
Hari ini sudah 1 bulan 4 hari, dan ada kemajuan dari kondisi Alexsa. Dokter menelepon mereka semua untuk datang ke rumah sakit.
Gao sudah menunggu bersama BEI di ruang tunggu operasi, 10 menit kemudian Ahn, pak Zhang dan Helen juga datang.
'kenapa wanita ini masih menempel pada Kaka pertama?' BEI terlihat tidak suka dengan kehadiran Helen.
"Dimana dokter nya? Apa sudah memberitahu keadaan Alexsa?" Ahn langsung bertanya saat sampai di tempat BEI dan Gao.
"Dokter ada di dalam sedang melakukan pemeriksaan, tunggulah sebentar." BEI menjawab pertanyaan dari Ahn karena ia tahu Gao tak akan mau berbicara dengan Ahn.
Mereka menunggu beberapa menit dan dokter keluar dari ruang rawat Alexsa.
Mereka semua langsung antusias ingin melihat nya.
"Keluarga atas nama Alexsa." Dokter membuka pintu ruangan.
"Saya!" Hal itu kembali ter ulang.
"Eh.. tentu saja(tertawa sedikit). Pasien sudah berada di kesembuhan akhir. Mungkin dia bisa membuka mata hari ini namun di masih belum sadar, kalian tenang saja ini normal setelah operasi." Dokter langsung menjelaskan situasinya.
"Kalau begitu boleh saya melihat nya?" Gao langsung bertanya ingin melihat.
"Boleh, satu orang di izinkan masuk menemui pasien."
"Aku akan masuk." Gao langsung menjawab.
"Apa masalah mu, aku suaminya disini! Ingin melangkahi posisi ku ha?!" Ahn langsung marah.
"Kenapa? Apa kau lupa siapa yang menyebabkan nya dalam situasi ini? Lagi pula apakah dia bisa menerima mu setelah kejadian itu? Cih, tidak tahu diri." Gao tersenyum jahat pada Ahn.
"Kau ini..!!" Ahn malah ingin memukul Gao di tempat itu.
Semua langsung menahan Gao dengan sikap cerobohnya itu. "Ahn sudahlah, jangan membuat ribut!" Pak Zhang menahan tangan Ahn.
"Baiklah, tuan Gao akan melihat pasien ke dalam. Ikuti saya anda harus memakai pakaian steril." Dokter berjalan di depan dan Gao mengikuti dari belakang, sebelum pergi Gao kembali membuat senyuman jahat yang membuat Ahn marah.
"Haa..! Pria sialan, aku akan membalasnya lain waktu!" Ahn menenangkan diri dan duduk di ruang tunggu.
__ADS_1
Gao masuk ke ruang Alexsa di rawat, masih terlihat beberapa alat tertempel di keningnya serta infus yang masih terus berjalan.
"Kau bisa melihat kondisinya, aku akan menunggu di luar." Dokter keluar dari ruangan itu
Gao melihat wajah Alexsa yang tertidur, ia mengusap tangan Alexsa dengan lembut.
"Kenapa kau sangat bodoh, tidak mematuhi ku saat itu lihat bagaimana keadaan mu sekarang. Menyusahkan saja." Gao mengusapkan tangan Alexsa ke wajah nya.
Tangan Alexsa bereaksi dan jarinya bergerak.
"Tuan..?" Suara lirih di balik maskeran oksigen terdengar oleh Gao.
"Iya, aku disini. Ada apa?" Gao langsung terkejut.
"Tu-tuan Ahn?" Panggilan itu membuat Gao berkecil hati, Alexsa malah memanggil Ahn bukan dirinya.
"Aku Gao, apa yang kau butuhkan." Gao langsung bersuara ketus pada Alexsa.
"Gao? Dimana tuan Ahn?" Alexsa menoleh perlahan melihat Gao.
"Diluar, apa kau ingin bicara dengannya?"suara dan nada bicara Gao bisa di tebak oleh Alexsa.
"Sudahlah, aku mengerti. Apa gunanya aku disini, sia-sia aku menemanimu selama satu bulan ini." Gao langsung bangkit dari posisinya dan meninggalkan Alexsa.
"Apa, bukan begitu. Dia sangat marah karena aku ya." Alexsa hanya menghela nafas panjang melihat Gao meninggalkan ruangannya.
Gao keluar dari pintu, semua langsung bertanya padanya.
"Bagaimana? Apa dia sudah sadar?" Ahn langsung antusias.
"Ya..ya... Pergilah sana, perempuan seperti dia tidak bisa di harapkan." Gao melepas pakaian steril itu dan meninggalkan tempat.
Dokter membawa Ahn memakai pakaian steril sebelum bertemu dengan Alexsa, BEI tahu irama bicara Gao. Pastinya dia sedang kesal saat itu.
BEI mengikuti kalanya itu dan berhenti di balkon lantai 2.
"Siapa aku, kenapa aku sangat bodoh. Aku memperhatikan dan mencemaskan seorang wanita yang bahkan tidak menyukai ku, kenapa aku peduli pada nya." Gao jelas terlihat sangat kesal.
__ADS_1
BEI tak mau menghampiri Gao, ia hanya melihat dari belakang saja.
"Memangnya dia anggap aku apa? Aku menemaninya selama 1 bulan ini dan dengan mudah ia memanggil Ahn saat terbangun? Benar-benar tidak bisa di terima, bodoh sekali aku mencemaskan wanita seperti itu!" Gao memukul pagar pembatas beberapa kali.
"Wanita memang seperti itu, tidak peduli berapa banyak kau bertindak kalau bukan kau yang ada di hatinya dia tak akan menganggap mu apa-apa. Mengapa memikirkan dia, lagi pula kakak pertama adalah suami nya untuk apa mencari mu." BEI langsung menghampiri Gao yang terlihat marah.
"Kau benar, aku saja yang terlalu mengharapkan nya. Wanita seperti itu siapa juga yang menginginkannya." Gao berbalik dan kembali berjalan ke ruang tunggu.
BEI sangat bisa mengerti arti ucapan Gao, ia sadar kakak nya itu merasa sakit hati setelah apa yang di lakukan nya untuk wanita itu tapi wanita itu malah menyebut nama pria lain. Memang menyakitkan.
__di dalam ruangan Alexsa.__
"Alexsa, maafkan aku." Ahn langsung mencium tangan Alexsa beberapa kali.
"Tidak apa, aku sudah lebih baik sekarang. Bagaimana kai?" Alexsa menanyakan tentang kai.
"Dia di Hera bersama beberapa pengasuh, kau..kau sudah tahukan dan apakau bisa menerima kalau kai adalah putra kandungmu yang hilang 5 tahun lalu?" Ahn mencoba memberi tahu Alexsa lagi.
"HM.. aku tahu. Aku bisa menerima nya, tapi apakah kai sudah tahu?"
"Aku akan memberitahu dalam waktu dekat ini. Kau sembuh lah dulu."Ahn mengusap kepala Alexsa yang di ikat perban.
"HM.. tuan, bisa minta semua nya kesini?" Alexsa menggenggam tangan Ahn dengan pelan.
"Kenapa? Apa yang kau inginkan. Dokter tidak mengizinkan semuanya masuk sekaligus." Ahn memegang tangan Alexsa dengan kedua tangannya.
"Dokter, bisa izinkan semua nya kesini sebentar?" Alexsa melihat ke arah dokter yang mengamati beberapa kertas catatan medis Alexsa.
"Sangat tidak bisa nona, kondisi anda.."
"Tidak, tolong izinkan sebentar saja. Aku mohon." Alexsa memelas pada dokter itu.
"Nona, tapi ..." Dokter kembali di sela oleh Alexsa.
"Sungguh aku tidak apa-apa, sebentar saja." Alexsa langsung melepas alat bantu nafasnya.
"Baiklah, tapi anda tidak boleh banyak bicara." Dokter mengizinkan dan memanggil semua yang ada di ruang tunggu masuk melihat Alexsa.
__ADS_1
Alexsa melihat mereka masuk satu persatu dengan pakaian steril dan masker, terlihat BEI dan Gao masuk pertama, di susul pak Zhang dan terakhir Helen.