Kakakku Cinta Pertamaku

Kakakku Cinta Pertamaku
Di Panti Asuhan


__ADS_3

Sebelum membaca Vie mohon klik tombol Like jangan lupa ya, terus di vote juga, Rate bintang lima juga ya, apalagi mau kasih koin seikhlasnya boleh banget...


Happy Reading 😘😘


*****


Caca mendengarkan penuturan dari Nenek Lastri di dampingi Papa Adi dan Tante Maya.


Bagaimana Caca lahir dan di besarkan dengan kasih sayang oleh mama Mirna dan papa Adi tanpa tau kalau Caca itu bukan anak mereka.


"Ijinkan Caca ke panti asuhan tempat Caca lahir pah, mah." pinta Caca sambil berlutut di hadapan papa nya.


"Kamu yakin? mama kamu kan sudah meninggal Ca." Papa membelai rambut putrinya itu.


"Yakin pah, Caca mau ke makam mama juga."


Pak Adi melihat ke arah Bu Maya yang mengangguk pelan.


"Tapi papa sama Mama ikut yak." ucap papa.


"Nenek juga ndok, arep melu." sahut Nek Lastri menghampiri Caca.


***


Caca bersiap - siap di kamarnya.


tring tring... tring tring....


Ponsel Caca berbunyi ternyata Kevin yang menghubunginya.


"Sayang where are you?" tanya Kevin dari seberang sana.


"Please jangan panggil aku sayang."


"Tapi kamu kan pacar aku Ca."


"Iya tapi jangan sayang!"


Buat Caca sayang itu adalah panggilan mesranya dari Rendi toh sampai saat ini Caca masih memikirkan keberadaan Rendi.


"Kalau gitu aku panggil kamu darling, ok sekarang kamu dimana?" Kevin masih berusaha mencari tau keberadaan Caca.


"Aku di Surabaya tempat nenek."


"Aku susul ke sana ya?" pinta Kevin.


"Gak usah kan kamu kerja."


"Tapi aku bisa ijin."


"Gak usah!"


"Kok kamu gitu Ca, aku kan pacar kamu aku mau nemenin kamu."


"Aku bilang gak usah, nanti aku aja yang hubungin kamu, kalau kamu masih tetep nekat kesini, kita putus yak."


"Oke oke don't ever say that word okey, yaudah tetep hubungin aku tiap hari ya, harus kasih kabar."

__ADS_1


"Iya.... bawel."


"Hahahah yudah aku balik kerja lagi yak, I love you Ca."


Tut Tut Tut


Caca menutup hubungan telponnya dengan Kevin.


"Hmmm gak bisa ya Ca kamu bales I love you too." gumam Kevin dari seberang sana.


***


"Maafkan saya Bu, maafkan saya." ucap seorang laki-laki tinggi dengan brewok tipis dan janggut yang hampir memutih namun masih berumur sekitar 45 sampai 50 tahun seusia papa Adi.


Bu Retno hanya bisa meneteskan air mata mengingat perjuangan Angelica yang menyembunyikan kehamilannya tempo dulu.


"Dimana anak saya Bu? anak Angel?" ucap pria itu.


"Sekarang kamu mencari putri mu, dulu saat tau Angel hamil kamu malah meninggalkannya." ucap Bu Retno


"Saya takut Bu, saya belum menyelesaikan kuliah saya dan saya sudah di jodohkan dengan pilihan ibu saya waktu itu, tapi sungguh Bu saya selalu mengingat Angel."


Bu Retno menghela nafas panjangnya memandang ke arah anak-anak panti yang sedang bermain.


"Kamu tahu mereka juga tak ingin lahir dari ibu yang tak punya suami, lahir dari ibu yang membuangnya karena ayah yang tak mau bertanggung jawab. Mereka hanya anak-anak yang ingin hidup bahagia begitu juga dengan putrimu."


"Lalu dimana Angel membawa putri saya Bu? saya siap menikahi Angel sekarang juga kalau perlu, agar dia kembali kepada saya."


"Angel sudah meninggal Barata dia meninggal saat melahirkan anakmu di kamar mandi itu ia kehabisan darahnya berjuang menutupi aibnya karena mu Barata...!!"


"Ampuni saya Bu, ampuni saya." Barata berlutut menyentuh kaki Bu Retno.


"Minta ampun lah pada Allah bukan sama saya, lagi pula dengan penyesalan mu itu Angel sudah tak bisa hidup kan?"


"Bagaimana putri saya Bu? apa dia juga mati?"


"Atas ijin Allah alhamdulillah putrimu hidup, dia sudah bahagia bersama orang tua asuh yang menyayanginya, lebih baik tak usah kau usik lagi."


"Tapi bu.."


"Maaf saya tak bisa memberi mu informasi dimana dia sekarang."


Barata tertunduk lemas dia sangat menyesali perbuatannya padahal kini dia sudah berani membawa Angel ke rumahnya karena istri Barata sudah meninggal sebulan lalu meninggalkan seorang putri berusia 19 tahun dan putra berusia sepuluh tahun.


Namun apa daya ternyata Angel yang diharapkannya bertemu dengannya malah sudah meninggal dua puluh tahun lalu saat dia memilih menikahi istri sahnya istri pilihan mamanya.


"Saya akan kembali Bu, saya akan berjuang mencari dimana putri saya." ucap Barata berlalu pergi pamit meninggalkan Bu Retno.


***


Caca tiba pada sebuah bangunan lawas yang tertulis di plang depan halaman


"Panti Asuhan Darma Bhakti"


Dia bersama nenek, papa Adi dan Mama Maya.


Seorang pria keluar dari pintu besar panti asuhan itu dia berpapasan dengan Caca dan melihatnya sekilas.

__ADS_1


"Bara.."


Papa Adi menyapa pria itu.


"Kamu ngapain di sini? udah lama gak ketemu tau tau ketemu disini." Papa Adi memeluk seseorang yang bernama Bara itu.


"Mas Adi, mba Maya, apa kabar?" tanya pria itu dengan wajah sumringah.


"Kami sehat Bara alhamdulillah, mas Adi nih kemaren-kemaren sakit sakitan terus, udah tua jantungnya gak kuat." ucap mama Maya seraya bercanda meledek papa Adi.


"Alah pake ngatain saya kamu aja udah gak kuat kan nandingin saya." goda pak Adi pada Bu Maya.


Dibalas tertawa oleh keduanya.


"Kamu sendiri aja, mana Diah istrimu?" tanya Mama Maya.


"Diah sudah meninggal mba, leukemia sebulan lalu meninggalnya."


"Loh kok Nayla gak pernah cerita ya sama aku."


"Mungkin dia gak mau terlihat menyedihkan kali mba." jawab Pak Barata.


"Terus Nayla sama Fahri gimana?" tanya Mama Maya.


"Nayla memang cuek yak, dia sampe bilang mending mama meninggal daripada kesakitan kaya gitu, kalo Fahri sampe sekarang juga belum ikhlas."


Papa Adi menepuk punggung sahabatnya itu.


"Yang sabar yak yang tabah." ucap Papa Adi.


"Mungkin Nayla berusaha menutupi kesedihannya dengan berpura-pura cuek lho, kasian anak itu." ucap Mama Maya.


"Oh iya kenalin ini mertuaku dan putriku." Papa Adi mengenalkan Caca dan Nek Lastri pada Barata.


"Putrimu? bukannya anak kalian Rendi?" Pak Barata menjabat tangan Caca dan Nek Lastri dengan raut wajah yang bingung.


"Ceritanya panjang nanti aja kapan-kapan kita ngobrol yak main dong kerumah."


Mama Maya tersenyum mengucapkannya.


"Wah mbak Maya ini memang seperti malaikat kebaikan nya."


Barata sepertinya paham dengan keadaan Papa Adi yang menyiratkan dia memiliki istri dua dan seorang putri yang cantik ini.


Seandainya saja saya dulu lebih berani seperti Adi mungkin saja Angel masih hidup bersama putriku kini.


batin Pak Barata sambil memperhatikan ke arah Caca.


***


Bersambung...


Jangan lupa like Vote yak my lovely Readers....


Happy Reading...


🤗😊😘

__ADS_1


__ADS_2