
Sebelum membaca Vie mohon klik tombol Like jangan lupa ya, terus di vote juga, Rate bintang lima juga ya, apalagi mau kasih koin seikhlasnya boleh banget...
Happy Reading 😘😘
*****
Di cafe hotel tempat Rani dan Ivan menginap, mereka sedang bersantai menikmati alunan musik home band di atas panggung.
Anto yang melihat Caca datang sudah berusaha menghindar memindahkan tubuhnya pindah ke kursi belakang.
BRAAK...!!!
Gebrakan meja Caca membuat para pengunjung sekitarnya menoleh kearahnya.
"Elo mau kecelakaan beneran HAH...???" bentak Caca pada Rani.
"Maksud elo Ca?" Rani tak merasa ide kecelakaan itu datang darinya terheran mendapat gebrakan meja Caca.
"Iya Anto bilang elo kecelakaan gak bisa bangun mau ketemu semua orang yang elo sayang mau pamitlah, coba elo pikir sepanjang perjalanan di pesawat gue nangisin elo gue berdoa sama elo sampe gue nazar mau merid nyusul elo buat bisa bulan madu bareng, nyatanya apa HAH...??" Caca masih bertahan dengan posisi nya berdiri dengan kedua tangan bertolak pinggang.
"Gue gue gak ngerasa ngomong gitu deh Ca, beb ini kamu yak?" Rani menarik kerah kaos Ivan disampingnya.
"Gak beb aku cuma minta Anto bawa Caca kemari bagaimanapun caranya, coba tanya An..., lah mana nih orang." Ivan mencari Anto di sekeliling tempat.
Rani berjalan ke arah atas panggung meminjam microphone penyanyi cafe di sana.
"Tes tes, mohon maaf hadirin sekalian, mohon yang bernama Anto segera hadir ke hadapan saya sekarang, atau... elo tau kan Nto gue bisa lakuin apapun biar elo menderita ."
__ADS_1
Sosok Anto berdiri perlahan dari tempat persembunyiannya menampakkan diri.
"Nah itu Antonya, terimakasih semuanya mohon maaf ya sudah mengganggu kalian."
Semua mata menoleh pada Anto lalu para pengunjung tertawa melihat Rani sudah menjewer telinga Anto sambil menariknya keluar cafe.
"Bagus elo yak nyumpahin kakak elo sendiri mau pamit, maksud elo apa hah?" amarah Rani meledak pada Anto sambil memukul bahu Anto dengan sandalnya.
"Ampun kak, awww sakit awww."
"Sekarang elo minta ampun kenapa gak mikir dulu sebelum elo nyumpahin gue." pukulan sandal Rani makin pedas terasa di kulit Anto.
"Iy ampun kalo gak gitu mana mungkin Caca dateng." rengek Anto.
"Udah Ran, udah gue gak tega lihatnya." Ucap Caca disambut dengan Anto yang beralih berlindung di belakang Caca.
"Apa elo Ren, mau gue cium pipi elo pake sandal gue nih." Ancam Rani mengacungkan sandal nya.
"Waduh, selow Ran selow ampun gue gak ikutan." sekarang Rendi bersembunyi di balik tubuh Ivan.
"Sumpah Ca gue cuma pengen elo dateng tapi gak pake boong beneran deh." ucap Rani.
"Iya gue maafin, sekarang gue nginep dimana nih?"
"Yudah di kamar gue." sahut Rani.
"Gue juga ya kak biar irit ikut ke kamar kalian." Anto ikut menyahut.
__ADS_1
"Enak aja emang mau pada liat gue sama Rani live bikin debay apa, enggak boleh cari kamar sendiri!" gerutu Ivan.
"Yaelah bro paling juga lima menit live nya." sahut Rendi.
"Sembarangan tanya aja Rani kalo semalem gue tuh kuat sampe lima kali, eh salah tiga kali." Ivan tak mau kalah kali ini dengan ejekan Rendi.
"Stop stop stop pada ngomongin apaan sih, vulgar banget kalian, capek nih gue mau rebahan." sungut Caca.
"Yaudah di rumah gue aja." sahut Rendi.
"Elo punya rumah bro, wah mantep nih." Anto menepuk bahu Rendi.
"Enggak sih cuma rumah sewa tapi ada dua kamar nanti Anto tidur di sofa kalo mau ikut gimana?"
"Bagus gue demen nih biar rame, beb check out beb kita pindah ke rumah Rendi." Rani memberi ide pada Ivan yang langsung mengangguk tersenyum.
"Bener beb jadi ngirit kan yak bisa seminggu lagi kita disini kalo perlu sebulan ya gak beb."
Ivan merangkul bahu Rani.
"Lah kenapa semua pada pindah kerumah gue, astaga..." Rendi menepuk jidatnya, mau dibantah dan di larang seperti apapun tetap aja kalo Rani sudah berkata harus terlaksana.
***
Bersambung...
Happy Reading... Vote ya vote please...
__ADS_1
😘😊😍