
Ahn sampai di rumah saat pagi menjelang, ia melihat 3 orang karyawan sudah menunggu di depan pintu.
"Selamat datang tuan, kami sudah mengurus putra anda dan sekarang dia masih tidur."3 karyawan membungkuk menyambut Ahn.
"Terimakasih, untuk akhir bulan aku akan gandakan gaji kalian. Kembalilah ke rumah atau ambil cuti untuk hari ini." Ahn mempersilahkan ke-3 wanita itu pergi.
Sekarang hanya mereka di rumah itu, Ahn dan pak Zhang sementara Helen sudah sampai di hotelnya.
Ahn dengan wajah kusam naik ke lantai atas untuk membersihkan diri, ia merasa hari-hari nya suram karena peristiwa besar telah terjadi.
Setelah mereka membersihkan diri, Ahn duduk di depan tv dan memeriksa laptop nya. Banyak sekali tumpukan file yang dikirim dan ia harus segera menyelesaikan sebelum kembali melihat Alexsa.
Kai sudah terbangun ia langsung mencari ayah nya ke ruang kerja. "Papa, dimana Alexsa? Apa dia tidak ikut dengan papa?" Kai langsung memeluk Ahn dengan senang.
"Tidak, Alexsa masih ada urusan." Ahn tetap fokus pada laptop nya.
"Apa terjadi sesuatu? Kenapa Alexsa sangat lama?" Kai selalu ingin mengetahui kabar Alexsa.
.
"Dia tidak apa-apa, kai tenang saja. Hanya pekerjaan nya sangat berat jadi dia tidak bisa selesai kan cepat."
"Baiklah, tidak apa-apa kalau Alexsa lama. Kai bisa menunggu." Anak itu tersenyum dan pergi ke luar ruang kerja Ahn.
Saat sedang serius mengerjakan pekerjaannya, Ahn Ter ingat kalau dia dan Gao sebenarnya adalah saudara. Ahn terdiam sebentar dan tak sengaja pak Zhang lewat di ruang kerja itu.
__ADS_1
"Ayah! Sebentar aku ingin bertanya." Ahn menghampiri pak Zhang
"Kenapa Ahn?" Pak Zhang di tarik oleh Ahn ke ruang kerja nya dan menutup pintu.
"Ayah, aku ingin tahu apakah yang dikatakan Gao kemarin itu benar?"
"Kenapa masih bertanya, aku sudah bilang bukan kalian bertiga memang putra ku."
"Tapi kenapa Gao masih terlihat marah pada ku, apakah ibu kami sama? Apa yang di maksud Gao ayah ingin menikah lagi itu benar?" Ahn mengajukan banyak pertanyaan.
"Dia terlihat marah karena dia iri pada mu, dan ibu kalian memang sama. Aku tak sedikitpun berpikir seperti itu, mereka hanya salah paham." Pak Zhang terdengar sangat irit dalam berbicara.
"Ayah, jelaskan kenapa hanya aku yang kau akui sebagai putra keluarga Huang? Memangnya apa yang terjadi dengan Gao dan BEI saat dulu?" Ahn mendesak pak Zhang menjelaskan semuanya.
"Ayah bukan itu yang ingin aku tahu, kenapa BEI bisa bersama Gao dan kau tidak mencarinya. Kenapa malah mengumumkan aku putra tunggal?"
"Begini, sebenarnya dulu baik-baik saja. Tapi Gao memang sudah menderita penyakit mental dari kecilnya. Ia suka melakukan kekerasan bahkan saat masih umur 8 tahun ia hampir membunuh teman sekelasnya hanya karena sebuah masalah sepele. Dari hal ini masalah nya semakin buruk, aku sadar Gao punya kekuatan besar jadi aku memasukan nya ke sekolah bela diri namun ia malah memakai kekuatannya untuk menundukkan orang lain, ia sangat kasar dengan semua nya kecuali ibu mu dan BEI. Dia tidak menyukaimu karena kau berperilaku baik dan di sayang oleh ibu mu. Karena itu dia mencoba menyakiti mu saat tidur, aku dan ibumu melihat tindakannya dan tanpa sengaja aku memukul nya dengan botol bir hingga kepalanya berdarah bukannya menangis ia malah tertawa dan hal itu membuat kami ketakutan. Jadi aku dan ibumu memasukannya ke rehabilitasi mental namun dia malah semakin gila seperti seorang pembunuh, kami harus membayar uang ganti rugi terhadap orang-orang yang di sakiti Gao. Ibumu tak sanggup melihat Gao yang masih kecil melakukan kekerasan dan ia memilih mati saja. Saat kejadian itu kebetulan Gao kabur dari rehabilitas nya dan melihat BEI menangis di pinggir jalan, Gao membawanya tak tahu kemana dan menghilang selama bertahun-tahun. Helen bilang dia pernah kembali satu malam membawa seorang wanita namun setelah itu dia pergi lagi dan tak pernah terlihat. Aku hanya membesarkan mu dan sampai kau berumur 19 tahun aku mengumumkan kalau kau adalah putra tunggal ku. Saat itu aku tidak tahu apakah mereka masih hidup atau tidak, aku tahu aku salah maaafkan aku." Pak Zhang terlihat sedih menceritakan semua itu.
"Jadi kau tidak terlibat dalam kecelakaan itu, lalu kenapa BEI mengatakan ayah yang membunuh?"
"BEI masih kecil saat itu, dia mendengar aku dan ibumu berbicara di telepon sebelum kecelakaan. Dia berpikir aku lah yang bersalah, tak apa biarkan saja. Aku harap kau bisa menerima kehadiran serta kenyataan Gao dan BEI sebagai adik mu."
"Aku bisa saja menerima nya, tapi wajah Gao kemarin ia terlihat sangat membenci ku sepertinya dia yang tak bisa menerimaku."
"Tak apa, seiring berjalannya waktu dia juga akan menerima mu." Pak Zhang bangkit dari kursi dan meninggalkan ruang kerja Ahn.
__ADS_1
Entah apa yang telah di lalui pria tua itu hingga ia memisahkan putranya.
___di tempat Gao___
Gao menunggu semalaman di rumah sakit dan ia benar-benar tidak tidur, BEI tertidur di atas kursi dengan melipat tangannya di dada.
"Tuan, tunggulah dirumah dulu. Rumah sakit ini cukup dingin, kami akan menjaga Alexsa disini. Akan aku kabari jika Alexsa terbangun." Seorang dokter menghampiri Gao yang terlihat marah.
"Baiklah, aku akan pulang. Tolong rawat dia dengan baik." Gao langsung bangkit dari kursi.
Gao dan BEI pulang ke villa dan menunggu kabar dari dokter.
__skip, 1 bulan__
Gao dan BEI sering menjenguk Alexsa
ke rumah sakit, sementara ahn datang 2 kali seminggu selama satu bulan ini mungkin karena sibuk.
Hari ini sudah 1 bulan 4 hari, dan ada kemajuan dari kondisi Alexsa. Dokter menelepon mereka semua untuk datang ke rumah sakit.
Gao sudah menunggu bersama BEI di ruang tunggu operasi, 10 menit kemudian Ahn, pak Zhang dan Helen juga datang.
'kenapa wanita ini masih menempel pada Kaka pertama?' BEI terlihat tidak suka dengan kehadiran Helen.
"Dimana dokter nya? Apa sudah memberitahu keadaan Alexsa?" Ahn langsung bertanya saat sampai di tempat BEI dan Gao.
__ADS_1