
Setelah sampai di kota, Ahn segera menuju Rumah sakit tempat kai di rawat, dia sangat cemas apa bila terjadi sesuatu dengan putra tunggalnya itu.
"Ayah di mana kai?" Ahn langsung berlari menghampiri pak Zhang yang duduk lemas di kursi ruang tunggu.
"Maaf Ahn, aku lengah menjaganya. Dia sedang di dalam ruang operasi." Pak Zhang langsung berdiri melihat Ahn dan ada sedikit air mata di mata dinginnya.
"Apa yang terjadi? Kenapa harus di operasi?" Ahn cemas namun dia tak boleh membuat ayah nya semakin cemas.
"Begini, saat kau pergi aku baru kembali dari pasar dan saat di dalam rumah aku sudah melihat banyak darah di lantai. Aku segera menghampirinya memeriksa nafas nya, dan dia kesulitan bernafas aku juga tidak tahu apa yang terjadi aku langsung membawanya kesini. Aku pulang lebih terlambat dan ini semua salah ku, maafkan pria tua yang ceroboh ini Ahn." Pak Zhang menutup wajah nya dengan tangan dan menyeka setiap air mata.
"Tidak apa ayah, dokter sudah menanganinya. Ayah sudah sangat membantu, dia akan baik-baik saja. Kai bukan anak yang lemah." Ahn menenagkan pak Zhang.
Posisi kai sangat berarti dalam keluarga ini, bukan hanya sebagai pewaris tunggal namun dia adalah hal yang membuat pak Zhang dan Ahn terus kuat menghadapi hari. Senyum lembut dan tubuh kecil nya membuat siapapun yang melihat akan langsung menyayangi nya.
20 menit berlalu, Sorang dokter keluar dari ruang operasi.
"Bagaimana dengan putra ku?" Ahn langsung bangkit dan bertanya.
"Putra tuan Ahn? Putra anda sudah melewati masa kritisnya. Dia hanya tersedak, jadi dia susah bernafas dan mungkin itulah yang membuat keseimbangan nya terganggu dan terjatuh dari tangga." Dokter menjelaskan bagian yang membuat Ahn dan pak Zhang sedikit lega.
"Anak itu pasti mencari ku, meminta bantuan untuk menolong nya. Kasihan sekali." Pak Zhang tertunduk lesu mendengarkan itu.
"Lalu sekarang bagaimana? Apa saya boleh melihat nya?" Ahn tak sabar ingin mengetahui kondisi putra nya.
"Begini tuan, putra anda memang telah melalui masa kritis. Dia sudah bernafas, namun karena terjatuh dari tangga menyebabkan ada robekan di kepala nya dan itu membuat nya kehilangan cukup banyak darah untuk anak usia nya. Jika memungkin kan tolong suruh ibunya untuk mendonorkan sedikit darah untuk putra anda, saya tidak enak mengatakan ini karena saya tau tuan dan nona Halen sudah lama berpisah. Namun karena dia kekurangan darah jadi sekarang ia belum bisa membuka matanya." Dokter itu menjelaskan dengan hati-hati pada Ahn agar Ahn tidak tersinggung.
"Aku mengerti. Tapi apakah rumah sakit tidak bisa memberikan darah yang tersedia dulu?"Ahn segera mengambil ponsel seperti mencari sesuatu.
"Tidak bisa tuan, darah putra anda O-(O negatif) dan itu sangat langka. Jarang sekali ada pasien yang menggunakan darah itu disini jadi pihak Rumah Sakit tidak menyediakan nya, sebaiknya ibu nya yang menyumbangkan darah." Dokter itu menjelaskan situasinya.
"Apakah kami tidak bisa? Aku ayah nya, mungkin darah kami cocok. Dan dia kakek nya bisakah di coba dulu?"
"Silahkan tuan lakukan pengujian dulu, saya akan kembali setelah tuan selesai." Dokter itu pergi meninggalkan Ahn.
__ADS_1
"Ahn, aku akan mencoba. Tapi kau tetap harus menghubungi wanita itu, bagaimana pun juga nyawa kai lebih penting." Pak Zhang menepuk halus pundak Ahn dan berlalu meninggalkan Ahn.
"Haaa(nafas panjang). Apa aku harus melakukan nya? Tapi dengan perkataan Gao tadi apakah Halen benar-benar...,Apa ini aku tidak boleh percaya dengan pria itu. Aku akan mencoba menghubunginya." Ahn duduk di kursi tunggu dan menekan nomor Halen di ponselnya.
....Tut...Tut..Tut.. (suara panggilan di sambungkan)
"Halo? Siapa?" Suara Halen terdengar dari telepon.
"Mm.. Halenn, apa bisa bicara sebentar aku Ahn." Ahn gugup saat akan meminta bantuan pada wanita itu.
"Ahn? Ada apa, apa ada masalah?"
"Bagimu, bisakah kau datang ke distrik Guang(nama kota tempat Ahn tinggal) sekarang. Anak ku..maksud ku anak kita sedang membutuhkan mu." Suara Ahn lembut karena iya ingin bantuan dari Halen.
"Kai? Ada apa dengan nya? Aku akan segera kesana, sore ini jemput aku di bandara." Halen langsung mematikan ponsel dan segera menuruti permintaan Ahn.
Setelah telepon di matikan, Ahn berpikir bagaimana jika yang dikatakan Gao benar. Jadi ia memutuskan menelepon Gao juga.
Di telepon..
"Tuan Ahn, ada apa menelepon ku?" Suara Gao dengan sombong mengawali telepon.
"Kenapa? Kau ingin melakukan Tes DNA? Kau mulai percaya dengan ku?"
"Bukan itu tujuan utama ku, putra ku membutuhkan darah O- jika kau memang tahu siapa ibunya tolong berikan aku darahnya untuk di donorkan. Putra ku sedang terbaring di dalam ruang operasi, jika kau masih mempunya hati tolong bantu aku." Ahn sudah merendahkan dirinya di hadapan Gao.
"Wah, tidak disangka sekali. Prisdir perusahaan besar sedang memohon pada ku, kau sendiri yang mengatakan putra mu tak ada hubungan nya dengan semua ini, lalu kenapa meminta bantuan ku dalam masalah ini?" Gao tak bisa menyingkirkan sekap sombongnya.
"Ini semua demi putra ku, dia hanyalah seorang anak kecil. Apa kau tega membiarkan nya menderita?"
"Apa peduli ku? Dia putra mu kau cari saja sendiri ibu kandungnya!"
"Kau ini! Aku akan membayar mu, berikan darah wanita itu. Berapapun yang kau minta aku setujui." Ahn sudah putus asa dengan semuanya.
"200 juta, apa kau sanggup?" Gao keterlaluan mengajukan harga tinggi itu.
__ADS_1
"200? Baiklah, itu tak seberapa. Kirimkan darah itu secepatnya!"
"Tentu, sore ini jam setengah 6, darah itu akan sampai kepada mu." Gao langsung mematikan ponsel nya.
Ahn mendengar itu dia sedikit ragu, apa pria itu mencoba memeras nya dengan harga darah semahal itu? Tapi dia juga tak peduli harga itu tak akan membuatnya miskin.
Ahn menuju ruang uji darah, dan melihat jam tangannya. Sudah jam setengah 5. Dia juga harus menjemput Haarin nanti.
___20 menit berlalu__
"Tuan hasil sudah di terima, dan kalian berdua tidak bisa mendonorkan darah. Sebenarnya tuan Zhang bisa, namun ada riwayat penyakit diabetes dalam diri pak Zhang dan itu tidak mungkin, sementara tua Ahn darah anda berbeda dengan kai. Jadi keputusannya hanya bisa menunggu ibu nya datang. Saya permisi." Dokter berlalu meninggalkan mereka.
"Apa kau sudah membicarakan ini dengannya?" Pak Zhang menatap Ahn yang terlihat ragu.
"Sudah, dan sekarang mungkin dia sudah di bandara. Aku tak sempat menjemputnya, aku akan kirim orang untuk menjemputnya." Suara Ahn terdengar berbeda.
"Terserah pada mu saja, aku tak ingin melihat wanita itu lagi. Aku terlalu membenci, aku pergi saja sekarang." Pak Zhang meninggalkan Ahn di lorong rumah sakit.
Ahn tahu ayahnya sangat tidak menyukai Halen karena masalah Halen yang membuat keluarga Huang menanggung malu dan saat itu pak Zhang sangat di hancurkan dalam lingkungan sosial nya. Karena itu dia sangatlah membenci Halen.
___di tempat Gao__
Alexsa sedang merapikan kasur, ingin tidur lebih cepat, Gao tiba-tiba mengetuk pintu kamar.
"Siapa?"
"Buka, aku ingin bicara sebentar!" Suara Gao terdengar dari luar
" Ada apa tuan?" Alexsa membuka pintu melihat wajah Gao yang datar
"Ikut aku ke rumah sakit, aku harus mendonorkan darah mu untuk seseorang!" Gao langsung menarik tangan Alexsa dengan paksa.
"Tunggu, untuk siapa? Kenapa langsung mengajak ku. Apa tidak bertanya dulu aku setuju atau tidak?" Alexsa mencoba menahan langkah nya.
"Persetujuan apa? Kau hanya akan membantu seorang anak kecil, apa kau begitu jahat tak mau membantunya?" Gao melepas tangan Alexsa.
__ADS_1
"Anak kecil ya? Baiklah, aku akan ikut." Alexsa langsung setuju melakukan donor darah.
Di rumah sakit, Alexsa langsung di tes darah nya dan kualitas nya bagus jadi dara Alexsa di ambil beberapa dan langsung di kirim ke tempat Ahn oleh seorang suruhannya.