
Di rumah sakit, Alexsa langsung di tes darah nya dan kualitas nya bagus jadi dara Alexsa di ambil beberapa dan langsung di kirim ke tempat Ahn oleh seorang suruhannya.
Sampai di rumah Alexsa masih bingung, kenapa tiba-tiba Gao menjadi memperhatikan orang lain? Apa ini salah satu tindakannya saat menjual Alexsa?"
Hari itu sudah larut, jadi setelah makan malam. Alexsa memutuskan langsung tidur.
__di rumah sakit__
Halen sudah datang, dan langsung berlari menghampiri Ahn.
"Ahn? Ada apa? Masalah apa yang ingin kau bicarakan?" Suara Halen yang dewasa, membuat Ahn tersentak dari lamunannya.
"Kai sedang kekurangan darah, bisakah kau sebagai ibunya mendonorkan darah mu?" Ahn langsung berdiri berbicara terus terang pada Halen.
"A-apa? Donor darah untuk kai? Tapi aku.." Halen terlihat ragu.
"Kenapa kau ibunya kan? Jadi tolonglah putra mu, apa kau sejahat itu sehingga tak mau menolong nya?" Ahn mudah sekali marah jika ada yang menolak nya.
"HM.. aku akan coba." Mata ragu dari Halen tak bisa di sembunyikan tapi walau pun begitu ia harus melakukannya.
Halen pergi ke ruang tes darah sendiri dan Ahn tetap menunggu di lorong itu sampai darah dari Gao datang. Beberapa menit berlalu, seorang pria dengan jas hitam tapi membawa sebuah kota biru ke hadapan Ahn.
"Tuan Ahn, tuan Gao menyuruhku mengantar ini untuk mu." Itu adalah seorang bawahan dari Gao.
"Tentu, ini bayaran mu." Ahn langsung memberikan sebuah cek bertulis nama, tanda tangan dan jumlah uang yang akan di ambil.
Setelah melakukan transaksi, pria itu langsung pergi. Ahn juga bergegas ke ruang cek darah itu, disana Halen masih menunggu hasil. Ahn masuk membawa sebuah kota pendingin kecil dengan sekantung darah.
"Dokter, tolong uji darah ini juga." Gao memberikan kota itu.
"Baik tuan, silahkan tunggu." Dokter mengambil kota darah dari ahn dan segera mengecek darah itu.
10 menit kemudian, hasil pengujian keluar.
"Tuan, untuk darah nyonya Halen ternyata tidak cocok dengan darah kai. Nona Halen memiliki darah AB, tapi jangan khawatir, itu mungkin terjadi namun hanya sedikit orang tua yang mengalaminya. Sementara darah yang anda bawa tadi, itu sangat cocok dan dalam kualitas baik. Kami akan segera mendonorkan untuk putra anda." Dokter itu memberi tahukan bagaimana hasil nya pada Ahn.
"Syukurlah, cepat selamatkan putra ku." Ahn tampak senang dan dokter itu meninggalkan mereka.
'ternyata yang di katakan Gao tidak benar, bisa saja semua seperti yang di katakan dokter itu. Mana mungkin Halen bukan ibu Kai. Tapi darah itu, mengapa bisa langsung cocok dengan kai? Apakah itu memang darah si ibu kandung atau hanya kebetulan saja?' Ahn terpaku sebentar memikirkan hal yang terjadi.
"Ahn, begini. Soal darah itu.." Halen sedikit cemas memberitahu Ahn.
"Sudahlah, semuanya bisa saja seperti yang di katakan dokter. Kau bisa pulang ke hotel Luna aku sudah memesan kamar atas namu mu." Ahn kembali dengan sikap dinginnya meninggalkan Halen.
'aku tahu dia sudah tak akan mempercayaiku, tapi apa mungkin Ahn akan tahu segalanya?' Helen terdiam sejenak dan pergi meninggalkan rumah sakit.
__ADS_1
2 jam berlalu, dokter selesai menangani kai. Dan sekarang Ahn sudah bisa menemaninya.
Ahn melihat wajah putranya yang masih tertidur di bawah pengaruh obat, ia sedikit menyesal dengan yang terjadi.
"Kau pasti marah pada ku kan? Aku memang ayah yang sangat buruk, tak bisa menjaga anak nya sendiri. Aku kasihan pada mu, maafkan aku. Aku tak mengerti cara memperlakukan mu dengan baik, itu semua salah ku. Aku tak merawat mu." Ahn sangat sedih menggenggam tangan kecil kai.
Ahn ingat mengenai Alexsa, jika Alexsa sampai tahu kondisi kai saat ini dia mungkin akan sangat terpukul. Ahn hanya bisa berharap kalau gak tidak memberi tahukan ini.
___pagi hari___
Ahn tidak bekerja sekarang, ia memutuskan merawat dan menemani kai di rumah sakit. Pagi ini Ahn kembali ke rumah sakit membawa sebuah boneka panda yang cukup besar. Kedatangan Ahn ke rumah sakit itu membuat banyak perawat wanita yang berjaga di pagi hari dan beberapa pasien memperhatikan nya.
Tak heran, dimana pun berada kharisma pria ini sangat kuat dan dapat menarik setiap mata yang memandangnya.
"Apa itu tuan Ahn? Dia Prisdir besar itukan? Astaga ternyata tampan sekali." Mulut wanita banyak berbisik saat memandang Ahn yang berjalan memasuki Rumah Sakit.
Ahn membuka pintu dan melihat kalau kai sedang di beri makan di bantu oleh seorang perawat.
"Papa.." anak itu senang melihat Ahn datang.
"Sedang makan ya, bisa aku yang melakukan nya?" Ahn langsung mengambil alih tindakan perawat itu.
"Baik, silahkan tuan saya permisi dulu." Perawat itu tersenyum ramah dan meninggalkan ruangan.
"Kenapa tidak enak, ini hanya sayuran. Kau harus banyak makan sayur agar kuat dan cepat sembuh. Ayo habis kan!" Ahn menyuapi kai makanan lagi.
"Papa.. ini tidak enak, benar-benar tidak enak!" Kai mendorong mangkuk sayur dari hadapannya.
Saat sedang berdebat mengenai makanan itu, tanpa sadar Halen membuka pintu kamar rumah sakit itu dan kai menyadari kehadirannya.
"Eh.. papa, siapa?" Kai menunjuk ke arah Halen yang berdiri di depan pintu.
Halen terdiam melihat anak di hadapannya anak itu sudah besar sekarang, warna mata, rambut, dan hidung sangat mirip dengan Ahn. Tapi senyuman itu jelas bukan terlihat seperti Ahn. Haarin tersenyum tipis dan merasa ada sesuatu yang menusuk hatinya.
Ahn hanya memilih sedikit. Melihat wanita itu memakai pakaian merah tua dan rambut yang di ikat, terlihat sederhana berbeda dari dirinya saat menemui Ahn tadi malam.
"Ada apa? Kenapa datang kesini?" Perkataan Ahn sangat menusuk, namun Halen mencoba memahami.
"Ahaha.. aku hanya ingin menjenguk putra mu." Halen tertawa kecil dan berjalan mendekati ranjang kai.
"Bagaimana kabar mu, apa masih sakit?" Halen mengeluarkan suara lembut dan membuat kai tidak terlalu cemas melihat nya.
"Aku baik. Papa siapa dia?" Kai menarik lengan baju Ahn sedikit.
Halen dan Ahn saling menatap, bagaimana cara menjelaskan pada anak ini?
__ADS_1
"Dia.. dia adalah mama mu."
"Apa, Ahn itu tidak.." Halen sedikit melakukan penilaian.
"Mama? Mama siapa? Bukan kah aku hanya punya mama Alexsa?" Kai menatap bingung ke arah Halen.
Ini pertemuan Halen dengan kai setelah 6 tahun berpisah, bahkan kai sendiri tidak menganggap nya lagi.
''benar, kau hanya punya satu mama dan itu adalah aman Alexsa ingat baik-baik. Dan dia, kai juga bisa memanggil nya mama tapi dalam artian yang berbeda." Ahn juga bingung menjelaskan pada kai.
"Apa mama tiri?, Apakah kai akan memanggil nya mama tiri?" Wajah polos kai menatap Halen.
"Kai.. itu, itu berbeda. Sebaiknya kai jangan memanggil ku mama. Panggil bibi saja ya." Halen tersenyum dan melambaikan tangan menolak panggilan itu.
"Kenapa? Apa kau sudah menikahi Gao?" Ahn mendengar itu jadi dia langsung memikirkan Gao.
"Tidak Ahn.. aku hanya.." Halen berhenti berbicara karena tak enak berbicara di hadapan kai.
"Aku mengerti, kai habiskan makanan mu. Aku akan keluar sebentar, jika aku kembali dan makanan mu belum habis aku tak akan mengeluarkan mu dari kamar ini." Ahn langsung meninggal kan kamar dan menyuruh Halen mengikuti nya.
"Ada apa Ahn?" Halen mengikuti Ahn yang keluar dari rumah sakit.
"Apa kau sudah menikahi Gao?" Ahn meminta penjelasan Halen.
"Aku tidak menikahi nya, hanya saja aku tak mau kai memanggil ku mama. Apakah masih pantas aku di panggil mama?" Halen menunduk kan kepalanya.
"Kau memang tidak pantas di panggil mama, tapi kenapa harus bibi? Apakah kau sudah tak ingin menganggap nya lagi?"
"Sudah lah. Lagi pula kau sudah memutuskan hubungan dengan ku, jangan buat kai mengenang masa lalu buruk nya dengan ku. Kau jangan terlalu pedulikan Ku." Halen bersikap tidak peduli namun ia seperti menutupi sesuatu.
"Terserah bagaimana kata mu. Tapi aku tak ingin kau terlalu dekat dengan nya." Ahn berkata dengan suara datar tapi seperti mengancam.
"Aku mengerti. HM.. Ahn, dimana Alexsa?"
"Gao menculik nya, tapi aku akan segera membebaskan nya. Kau jangan memberi tahu kai."
"Apa, di culik? Kau tahu kan dia itu pria berbahaya, kenapa kau tidak cemas?" Halen bersikap simpati pada keadaan Ahn.
"Dia tak akan menyakitinya. Aku sudah peringat kan, aku sedang mencari tahu lokasi nya sekarang."
"Apa aku bisa membantu mu Ahn? Aku pikir aku mengetahui persembunyian Gao" Halen ingin membantu tapi ia ragu.
"Apa ini salah satu jebakan mu? Aku tak akan bekerjasama dengan orang yang sudah menghancurkan ku. Aku akan menemui nya sore ini, aku minta kau jangan menghampiri kai dulu. Dan jangan menjawab pertanyaan nya mengenai hubungan kau dan aku, anak itu baru 6 tahun tapi ia bisa mengetahui hal-hal seperti itu. Jadi tolong jaga bicaramu." Ahn sangat dingin saat berbicara dengan Haarin, ia mungkin masih tak bisa menerima kenyataan hasil lab darah itu berbeda dengan kai.
Ahn meninggalkan Halen dan pergi ke ruang uji darah dan menyuruh dokter untuk memeriksa DNA kedua darah kemarin, apakah benar kalau Halen bukan ibu biologis kai? Jika bnar itu akan menjadi masalah baru bagi Ahn.
__ADS_1