
"Haa.. a-apa? Halen kembali untuk Ahn? Dia benar-benar tidak menanyai ku?" Suara Alexsa gemetar dan ia memegangi wajah nya yang di tampar Gao.
"Maafkan aku, andai saja kau lebih patuh tadi." Gao membantu Alexsa duduk dan ia mendudukkan Alexsa di atas pangkuannya.
"Kau tidak usah menangis, pria seperti nya memang hanya akan memperlakukan wanita seperti mu. Pria itu juga bahkan tanpa berdosa sudah mengambil kesucian mu saat kau berusia 15 tahun. Bagaimana bisa kau menangisi binatang seperti dia, sudah lah. Aku akan menjaga mu, hanya aku yang menyayangi mu disini." Gao memeluk Alexsa dengan hangat dan berhasil mencuci otak Alexsa dengan kata-kata nya agar meninggalkan Ahn.
"Benarkah? Kau akan menyayangi ku?" Alexsa terlarut dalam kesedihan dan memilih mempercayai Gao.
Saat Gao sedang memeluk Alexsa, tiba-tiba ponsel di sakunya berdering.
"Sebentar, maaf ya. Aku harus menjawab panggilan ini." Gao menurunkan Alexsa dari pangkuan nya dan bergegas ke luar rumah menjawab panggilan.
"Ada apa?" Suara dingin Gao langsung kembali.
"Kenapa tidak mengangkat panggilan ku dari tadi? Aku ingin kau segera membawa Alexsa kembali pada ku." Itu suara Ahn, dan ia terdengar marah.
"Kau menginginkan nya? Tapi aku masih tidak mau melepaskannya sekarang. Tunggulah beberapa hari lagi, aku akan menghubungi mu lagi." Gao tersenyum sinis.
"Apa maksud mu, aku akan membayar mu! Kembalikan dia cepat!" Ahn berteriak dari telepon.
"Bayaran rupanya, baiklah. Tunggu 2 hari lagi aku akan menghubungi mu. Sampai jumpa." Gao langsung mematikan ponselnya tak ingin berbicara dengan Ahn lagi.
"Pria itu benar-benar menginginkan nya ya, tunggu saja aku akan merubah pikiran wanita itu terhadap mu." Gao tersenyum dan kembali memasuki rumah.
Alexsa masih sedih memandangi surat-surat perjanjian itu.
"Apa aku meninggalkan mu terlalu lama, maafkan aku tadi ada seorang rekan bisnis menghubungi." Gao menghampiri Alexsa dengan senyuman hangat.
"HM.., Gao aku ingin bertanya, apakah kau masih terlibat pasar gelap itu?" Alexsa mulai menurunkan suaranya.
"Tidak, aku sudah meninggalkan bisnis itu 4 tahun lalu. Aku sekarang sedang mengurus pabrik senjata di luar negri. Kau tenang saja." Gao menghampiri dan mengusap kepala Alexsa.
"Hmm, begitu ya." Alexsa hanya mengikuti gerakan tangan gao yang membawa kepalanya ke dada Gao.
"Ada apa bertanya begitu? Apa masih ada yang ingin kau tanyai?"
"Begini, Halen mengatakan kalau kau terlilit hutang di pasar gelap itu. Jadi.. jadi kau sangat ingin proyek dari Ahn. Apakah itu benar?" Alexsa sedikit takut menanyai hal itu.
"Tidak apa, Halen hanya berbohong. Aku ingin proyek itu agar pabrik senjata milik ku bisa semakin berkembang dan bisa ada di kota ini juga. Aku tidak pernah berhutang apapun pada siapapun, kau jangan menaruh ke ragunan itu lagi ya. Jika masih ragu dengan hal lain tanyakan saja, aku akan menjawab nya dengan jujur." Gao semakin memeluk erat Alexsa dan memanjakan nya dalam pelukan hangat.
Gao memang tak berhutang, Halen salah dalam menanggapi ini, Gao memang tergabung dalam pasar gelap namun itu hanya dulu. Sekarang ia sudah mendirikan pabrik senjata maka tak heran ada banyak orang-orang dengan kemampuan khusu selalu berada di dekatnya.
"Astaga, tuan sangat memanjakan wanita itu. Sebelum nya nona Halen bahkan tak pernah di perlakukan begini." Para penjaga berbisik saat melihat tindakan Gao.
"Sstt .... Tuan akan mendengar. Diam lah!"
___di tempat Ahn___
"Cih. Pria itu menyuruh ku menunggu? Apalagi rencananya. Aku hanya tak mengetahui lokasinya. Jika aku tahu aku akan langsung menghajar nya." Ahn menatap ke luar mobil dengan marah.
__ADS_1
Setelah melihat kalau kondisi ayah dan kantornya baik-baik saja, Ahn kembali ke Rumah Sakit untuk mengetahui hasil laporan DNA.
Siang ini, bukik 2 siang Ahn kembali ke Rumah Sakit dan sebelum ke bangsal darah ia menyempatkan menemui kai.
"Bagaimana? Apa kau makan dengan patuh?" Kai melihat kalau Ahn sedang duduk dengan sebuah buku bacaan di tangannya.
"Papa, kai bosan. Bisakah kita pulang malam ini?"
"Belum bisa, besok saja baru bisa. Jangan merengek terus, atau kai tidak akan sembuh." Ahn menghampiri kai yang sedang membaca buku mengenai dunia binatang.
"Papa, apa saat keluar dari rumah sakit ini kai bisa ikut papa ke kantor?"
"Baiklah, papa tidak akan menolak." Ahn tersenyum melihat anak nya yang semakin bertambah sehat.
Beberapa menit berbincang dan tertawa, seorang dokter berkacamata masuk.
"Tuan Ahn, hasil tes DNA nya sudah tersedia."
Ahn langsung berdiri dan keluar ruangan bersama dokter itu.
....di ruang bangsal darah...
"Begini tuan, kemarin setelah mendonorkan darah untuk kai ternyata seorang perawat baru langsung membuang kantung darah itu. Jadi kami tak bisa menguji darah itu, tapi mengenai darah nona Halen..." Dokter itu berhenti.
"Kenapa dengan darah Halen?" Ahn penasaran.
"Tuan lihat saja, saya tidak enak menjelaskan nya." Dokter itu menyerahkan sebuah amplop berisi surat tes DNA Halenn dengan kai.
Ahn langsung ke parkiran, dadanya sesak dengan kenyataan kalau Halen bukan ibu dari kai. Ternyata Gao benar, wanita ini menipunya.
"Dasar ******, aku mempercayainya selama ini dan dia malah membohongiku. Aku harus memberi pelajaran kepada wanita itu!" Ahn langsung berkendara dengan kecepatan tinggi ke hotel Luna yang berada tak jauh dari Rumah Sakit.
__di hotel__
"Eh itu tuan Ahn, Prisdir besar itu. Apa yang dia lakukan?" Seorang pelayan hotel mengetahui Ahn.
Ahn terlihat marah, tanpa berbicara langsung menaiki lift ke lantai 3 menemui Helen di kamar hotel.
Dengan tendangan kuat, pintu yang tak di kunci langsung terbuka. Helen sedang duduk menonton tv dan terkejut dengan tindakan Ahn.
"Ah.. Ahn, ada apa? Kenapa marah sekali?" Helen langsung berdiri menghampiri Ahn yang sangat marah saat itu.
"Kau menipuku selama ini, anak siapa itu! Jelaskan!" Ahn langsung mencekik Helen dan membuatnya tersudut.
"Ahk.. Ahn, to-long. Aku tidak bisa bernafas!"suara Helen sangat menderita dan sesak.
Ahn dengan kasar membanting tubuh Helen ke sofa, dan kejadian itu dapat di lihat oleh orang dari luar. Ahn menyadari situasi dan langsung mengunci pintu dari dalam.
__ADS_1
Helen mengambil kesempatan itu untuk bernafas. "Haah.. apa ini Ahn? Kau hampir membunuh ku."
"Apa? Benarkah, aku pikir kau sudah terbunuh tadi." Ahn mendekati Helen dengan mata penuh amarah.
"Ahn, ada apa ini? Aku tidak menyakiti mu. Kenapa kau sangat marah?" Helen mundur perlahan ke arah dinding
"Kau ingin tahu, kau sudah menyakiti ku. Kau sudah menggoreskan luka besar di hati ku. Katakan anak siapa itu!" Ahn sangat marah jadi memukul sebuah lukisan di dinding dan lukisan itu langsung hancur.
"Apa ini, anak apa yang kau bicarakan?" Helen terlihat takut namun ia masih berusaha kuat karena sudah terbiasa.
"Masih pura-pura tidak tahu ya. Lihat hasil tes DNA ini, jelaskan semua nya pada ku"Ahn memberikan hasil DNA itu.
Helen terdiam sejenak, "bukan kah sudah aku katakan di saat rapat saham hari itu, kenapa masih bertanya?" Halen langsung bersuara dingin menjawab Ahn.
"Apa maksud mu menipu ku dengan semua ini, jelaskan siapa anak itu, darimana kau mendapatkan nya!"Ahn terus menyudutkan Halen dan Helen sudah tak bisa menahan nya. Ia langsung membalas Ahn.
Adu mulut ini terjadi cukup kuat, tak ada di antara mereka berdua yang melunak, keduanya sama-sama keras.
"Kau yang menuntut ku memiliki anak. Dan aku sudah memberi mu anak, lalu apa? Kau juga mengusir ku, apalagi yang harus aku urusi haa?!" Helen mendorong Ahn menjauhi nya.
"Jadi selama ini kau dan Gao merencanakan untuk menghancurkan ku? Gao sudah mengatakan kalau kau membeli seorang wanita untuk melahirkan anak itu. Apakau tidak berpikir sedikit pun bagaimana perasaan nya!?"
"Cukup Ahn!! Kau hanya menanyai perasaan wanita itu, apakau pernah memikirkan perasaan ku? Apa kau pernah memikirkan bagaimana kehidupan ku di bawah tekanan ayah mu itu! Kau tidak pernah memikirkan ku setelah menikah, kau hanya memikirkan pekerjaan mu. Kau bahkan tak ada waktu untuk ku, darimana aku bisa mendapatkan anak dengan mu!" Helen berbicara cukup keras.
"Tak ada waktu katamu? Aku selalu memenuhi kebutuhan dan memberi uang untuk mu, apa kau masih mau menghindar?"
"Apa kau pikir uang saja akan cukup, dimana otak mu! Kau pikir pernikahan akan bahagia hanya dengan uang? Aku membutuhkan mu, aku menginginkan cinta mu. Tapi kau tak pernah memberikan nya, sementara ayah mu selalu menuntut agar aku memberikan mu anak. Kau tidak bisa mengerti itu, aku tinggal dalam neraka sejak menikahi mu. Dan aku sama sekali tidak bahagia!?" Helen memukul Ahn beberapa kali.
"Lalu siapa wanita yang kau gunakan untuk melahirkan anak ku, apa yang terjadi dengannya?" Ahn mendorong Helen agar dia tidak melakukan perlawanan.
"Aku tidak tahu, aku tidak pernah menemuinya. Bahkan di malam kau melakukan itu dengan nya aku juga tidak bisa melihat wajah nya. Wajah nya di tutupi dengan kain hitam!" Helen mengatakan apa yang di ketahui nya.
"Kau bohong, Gao mengatakan kalau kau menemuinya selama wanita itu hamil. Kau tidak bisa membohongiku!" Ahn masih keras dengan sikap nya.
"Kau tidak percaya, aku memang menemui nya tapi aku tak sempat melihat wajah nya, apa kau masih meragukan ku? Wanita mana yang tidak sakit hati saat pria yang di cintai nya melakukan hubungan dengan wanita lain di atas ranjangnya dan aku melihat mu dengan wanita itu. Hatiku semakin hancur saat wanita itu hamil, aku terpaksa membayar dari kesalahan mu. Aku membayar Gao agar wanita itu bisa melahirkan untuk mu. Kau membuat ku rugi lagi, dan setelah anak itu lahir ayah mu malah mencampakkan ku. Apa kau masih sanggup membayangkan betapa tersiksa nya aku." Helen sedikit menangis menjelaskan hal itu.
"Tidak, itu tidak benar."
"Tidak benar apanya. Istri mana yang sedia merawat wanita selingkuhan suami nya, tidak ada hanya aku orang nya! Aku terpaksa berbohong soal kehamilan pada ayah mu. Tapi pria busuk itu selalu mencurigai ku ia selalu mengatakan kalau aku adalah wanita tidak tahu malu yang sudah bermain dengan pria lain. Dan juga menghina ku dengan menyebut ku mandul. Apakah itu masih bisa di terima haa.?" Helen menangis mengingat semua yang terjadi.
"Haah?! Apakah.. apakah aku yang bersalah?" Ahn langsung lemas dan terduduk di lantai.
"Aku sudah memaafkan kesalahan mu itu, aku sadar kalau semua terjadi saat wanita itu sedang di bawah pengaruh bius dari Gao dan kau sedang di bawah alkohol. Aku bisa memaafkan mu tapi mengapa kau tidak bisa, akulah yang tersiksa disini." Helen menangis setelah berbicara.
Ahn mengerti, ia lah yang salah selama ini. Salah nya jika tidak mempedulikan Helen dan membuat nasib pernikahannya seperti ini.
"Maafkan aku.. maafkan sikap ku." Ahn langsung memeluk Helen yang menangis, dan tangisan Helen semakin kencang karena ia sudah mengungkap kan hal yang mengganjal di hatinya selama 6 tahun.
"Tidak apa Ahn, aku memaafkan mu. Aku juga terpaksa meminta uang mu karna saat itu aku memang benar-benar tak memiliki apapun lagi. Maafkan aku." Helen menangis di dalam pelukan Ahn.
__ADS_1
"Tidak apa, akulah yang bersalah. Jangan menangis lagi." Ahn mengusap lembut punggung Helen
Tanpa di sadari dari sela-sela pintu yang rusak, seseorang telah mengambil foto Helen dan Ahn sedang berpelukan.