
Sebelum membaca Vie mohon klik tombol Like jangan lupa ya, terus di vote juga, Rate bintang lima juga ya, apalagi mau kasih koin seikhlasnya boleh banget...
Happy Reading 😘😘
****
Satu bulan Caca pergi dari kehidupan Rendi dan keluarganya. Dia tinggal bersama neneknya di Surabaya. Bekali-kali papa nya berusaha menghubunginya namun Caca masih enggan menerima keputusan untuk tinggal dengan mereka.
"Ca, minggu depan ultah gue nih, elo gak mau comeback gitu ke Jakarta."
Rani menelpon Caca sembari mendapatkan perawatan meni pedi disalon dekat kampus.
"Kampus sepi nih, entar gue cari temen baru lho."
"Hahaha gue males Ran masih mau disini dulu."
"Sampai kapan Ca elo ngumpet terus disana?"
"Gue gak tau Ran, hati gue masih sakit banget apalagi kalo liat Rendi."
"Yaelah move on lah Ca, gue sumpahin nanti elo dapet jodoh yang paling baek paling cakep kaya oppa Park Seo Joon apa Oppa Hong Yoo gitu eh jangan deng ketuaan kalo Gong Yoo mah."
"Gak papa Ran kalo om om nya ahjussi macam Gong Yoo gue rela dah." ucap Caca terkekeh.
"Ndok ono telpon iki, mbok di terima sek yo." Nenek Caca masuk ke kamarnya sambil membawa telpon rumah tanpa kabel digenggamnya.
"Ran udahan dulu yak ntar sambung lagi." Caca menyentuh akhiri telpon pada layar ponselnya.
"Dari siapa eyang?" tanya Caca pada neneknya.
"Terima aja ngomong sek, penting kui mau."
Caca menerima telpon itu "Halo siapa ini?"
"Ca ini aku."
__ADS_1
Caca hapal betul suara itu suara yang dulu selalu mengisi hari-harinya suara yang dulu sangat dicintainya, Rendi.
"Eyang ini telponnya balikin lagi aku gak mau ngomong."
"Ngomong dulu toh penting kui." seraya mendorong telepon itu ke arah Caca.
Caca menarik nafas panjang dan akhirnya dia membalas sapaan Rendi via telepon itu.
"Ya..."
"Akhirnya.. Ca ayah barusan pingsan di kantor terus koma. Tadi sempat sadar dan kata mamah dia panggil nama kamu terus."
Deg... air mata mengalir dari wajah Caca. Ia tak ingin pulang menemui papa, melihat Bu Maya apalagi Rendi. Namun mendengar papa nya koma di rumah sakit membuat hatinya sangat sedih.
"Ca... Ca... please aku mohon pulang yak." pinta Rendi karena tak ada jawaban akhirnya ia putuskan sambungan ponselnya itu.
Caca sudah menangis memeluk neneknya.
"Ngene yo ndok, bukannya eyang mau ngusir kamu, tapi papah mu kui loro, nanti kalo kamu ndak bisa ketemu papa kamu lagi gimana?" ucap Neneknya.
Tangisan Caca makin pecah dalam benaman pelukan sang nenek. Ia ingat betul bagaimana ia menyia-nyiakan pertemuan terakhirnya dengan sang Mama. Kali ini dia harus hilangkan egoisnya demi menemui papa biar bagaimanapun Caca sangat menyayangi papanya itu.
***
"Akhirnya kamu pulang juga." Rendi langsung memeluk Caca dan membenamkan wajah Caca pada dadanya dengan pelukan erat.
Caca merasakan kenyamanan didalamnya dan tak ingin melepasnya namun ia tersadar sekarang Rendi adalah seorang kakak nya bukan seorang pacarnya lagi.
Caca melepas pelukan Rendi lalu menghampiri suster untuk mengenakan pakaian ICU.
Dilihatnya Ibu Maya yang sedang menunggui papa. Saat melihat Caca masuk ke ruangan Ibu Maya langsung memeluk Caca dan menangis. Entah kenapa Caca merasa pelukan itu nyaman pelukan yang dulu dia dapatkan dari seorang mama.
"Kamu temani papa kamu dulu ya." Ibu Maya pergi keluar ruangan meninggalkan Caca dan papanya.
"Maafin Caca ya pah." gumamnya.
__ADS_1
***
"Gue nginep dirumah elo ya Ran?" tanya Caca pada Rani saat berpamitan di rumah sakit namun Bu Maya mencegahnya.
"Kamu pulang kerumah nak!"
"Gak mau Tante, rumahku kan udah dijual katanya."
"Rumah Tante maksudnya, angkat barang bawaan Caca ke mobil Ren." tanpa mengulang kalimatnya Rendi langsung menaruh barang-barang Caca di bagasi mobilnya.
"Aku dirumah Rani aja Tante."
''Ehmm Ca gini ya gue tadinya mau ngajak elo nginep dihotel aja tapi mending yang gratis Ca dirumah Tante Maya." ucap Rani sambil menggaruk kepalanya.
"Loh emang kenapa?" tanyanya.
"Bokap nyokap ke Malaysia terus si Anto pergi hiking gue takut kalo cuma berdua sama elo dirumah. Elo masih inget cerita gue kan rumah yang samping gue itu kosong dan konon banyak yang bilang liat penampakan hiyyy." Rani memeluk diri nya sendiri tanda ngeri.
Caca akhirnya menurut pergi kerumah Rendi. Toh saat itu hatinya lega karena ada Rani menemaninya sedangkan Bu Maya masih dirumah sakit menunggui papanya.
Rendi selalu melirik Caca dari spion mobilnya. Harus diakui nya bahwa dia sangat rindu sekali melihat Caca namun mengetahui Caca adalah adiknya membuat hatinya ciut jatuh kejurang terdalam.
Saat didepan rumah Rendi betapa kagetnya Caca dengan seseorang yang membukakan gerbang dan menyambutnya.
"Non....!!!" teriak mbok Nah.
"Mbok Nah....!!!" teriak Caca.
Mereka saling berlari menghampiri dan berpelukan.
"Jadi kaya nonton film India gue tinggal di tambah backsound a.... aaaaaaa....
( intro lagu Kuch Kuch Hota Hai)."
ucap Rani.
__ADS_1
****
Bersambung