
Sebelum membaca Vie mohon klik tombol Like jangan lupa ya, terus di vote juga, Rate bintang lima juga ya, apalagi mau kasih koin seikhlasnya boleh banget...
Happy Reading 😘😘
*****
Sekembalinya mereka ke Jakarta mereka sudah disambut para sahabat tercinta di bandara.
Caca memeluk Rani dengan erat memeluk Ivan dan Anto sebentar dan ketemu Nayla cukup say hai aja buat Caca.
"Aaahhhh kamar I Miss you..." Caca merebahkan tubuhnya di ranjang kesayangannya. Para lelaki sudah berada di ruang tamu menemani papa ngobrol-ngobrol.
Nayla sibuk membantu mama Maya merapikan barang dari koper. Rani menyusul Caca ke kamarnya.
"Cie calon manten, gimana persiapannya?" tanya Caca.
"Hari ini fitting baju, elo ikut yak." ajak Rani.
"Oke siapp, eh Ran." sahut Caca.
"Kenapa?" tanya Rani penasaran karena ucapan Caca terhenti.
"Emmm gak jadi deh..." ucapnya.
"Gue sumpahin jadi perawan tua kalo gak cerita." ancam Rani.
"Haduh serem dong elo aja bentar lagi gak perawan masa gue jadi perawan tua." sahut Caca memonyongkan bibirnya.
"Makanya cerita." ujar Rani.
Caca menarik nafas dalam-dalam.
"Kayanya gue mulai inget deh sebagian." ucap Caca.
"Oh ya bagus dong, apa yang elo inget?" Rani sangat ingin tahu.
"Inget elo sama Anto dan sama yang lain." Caca berusaha berbohong.
"Itu mah elo udah mulai inget sih, gak yakin gue elo mau cerita ini." Rani tahu kalo sahabatnya itu berbohong.
"Emmm bener kok itu." Caca menunduk takut menatap mata tajam Rani.
"Yakin...?"
"Oke fine, gue inget adegan di mobil sama Rendi." tuturnya cepat.
__ADS_1
"Adegan yang kemaren ? kan emang elo abis reka ulang tuh adegan." ucap Rani.
"Bukan, ini adegan sesungguhnya pertama kalinya kita jadian, gue gak ngerti deh Ran, jelas -jelas papa bilang gue adik kakak kok bisa jadian?" tanya Caca mencari jawaban dari Rani.
"Gimana ya Ca, kalian tuh gak tau kalo kalian adik kakak dulu, pas kalian udah jadian baru kalian tau." Rani mencoba menjelaskan.
"Berati kisah cinta pertama gue tragis dong sama kakak sendiri hahaha." ucap Caca.
"Takdir kalian aneh Ca, tapi kalian tuh sebenernya bukan adik kakak kok." Rani menutup mulutnya keceplosan.
"Apa Ran?"
"Enggak cuma bilang takdir yang aneh." ucap Rani.
"Tapi di sini kenapa gue ngerasa cinta banget sama kakak gue ya Ran." Caca menunjuk dadanya.
Rani tuh mau bilang banget kalo mereka bukan adik kakak tapi nanti Caca malah tanya ke papa Adi terus kondisi papa Adi kan baru aja pulih. Rani hanya menggigit banyak menanggapi keluh kesah Caca.
Suara ringtone ponsel Caca berbunyi ternyata dari dokter Kevin.
"Hello, aku ganggu gak?" tanya Kevin
"Enggak, kenapa dok eh Kev?" jawab Caca.
"Cuma mau bilang I miss you."
"Siapa Ca loud speaker dong."
bisik Rani dan Caca memencet tombol loud speaker nya.
"Aku boleh kan Ca ke Indonesia?" tanya kevin.
"Oh boleh dong siapapun boleh main kok ke Indonesia."
Kevin tertawa renyah karena pertanyaan bodohnya itu.
"Maksudnya kerumah kamu?"
"Boleh." jawab Caca.
"Nanti sore aku kesana ya sekalian ketemu papa kamu."
"Boleh."
"Ca aku serius, I Miss you."
__ADS_1
Caca terdiam mendengar kata-kata itu.
"Ca... Caca... hallo...?"
"Aduh.." Rani menepuk bahu Caca menyandarkannya.
"Iya dok, eh Kevin udah dulu ya nanti kabarin aja kalau udah sampe."
Caca menutup ponselnya.
"Siapa Kevin Ca?" tanya Rani penasaran.
"Dokternya papah." jawab Caca.
"Kayaknya dia naksir elo deh pake mis misan segala cieee..." goda Rani.
"Apaan sih elo Ran."
"Coba liat fotonya."
"Bentar gue cari profil wa nya dulu."
Caca menyodorkan foto Kevin dari ponselnya ke Rani.
"Whaat... Chris Evans...!!" pekik Rani.
"Tuhkan pertama kali gue liat dia kaya Chris Evan yang jaman dulu banget."
"Masih muda, ganteng, dokter di Singapur lagi, tajir nih." Rani berdecak kagum.
Caca melongok dari jendelanya ke bawah. Di tepi kolam itu Nayla memeluk Rendi dari belakang. Rendi mencoba menepis pelukan Nayla. Entah kenapa Caca merasa hatinya sangat panas tanpa sadar di remasnya biskuit yang tadi di genggamnya.
Tok Tok
"Beb, ayo katanya mau fitting baju."
Ivan mengetuk pintu kamar Caca mengingatkan kegiatannya dan Rani nanti.
"Oke beb, aku ajak Caca ya?"
"Boleh sekalian fitting baju pengiring pengantin aja, ajak Anto sama Rendi, perlu ajak Nayla gak?" Ivan menggoda Rani.
"Awas aja kalo kami berani ajak dia, krek." Rani menaruh jarinya di lehernya seolah-olah mau memotong leher Ivan.
Caca tertawa melihat tingkah ke dua sahabatnya itu, dan tiba-tiba dia ingat Genk four circle nya dulu. Caca melihat ke atas langit tersenyum berharap Fahmi juga tersenyum melihat kebahagian Rani dan Ivan.
__ADS_1
****
bersambung...