
Sebelum membaca Vie mohon klik tombol Like jangan lupa ya, terus di vote juga, Rate bintang lima juga ya, apalagi mau kasih koin seikhlasnya boleh banget...
Happy Reading 😘😘
*****
Rendi pergi meninggalkan pesta pernikahan Rani dan Ivan tanpa pamit tanpa menoleh lagi meninggalkan sejuta kesedihan di hati Caca sejuta kesedihan di hati papa Adi dan Mama Maya.
"Are you okay Ca?" tanya Kevin berusaha menahan Caca agar tidak pergi juga meninggalkan pesta itu namun langkah kaki Caca sudah bulat pergi dari sana.
"Tolong biarin aku sendiri " ucap Caca.
"Dengerin papa dulu Ca." papa Adi mencoba menahan tangan mungil putrinya itu namun kali itu Caca menepisnya.
"Maaf pah... ijinin Caca pergi."
Mama Maya menahan papa Adi untuk tak menahan Caca, dia tau hati Caca dan Rendi pasti remuk berkeping-keping saat itu juga.
***
Sehari setelah pernikahan Ivan dan Rani, Rendi pergi dari rumah entah menghilang kemana tanpa mengaktifkan ponselnya. Caca hanya berdiam diri di kamar hanya mbok Nah yang mampu masuk ke kamarnya selebihnya gak ada yang boleh masuk kesana.
"Non, makan dulu." Mbok Nah menaruh piring ketiga nya yang selalu di acuhkan oleh Caca.
Caca selalu menggeleng menatap jendela di kamarnya itu memandang langit yang cerah namun tak secerah hatinya.
"Mbok... kalo Caca bukan adiknya kak Rendi Caca anak siapa mbok?" air mata Caca tak tertahankan lagi dia sudah menangis memeluk bantalnya tersedu-sedu.
Sampai sekarang pun ia belum ingat dengan orang-orang disekitarnya ditambah lagi dengan jati diri ia sebenarnya.
"Caca mau ke Surabaya mbok, mungkin nenek lastri tau jawabannya." ucap Caca lalu beralih mengemas barang-barangnya dalam koper besar.
"Non, inget kesehatan tuan Adi non, kalo non pergi nanti tuan sakit lagi." ucap Mbok Nah berusaha mencegah kepergian Caca.
__ADS_1
"Dia kan bukan papa aku mbok, kenapa aku harus bingung dengan keadaannya."
Plak..!! Mbok Nah menampar Caca kali ini karena terpaksa Agar Caca sadar dengan perkataannya.
"Maafin mbok non maafin, mbok cuma mau non Caca eling non eling, 20 tahun non di rawat sama tuan Adi sama nyonya Mirna sekarang saat tau non bukan anak mereka bisa-bisanya non ndak peduli dengan tuan Adi padahal Tuan Adi tetap ndak berubah kan non, selalu jadi papa yang sama buat non?"
Caca hanya terisak sambil mengusap pipinya yang terasa panas saat itu.
"Maafin mbok ya non." mbok Nah mencoba mendekati Caca mengelus pipi Caca namun di tepis oleh Caca.
"Caca mau pergi mbok, minggir dari hadapan ku mbok!"
Caca yang marah tetap nekat pergi meski mbok Nah berusaha menahan Caca.
"Non mau kemana?"
"Minggir mbok!"
Mama Maya masuk ke kamar Caca dan menutup ya dengan kencang.
"Tidak kah kamu dewasa Ca?" ucap mama Maya.
"Kamu memang bukan lahir dari rahim saya bahkan bukan lahir dari rahim sahabat saya Mirna, tapi apa saya menolakmu?"
Caca terdiam tak bergerak mematung di sudut sana.
"Anak yang lahir dari rahim saya saat ini malah pergi kan? Kalo boleh saya jujur saya bisa gila dengan semua keadaan ini tapi apa? saya bertahan kan? saya bertahan karena keadaan papa mu? oh iya menurutmu kan dia bukan papamu, tapi suami tercinta saya."
"Ijinkan saya pergi Mah ."
"Yakin kamu mau pergi, asal kamu tahu setelah kamu pergi mungkin ada dua mayat keesokan harinya, Papamu yang terkena serangan jantung dan saya yang bunuh diri. silahkan kamu pergi, silahkan...!"
Mama Maya membuka pintu kamar Caca kali ini membiarkan dia pergi.
__ADS_1
Caca memeluk Mama Maya dengan erat dan memuntahkan tangisannya yang sudah sangat tak tertahan.
"Ma maaf maafin Caca mah.." Caca terisak mengucapkannya.
Mama Maya mengelus rambut Caca dengan lembut.
"Mama akan selalu menganggap mu sebagai putri mama, begitu juga Mirna pasti akan selalu menganggap mu putrinya."
"Tapi mah, maukah membantuku untuk menemukan orang tua kandungku?"
Tanya Caca.
"Apa kau siap menerima hal terburuk nanti?"
Caca mengangguk pelan.
"Hal apapun?" Mama Maya berusaha menegaskan kembali pertanyaannya.
"Iya Caca harus lebih dewasa kan mah?
Mama Maya makin memeluk Caca dengan erat.
"Maafin mbok Nah ya non." Mbok Nah masih membutuhkan jawaban Caca atas tamparannya tadi.
"Caca pantes mbok di gituin." Caca menoleh pada mbok Nah lalu memeluk mbok Nah dan keduanya menangis.
***
Bersambung
Jangan lupa Vote Like dan Komennya
Happy Reading...
__ADS_1