Kamu Milik Ku

Kamu Milik Ku
Alexsa Koma


__ADS_3

"Kemana yang lain?" Gao tak sengaja melihat ke arah pak Zhang.


"Kenapa? Bukankah kau tidak menyukai nya mengapa bertanya?" Pak Zhang sedikit tersenyum melihat Gao.


"Kenapa? Aku hanya menanya Helen, bukan pria itu." Gao memalingkan wajahnya.


'orang-orang benar, kalau saudara tak bisa menyembunyikan kepedulian masing-masing. Bagaimana pun juga mereka tetap putra ku.' pak Zhang melihat sikap Gao yang seperti itu dia merasa sedikit senang.


Helen dan Ahn sedang menemui seorang dokter untuk mengobati pukulan Gao tadi dan makan sedikit vitamin.


"Kau sudah bisa pergi tuan, tolong jaga dia nona." Dokter tersenyum dan meninggalkan mereka.


"Ahn, ini minum lah. Aku meminta ini tadi." Helen memberikan Ahn vitamin agar dia tidak lemah seperti tadi, bagaimana bisa ia membiarkan Gao memukulnya.


"Terimakasih." Ahn meminum vitamin itu dan ia langsung meninggalkan Helen.


"Ahn, ada apa? Kau menghawatirkan Alexsa?" Helen berjalan di belakang Ahn.


Tak ada jawaban dari Ahn, Helen kemudia tersadar kalau dia bukan siapa-siapa disini. Ia berhenti dan duduk di depan ruangan Ahn di obati tadi


"Bodohnya aku, masih saja mengikuti pria itu. Siapa aku selalu memperhatikan nya." Helen tersenyum sedikit dan memejamkan mata nya sebentar. Ia memilih tidak bergabung dengan mereka sekarang karena dia sudah bukan anggota keluarga lagi.


Ahn kembali dengan pleaster di pipi kirinya.


Gao dan Ahn beberapa detik saling melihat, tapi langsung membuang pandangan.


"Ayah, bagaimana?" Ahn duduk di samping pak Zhang.


"Belum tahu, dokter bahkan belum keluar padahal sudah satu jam." Pak Zhang melihat jam tangannya.


Gao menyadari hari akan gelap, ia melihat ke arah BEI seperti sedang berbicara melalui telepati.


"Kakak pertama, dimana Helen?" BEI lebih berani berbicara dan menghubungkan kedua pihak karena ia netral.


"Helen?... Aku pikir dia mengikuti ku tadi." Ahn baru menyadari kalau Helen tidak ada.


" Aku akan mencarinya." Gao berdiri dari kursi, namun baru beberapa langkah ia melihat Helen muncul dari ujung lorong.


"Apa Alexsa sudah ada kabar?"


"Kau darimana saja, jangan menambah beban orang lain saat ini."Gao terlihat khawatir namun tetap saja ia berkata kasar.


"Maaf, tadi aku ke kamar mandi dulu." Helen duduk di samping Ahn.

__ADS_1


20 menit kemudian, seorang dokter kepala bedah yang mengurus Alexsa keluar dari ruang operasi.


"Keluarga atas nama Alexsa ?" Dokter membuka pintu dan terlihat gugup.


"Saya!" Mereka semua berdiri dan serempak berbicara.


Dokter melihat kejadian ini, tadi yang mengantar hanya Gao dan sekarang sudah banyak yang menunggu jadi dokter bertanya seperti itu.


"Bagaimana keadaan nya?" Pak zhang menghentikan kebingungan dokter itu.


"Dia sudah melewati masa kritis nya, hanya saja tembakan itu hampir mengenai otak nya. Kami sudah melakukan yang terbaik namun ia masih harus dalam kondisi koma untuk satu bulan kedepan." Dokter menjelaskan keadaan Alexsa.


"Koma? Apa luka nya parah?" Ahn khawatir dengan keselamatan Alexsa.


"Itu sebuah tembakan tuan, otak nya baik-baik saja namun yang tertembak adalah kepala bagian belakang. Ia butuh waktu untuk membuka matanya dan otak nya untuk bisa berfungsi normal, perlu di ingat kalau n mendengar apapun yang terjadi di sekitar nya."


"Astaga, ini salahku." Ahn langsung duduk lemas dan memegang kepalanya.


"Tidak apa Ahn, semua akan baik-baik saja." Helen menepuk pelan pundak Ahn Menenangkan nya.


"Saya permisi dulu, Alexsa tetap harus berada di ruangan itu dan jangan ada yang masuk." Dokter itu pergi dari ruangan beserta beberapa perawat.


Gao mendengar pernyataan dokter, ia terlihat biasa saja namun banyak sekali pikiran mengenai Alexsa yang berada di ruang operasi.


"Kak, ada apa? Apa kau sakit?" BEI menyentuh jari tangan Gao yang terasa dingin.


Gao dan BEI sampai pada sebuah kedai makanan, BEI memesan 2 mangkuk mie kepada pedagang. Pesanan itu sampai namun Gao terlihat murung dan matanya seperti menatap kosong.


"Kak, makan lah sebelum mie ini dingin." BEI mengaduk semangkuk mie di hadapannya.


Gao juga melakukan hal yang sama tapi ia tetap terlihat kosong.


"Kak Gao, ada apa? Kenapa memikirkan wanita itu lagi, dia sudah bersama suaminya. Apa kau pantas memikirkan nya?" BEI meraih tangan Gao dan membuat Gao tersentak dari lamunannya.


"Kau benar, aku tak pantas memikirkannya. Aku juga sedikitpun tak ada ketertarikan pada wanita itu tapi kenapa ia melindungi ku saat akan tertembak? Aku tak mengerti dengan pikirannya."


"Mungkin dia berhutang Budi pada mu, jadi jangan pikirkan lagi. Cepat makan makanannya." BEI langsung menyantap mie di hadapannya.


Gao melihat BEI makan dengan lahap ia tersenyum. "Rasanya 18 tahun yang lalu kita masih makan satu mangkuk berdua dan sekarang kau sudah bisa memakannya sendiri." Gao melihat BEI yang makan dengan senang.


"Aku makan berdua di satu tempat dengan kakak rasanya aku mendapat lebih banyak kasih sayang dan karena itu aku bisa menjadi seperti sekarang, jika kakak tidak mengurusku saat itu mungkin adik kecil mu ini sudah tidak ada sekarang." BEI tersenyum melihat Gao yang sedang makan.


"Kau benar, dengan kehadiran mu waktu itu aku bisa mengendalikan diriku dan bersikap bagaimana cara memberi orang lain cinta. Tolong jangan tinggalkan aku suatu hari nanti ya." Gao mengusap kepala BEI.

__ADS_1


Adik kakak ini sudah bersama saat kecil, BEI kecil yang saat itu berusia 7 tahun harus hidup di kerasnya dunia bersama Gao yang saat itu berusia 13 tahun. Gao menghidupi adik nya dengan bekerja apapun agar adik nya bisa makan dan karena kerasnya masa lalu membuat Gao menjadi kuat dan dengan kerja kerasnya ia mampu menjadi orang kaya bahkan menguasai pasar gelap dunia, BEI tidak bisa tidak mengikuti kakak nya itu karena usaha Gao lah mereka bisa hidup. BEI sangat menyayangi Gao karena hanya Gao yang dia miliki saat itu.


Selesai makan BEI dan Gao kembali ke ruang tunggu ruang operasi dan membawa beberapa makanan.


"Ini makanlah dulu." Gao menyerahkan sebuah roti lapis pada Helen. Helen menerima dan memakannya karena memang sudah lapar.


"BEI, bagikan lah." Gao menyerahkan sisa roti ke tangan BEI agar dia membagikannya, Gao masih tidak bisa menerima pak Zhang dan Ahn.


"Tuan besar, ini milikmu." BEI bahkan tak memanggi pak Zhang ayah.


"Kakak pertama, makanlah." BEI mengerahkan roti pada Ahn.


"Tidak, aku tidak lapar." Ahn menolak pemberian BEI.


"Maksud mu apa? Kau menolak ku!?" BEI kesal melihat tingkah Ahn.


"Sudahlah BEI, biar aku pegang dulu. Ahn akan memakannya nanti." Helen mengambil roti dari tangan BEI.


Mereka semua tidak tahu apa yang harus di lakukan, apakah harus menunggu satu bulan disini? Ahn baru memakan roti itu setelah beberapa menit.


Melihat roti di tangan nya, ia ingat kalau ia telah meninggalkan kai putra nya terlalu lama.


"Aku lupa, tolong pegang dulu." Ahn memberikan rotinya kepada Helen dan segera mengambil ponsel di saku nya.


"Halo? Dimana kai?" Ahn menghubungi karyawannya yang menjaga kai.


"Tuan, putra anda sedang tidur. Setelah ia bangun kami akan memberinya makan dan menyuruhnya mandi. Apa anda masih lama kembali?"karyawan berkacamata mejelaskan pada Ahn.


"Begini, ada situasi yang darurat. Bisakah kau dan teman mu yang tadi menunggu hingga besok? Kami akan pulang malam ini."


"Baik pak, kami akan tunggu hingga esok pagi."


Ahn mematikan ponsel setelah mendengar jawaban, ia sangat lupa kalau tujuannya kesini adalah menjemput Alexsa pulang karena putra nya namun ia sekarang malah berada di rumah sakit menunggu Alexsa dari koma.


"Ayah, kita akan pulang malam ini. Kita tidak bisa meninggalkan kai terlalu lama." Ahn melihat pak Zhang yang sudah terlihat lemah.


"Baiklah, kau bayar lah dulu administrasi nya baru kita pergi."


Hari sudah menunjukan pukul 11 malam, Ahn memutuskan untuk pulang ke distrik dan meninggalkan Alexsa bersama Gao.


"Gao, tolong jaga Alexsa. Aku akan kembali beberapa hari lagi."


"Siapa kau menyuruhku. Aku akan melakukan apa yang harus aku lakukan." Gao masih terlihat tidak bisa menerima Ahn.

__ADS_1


"Sudahlah kak, kakak pertama aku akan menjaga Alexsa. Kau pulang lah." BEI menenangkan kedua pihak yang tak bisa akur ini.


Ahn mendengar jawaban dari BEI ia sedikit tenang, ia pun pergi meninggalkan rumah sakit dan kembali ke distrik.


__ADS_2