
Sebelum membaca Vie mohon klik tombol Like jangan lupa ya, terus di vote juga, Rate bintang lima juga ya, apalagi mau kasih koin seikhlasnya boleh banget...
Happy Reading 😘😘
*****
Caca memasuki galeri Rendi, terlihat beberapa pengunjung di sana.
"Eh non Caca." sapa Pak Parno.
"Maaf bapak siapa ya?" tanya Caca.
"Loh saya kan Parno penjaga galeri ini." jawabnya.
"Oh.. maafin saya ya pak, saya gak bisa inget bapak." Caca menjabat tangan Pak Parno meminta maaf.
"Gak papa non udah biasa saya mah gak dianggep, pacar saya aja malu nganggep saya hehehe." Pak Parno menggaruk kepalanya sambil tertawa.
"Dih Pak Karno mah beneran bukan masuk Caca gak anggep bapak." ucap Caca
"Parno non nama saya Parno."
ucapnya menegaskan.
"Iya yak Pak P A R N O, ya kan? tanya caca
Pak Parno mengangguk dengan tersenyum.
"Cari den Rendi yak? tadi barusan keluar non, anter lukisan." ucap pak Parno.
"Oh gak papa pak saya gak cari dia juga sih mau liat-liat aja boleh kan?" tanya Caca.
"Boleh non, itu yang sebelah sana itu ruang kantor den Rendi, non biasa nunggu disitu kok, nanti saya bawain teh anget kaya biasa." ucapnya sambil menunjuk ruang di lantai atas kantor Rendi.
"Oke Pak, makasih ya." Caca melihat-lihat lukisan di galeri Rendi lalu pergi ke lantai atas ke ruang kantor Rendi.
***
Caca memandangi ruang kantor Rendi ada ingatan yang tergugah di dalamnya. Ia beralih ke pojok ruangan yang tertutup Tirai agak gelap memang lalu dia nyalakan lampu di sudut ruangan itu.
Ternyata banyak sekali gambar lukisan yang mirip dirinya. Ada senyum bahagia terpancar di wajahnya. Apa ini lukisan Rendi yak? batinnya.
Terlihat di sudut kanan bawah lukisan.
For My love Caca...
Rendi '19
"Iya ini benar lukisan Rendi.''
Gumam Caca.
Caca menyentuh dinding yang terdapat di sudut ruangan itu. Terlintas kembali serpihan kenangan bersama Rendi saat menunjukkan ruang rahasia waktu itu
"Arrrghhhh sakit banget kepalaku." lirih nya.
"Caca kamu ngapain di sini ?" Rendi terkejut saat mengetahui keberadaan Caca di ruangannya.
"Maaf Kak aku cuma mau liat-liat aja kok."
Rendi langsung menghampiri Caca dan memeluknya.
__ADS_1
"Biarkan aku seperti ini Ca, sebentar saja." pinta Rendi.
Caca membiarkan Rendi memeluknya dan membalas pelukannya makin erat, ada rasa kedamaian di sana.
drit drit drit drit
Ponsel Caca bergetar di pouchnya.
Caca melepas kan pelukan Rendi dan meraih ponselnya.
"Ya Ran, kenapa?"
"Dimana elo Ca ?" Suara Rani di ponsel Caca.
"Di galeri sama Rendi." jawab Caca.
"Bagus... biar sekalian, nanti malam kerumah gue ya."
"Ada apaan Ran ?"
"Cacaaaaaa.... gue mau di lamar.....!!!!" pekik Rani.
"Awww pengeng kuping gue.... HAH DI LAMAR...???"
Caca memukul bahu Rendi kali ini karena saking terkejutnya.
"Sama siapa...?" Bisik Rendi.
"Sama siapa Ran...?"
"Ah masa sih elo gak tau, udah yak ntar malem jam 7 pake kebaya bilangin Rendi pake jas jangan kebaya, hahahaha bye..."
"Siapa yang mau ngelamar Rani sih ?" tanya Caca pada Rendi.
"Kamu serius gak tau?"
Caca menggeleng benar- benar tak tahu.
"Ayo siap-siap!" ajak Rendi.
"Siap-siap apa?"
"Siap-siap aku nikahin."
Caca melepaskan tangan Rendi dan terdiam.
"Siap-siap ke rumah Rani, Ca." Rendi menarik lagi tangan Caca.
"Oh ...... hehhehehe." Caca menuruti Rendi kali ini.
Rendi hanya tersenyum meraih tangan Caca dan mengajaknya keluar ruangan.
***
Di rumah Rani, Anto sudah memasang hiasan balon huruf bertuliskan
"Happy Engagement"
"Rani & Ivan"
"Oh... Ivan... yang mana ya?" tanya Caca.
__ADS_1
" Nih yak biasanya kalo amnesia itu kan karena benturan kepala, nah gimana kalo kepala Caca gue pukul pake tongkat bisbol siapa tau langsung inget lagi?"
Pinta Anto seraya mencontohkan gaya memukul kepala Caca dengan tongkat bisbol.
Caca menunduk takut menutupi kepalanya, takut jika Anto nekat melakukannya.
"Gila loh parah, nih ya kalo Caca sadar sih gak papa nah kalo Caca malah tambah gegar otak terus mati gentayangin elo tus elo siap Hah..??" jawab Rani menendang kaki Anto.
"Aduh... kan cuma ide kak, ya gak Ren?"
Anto melirik Rendi yang membelai rambut Caca, namun selalu di tepis oleh Caca.
"Gue gak nyangka Ran, padahal dulu dia selalu bilang soulmate nya Caca loh eh sekarang malah kepelet sama elo hahaha." ucap Rendi sambil tertawa lalu Caca menoleh kearahnya.
"Soulmate aku ??" tanya Caca makin heran.
"Hmmm Ca nanti aja deh cernanya kasian kalo otak elo gak sampe yang ada nge hang lagi." sahut Rani.
"Tapi beneran deh maksudnya si Ivan itu mantan aku?"
"BUKAN...!!!"
Rani menghentikan pertanyaan Caca takut Caca salah paham soal perasaanya terhadap Ivan.
"Dia bukan siapa-siapa elo, Ivan temen kita dari kecil, soulmate itu cuma becandaan kok." sungut Rani.
"Ren, elo tanggung jawab kalo Caca malah salah paham ke Ivan ya?" Rani menatap Rendi geram.
"Iya sorry..." jawab Rendi menyesal.
"Yeayyy calon tunangan elo dateng tuh bawa roti beruang." ucap Anto melerai keributan mereka.
***
Acara tunangan pun berjalan sesuai harapan, pernikahan akan di tetapkan tiga bulan dari sekarang.
Rendi membayangkan Rani dan Ivan itu adalah dia dan Caca.
"Ehmm.. anak mama bengong apa sih?"
Tanya Bu Maya yang saat itu tidak didampingi Pak Adi yang sedang keluar kota.
"Mah, kalo Rendi sama Caca mama setuju kan?"
"Kalo Caca mau kenapa enggak." jawab Bu Maya.
"Tapi papa mah, dia belum setuju kan." rengek Rendi.
"Wah itu sih sulit Ren.. hehehhe."
"Ah..... mama..."
****
Bersambung...
Happy Reading
Jangan lupa Vote Like dan Komennya
😊😍😘
__ADS_1