Kakakku Cinta Pertamaku

Kakakku Cinta Pertamaku
Takdir Nayla


__ADS_3

Sebelum membaca Vie mohon klik tombol Like jangan lupa ya, terus di vote juga, Rate bintang lima juga ya, apalagi mau kasih koin seikhlasnya boleh banget...


Happy Reading 😘😘


*****


Nayla langsung dilarikan kerumah sakit segera banyak darah yang keluar dari kepalanya dan Caca sempat melihat kaki Nayla yang terlindas mobil tadi.


Caca memeluk Rendi sambil menangis didepan ruang Instalasi Gawat Darurat rumah sakit kota. Tak lama kemudian datang ayah Caca Papa Barata dan Fahri ke rumah sakit.


"Gimana kondisi Nayla?" Papa Barata mengguncang bahu Caca.


"Maafin Caca Pah tadi aku gak sempet mencegahnya."


"Terus kondisinya gimana?"


"Tunggu dokter om belum ada yang keluar dari tadi." sahut Rendi.


Akhirnya seorang dokter laki-laki keluar dari ruangan.


"Keluarga pasien Nayla?"


"Ya saya papa nya dok gimana kondisi anak saya?"


"Saudari Nayla harus segera dioperasi dan butuh transfusi darah tapi kami kekurangan stok darah B yang cocok dengan Nayla."


"Aku B dok, pake darah aku aja."


"Papa aja Ca, papa juga B."


"Yah aku A gak bisa ya?" sahut Fahri.


"Gak perlu dijawab yak." sahut Rendi menimpali.


"Baiklah bapak dan nona ini bisa ikut kami untuk tes darah jika cocok dan tak bermasalah bisa di transfusikan ke saudari Nayla." ucap Dokter.


Caca dan Papa Barata masuk ke dalam ruangan dan pasien Nayla dipindahkan ke ruangan operasi.

__ADS_1


***


Dua jam berlalu dari operasi Nayla akhirnya dokter menyatakan Nayla selamat dari kritis namun kaki kirinya Nayla harus diamputasi karena tulangnya remuk.


Nayla akhirnya dipindahkan ke ruangan perawatan. Caca meminta ke Papa Barata untuk menjaga Nayla. Rendi meminta untuk menemani Caca namun menurut mama Maya Rendi dan Caca masih dalam masa pingitan jadi melarang keduanya bersama. Akhirnya Fahri menemani Caca menjaga Nayla.


Nayla siuman dan tersadar di tangannya terdapat kepala Caca yang tertidur pulas menunggunya.


Nayla menyentak tangan Caca membuat Caca terbangun.


"Eh Nay udah bangun, mau minum gak?"


"Gak usah sok baik elo sama gue."


"Gue gak sok baik kok, gue cuma nawarin elo minum, kalo gak mau yaudah."


"Ngapain juga elo disini mau ngetawain gue yak, puas elo udah bikin gue lumpuh kaya gini hah??" Nayla menangis memukul kedua kakinya yang terasa kebas dan yang satu sudah diamputasi selutut.


"Apa elo liat gue lagi ketawa? enggak kan, elo adik gue jadi wajar gue simpati sama elo."


"Gue gak butuh simpati dari elo!!"


Caca keluar dari ruangan kamar Nayla.


"Puas elo kak??" ucap Fahri dari sofa.


"Bukan urusan elo."


"Kak Caca itu baik banget, kalo bukan karena dia elo gak bakal hidup."


Nayla masih terdiam mendengar ucapan Fahri.


"Kak Caca udah donorin darahnya ke elo, papa gak bisa karena dia udah punya sakit diabetes, Kak Caca nangisin elo tau gak, dia ngerasa bersalah karena gak bisa nahan elo lari."


Nayla terdiam memikirkan kata-kata Fahri barusan.


"Jadi ini yak gue baru sadar, pantesan elo lebih milih Caca daripada gue yang kaya gini Ren, gue gak bisa kayak Caca gak bisa sebaik dia." gumam Nayla.

__ADS_1


Fahri memeluk kakaknya itu membuat tangisan Nayla makin meledak dipelukannya.


***


"Hai guys...!!" sapa Caca ke arah Rani, Ivan dan Anto di sebuah meja cafe tempat mereka biasa berkumpul.


"Hai... Ca!"


"Ceritain gue kejadian apa sih waktu itu? gimana ceritanya?" tanya Caca menyantap roti sandwich diatas meja.


"Jadi ceritanya Nayla mau ngejebak Rendi terus ketauan sama elo, tapi Nayla bodoh dia gak tau kalo diruangan itu si Anto hahahha." ucap Rani.


"Kok elo tau Nto Nayla mau ngejebak Rendi?" tanya Caca


"Dari Fahri." sahut Anto.


"Kok gak bilang sama gue?"


"Disuru Rendi, tadinya gue bahas sama dia terus gue disuru gantiin dia diruangannya, eh terus Nayla masuk buka baju terus cium gue pegang- pegang gue ya gue mau aja lah hehehe."


"Hu.... kesempetan elo namanya." Ivan menimpuk Anto dengan remahan kentang.


"Oh... gitu... duh makin kasian gue sama Nayla. Dia udah lumpuh sekarang sih, ya kata dokter masih bisa jalan suatu saat asal rajin terapi, tapi tetep aja dia pake kaki palsu." ucap Caca sedih.


"Tenang aja Ca, gue bakal jagain dia apapun yang terjadi sama Nayla gue bakal terima apa adanya." ucap Anto percaya diri tapi takut melihat tatapan tajam Rani.


"Udah lah Ran restuin aja adek elo jadi adek ipar gue." Caca menatap Rani dengan memelas.


"Hmmmm kalo Nayla berubah kelakuannya gue bakal terima tapi kalo masih nyolot liatin aja dah..."


Caca dan Anto tersenyum puas dan keduany melakukan tos.


***


Bersambung...


Happy Reading

__ADS_1


Semoga suka...😘😘😘


__ADS_2