
"Seorang putri ya, apa yang harus aku namai? Seorang yang cantik dan berwibawa.."
Gao duduk di kasur memandang hasil USG.
"Apa boleh Huang Ryiu-Daijin? Baiklah itu adalah putri ku Ryu." Gao tersenyum mengucapkan nama itu.
Hari-hari berlalu, semua orang sangat menantikan kelahiran anak perempuan itu terutama Gao. Ia sudah tak sabar ingin membawa putrinya pergi dari lingkungan ini.
Sudah bulan ke-9 hari kelahiran sudah semakin dekat, sayang nya Ahn harus kembali bekerja. Ia sudah melewati masa libur nya.
"Alexsa, tolong jangan banyak bergerak, perut mu ini sudah semakin besar. Aku takut jika terjadi sesuatu pada tuan putri kita." Pak zhang membantu Alexsa duduk di sofa.
"Tidak apa-apa ayah, aku memang harus banyak bergerak. Agar mudah saat persalinan."
"Duduk lah, aku ambil kan beberapa buah untuk mu." Pak Zhang pergi ke dapur mengambil beberapa buah.
Gao turun dari tangga dan melihat Alexsa yang mengelus perut nya.
"Alexsa, apa kau mau sesuatu?" Gao menghampiri Alexsa.
"Tidak usah, aku hanya ingin duduk saja. Kau lihat anak ku akan segera lahir, aku sangat tidak sabar." Alexsa terus mengelus perutnya.
Gao melihat itu dia tersenyum 'anak kita akan lahir, aku akan menjadi ayah dari anak itu'.
"Apa kaki mu sakit? Mau aku pijat?" Gao langsung berlutut dan menyentuh kaki Alexsa.
"Eh, tidak usah Gao. Kau duduk saja." Alexsa menolak tapi pak Zhang melihat itu.
"Tidak apa Alexsa, kaki mu semakin bengkak. Gao tahu apa yang di lakukan nya." Pak Zhang datang membawa beberapa buah-buahan yang sudah di kupas.
Gao memijat kaki Alexsa dengan hati-hati, ia melakukan ini semua karena ingin anak dari Alexsa dan semua tingkah baik nya hanyalah penutup jika nanti keluarga ini tak bisa memberikan anak itu kepadanya.
Siang hari sebelum makan siang, Gao seperti biasa akan pergi makan di luar, namun ia khawatir dengan Alexsa.
"Alexsa, aku akan pergi membeli makanan. Kau jangan kemana-mana, tetaplah disini sampai aku kembali."
"Tidak apa-apa Gao, mau pergi saja aku akan baik-baik saja disini." Alexsa tersenyum dan Gao juga langsung pergi membeli makanan.
Gao memutuskan untuk cepat-cepat menyelesaikan makan nya karena Alexsa hanya sendirian di rumah bersama beberapa pelayan.
"Aku akan bawa ini untuk ya." Gao membeli beberapa sate buah untuk Alexsa.
Gao sampai di rumah, ia membuka pintu dan tidak melihat Alexsa di ruang tamu.
"Alexsa, kau diman? Aku membeli sesuatu untuk mu!?" Gao masuk ke dapur untuk mengambil piring.
"Dimana dia, kenapa tak ada suara?" Gao membawa sepiring sate buah ke kamar atas, siapa tahu Alexsa ada di sana.
Gao sampai di depan pintu kamar Alexsa dan Ahn, terdengar suara Alexsa di dalam kamar.
"Alexsa, apa kau di dalam? Aku membeli sesuatu, apa kau mau makan?" Gao mengetuk pintu beberapa kali.
Terdengar suara keran dan pintu kamar mandi di dalam kamar.
"Ada yang tidak beres." Gao langsung menendang pintu kamar Ahn beberapa kali hingga kunci di bagian atas pintu terlepas.
'braak...!!'
"Alexsa ..! Kau dimana?" Ahn melihat ke sekeliling kamar.
"Goa..! Aku disini..! Tolong..!" Suara Alexsa dari dalam kamar mandi.
"Alexsa, kau di dalam? Apa yang terjadi?" Gao langsung ke arah pintu dan mendekatkan telinganya dengan panik.
"Aku terjatuh, perut ku sangat sakit. Tolong aku! Pintunya terkunci dari dalam!" Alexsa berteriak dari dalam kamar mandi.
"Apa, terjatuh? Apa ada darah di sekitarmu?" Gao langsung panik.
"Tidak, tapi air ketuban sudah keluar. Tolong aku Gao!?"
Gao tak berpikir banyak langsung menendang pintu kamar mandi yang terbuat dari plastik.
Pintu itu hancur, Gao memasukan tangan nya dan membuka pintu dari kamar mandi.
"Astaga Alexsa, kau kenapa sangat ceroboh begini!?" Gao langsung menggendong Alexsa yang terduduk di lantai kamar mandi.
"Tolong bawak aku, anak ini akan segera lahir." Alexsa menahan sakit dan berpegang erat pada Gao.
Gao berlari secepat mungkin keluar dan beberapa pelayan melihat Gao membawa Alexsa yang kesakitan.
__ADS_1
Gao langsung saja menuju ke rumah sakit, sesampai nya di rumah sakit Gao mendesak dokter agar segera menangani Alexsa.
"Siapapun dokter disini tolong bantu Yura, dia sedang dalam keadaan darurat !" Gao menggendong Yura ke sebuah kasur di ruang tunggu.
Dokter melihat seorang wanita hamil dan mereka langsung menangani Alexsa.
"Alexsa, kau harus berusaha, jangan sampai anak itu kenapa-napa. Aku akan mengabari yang lain!" Gao dalam kepanikan tak sadar kalau dia bertingkah seperti seorang suami yang menemani istrinya.
Gao langsung mengambil ponsel nya dia hendak menghubungi Ahn dan pak Zhang, namun ia berhenti dan memilih untuk tidak mengabari.
"Tunggu, biar aku saja yang menjadi keluarga disini. Lagipula ini anak ku." Gao tersenyum jahat dan kembali menunggu dengan tenang.
Proses kelahiran Alexsa sangat lancar, 15 menit Gao menunggu langsung terdengar suara tangisan bayi dari ruang persalinan.
Gao langsung berdiri karena barusan mendengar tangisa putrinya.
"Itu dia, dia sudah datang." Gao langsung berkaca-kaca tak sabar menunggu dokter keluar.
"Keluarga atas nama Alexsa?"
"Saya, apa saya bisa menemui anak saya?" Gao terlihat tidak sabar.
"Selamat pak, bayi anda terlahir sehat dan dia adalah seorang putri." Dokter tersenyum pada Gao. Namun Gao sama sekali tak mendengarkan dan langsung menerobos masuk.
"Alexsa, bayi mu!" Gao langsung masuk dan melihat Alexsa pingsan.
"Dimana bayi nya?" Gao melihat pada beberapa perawat disana.
"Tuan, istri anda akan terbangun beberapa saat lagi. Sekarang dia.." perawat belum selesai berbicara namun Gao malah menanyakan anak nya dan tidak peduli dengan Alexsa.
"Saya tidak peduli, dimana bayi nya saya ingin melihat..!"
Gao melihat bayi dalam pangkuan seorang suster, dia langsung menghampiri dan menggendong bayinya dengan lembut.
Gao menyentuh tangan bayi mungil itu, ia terlihat sangat senang dan air matanya tak tertahan kan.
"Sayang ku, daijin kecilku sudah datang. Ayah sangat menyayangimu." Gao mencium bayi mungil yang menangis itu.
"Tolong ambil sampel darah bayi ini dan lakukan tes DNA dengan darah ku nanti, aku ingin melihat anak ini murni milik ku atau tidak."
"Baik tuan, akan kami lakukan, anda silahkan ke ruang pengecekan darah nanti " seorang perawat terlihat takut pada Gao.
Beberapa menit kemudian Ahn dan pak Zhang datang ke rumah sakit dari informasi yang di berikan pelayan di rumah.
"Dia sedang di bawah pengaruh bius setelah di jahit, bayi nya sedang di bawa oleh suster untuk pemeriksaan." Gao terlihat dingin karena ia baru saja melakukan tes DNA.
"Apa semua baik-baik saja?"
"Tentu saja, aku membawanya tepat waktu."
Gao pergi keluar dari ruangan itu dan pergi ke ruang tes darah, disana bayinya juga ada.
"Bagaimana? Apa sudah bisa?"
"Sudah tuan, hasil nya akan keluar sebentar lagi."
Gao terlihat senang namun wajah nya masih menunjukan ekspresi yang kejam.
Ke esokan harinya Yura keluar dari rumah sakit membawa bayinya, semua sangat senang menyambut bayi itu. Di ruang keluarga semua nya berkumpul membahas nama apa yang akan di berikan pada anak ini.
"Bagaimana Ahn, Alexsa pa yang kalian pikirkan mengenai nama Putri kalian?"pak Zhang memulai pembicaraan.
"Aku tak terlalu memikirkan, mungkin tuan Ahn akan tahu." Yura tersenyum sambil menimang bayi nya.
"Aku pikir sebaiknya dia bernama Xian Ahn-Huang. Bagaimana menurut ayah?" Ahn menjelaskan pendapat nya.
"Bagus, dia akan di panggil Xian-Ahn. Bagaimana kai?"
"Adik Xian terdengar cantik."
Tiba-tiba Gao berdiri dan mengeluarkan selembar kertas.
"Tidak, anak itu harus bernama Riu Daijin-Huang."
"Apa maksud mu Gao? Itu adalah putranya Ahn, mengapa harus ada nama mu?"pak Zhang terlihat tidak setuju.
"Ayah, Daijin bukan nama ku. Tapi itu gabungan nama ibu 'Jian-Diana'. Anak itu perempuan dan aku ingin dia secantik ibu, apakah tidak bisa? Kita akan memanggilnya Riu."
"Tidak bisa Gao, anak ku harus tetap memakai nama ku. Bukan Anam orang lain!" Ahn terlihat tidak menerima.
__ADS_1
"Kai, bisa tolong ke kamar mu sebentar. Aku tak ingin kau mendengar kata-kata kasar ku!" Gao dengan wajah marah menatap kai.
Anak itu terlihat takut dan langsung berlari ke kamarnya.
"Apa ini Gao, apa yang kau Coba lakukan?" Pak Zhang dan Ahn terlihat heran.
"Aku akan mengatakan semua nya pada kalian, anak itu adalah anak ku aku adalah ayah biologis nya!" Gao meletakan tes DNA ke atas meja.
"Apa, tapi ini tidak mungkin?" Alexsa kebingungan melihat hasil DNA itu.
"Kau jangan mencoba menjebak kami! Aku tak akan menyerahkan anak ini kepada mu!" Ahn langsung marah dan menggenggam kerah baju Gao.
"Kau mau marah atau apapun, tapi it lah kenyataan nya. Anak itu adalah ank ku, bukan anak mu Ahn. Hahaha.." Gao tertawa jahat di hadapan Ahn.
"Tidak mungkin! Kau hanya membual, aku tak akan pernah percaya pada mu!"
"Terserah, tapi aku dan Alexsa sudah melakukan nya. Kau pikir kau bisa memberinya anak? Kau saja menikahi dia sudah hampir 2 setengah tahun tapi kau tak pernah menyentuh nya! Kau tak pernah memberikan cinta! Apa itu bisa membuat nya menghasilkan. Anak untuk mu?!"
"Apa..tapi aku.."
"Apa?! Kau sama saja dalam memperlakukan nya dengan Haarin! Kau menginginkan anak darinya tapi apa kau pernah memberikan nya waktu mu! Tidak, kau selalu sibuk dengan urusan mu dan yang paling penting adalah uang. Benar bukan?" Gao kembali menunjukan sikap sebenarnya.
Ahn langsung terdiam dia melepaskan kerah baju gao.
"Kenapa? Kau merasa tidak terima? Kau sebaiknya menyalahkan dirimu lagi Ahn! Karena kau sama sekali tidak pantas jika di sebut seorang suami! Terimakasih sudah menjaga bayiku selama ini!" Gao menunjuk Ahn dengan tajam.
"Apa ini semua benar Ahn?" Pak Zhang terlihat tidak percaya.
'aku salah, apa aku memperlakukan nya seperti Haarin?' Ahn terdiam dan langsung duduk lemas. Dia sudah mengulangi kesalahan untuk yang kedua.
"Alexsa, semua tergantung pada mu! Jika kau tidak bisa menerima semua ini maka tidak masalah. Aku akan beri kalian semua 2 pilihan, pertama jika kau mau menerima kenyataan maka kau harus mengakui kalau ayah dari anak itu adalah aku bukan Ahn, kau harus menerima nama yang aku berikan, aku akan tetap tinggal disini mengawasi putriku selamanya sebagai gantinya anak itu akan di kenal sebagai anak Ahn dan aku tak akan menggangu keluarga kecilmu lagi, semua harta warisan ku dari ayah akan ku berikan langsung kepada anak itu dan aku akan melupakan kalau aku sudah membeli mu, jadi kau sepenuh nya bisa menjadi milik Ahn . Yang kedua, jika kau tidak bisa menerimanya. Maka aku akan membawa mu dan anak itu pergi jauh dari rumah ini selamanya, kau masih ingat kan perjanjian aku membeli mu dengan ayah mu. Berarti secara tidak resmi kau masih milik ku dan kau memiliki anak dariku. Apa kalian bisa menerima itu, sekarang silahkan putuskan!" Gao duduk dan terlihat sombong.
"Apa ini Gao, kau mencoba mengacaukan silsilah keluarga ini?" Pak Zhang marah dengan ucapan Gao.
"Ayah, kau tidak tahu, perjanjian lama masih tertulis antara aku dan Alexsa. Kami sudah di pertemukan terlebih dulu sebelum ia dan Ahn menikah. Kami sudah di takdirkan bersama, kemanapun Alexsa pergi maka hanya ku yang akan menjadi tujuannya karena 𝒂𝒌𝒖 𝒖𝒏𝒕𝒖𝒌 𝒎𝒖 Alexsa." Gao tersenyum jahat dan tersenyum pada Alexsa.
"Baiklah, aku akan mengambil keputusan yang pertama. Aku ingin Alexsa dan putri nya disini, kau harus menepati janji bahwa anak itu akan dikenal sebagai anak ku dan perjanjian lama akan di hapus." Ahn tiba-tiba langsung setuju dan terdapat air mata di wajah nya.
"Ahn..! Pikirkan dulu." Pak Zhang terlihat cemas dengan keputusan cepat Ahn.
"Tidak apa-apa ayah, aku bisa menerima nya aku yang salah. Aku tak ingin Alexsa pergi seperti Helen karena kesalahan ku yang terulang."
"Bagus, aku akan disini untuk mengawasi anak ku. Dan aku sudah merelakan kalau kau adalah suaminya secara sah jadi aku tak ada hubungan nya lagi dengan Alexsa." Gao merobek kertas perjanjian antara dia dan ayah Alexsa di hadapan semua orang di sana.
"Baiklah, kau memang ayah nya. Tapi kami akan merahasiakan ini dari semua orang termasuk Riu, aku tidak ingin dia sakit hati karena kesalahan ayah ku."
Alexsa dengan berat hati terpaksa menyetujui kalau anak itu adalah anak Gao, karena ia tak ingin pergi dari Ahn.
Bulan berganti dan anak perempuan itu sekarang sudah besar, 2 tahun peristiwa kelahiran itu. Ahn dan Gao sudah berbaikan dan Gao menepati janjinya, tak ada lagi perdebatan dan gangguan yang di terima Ahn dan Alexsa karena Gao sudah mendapatkan apa yang di inginkan ya.
Riu-Daijin memanglah anak Gao, karena bentuk rambut mereka sama, sebagai tanda kalau mereka berdamai Gao juga menyayangi kai seperti menyayangi anak nya. Bahkan masalah ini tak ada yang memberitahukan kai.
Kaluarga ini sekarang sudah hidup bahagia dengan kehadiran anggota keluarga baru, tak ada yang memperdebatkan masalah Riu. Masalah di luar orang hanya tahu kalau Riu adalah putri Ahn sedangkan di dalam rumah Gao adalah ayah kandung dari Riu.
Kenyataan disini adalah, jodoh akan tetap bersama apapun yang terjadi. Gao sudah bisa melepas kenyataan kalau Alexsa adalah istri Ahn dengan syarat putrinya tetap atas namanya.
Akan ada seseon 2 yang menceritakan Anak Alexsa dan Gao.
Vi
Visual Alexsa
Visual Ahn
v
Visual Gao
Visual
Visual Kai
__ADS_1
Visual Riu