Kakakku Cinta Pertamaku

Kakakku Cinta Pertamaku
S2 - Emosional


__ADS_3

Sebelum membaca Vie mohon klik tombol Like jangan lupa ya, terus di vote juga, Rate bintang lima juga ya, apalagi mau kasih koin seikhlasnya boleh banget...


Happy Reading 😘😘


****


Sebuah Honda Jazz berwarna merah terparkir di halaman rumah Rani saat Caca sampai disana.


"Papah..." ucap Caca kala melihat papa Barata turun dari mobilnya lalu memeluk papa kandungnya itu.


"Apa kabar sayang, kamu sehat kan? dedek bayi juga sehat kan?" tanya papa Barata pada Caca.


"Alhamdulillah sehat pah, hai Nay." Caca menyapa Nayla yang sedang memasang kaki palsunya. Belum juga Caca mengucap menawarkan bantuan, Anto sudah berlari dari dalam segera menghampiri Nayla dan membantunya.


"Hmmmm bucin dasar langsung sigap gitu ya." sahut Rendi yang datang menghampiri papa mertuanya itu dan mencium punggung tangan papa Barata.


"Hai kak Caca, hai kak Ren, kok kamu tahu sih aku udah dateng?" tanya Nayla.


"Iya dong, hehehe tadi kak Ivan yang kasih tau kamu udah sampe depan rumah." ucap Anto memeluk pinggang Nayla membantunya berjalan. Nayla masih belum nyaman dengan kaki palsunya. Tapi jika menggunakan kursi roda itu akan tampak membuatnya lebih kesulitan lagi dan lebih menyusahkan buat Nayla.


"Masuk yuk." ajak Caca.


"Tunggu bentar, di dalam mobil ada kue sus untuk tambah-tambah acara tahlilan nanti malam." ucap Nayla.


"Oke biar gue yang ambil." sahut Rendi lalu masuk ke dalam mobil papa Barata dan meraih dua dus berisi kue sus.


"Adi mana Ca?" tanya papa Barata.


"Papa Adi harus ke Kanada pah, demi kelangsungan perusahaan papa Adi harus rela mengunjungi calon investor di Kanada." ucap Caca menjelaskan.


"Tapi kan Adi punya riwayat penyakit yang melarangnya pergi jauh nanti kelelahan lho." ucap pak Barata.


"Habis gimana mas, si Rendi gak mau gantiin papanya di perusahaan katanya lebih suka melukis menuruti hobinya." sahut mama Maya yang datang dari dapur menghampiri papa Barata dan Nayla.


"Tapi kan May, kamu harus jaga kondisi si Adi apalagi semenjak operasi jantung waktu itu merupakan kode keras buat Adi istirahat." ujar papa Barata.


"Ya doakan saja semoga mas Adi sehat terus mas." ucap mama Maya lalu mempersilahkan papa Barata dan Nayla untuk duduk.


Rani keluar dari kamarnya dan mencari keberadaan Cello, putranya yang telah meninggal.


"Mana Cello?" Rani berteriak tak jelas pada Ivan.

__ADS_1


"Ran sadar beb, kamu gak boleh gini, Cello tuh udah gak ada Ran." ucap Ivan seraya menenangkan Rani.


Rani lalu menghampiri Nayla sebelum Nayla sempat duduk.


"Kamu, kembalikan anakku, kembalikan Marcello ku...!!" Rani meneriaki Nayla sambil mengguncang kedua bahu Nayla dengan kencang.


"Kakak, istighfar kak, Nayla gak salah apa-apa." pekik Anto mencoba melepaskan genggaman tangan Rani di bahu Nayla.


"Kemana Marcello ku, kembalikan Marcello ku...!" Rani terus berteriak ke semua yang ada di ruangan itu sampai Ivan tak tahan lagi dan menghampirinya.


Plak... Ivan menampar pipi Rani seketika itu juga.


"Puas kamu Ran? puas kamu meneriaki kami, asal tau kamu Cello mati gara-gara kamu, ibu macam apa kamu yang membiarkan anaknya mati!" Ivan meneriaki Rani dan menyalahkannya membuat Rani makin menangis sampai ia tak sadarkan diri.


Ivan membopong tubuh Rani ke dalam kamar.


"Van... elo gak boleh kayak gitu sama Rani." ucap Caca.


"Gue bingung Ca, gue bingung harus gimana lagi ngelewatin ini sama Rani." sahut Ivan yang tak dapat menahan air matanya lagi.


"Anto punya ide, gimana kalau kak Rani di ruqyah?" ucap Anto spontan begitu saja.


"Heh anak gantengnya mami, kamu tuh kalau ngomong asal jeplak aja, emangnya si Rani kakakmu ini kesurupan apa." mami Devi memelototi Anto saat itu.


"Sebaiknya kak Rani dibawa ke psikiater aja Tante, sepertinya kak Rani sangat terpukul akibat kematian Marcello." sahut Nayla.


"Iya aku setuju Tante, sebaiknya gitu." Caca membenarkan ucapan nayla.


"Gimana kalau Rani nanti dibilang gila Ca?" tanya Ivan dengan raut wajah cemas.


"Lho emangnya orang-orang yang ketemu psikiater semuanya pasien gila? ya enggaklah Van, ini kan permasalahan gangguan emosional yang menimpa Rani." Ucap Caca.


Akhirnya Ivan sepakat untuk membawa Rani mengunjungi psikiater esok hari.


***


Malam itu acara tahlilan berlangsung dengan lancar, sementara Ivan selalu berada di sisi Rani untuk menenangkannya.


Bayi Marcella malam itu tidur bersama neneknya, untungnya dedek bayi Cella mau minum susu formula jadi tidak mengandalkan asi dari Rani. Mungkin sampai Rani siap untuk memberikan asi maka selama itu dedek bayi cella akan minum susu formula.


***

__ADS_1


"Nay, kapan nih kamu siapnya menikahnya denganku?" tanya Anto yang duduk di kursi ayunan bersama Nayla di teras belakang rumahnya.


"Kamu masih yakin menikahi gadis cacat sepertiku?" Nayla menatap sedih ke arah Anto.


"Aku gak mau ya kamu bahas ini terus, aku kan bilang aku selalu cinta sama kamu dan terima kamu apa adanya Nay." sahut Anto .


"Kamu gak malu kalau suatu saat perginje pesta pernikahan sama aku, pergi ke mall sama aku, semua mata itu kan selalu ngeliatin kaki aku ini." ucap Nayla tak mampu lagi membendung air matanya yang menetes ke pipinya.


"Hei kok kamu jadi nangis sih? denger ya Nay, kamu itu akan selalu jadi wanita yang paling sempurna untukku." ucap Anto menyeka air mata Nayla lalu mencium kening Nayla.


Nayla langsung memeluk Anto.


"Aku nyesel banget seandainya malam itu aku gak ngerjain kak Caca seandainya aku ikhlas terima dia sama kak Rendi huhuhu... aku nyesel Nto...hiks hiks." Nayla makin menangis di pelukan Anto.


Dari balik tirai Caca yang melihat dan mendengar pembicaraan Anto dan Nayla jadi ikut menangis.


"Eh sayang aku kok nangis sih, gak baik biat dedek bayinya nanti dia ikutan sedih lho." Rendi menegur Caca kala itu.


"Aku sedih yang, tuh kasian Nayla dia masih bingung terima Anto karena keterbatasan fisiknya." ucap Caca.


"Kalau Anto terima Nayla apa adanya kenapa Nayla harus sedih sih, jadi Nayla belum siap gitu nikah sama Anto?" tanya Ivan.


"Belum kayaknya yang, nanti kalau aku kerumah papa Bara aku akan yakinkan Nayla menikahi Anto." ucap Caca yang menaruh kepalanya tepat di bahu Rendi.


****


Bersambung...


Mohon maaf jika masih ada typo.


Dear Readers tersayang mampir juga ke novel ku lainnya ya


- Pocong Tampan


- 9 Lives


- Gue Bukan Player


Jangan lupa di like, rate bintang lima dan vote yak...


HAPPY IED MUBARAK BUAT YANG MERAYAKAN, SELAMAT IDUL FITRI 1441 H

__ADS_1


MOHON MAAF LAHIR BATIN


Vie love you all 😘😘😘


__ADS_2