Kamu Milik Ku

Kamu Milik Ku
Bab 53 KMK


__ADS_3

.


Ahn melipat korannya "tidak, aku pikir saat kontrak itu sudah sampai di sini baru kita akan beritahu." Ahn menatap Alexsa namun Alexsa malah tak menghiraukan.


"Aku berencana akan masuk kerja besok, jadi apa kau juga ingin masuk kerja besok?"


"Tidak, saya tidak akan bekerja besok. Saya akan datang ke kantor lusa. Untuk besok saya ada hal yang harus di lakukan." Alexsa tersenyum pada Ahn.


" Apa? Biasanya kau langsung ingin ikut, tapi kenapa sekarang ingin tinggal?" Ahn heran dengan sikap Alexsa


hari ini.


"Baiklah aku akan ke kamar mempersiapkan hal yang harus di bawa ke kantor besok." Ahn berdiri dan beranjak dari tempat duduk nya.


Ahn meninggalkan Alexsa dan kembali ke kamarnya.


"Aku akan pergi bersama kai besok agar dia bisa berlibur dan merasakan kedekatan dengan ku, sekarang kai sudah menjadi anakku juga." Alexsa tersenyum menatap tas sekolah Ahn di atas kursi.


Saat sedang duduk sambil melihat hp nya, tiba-tiba datang seorang kurir mengantarkan paket milik Ahn.


"Permisi, paket. Apa ada orang?" Suara kurir di luar pintu memanggil ke dalam.


Alexsa heran, bukankah seharusnya paket itu sampai besok dan alamatnya seharusnya pada rumah pohon di pantai, bukan disini.


Alexsa ragu-ragu dan di menghampiri pintu. Saat akan membuka pintu, Ahn turun dari tangga.


"Alexsa ada apa? Aku dengar ada suara laki-laki tadi." Ahn menghampiri Alexsa.


"Begini pak, ada seorang kurir mengantarkan paket, apa mungkin itu kontrak milik mu? Seharusnya kan bukan disini alamatnya."


"Biar aku yang buka." Ahn membuka pintu dan melihat seorang kurir memegang map hitam.


"Atas nama tuan Ahn Lian-huang, ini paket nya." Kurir menyerahkan paket itu.


"Iya, saya Ahn. Bagaimana bisa anda mengantar nya ke sini?" Ahn mengambil paket itu.


"Disini tertulis alamat anda tuan, silahkan di tanda tangani." Kurir memberikan Ahn pena.

__ADS_1


Setelah menanda tangani kurir itupun pergi.


"Bagaimana pak" Alexsa langsung bertanya saat Ahn membawa paket itu masuk.


Ahn meletakan di atas meja di ruang tamu, kebetulan pak Zhang juga datang ke sana.


"Ada apa Ahn?" Pak Zhang menghampiri mereka berdua ke meja.


"Aku menerima paket, tapi tidak ada nama pengirimnya. Memang aku meminta si penyelenggara itu mengirimkan berkas ku yang tertinggal namun alamat itu bukan di rumah ini."


"Buka saja dulu, mungkin itu memang paket darinya. Penyelenggara itu mungkin saja ingat dengan alamat kita." Pak Zhang dengan tenang duduk di kursi tamu tepat di depan paket itu.


Ahn juga penasaran, jadi dia membuka paket itu.


Saat Ahn merobek bagian atas amplop besar itu, tercium aroma busuk dari dalam.


Tapi Ahn tetap membuka paket itu dia melihat sebuah kertas putih di dalamnya dan menarik kertas itu keluar.


Seketika mereka bertiga terkejut, aroma anyir seperti darah menyebar di ruangan itu. Kertas dengan tulisan berdarah membuat Ahn terkejut.


"Apa yang tertulis Ahn?" Pak Zhang juga menutup hidungnya karena aroma darah itu sudah hampir menyerupai aroma bangkai.


"Kita akan bertemu!" Ahn terdiam setelah membaca surat surat itu."


Ahn dengan wajah marah membanting surat itu.


"Siapa yang mengirim surat itu Ahn? Apa kau membuat masalah lagi?" Pak Zhang mengerutkan keningnya saat melihat Ahn membanting surat.


"Siapa lagi kalau bukan laki-laki brengsek itu, dia mencoba mengancam ku rupanya." Ahn dengan marah menunjuk surat itu.


"Siapa yang kau maksud, apa tuan Gao?" Pak Zhang langsung berpikiran kalau itu Gao.


"Siapa lagi, hanya dia yang berusaha menjatuhkan kita. Bahkan aku tidak tahu apa motif nya."


"Kenapa bisa seperti ini, apa kau membuat nya marah?"


"Aku mengalahkan nya dalam rapat kemarin, dan aku mendapatkan saham itu. Mungkin karena itu dia sangat marah." Ahn duduk di kursi dan menaikan salah satu kakinya.

__ADS_1


"Wah, hebat sekali kau bisa menang darinya. Tapi dia bukan orang sembarangan Ahn, pasti ada maksud lain atau alasan nya mengancam mu seperti ini."


"Ayah, aku pikir karena dia marah kalau kami sudah membuat nona.." Ahn langsung menutup mulut Alexsa.


"Ada apa Ahn? Kenapa kau mencegah Alexsa?" Pak Zhang heran dengan tangan Ahn yang tiba-tiba menghentikan pembicaraan Alexsa.


"Tidak, itu tidak ada sangkutannya. Dia tidak mungkin marah hanya karena satu wanita." Ahn langsung berbicara dengan nada tenang.


"Aku tidak mengerti apa yang kau lakukan, sebaiknya kau selesai kan dengan cepat dan hati-hati. Tuan Gao bukan orang sembarangan, jangan sampai dia melukai salah satu dari kita." Sepertinya pak Zhang tahu tentang kejahatan Gao.


"Ayah benar, aku akan segera mengamankan keluarga kita. Mulai besok ayah dan kai harus segera pergi ke hotel Hera Gold perusahaan kita. Di sana sangat aman, aku dan Alexsa.


akan berjaga di sekitar sini." Ahn mulai menyusun rencana dalam otaknya.


"Apa maksud mu, Alexsa harus ikut dengan kami. Aku tidak bisa meninggalkan nya dengan mu." Pak Zhang tidak setuju dengan rencana Ahn.


"Ayah, aku tidak apa-apa. Keselamatan ayah dan kai lebih penting. Aku akan di sini selalu bersama pak Ahn, bagaimana jika pria itu mengincar pak Ahn. Siapa yang akan tahu bagaimana keadaan nya jika tidak ada orang di sampingnya." Alexsa meyakinkan pak Zhang agar mempercayainya.


"Alexsa, pria itu sangat berbahaya aku takut kau yang tidak tahu apa-apa dengan masalah ini akan terluka." Pak Zhang mengusap kepala Alexsa.


"Iya, aku akan berhati-hati. Aku akan selalu bersama pak Ahn yang akan melindungi ku." Alexsa tersenyum pada pak Zhang.


Sebuah rencana jahat akan terjadi, baru saja sampai di rumah nya bukan ke amanan yang mereka dapat malah sebuah ancaman yang mereka terima, Ahn terpaksa memecah keluarganya untuk melindungi mereka.


Sore hari Alexsa membantu kai dan pak Zhang berkemas, mereka akan tidur di Hera Gold atau dengan kata lain itu adalah rumah kedua mereka. Di sana sangat aman karena di jaga oleh beberapa pasukan khusu dan terdapat ruang rahasia untuk perlindungan ganda, serta Rungan nya yang berada di lantai Ter atas membuat tempat itu lebih aman.


Alexsa sendiri belum pernah ke tempat itu, karena selama dia menikahi Ahn dia hanya tinggal di rumah besar ini.


"Ayah, ini semua tas yang sudah berisi surat-surat penting rumah ini. Bawalah, aku takut jika suatu hari rumah ini adalah sasaran Gao." Alexsa memperlihatkan 3 buah tas besar berisi pakaian dan surat penting.


"Iya, bagaimana dengan kai. Apa dia sudah tahu kalau akan pergi?" Pak Zhang mengambil beberapa obat nya dan memasukan ke dalam tas kecil.


"Mungkin pak Ahn sudah memberitahu nya." Alexsa berdiri dan membantu pak Zhang mengumpulkan semua foto di dinding.


"Tolong semua foto di rumah ini kau sembunyikan. Buat rumah ini seperti kosong tanpa penghuni. Aku tidak ingin Gao tahu kalau kita tinggal di sini." Pak Zhang mengambil semua foto dan piala yang terpajang di kamar nya.


"Baik ayah, aku akan mengemasi yang di luar juga." Alexsa berjalan keluar.

__ADS_1


__ADS_2