat aku ngidam yang aneh – aneh dan nyusahin


ayahnya.”


Rendi mengelus perut Caca, “Dek please nurut sama ayah ya,


jangan nakal, jangan nyusahin ayah, nanti pas lahir ayah cubit-cubit nih kalau


nakal.”


“Heh nanti yang ada dia gak mau lahir lho, eh yang mau aku


pijet gak?” Caca mengedip-ngedipkan matanya kea rah Rendi.


“Boleh deh, tapi jangan pakai baju ya.”


Seketika tawa keduanya dan di sambung dengan desahan yang


menderu, menambah liar suasana kamar Caca dan Rendi kala itu juga.


***


Pagi itu di kampus Anto, dia dan kawan-kawan sekelasnya


mengikuti kajian agama bagi remaja kampus yang di adakan tiap hari jumat.


“Pernikahan merupakan impian setiap orang, pria maupun


wanita. Setiap orang memiliki impiannya masing-masing apalagi mengenai pasangan


hidup, pasti banyak orang yang ingin memiliki pasangan yang cantik atau tampan


betul tidak?”


“BETUL…!!!”


Sahut Anto dengan lantang bersamaan dengan kawan-kawannya


saat mengikuti kajian agama pagi itu.


“Nah apakah cantik atau tampan bisa menjadi sumber


kebahagiaan?”


Tanya Dosen yang bernama Ibu Mawar kepada para mahasiswi dan


mahasiswanya.


“Bahagia dong bu, kan kalau pasangan kita cantik diliatnya


seger bu tiap hari nambah nafsu.” Ucap Badri yang duduk di sebelah Anto.


“Halah elo mah kambing dibedakin aja juga nafsu!”


Anto menoyor kepala Badri saking isengnya.


“Huuuuu…. Hahahahaha.”


Tawa riuh para mahasiswa menyambut kelakar dari Anto.


“Kalian yakin? Coba Tanya yang perempuan, hayo jawab mending


cowok cakep tapi miskin, apa cowok jelek tapi kaya?”

__ADS_1


Tanya Bu Mawar pada para mahasiswi di ruangan itu.


“COWOK KAYA BU…!”


sahut para mahasiswi dengan kompak sambil tertawa cekikikan.


“Hu…. Pada matre elo semua !”


Anto bersungut-sungut pada teman perempuan di belakangnya.


“Lah kalau cowok udah tajir alias kaya, mau muka bopeng,


jelek, gradakan mah bisa dipermak cuy, di oplas di Korea.”


Sahut Ranti teman sekelas Anto yang pernah melakukan oplas


alias operasi plastik ke Korea demi hidung mancung, pipi tirus dan bibir sexy


bagai Angelina Jolie.


“Ah elo mah biasa main sama om jelek asal berduit aja ya


jelas jawab laki kaya, coba Tanya sama Aisyah tuh udah cantik, pakai hijab,


soleha, anak juragan empang eh salah juragan tambak lele, pasti nyari jodohnya


yang soleh, pinter ngaji dan rajin solat ya, Syah?”


Tanya Anto ke perempuan manis berhijab yang duduk di sebelah


Ranti. Aisyah mengangguk sambil tersenyum.


“Eh sudah-sudah, ibu lanjut nih kajiannya. Setiap orang


menikah memiliki tujuan masing-masing, ada yang memang ingin menikahi


pasangannya karena cinta banget, ada yang ingin memperoleh kehidupan ideal


seperto orang-orang di sekitarnya, dan ada yang melampiaskan kebutuhan


biologisnya semata saja. Namun, ada juga yang menikah semata-mata hanya karena


Allah, melaksanakan perintah Allah SWT, dan menjalani sunah Rasulullah. Jadi,


sebaiknya kalian menikah atas dasar ingin menaati perintah Allah. Kalau hanya


bosen nanti pasti ada yang lebih cantik atau ganteng lagi, kalau dari materi


seseorang itu bisa jadi miskin atau kaya.”


Ucapnya panjang lebar.


“Tuh denger makanya.” Sahut Anto yang kembali menoyor Badri.


Plak… Badri membalas memukul kepala Anto.


“Oke saya sudahi kajian pagi ini ya, saya harap kalian bisa


mencermati apa arti pernikahan sebelum kalian siap menuju kesana.”


Ucap Bu Mawar mengakhiri kajian pagi itu.


“Aduh kok gue jadi pengen nikah ya?” gumam Anto yang di


dengar Ranti.


“Idih emang ada manusia yang mau nikah same lo?” Ranti


mengejek Anto.


“Eh kuntilanak alas tua, berani ya elo ngeledek gue awas lo!”


Anto berusaha meraih rambut Ranti ingin menjambaknya namun


terantuk kaki kursi dan menabrak Aisyah.


“Astagfirulah... Maaf Aisyah gue gak sengaja.”


Plak…!


Tamparan keras menderat di pipi kanan Anto karena tak


sengaja menyentuh payu**ra Aisyah yang lalu pergi berlari sambil menangis.


“Ah gila lo Nto, parah lo, kalau sampe dia ngadu ke babenya,


habis lo Nto, minta maaf sana!”


Ranti memperingati Anto lalu pergi menyusul Aisyah.

__ADS_1


“Gue udah minta maaf tau…”


Ranti tak menghiraukan teriakan Anto.


“Parah lo Nto, minta maaf gih ke rumahnya kalau perlu.”


Ucap badri.


“Yah gue takut sama babe nya nanti gue di patahin lagi


tulang-tulang gue, kan babenya jawara kampung Kelor.”


Sahut Anto dengan wajah khawatir.


“ Tapi kalau elo gak minta maaf ke rumah Aisyah, bisa – bisa


elo di cap banci sama kita – kita, ya gak Gus?”


Tanya Badri pada Agus yang asik mencabuti bulu hidungnya


itu.


“ Eh iya bener, hooh, duh sakit lagi.”


Sahut Agus asal, lalu melanjutkan lagi aktivitasnya tadi.


Anto duduk kembali di kursi dan berpikir sejenak.


“Elo anterin gue ya ke rumah Aisyah.” Ucap Anto.


“Beres, Tapi traktir ya?”


Badri merangkul bahu Anto.


“Ah sompret loh, untung aja semalam kakak ipar gue bagi


duit, ayo deh kita kemon!”


Ajak Anto.


“Eh gue ikut lah?” pinta Agus menyusul Anto dan Badri.


“Kaga muat, gue bawa motor, cuma bisa boncengin Badri.”


Sahut Anto menolak Agus ikut serta.


“Oh ya udah deh kalau begitu, besok gentian traktir gue ya,


oke bye gue mau cabut dulu.”


Agus menepuk bahu Anto lalu pamit pergi.


“Ih emang ada jasa apa dia sama gue pake minta traktir,


dasar ogeb!”


Ucap Anto lalu menyalakan mesin motor vespa skutiknya.


“Gue naik ya Nto.”


Ucap Badri sambil memegangi kedua bahu Anto.


“Ih apaan ini nempel di tangan gue?”


Badri menunjukkannya pada Anto.


“Idih najong… itu upilnya si Agus, kampret tuh bocah!”


Anto merutuki Agus yang telah lama pergi dari hadapan


mereka.


“Idih najis, najis, najis tuh bocah.”


Badri mengusap telapak tangannya ke helm Anto.


“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa….!!!”


***


Jangan lupa mampir ya ke With Ghost


Baca juga :


-          Pocong Tampan


-          9 Lives


-          Gue Bukan Player

__ADS_1


__ADS_2