Kakakku Cinta Pertamaku

Kakakku Cinta Pertamaku
S2 - Psikiater Lolita


__ADS_3

Sebelum membaca Vie mohon klik tombol Like jangan lupa ya, terus di vote juga, Rate bintang lima juga ya, apalagi mau kasih koin seikhlasnya boleh banget...


Happy Reading 😘😘


*****


Siang itu bayi Marcella menangis terus karena terbangun dengan pampers yang penuh dan basah ditambah bayi Marcella juga pup di pampersnya.


"Ran tolong dong itu pegang dulu Cella nya, mami lagi di kamar mandi Ran." mami Devi berteriak dari dalam kamar mandi.


Rani hanya bersembunyi dengan menutup kepalanya menggunakan bantal agar tak bisa mendengar tangisan Marcella.


"RANI....!" mami Devi makin meneriakkan nama Rani dan makin kencang pula bayi Marcella menangis.


Anto yang pulang dari kampus terkejut dengan teriakan maminya dan tangisan bayi Marcella kala itu.


"Kak itu anak elo nangis malah ngumpet begitu." ucap Anto saat membuka pintu kamar Rani.


"Aaarrghhhh anak gue udah mati gue gak punya anak kaya gitu!" Rani meneriaki Anto.


"Astagfirullah nyebut kak nyebut, elo kenapa sih kak berubah kayak gini." ucap Anto.


"ANTO TOLONG PEGANG CELLA...!" mami Devi meneriaki Anto dari dalam kamar mandi.


"Iya iya." Anto menghela nafas panjang lalu menutup pintu kamar Rani.


Anto mencuci tangannya terlebih dahulu lalu pergi menuju kamar bayi Marcella.


"Cup cup sayang, jangan nangis ya, gimana om setelin lagi Linkin Park ya apa Gun and Rossa seru juga tuh dek." ucap Anto yang tak berani menggendong Cella.


Karena tak diam juga akhirnya Anto mencoba menggendong Cella yang langsung terdiam di gendongannya.


"Astagfirullah dek asem banget bau lo, MAMI CEPET CELLA EEK...!" Anto berteriak pada maminya itu membuat bayi Marcella terkejut dan menangis.


"MAMI JUGA LAGI EEK ANTO, TOLONG GANTIIN DULU ELAP PAKE TISU BASAH PANTATNYA." mami Devi makin berteriak dari kamar mandi.


"Hadeh...gimana ini, bodo lah bentar ya Cel, om cek YouTube dulu gimana caranya ganti popok." Anto membaringkan Cella di kasur lantai sambil menonton video cara mengganti popok.


"Astagfirullah baunya eek Lo, gue kudu videoin buat bukti ke kak Ivan biar kasih gue duit lebih buat ganti popok Lo." gumam Anto sambil mengganti popok Marcella.


"Nah pinternya anak mami yang ganteng ini ckckck." puji mami Devi yang muncul di pintu kamar bayi Cella.


"Nih mi tangan Anto bau nih eek semua hiyy." Anto segera berlari menuju wastafel untuk cuci tangan.

__ADS_1


Bayi Marcella sudah tenang sambil menyusu di kereta dorong samping mami yang duduk di kursi ruang makan bersama Anto.


"Itu gimana sih mi si kak Rani ngurung diri di kamar terus sampe kapan dia bakal nyuekin anaknya?" tanya Anto pada maminya sambil menyantap makan siangnya.


"Berdoa aja Nto, mami juga gak tau, lagian si Ivan juga bakal bawa Rani ke komedi putar kan?" ucap mami Devi.


"Mami bukan komedi puter hadeh... bentar aku cek hape nih." Anto mencari chat dari Ivan.


"Nih Psi-ki-a-ter nah itu dia masa komedi puter dikata kak Rani mau jalan-jalan di pasar malem apa." Anto melanjutkan makan siangnya.


"Oh itu maksudnya, semoga Rani cepet sembuh ya Nto." ucap mami Devi.


"Tangan Anto masih bau asem lagi nih padahal enaknya nih jengkol makan pake tangan nih." ucap Anto bergegas menuju wastafel lagi.


"Siapa yang sakit?" tanya Rani yang muncul tiba-tiba mengejutkannya.


"Emang siapa yang sakit kak?" Anto bertanya balik pada Rani.


Rani duduk di kursi ruang makan lalu menyendok nasi dan lauk dari atas meja. Rani menyantapnya dengan lahap.


"Tadi mami bilang semoga cepat sembuh emang siapa yang sakit?" tanya Rani.


"Oh ini si Cella sakit kayaknya tadi nangis aja, untung ada Anto yang bantuin ganti popok." sahut mami asal.


"Lihat deh Ran, cantik ya bayi Cella persis banget sama kamu waktu kecil." ucap mami Devi.


Rani hanya melirik ke bayi Cella sambil menyantap makan siangnya.


"Biasa sih, cakepan juga Marcello." sahut Rani.


"Ya udah lah Cella udah bobok nih mami bawa ke kamar nya dulu." ucap mami Devi lalu menaruh bayi Marcella ke dalam kamarnya.


***


Ivan mengunjungi kantor Lolita tempat dia melakukan praktek kerjanya sekitar pukul tiga sore. Ivan ijin pada bosnya yang juga papanya tempat dia bekerja untuk mengunjungi psikiater demi mengobati istrinya.


"Selamat sore maaf pak jam prakteknya sudah habis, silahkan datang kembali besok atau boleh daftar dulu untuk pemeriksaan besok." ucap seorang resepsionis pria di meja kerjanya menyambut kedatangan Ivan.


"Oh begitu, tapi saya temennya Lolita dokter disini, bisa saya ketemu dengan Lolita?" ucap Ivan.


"Kalau begitu duduk dulu ya pak biar saya tanyakan pada Bu dokter." ucap resepsionis pria itu mempersilahkan Ivan untuk duduk.


Tak berapa lama resepsionis itu menyuruh Ivan untuk masuk ke ruang kerja Lolita.

__ADS_1


"Makasih ya mas." ucap Ivan lalu masuk ke dalam ruang kerja Lolita.


"Hai Van, sore banget kamu kesini." sapa Lolita lalu mempersilahkan Ivan duduk.


"Sorry gue kan tadi kerja ini aja ijin pulang cepet." sahut Ivan.


"Jadi ada yang bisa aku bantu?" tanya Lolita.


"Ini tentang pasangan gue, haduh sedih gue kalau mau diceritain tapi gue sayang banget sama dia." ucap Ivan dengan raut wajah sedih.


Lolita teringat perjumpaan nya dengan Ivan tadi pagi bersama dengan Anto. Keduanya di duga Lolita mempunyai hubungan spesial yang tak lazim.


"Sejak kapan kamu ngerasa kaya gini?" tanya Lolita.


"Kok gue sih ini pasangan gue yang ngerasa aneh, gue takut banget kehilangan dia." ucap Ivan sedih.


"Van, aku itu dulu suka banget sama kamu, tapi aku gak nyangka kamu bisa belok kayak gini." ucap Lolita.


"Gue gak ngerti deh maksudnya belok gimana sih? apanya yang belok perasaan gue lurus-lurus aja deh gak ada yang aneh." ucap Ivan sambil memandang ke arah celana bawahnya.


"Udah Van ngaku aja, kalau kamu ngaku, semua pengobatan nya akan lebih mudah, aku bakal buat kamu lurus dan ngebantu kamu supaya suka lagi sama kaum seperti ku."


Lolita sudah berdiri dan menghampiri Ivan lalu dia duduk di atas meja kerjanya di hadapan Ivan dengan rok mininya itu.


Ivan menelan air liurnya dengan berat kala melihat Lolita yang tiba-tiba seperti itu.


"Gue gak ngerti maksud Lo deh Loli." ucap Ivan lirih.


****


Bersambung...


Mohon maaf jika masih ada typo.


Dear Readers tersayang mampir juga ke novel ku lainnya ya


- Pocong Tampan


- 9 Lives


- Gue Bukan Player


Jangan lupa di like, rate bintang lima dan vote yak...

__ADS_1


__ADS_2