
Cahaya kilat lampu kamera terus memotret bergantian, pak Zhang merasa ini sudah berlebihan jadi ia memberi isyarat pada bawahannya yang berada di depan pintu utama.
"Tuan-tuan, maaf ya. Tapi ini sudah berlebihan, tolong hormati prifasi keluarga kami juga. Mohon sudahi keperluan kalian dan kami butuh waktu untuk bersama keluarga kami." Pak Zhang melalui isyarat di mata nya memberi perintah pada bawahan nya.
3 orang bawahan itu mendorong para wartawan yang ingin menanyai dan mereka juga langsung banyak bertanya pada pak Zhang.
"Tuan, bagaimana keluarga ini selanjutnya. Bukankah gelar anak tunggal sudah ada pada tuan Ahn, apa yang akan anda lakukan sebagai ayah?"
"Tuan, bagaimana pembagian harta warisan pada ketiga putra anda?"
"Tuan Gao, tolong beritahu kami kenapa kau tidak langsung memberitahukan kebenaran ini sejak lama? Apa yang terjadi dengan keluarga ini?"
Banyak pertanyaan para wartawan, namun tak satupun di jawab oleh anggota keluarga ini.
Para bawahan itu langsung mendorong para wartawan agar tidak bertanya dan langsung menutup pintu.
Setelah kegaduhan itu selesai, akhirnya pak Zhang punya waktu untuk keluarga nya. Semua anggota keluarga berkumpul di ruang utama.
"Ada apa ayah?"
"Ahn, hari ini keluarga kita sudah berkumpul. Aku harus membuat rumah ini sama seperti sebelumnya. Semua nya berkumpul!" Satu tepukan tangan dari pak Zhang membuat semua pelayan dan bawahan di rumah besar itu berkumpul.
"Dengar semua nya, aku kembali mempekerjakan kalian setelah 18 tahun istirahat. Aku ingin kalian membuat rumah ini sama seperti dulu, tolong bekerja dan berperilaku seperti masa lalu. Mohon bantuan semua nya." Pak Zhang berbicara setelah para pelayang berbaris dengan rapi.
Seorang pelayan wanita yang sudah agak tua menghampiri BEI dengan air mata.
"BEI.. kau kah itu nak?" Wanita tua itu menghampiri BEI, usia nya sekitar 43 tahun.
__ADS_1
"BEI.. kau baik-baik saja. Tuan.. tuan ini BEI dia sudah kembali?.. kau benar-benar BEI putra nyonya Diana." Wanita tua itu menangis dan memeluk BEI.
BEI ingin langsung menjauhkan wanita itu tapi Gao langsung menahan tangan BEI.
"Kau sudah pulang, kemana saja kau selama ini. Aku pikir kau tidak selamat dalam kecelakaan itu.." wanita itu terus menangis dan menyentuh wajah BEI.
"Wajah mu kenapa? Apa terasa sakit?" Wanita tua menjauhkan badan nya dan mengusap mata kiri BEI.
"Ish.. jangan.." BEI Beru akan berteriak pada wanita itu namun Gao sekali lagi menekan tangan BEI.
BEI merasa sangat kesal, dia tidak suka di sentuh oleh orang lain. Dan sekarang wanita tua ini menyentuhnya, BEI merasa sangat marah.
"Kau ingat aku BEI? Aku adalah bibi yu, aku yang menyuapi mu makan saat nyonya Diana sakit, aku yang memberikan obat sat kau terjatuh dari sepeda, apa kau mengingat nya BEI?" Mata wanita tua itu memandang wajah
BEI dengan airmata.
"BEI, dia bibi yu. Dia merupakan orang kepercayaan ibumu yang mengurus kalian bertiga sejah Ahn masih berumur 1 tahun. Dia 2 tahun lebih tua dari Diana." Pak Zhang juga membantu menjelaskan.
"Aku tidak tahu, kenangan buruk ku sangat banyak dan menutupi semua kenangan manis itu. Dan satu lagi jangan.." BEI ingin memperingatkan wanita tua itu namun Gao langsung menekan tangan BEI lagi.
BEI melihat ke arah Gao, dan Gao mengerutkan keningnya. BEI hanya menurut dia diam karena mengetahui maksud Gao.
"Tidak apa jika kau lupa, tapi aku masih sangat mengingat mu. Kau sangat manis dan kau yang paling putih saat masih kecil bahkan sampai sekarang tetap begitu." Wanita tua itu mengelus tangan BEI yang lembut seperti jelly.
Alexsa tersenyum melihat ekspresi wajah BEI, dia tahu BEI sedang kesal saat itu tapi tak bisa berbuat apa-apa.
"HM.. sudahlah, apa ada yang lain lagi?" BEI tetap berperilaku kasar.
__ADS_1
"Bibi yu, maafkan anak ini ya. Dia sudah lama tidak melihat mu, wajar jika ia lupa. Maafkan dia ya." Pak zhang merangkul bibi yu kembali dalam barisan para pelayan.
"Tidak apa-apa tuan, aku tahu BEI sangat baik. Dia hanya kurang kasih sayang."
Skip.. sudah jam setengah 4, pak Zhang sudah menjelaskan setiap nama dan tugas para pelayan di rumah besar ini, tapi Gao dan BEI mereka tidak peduli.
Sore ini Gao dan BEI duduk di depan tv karena mereka tak ada urusan sekarang.
"Apa kau kenal dengan wanita tua tadi kak?" BEI melepaskan jasnya karena ia merasa jijik dengan wanita tua tadi.
"Kau ini kenapa, apa masalah mu. Jika ku punya masalah jangan lampiaskan pada wanita itu, kenapa kau merasa sangat jijik padanya bukankah dia tidak menyakitimu?" Gao melihat BEI yang melempar jas nya ke lantai.
"Kenapa? Kau tahu kan, aku tak suka bila ada yang menyentuhku dan wanita itu menyentuhku. Tadi aku ingin sekali mendorongnya dan memberitahu nya kalau aku sangat tidak suka di sentuh. Tapi kenapa kau malah menghentikan ku?"
"Aku kenal wanita itu, aku pernah melihat nya beberapa kali menyisir rambut mu saat kau masih kecil. Dia orang baik, kau jangan menyakiti nya."
"Aku tidak tahu, aku tidak ingat semua itu. Apa kau pikir aku akan mengingat semua hal baik di sini setelah aku di buang ke jalanan? Tidak aku bahkan tidak ingat jalan rumah ini." BEI menendang jas nya agak jauh.
"Se jijik itu kah kau dengan orang lain, aku tidak bisa menyalahkan mu. Tapi tolong jaga sikap mu dan cara bicaramu BEI, coba kau lihat rumah besar ini siapa tahu kau bisa mendapat sedikit bagian jika kau berlaku manis"
"Aku akan berlaku manis? Cih, apa kau pikir aku kekurangan uang, bahkan uang hasil penelitian medis ku sudah sangat banyak. Kenapa aku harus tetap menginginkan warisan keluarga ini."
"Kau tidak lihat, posisi Ahn sangat besar di keluarga ini. Jika kau bisa menggulingkan nya sedikit coba kau bayangkan bagaimana pria tua itu akan memberimu warisan." Gao mencoba mempengaruhi adiknya.
"Ah, sudahlah. Aku akan memikirkan nanti."BEI bangku dari sofa dan berjalan ke arah tangga.
"Mau kemana?" Gao memanggil BEI yang sudah hampir menaiki tangga.
__ADS_1
"Aku akan mencari kamar ku, mau ikut?"