
"Tidak, tidak jangan membawa suami saya. Pak Ahn tolong jangan tinggalkan saya! Paaak, tolong jangan bawa suami saya!!" Yura berderai air mata melihat Ahn di bawa kekantor polisi.
Yura berlari mengikuti mereka hingga ke mobil. Ahn di suruh masuk ke dalam mobil yang berbeda dengan Gao, Yura terus meminta agar Ahn tidak di bawa dan air matanya terus mengalir.
"Pak.. tolong bawa saya juga, jangan tinggalkan saya. Tolonglah." Yura menangis di depan pintu pada Ahn sebelum pintu di tutup.
"Yura, dengarkan aku. Jangan menangis, semua akan baik-baik saja. Kembali ke hotel dan tenangkan dirimu, jaga dirimu selama aku tidak ada, cukup jangan menangis jangan buang tenaga mu. Ini kunci mobil dan kunci kamar, tunggu lah aku di hotel. Aku tidak apa-apa, tunggulah aku pulang ya, jaga dirimu dengan baik!" Ahn mengatakan kata-kata yang menenangkan Yura dan beberapa kali menganggukkan kepala nya pada Yura agar tidak menangis dan pintu mobil pun di tutup.
Yura merasa sangat sedih karena Ahn terlibat masalah berat, Yura terus menangis dan memanggil Ahn untuk kembali. Mobil polisi melaju, Ahn yang ada di dalam mendengar teriakan Yura. Hatinya hancur mendengar teriakan Yura yang memanggilnya, Ahn tidak bisa menahan air mata ia menangis dan memikirkan Yura yang tidak tahu apa-apa harus menerima akibat dari kecerobohan nya.
Yura menangis dan ter Isak setelah Ahn meninggalkan nya. Para pengusaha di sana menatap Yura yang sudah tidak rapi lagi dan wajahnya di basahi air mata.
Seorang rekan Ahn mencoba membantu Yura. "Nona biar saya antar ke hotel anda." Pria itu mendekati Yura namun Yura langsung pergi dari mereka semua dan langsung lari ke parkiran mobil Ahn.
Yura membuka pintu mobil dan dia masih menangis, Yura takut kalau Ahn akan di hukum karena kejahatannya pada Haarin. Yura menghapus air matanya dan mengendarai mobil ke hotel.
Sampai di hotel orang-orang disana menatap Yura, berita mengenai Ahn yang menampar Haarin hingga koma sudah tersiar di televisi.
Yura masuk dan berusaha bersikap tenang, orang-orang masih menatapnya. Yura memasuki lift dan sampai di lantai 5 di kamarnya, berjalan menuju kamar orang-orang juga masih menatapnya. Yura bingung tapi dia tetap berusaha tenang. Yura membuka pintu kamar dan masuk ke kamar, ia berjalan ke depan lemari untuk mengganti pakaian nya.
__ADS_1
Yura melewati meja rias, sekilas dilihatnya ada sesuatu yang aneh. Ia berbalik dan menatap wajah nya di cermin.
Yura langsung berteriak dan histeris, ia mundur dari cermin dan melihat seluruh tubuhnya di hadapan cermin. Terdapat darah di separuh wajah yura dan gaunnya, Yura semakin histeris karena dia ingat Gao lah yang membuat darah itu ada pada wajahnya.
Yura dengan panik berlari ke kamar mandi dan melepaskan gaun nya lalu mengusap wajah nya dengan keras agar noda darah Haarin hilang dari wajah nya.
Wastafel yang penuh dengan air berwarna merah, Yura menangis dengan keras karena ketakutan dan menginginkan Ahn di sisinya di saat seperti ini.
"Aaaaaa....!!" Suara teriakan putus asa Yura karena ketakutan dengan situasi ini.
Yura berjalan ke atas kasur dan berusaha menenangkan dirinya seperti yang di katakan Ahn, Yura sangat pusing karena dia hanya mencium bau darah di sekitarnya. Matanya pusing dan Yura pingsan di atas kasur.
Ahn di suruh duduk di kursi dan ruangan yang berbeda dari Gao, Ahn dengan pesimis mengatakan kalau dia tidak bersalah dalam hal ini. Dia adalah korban dan tindakan yang ia lakukan adalah bentuk pembelaan.
Sementara di ruangan berbeda, Gao di interogasi polisi dan sikap nya sangat tenang. Dara yang memenuhi jas nya dan sedikit terkena ke wajah nya namun dua tetap tenang. Pria ini seperti tidak punya ketakutan sedikit pun bahkan dia menjawab pertanyaan dari polisi dengan tenang .
"Saya ulangi kepada anda, tolong jawab dengan serius siapa yang menyebabkan nona Haarin seperti ini! Jawab!" Polisi memukul meja dengan keras karena Gao terus saja memasang senyum aneh yang membuat polisi geram.
"Itu saya, itu saya. Berapa kali saya harus mengatakan nya, Haarin terbunuh itu karena saya.. semuanya karena saya. Ha..hahahaha!!" Tingkah Gao sangat aneh dan pengakuan nya tidak bisa di terima.
Polisi mendapat laporan kalau Ahn yang memukulnya hingga pingsan, sedangkan Gao mengatakan kalau dia yang telah membuat Haarin berdarah dan di rawat. Bagaimana kedua fakta ini saling berlawanan.
__ADS_1
Polisi menahan Gao atas pengakuannya dan membebaskan agan dengan pembebasan bersyarat.
Hari sudah malam dan sebelum Ahn keluar dari kantor polisi ia mendatangi Gao di dalam sel, Ahn melihat Gao duduk diam di dalam sel tanpa rasa sedih. Ia hanya bersandar dan melihat setiap penjaga yang lewat.
"Kau memang pantas disini!" Ahn mendatangi Gao yang sudah duduk di dalam sel dan sudah memakai baju tahanan.
"Tidak apa, aku akan menggantikan mu disini. Aku juga akan segera bebas, dan kita akan melanjutkan nya." Senyuman palsu yang jahat kembali terlihat di wajah Gao.
Ahn dengan kondisi yang sangat kacau, pakaian nya sudah tidak rapi lagi, ada noda darah dimana-mana. Dia sangat bingung kenapa Gao mau di tahan di dalam sel, padahal saksi mata telah mengatakan kalau dia yang memukul Haarin hingga di rawat.
Ahn teringat Yura di rumah, ia segera pergi dari penjara dan meninggalkan Gao di sana. Sampai di hotel, Ahn membuka pintu dan melihat ada noda darah di cermin meja rias. Pakaian yang di kenakan Yura tadi berserakan dan jas yang ia berikan sebelum pergi sudah tergeletak di lantai kamar mandi.
Ahn melihat ke arah wastafel yang sudah di penuhi air berwarna merah, ia menguras air itu dan membereskan semua kekacauan di kamar.
Dilihatnya Yura yang terbaring di atas kasur dengan hanya pakaian dalamnya. Setelah Ahn membereskan semua dia membersihkan diri dan naik ke atas ranjang. Yura masih diam tak bergerak, Ahn menyibak rambut di wajah Yura dan melihat masih ada noda darah di wajah nya. Ahn mengambil air hangat dan membersihkan wajah Yura, tapi kenapa Yura tidak terbangun?
Kenapa Gao yang di penjara sedangkan Ahn lah yang memukul Haarin, apa maksud Haarin kalau Ahn bukan satu-satunya putra di keluarga.
__ADS_1
Hari sudah tengah malam, Ahn heran kenapa Alexsa tidak terbangun padahal wajah nya sudah di basahi air. Ahn menegang dagu Alexsa dan meluruskan kepalanya, mata Alexsa tetap tertutup.
"Ada apa ini? Alexsa! Aku pulang, Alexsa..!?" Ahn sengaja menepuk pipi Alexsa pelan untuk membangunkan nya.