Kakakku Cinta Pertamaku

Kakakku Cinta Pertamaku
Gelut...


__ADS_3

Sebelum membaca Vie mohon klik tombol Like jangan lupa ya, terus di vote juga, Rate bintang lima juga ya, apalagi mau kasih koin seikhlasnya boleh banget...


Happy Reading 😘😘


*****


"Hayo gue pegang kakak gue." Anto menepuk bahu Fahri.


"Cepe, aku pegang kakak aku." sahut Fahri


"Okeh... siapa takut... ayo kak Jambak... eh jangan kak lepas." ucap Anto.


"Kok gak jadi dukung?" tanya Fahri.


"Nayla itu jodoh gue nanti kalau terluka gimana?" tanya Anto.


"Yess kalo gitu aku menang yak." sahut Fahri dengan senangnya.


Tak lama Nayla tersungkur ke tanah dan Ivan berhasil memegangi Rani yang sedari tadi mengamuk.


"Yess, sini cepe gue." sahut Anto.


"Oh gitu... oke nih cepe nya terus aku bilang ke Nayla kalau kakak pengen dia kalah."


"Cuy nih gue balikin..." Anto menepuk selembar ratusan ribu ke atas tangan Fahri.


"Nah gitu dong..."


"Percuma elo ngajakin taruhan cuy."


"Hahahahha... siapa suruh suka kakak aku."


"Kampret...!!" gerutu Anto.


***


"Sorry Ca, tadi gue gak sengaja nyakar elo." ucap Rani membersihkan luka cakar ditangan Caca.


"Lagian elo ganas banget sih Ran, gue yakin badan Ivan banyak cakaran aauummm wkwkwkw." Rendi menggoda Ivan.


"Oh kalau cakaran yang itu mah gue oh yes baby terus ." sahut Ivan.


"Udah ah udah kalo udah berdua gak jauh yang diomongin urusan kamar, aduh aduh perih Ran."


"Tadi harusnya elo jangan pisahin gue kalo tadi elo gak maju dia yang udah gue cakar." gerutu Rani.


"Udah lah Ran damai aja kita sama dia, demi bokap gue."


"Ih tetep gak sudi gue, elo aja sana yang damai, gue ogah...!!"


"Ayo minta maaf...!" papa Barata mendorong pelan Nayla kearah Rani.

__ADS_1


"Gak mau...!!"


"Ini apa nay?"


Pletaaakk...!! papa Barata mematahkan kartu kredit Nayla.


"Papa itu kan punya aku."


"Yang lain menyusul yak, kalau kamu gak mau minta maaf."


"Tapi Pah.."


"Ri sini di dompetnya Nayla."


Nayla melihat dompet dia yang berada ditangan Fahri dengan geram.


"Oke Fine..."


Nayla mengulurkan tangannya ke Rani.


"Maaf." suara Nayla terdengar pelan sekali.


"Apa?? gak kedengeran." ucap Rani.


"MA.. AF..."


"APA...?"


"MAAFIN GUE...!!!"


"Ohh... biasa aja dong jangan ngegas.


Rani menempelkan telapak tangannya sebentar ke Nayla.


"Udah tuh Pah, siniin dompet aku."


Nayla meraih dompet ditangan Fahri.


"Maafin anak Om ya, terus kamu gak papa Ca?"


"Iya om udah biasa dia mah kaya gitu nyantai aja." sahut Rani.


"Caca gak papa pah, lecet dikit."


"Ayo lanjut makan siang kita kedalam dulu."


Papa Barata mengajak semua tamunya kedalam rumahnya menuju ruang makan. Mereka makan siang bersama tanpa kehadiran Nayla yang mengunci dirinya dikamarnya.


***


Caca dan Rendi memutuskan memakai jasa event organizer yang sama dengan yang dulu dipakai Rani dan Ivan.

__ADS_1


Sesampai di butik Tante Imelda Caca mencoba kembali gaun yang dulu pernah ia coba pakai saat fitting gaun pengantin Rani.


"Tuh kan cantik banget elo Ca pakai ini, ya gak Tante?" ucap Rani ke Tante Imelda sambil menangkap gambar Caca di ponselnya.


"Bener banget Ran, Tante tuh udah feeling lho pas Caca cobain gaunnya dulu ini gaun nyangkut banget ngefit di bodynya Caca makanya perasaan sayang banget kalo ini Tante kasih ke orang."


"Ah Tante bisa aja, Caca jadi terharu dengernya.


"Wae bidadari surgaku benar-benar cantik." puji Rendi.


Rendi terpesona dengan kecantikan Caca.


"Hmmm cakepan waktu Rani pas pakai gaun pengantin kemaren." ucap Ivan mengedipkan satu matanya pada Rani.


"cakeeeppp... itu baru mbeb nya aku." Rani memeluk erat Ivan dan menciumnya dihadapan semua orang.


"Astagfirullah.... Tante ada kamar kosong gak? suru mereka ngamar dulu Tante." ucap Caca iseng.


"Ide bagus tuh beb, sekalian di kencengin volume kita kalo perlu live biar Rendi makin gak sabaran yuk." sahut Ivan melirik nakal kearah Rani.


"Sompret...!!"


Rendi melempar bantal sofa ke muka Ivan.


"Hahahhaha penganten baru ya gitu masih anget kalo baru beberapa bulan mah bisa tiap hari keramas hihihi..." Tante Imel menutup mulutnya malu.


"Tuh bener banget Tante, tiap hari aku keramas nih." sahut Rani.


"Aduh jadi kangen si Om Roy nih, Tante telpon dulu yak suruh pulang." Tante Imel tertawa cekikikan mencari ponselnya.


"Serius itu dia mau nyuru suaminya pulang buat ehm ehm gitu?" tanya Rendi.


"Ehmmm Rendi Rendi belom nyoba kan? nih gue baru sampe kantor jam sembilan terus jam sepuluh di telpon Rani dengan desahan di hape gue ya langsung gue pulang, ya beb."


"Hehehehe ya gitu deh abis kangen sih main dokter-dokter an." sahut Rani makin memeluk Ivan.


"Stop stop setoooppp... otak gue terkontaminasi ini." Caca menutup telinganya.


"Yah mana sebulan lagi kenapa sih gak besok aja, apa tes drive dulu Yang?" Rendi melirik Caca.


"Tes Drive ndasss mu...!!"


Pluk...


Bantal sofa mendarat keras diwajah Rendi diiringi teriakan tawa Ivan dan Rani.


***


Bersambung


Happy Reading semoga suka...

__ADS_1


__ADS_2