Kamu Milik Ku

Kamu Milik Ku
Penyambutan Gao Dan Bei


__ADS_3

"Kak, tadi saat kau mandi kakak pertama menyuruh kita menjemput Alexsa ke rumah sakit dan pulang bersama."


"Dia menelepon ku tadi? Kenapa tidak dia saja, bukan kah dia suami nya. Kenapa membebani ku." Gao terlihat tidak peduli dan kembali masuk ke dalam rumah mengambil jaket nya.


"Astaga, orang ini kenapa sangat keras. Padahal aku yang akan menyetir kenapa dia yang merasa di Bebani." BEI tersenyum melihat Gao yang berjalan menjauh.


Semua barang yang harus di bawa sudah di siapkan dan sekarang mereka menuju rumah sakit menjemput Alexsa.


Di perjalanan ke rumah sakit, BEI dengan santai sambil mengemudi menelfon seseorang dari pihak media yang merekam nya kemarin.


"Halo, kau salah satu dari awak media yang kemarin kan? Tolong sebarkan berita kalau putra ke dua dan ketiga tuan Zhang akan pulang ke distrik hari ini. Cepat terbitkan berita itu, aku hanya ingin itu yang lain jangan kau sebarkan . Mengerti?"


"Baik tuan, kami akan terbitkan berita itu sekarang."


Telepon di tutup dan BEI terlihat tersenyum.


"Ada apa? Kenapa harus menyebarkan berita ini?" Gao melihat senyuman aneh BEI.


"Kita lihat bagaimana pak tua itu menanggapi, kita harus pulang dengan gaya kerumah itu, mengingat terakhir kali kita pergi dengan kesedihan. Dan satu lagi agar gelar putra tunggal pada kakak pertama hilang, apa kakak tidak ingin di gelari Huang Gao-Daijin lagi?"


"Hanya gelar apa bagus nya, aku rasa mereka hanya pengusaha kecil." Gao terlihat tidak peduli dengan nama Huang yang tersemat di namanya.


Sampai di rumah sakit mereka langsung ke ruangan Alexsa dan melihat Alexsa sudah siap untuk pulang, kepalanya memang sudah tak di lilit perban lagi namun harus tetap minum obat.

__ADS_1


BEI dan Gao membantu Alexsa berjalan ke mobil, Gao melindungi kepala Alexsa saat membungkuk memasuki mobil.


"Terimakasih tuan, terimakasih BEI." Alexsa tersenyum dan dia duduk di kursi depan bersama BEI.


"Kita akan pulang, apa kau perlu membeli sesuatu? Aku tak akan berhenti selama 4 jam akan terus berkendara." BEI bertanya pada Alexsa saat mobil baru berjalan beberapa meter dari Rumah Sakit .


"Tidak perlu, Ahn dan ayah akan mengerti situasinya." Alexsa melirik ke belakang melihat Gao.


'ayah? Dia sungguh menganggap pria itu ayahnya? Bodoh sekali.' Gao tidak memperhatikan Alexsa ia hanya melihat ponselnya.


Mobil mereka melaju pulang ke distrik dari kota Dijin.


Ahn sudah membantu pelayan membereskan kamar Yang akan di gunakan oleh BEI dan Gao.


Di lantai dua dan tiga sudah di pasangi foto dan lukisan yang dulu sudah lama di simpan, Ahn melihat kamar BEI ia sadar kamar ini memang dulu seperti ini dan tidak ada yang berubah bahkan furnitur di dalamnya masih sama seperti 18 tahun lalu.


"Ayah, lukisan apa lagi yang akan di pajang?" Ahn menuruni tangga dan melihat beberapa orang sedang berdiri di tangga yang di turuni nya sedang memasang sebuah bingkai.


"Bukan lukisan hanya foto lama." Pak Zhang tersenyum mengatakan itu.


Pintu kaca besar di lantai utama ini selalu di tutupi gorden abu-abu setinggi 4 meter, suasana rumah langsung berbeda setelah gorden di buka. Cahaya hangat matahari pagi masuk melalui kaca besar anti peluru itu dan membuat rumah sangat terang.


Warna tangga dan cat rumah yang ke emasan menambah kemegahan rumah itu, dinding setelah menaiki tangga yang awalnya kosong sekarang sudah di hiasi oleh sebuah bingkai besar yang masih di tutupi kain.

__ADS_1


"Ayah, mereka akan sampai 1 jam lagi. Apa lagi yang harus di siapkan?" Ahn melangkah ke luar pintu melihat halaman depan rumah yang sudah rapi.


"Aku sudah mempekerjakan banyak pelayan hari ini dan mereka akan menyambut kedatangan keluarga yang lama terpisah, seharusnya ini sudah cukup."


Beberapa menit kemudian, awak media mulai berdatangan, Ahn bingung mengapa mereka bisa tahu dengan kabar ini? Tapi karena keluarga mereka adalah yang Ter kaya nomor 1 di distrik jadi tidak di herankan.


Sudah lama berkendara dan mereka sudah sampai di sekitar rumah di distrik, BEI baru pertama kali melihat kota ini setelah bertahun-tahun pergi. Sangat banyak yang berubah dan ia merasa sedikit bingung.


"Kak, aku lupa rumah itu dimana kita harus berbelok?" BEI sedikit bingung saat sudah sampai di distrik.


"Di jalan besar di samping perumahan itu." Gao memberi arahan saat sudah sekat.


Benar saja, setelah pembelokan tidak ada ada lagi rumah melainkan sebuah halaman yang luas dan di pagari oleh pagar besi setinggi 5 meter berwarna putih, ada 2 buah pohon bonsai yang sudah besar dan sebuah kolam dengan pancuran di tengah halaman yang luas.


Alexsa merasa senang kembali ke rumah Ahn, dan terlihat beberapa wartawan dan awak tv juga datang, prediksi BEI tidak akan sebagus ini ternyata yang datang cukup banyak.


Mobil berjalan memasuki pagar yang di buka oleh 2 orang berbaju hitam tinggi, mereka masuk dan di ikuti oleh banyak wartawan yang sudah meliput dari tadi.


"Rumah ini tidak berbeda, sama seperti dulu." BEI melihat ke luar dan ia merasa sedikit takjub.


Gao membuka pintu dan mengeluarkan salah satu kakinya, bunyi petikan kamera tak berhenti berbunyi. Ahn dan pak Zhang juga menyaksikan mereka keluar dari mobil.


Ahn langsung berlari ke arah Alexsa dan menggandeng tangan Alexsa, banyak sekali foto yang tertangkap. Berita hangat tersebar dimana-mana _putra keluarga Huang telah kembali_

__ADS_1


Pak Zhang di depan pintu melihat dengan bangga ketiga putra nya berjalan bersamaan dan seorang menantu di sisi Ahn, pak Zhang tanpa sadar berkaca-kaca ia teringat mendiang istrinya. "Aku berhasil Diana, aku berhasil mendapat seorang menantu baik yang dapat menyatukan keluarga kita lagi. Anak-anak mu sudah kembali ke rumah ini, aku berhasil menjalankan janjiku. Semoga kau melihat semua ini Diana." Pak Zhang menahan air mata melihat ketiga putra melangkah ke hadapannya.


Tv dan Videotron di kota langsung menayangkan siaran langsung mengenai keluarga besar ini, setiap orang di kota berhenti untuk melihat wajah baru dua orang putra Huang yang kembali ke rumah.


__ADS_2