
Hari-hari berlalu dan tak ada kabar dari Ahn mengenai Gao, hari ini adalah hari libur dalam bekerja. Ahn pergi ke rumah pohon di tepi pantai untuk mengambil paket berkasnya.
Alexsa sendirian di rumah, di tidak merasa terlalu khawatir sekarang. Ahn sudah pergi dari pagi, Alexsa di rumah masih santai sambil mengecek beberapa cctv di rumahnya.
Saat sedang mengambil cemilan di dapur terdengar bunyi bel rumah, berarti ada tamu yang berkunjung.
"Siapa? Bukankah kalau itu Ahn dia langsung membuka pintu?" Alexsa berjalan ke arah pintu dan membuka pintu.
"Ada keperluan apa tuan?" Alexsa membuka pintu dan melihat seorang pria memakai jas abu-abu membelakanginya.
"Aku mencari Ahn." Pria itu berbalik dan terlihat kalau itu adalah Gao.
Alexsa terkejut dan langsung menutup pintu, dia dengan cepat mengunci pintu dan mengambil telepon untuk menghubungi Ahn.
Pintu terus saja di ketuk oleh Gao dari luar membuat Alexsa panik.
"Halo, pak. Cepatlah pulang, aku-aku takut." Suara Alexsa gemetar saat mengubungi Ahn.
"Ada apa Alexsa, bicara yang jelas!"
"Pak, cepat lah pulang. Tuan Gao ada di sini!" Alexsa berbisik saat mengatakan itu pada Ahn.
"Apa, tutup pintu dan sembunyi lah di manapun kau bisa.." Ahn belum selesai berbicara dan terdengar suara pintu di buka dengan paksa.
Alexsa langsung berteriak dan lari ke kamar nya dengan cepat.
"Pak, cepatlah! Tuan Gao memaksa masuk dengan beberapa orang(menangis)" suara Alexsa semakin gemetar karena habis berlari dan ketakutan.
"Lari lah kekamar Alexsa m, tutup pintu dan sembunyi di dalam lemari. Aku akan pulang dengan cepat!" Ahn langsung melaju dengan cepat ke rumah karena mendengar kalau Gao sudah keterlaluan.
"Cepat lah.. aku sendirian." Alexsa gemetar menangis di dalam telepon.
Entah bagaimana Gao bisa sampai ke rumah Ahn, namun dia membawa beberapa lelaki bertubuh besar dan mendobrak pintu dengan keras.
"Cari wanita itu!" Suara Gao terdengar jelas oleh Alexsa.
Alexsa semakin ketakutan karena suara langkah kaki mereka dapat terdengar oleh nya.
"Alexsa .. Alexsa ..kau masih di sana?" Ahn memanggil dari telepon.
"i-i-iya.. cepat lah.. mereka mencari ku" Alexsa sangat panik dan suara nya Ter Isak.
"Dengar aku, di bawah masuk di bagian kepala terdapat pistol. Ambil itu untuk berjaga-jaga, kau mengerti. Aku sedang di jalan."
Alexsa hanya diam namun terdengar suara nya membuka lemari.
Alexsa melakukan yang di perintahkan Ahn dan mengambil pistol itu, dan dia kembali bersembunyi di dalam lemari.
"Kau sudah memegang nya? Pegang baik-baik. Ada beberapa peluru di dalamnya. Gunakan saat kau terancam." Ahn berbicara untuk menenangkan Alexsa.
Alexsa belum pernah memegang pistol sebelumnya, dia sangat ketakutan sekarang.
Tiba-tiba pintu kamar di buka, terdengar beberapa langkah kaki memasuki ruangan.
__ADS_1
Alexsa ketakutan menahan nafasnya. "Diamlah pak, mereka disini" Alexsa berbisik di ponselnya.
Suasana hening di kamar itu. Di dalam kamar semuanya sudah di tutupi dengan kain putih, hanya ada sebuah lemari kayu yang tidak di tutupi.
"Cari dimana pun, jangan sampai wanita itu lepas!" Suara Gao membuat Alexsa semakin ketakutan.
Gao melangkah mendekati lemari, Alexsa dapat melihat itu dari sela-sela lemari. Gao semakin dekat dan Alexsa mengangkat pistol nya mengarah ke depan untuk membidik Gao.
Pintu lemari terbuka, dan langsung terdengar suara tembakan.
Sebuah tembakan melayang ke arah Gao, dan itu hanya mengenai lengan kanan nya.
Alexsa yang ketakutan tak sengaja menjatuhkan pistol dan membuat Gao terluka di lengan kanan nya.
Ahn dapat mendengar suara tembakan itu dari ponsel, dia semakin bergegas karena Gao sudah semakin mendekati Alexsa.
Gao yabg lengannya terkena tembakan sangat marah dan langsung menampar Alexsa dengan keras.
'Plaak..'
Ahn juga mendengar suara itu dan Alexsa langsung terjatuh karena tamparan itu.
"Dasar wanita ja**ng! Kau melukai ku, cepat bawa dia!" Gao langsung menendang tubuh Alexsa yang terjatuh ke lantai.
Ahn mendengar semua itu dan dia semakin mempercepat mobil nya, hatinya hancur saat mendengar tamparan itu. Bahkan dia belum pernah menyentuh Alexsa, bagaimana bisa orang asing memukul istrinya.
"Hei.. jangan bawa dia! Kau sudah terekam cctv sekarang. Aku akan melaporkan mu pada polisi!" Ahn dari dalam ponsel yang terjatuh di samping Alexsa mencoba mengukur waktu agar dia tetap bisa sampai kerumah sebelum mereka kabur.
Panggilan terputus. Ahn sadar situasi ini sudah sangat berbahaya, ia segera mencari jalan pintas untuk cepat sampai ke rumah.
Gao sudah selesai dengan urusan nya, jadi dia membawa Alexsa sebagai tawanan nya agar Ahn mau memberinya uang tebusan atau menukarnya dengan saham nya.
Gao meninggalkan rumah dengan kondisi rumah yang sudah acak-acakan, dia membawa Alexsa bersamanya ke dalam mobil dan meninggalkan kota.
Ahn sampai di rumah, terlihat pintu utama sudah rusak, dan beberapa jejak kaki di lantai. Dia dengan panik mencari Alexsa ke kamar nya.
Di kamar semua sudah bertaburan dan terdapat pistol di lantai dan ponsel yang sudah hancur.
"Tidak, tidak, tidak. Jangan lakukan ini, Alexsaaaa!!!" Ahn berteriak dengan putus asa karena sudah meninggalkan Alexsa sendirian.
Ahn sangat hancur melihat ponsel Alexsa di lantai, dia langsung menangis. Dia tidak tahu harus mencari kemana Alexsa yang sudah di bawa oleh Gao.
"Kenapa aku bodoh sekali, kenapa aku meninggalkan nya, kenapa?! Haaaa!" Ahn berteriak dan memperhatikan sekeliling kamar yang sudah berantakan.
Ahn bingung tidak tahu harus bagaimana, dia langsung menelepon pak Zhang.
"Halo, ayah..(suara Ahn dengan tangisan)."
"Ada apa Ahn?" Pak Zhang yang sedang bersama kai menjawab dengan tenang.
"Ayah, Alexsa-Alexsa tidak ada." Ahn menghapus air matanya.
"Apa maksud mu. Bicara yang jelas! Semua baik-baik saja?" Pak Ahn langsung panik mendengar suara tangis Ahn.
__ADS_1
"Alexsa .. Alexsa di culik ayah, Alexsa di bawa oleh Gao." Ahn langsung menangis.
"Apa, bagaimana bisa? Kau ini bagaimana, kenapa kau sangat ceroboh!" Pak Zhang langsung marah mendengar itu.
"Aku tidak sengaja ayah, aku pikir pria itu tidak akan datang, jadi aku pergi mengambil saham yang dikirim ke alamat rumah di pantai. Dan aku meninggalkan nya, saat itulah semuanya terjadi." Ahn dengan sesegukan menjelaskan pada pak Zhang.
"Jaman bisa ini terjadi, seharusnya kau bisa menangkap nya dengan cctv yang sudah terpasang kan?"
"Tidak, semua cctv itu sudah di pecahkan." Ahn sangat sedih dalam menjelaskan pada pak Zhang.
"Aku akan menemui mu besok, sekarang aku sedang bersama kai. Tenangkan dirimu dulu, jangan bertindak ceroboh Ahn! Aku akan datang besok." Pak Zhang langsung mematikan ponselnya.
"Aaaaaa....!! Kenapa, kenapa semuanya begitu tiba-tiba!? Kenapa!!" Ahn sangat sedih dan menyalahkan dirinya sendiri karena tragedi ini.
Di Hera Gold, pak Zhang menelepon pihak rapat kemarin untuk menanyakan alamat dari Gao.
"Halo, tuan bisa beritahu saya diamkan alamat tuan Gao?"
"Tuan Zhang, apa kabar?" Seorang penyelenggara menjawabnya.
"Aku bilang dimana alamat Gao!!" Pak Zhang cepak sekali marah jika dalam keadaan genting.
"A-ada apa pak, kami akan segera mencari." Penyelenggara itu langsung mencarikan nomor Gao.
Beberapa menit diam, lalu suara penyelenggara itu kembali terdengar.
"Maaf pak, di pertemuan ini tidak ada yang bernama Gao."
"Apa, coba cari lagi. Pria itu adalah yang menang saham 3 tahun lalu!" Pak Zhang langsung sangat marah mendengar jawaban penyelenggara itu.
"Maaf pak, jika acaranya 3 tahun lalu kemungkinan agenda yang lama sudah di simpan ke pihak pusat." Penyelenggara itu mengakui penyesalannya.
"Aku tidak mau tahu, kau harus cari secepatnya alat pria itu. Bagaimana bisa kau tidak memiliki data anggota mu!"
"Maaf pak, setiap anggota memiliki prifasi, jadi untuk menjaganya mereka selalu mengganti alamat, nama dan nomor telepon." Penyelenggara itu menjelaskan pada Zhang.
"Aku tidak mau tahu, kau harus mencari dengan cepat! Ini masalah hidup dan mati!"
"B-baik pak, kami akan mencarinya." Penyelenggara itu langsung mematikan panggilan.
Kai melihat wajah pak Zhang yang panik, dia menghampiri kakeknya dengan membawa sebuah kue kecil.
"Kakek, ada apa? Kenapa sangat marah?" Kai dengan suara polos menghampiri pak Zhang.
"Kai sayang, kau dari mana?" Pak Zhang langsung berlutut pada kai yang memakan sebuah kue di tangannya.
"Kai berjalan-jalan keluar dan membeli kue, kakek kenapa terlihat marah?" Kai menunjukan kue di tangannya pada pak Zhang.
"Tidak, kakek tidak marah. Kai jangan pernah keluar dari Hera tanpa pengawasan kakek ya, diluar sangat berbahaya mengerti." Pak Zhang menasehati kai karena takut cucunya juga hilang.
Kai mengangguk dan berjalan ke sofa, dia duduk dengan tenang di sana. Pak Zhang dan Ahn sangat bingung mau mencari kemana sekarang, mereka kehilangan Alexsa.
Ahn sangat tertekan dengan ini semua, dia menyalahkan dirinya dan tak berhenti menyesali perbuatannya yang sudah meninggalkan Alexsa sendirian.
__ADS_1