
Permainan BEI dan Gao masih terus berlanjut walaupun sekarang sudah jam 1 malam.
BEI dan Gao masih terlihat baik-baik saja walau sudah meminum hampir sebotol anggur, sedang kan Alexsa dan Ahn sudah terlihat kacau.
Efek obat itu sudah cukup kuat walaupun mereka baru meminum setengah botol anggur. Ahn terlihat membuka kancing bagian atas nya dan memperlihat kan otot dadanya, sedang kan efek pada Alexsa membuat Alexsa mengikat rambut nya dan melepaskan kardigan nya, hanya menyisakan sebuah kaos putih dengan sehelai tali yang menggantung di bahu Alexsa.
Mereka berdua berkeringat dan terlihat kepanasan.
"Baik, apa kakak pertama masih bisa berlanjut. Aku dan kak Gao sangat tidak suka kekalahan jadi kami akan bermain walaupun hanya ber akhir imbang. Bagaimana?" BEI tersenyum puas melihat obat nya berhasil.
"Fyuuuh.. AC nya mungkin sedang mati, sedikit panas disini." Alexsa mengibaskan tangannya mengipas leher.
"Iya, memang sedikit panas. Ngomong-ngomong kemampuan minum kalian sangat bagus ya, baiklah aku akan melanjutkan ini. Ayo silahkan pertanyaan selanjutnya!" Ahn sudah mulai terlihat di bawah kendali alkohol.
"Tentu saja, pertanyaan selanjut nya. Apa marga istimewa kak Gao?"
Ahn terlihat sudah memejamkan mata, sementara Alexsa sudah bersandar di kursi dan tak henti mengipasi lehernya.
"Apa kau masih bisa menjawab nya kakak pertama?"
"HM.. disini sangat panas.." Ahn bersikap tidak terkendali bahkan sudah melepas kemeja nya.
'bagus rencana ku bekerja.' Gao tersenyum licik saat melihat kedua orang itu sudah di bawah kendali minuman.
"Kakak pertama.. jika kau tidak tahu kau harus minum lagi, atau.."
"Lian!" Ahn menjawab dengan sedikit berteriak.
"Salah, itu marga istimewa kita. Marga istimewa kakak 'Daijin' Jian-Diana dari nama ibu. Kakak salah, kau harus minum lagi, kak Gao tolong tuangkan." Terselip senyuman jahat di mata BEI.
Gao menuangkan anggur racikan itu ke gelas Alexsa dan Ahn, bahkan Alexsa dan Ahn terlihat sudah tidak bisa mengendalikan tubuh mereka lagi.
"Silahkan di minum kak, kau harus menanggung hukuman."
"Aaagh.. panas sekali disini. Alexsa ayo ke kamar, mungkin AC disini sedang rusak." Ahn berdiri sempoyongan merangkul Alexsa.
"Eh, kalian belum minum. Bagaimana bisa kabur seperti ini." BEI langsung menghentikan mereka.
Ahn ingin mengakhiri permainan ini segera, jadi ia langsung meminum anggur nya dan juga anggur di gelas Alexsa.
"Aaagh.. sudah, aku sudah minum. Aku tak ingin bermain lagi, aku kalah." Ahn langsung meletakan gelas dengan kuat ke atas meja.
__ADS_1
"Baiklah jika begitu, mari aku antar kalian ke kamar."BEI memapah tubuh Ahn dan Alexsa ke kamar mereka.
Gao tahu rencana ini berhasil jadi ia buru-buru membuang sisa anggur itu ke tempat cuci piring dan membersihkan botol nya, ia membagi anggur di botol nya sedikit ke botol Alexsa dan Ahn agar terlihat lebih meyakinkan.
BEI mengantar mereka sampai ke atas tempat tidur.
"Haah, sudah sampai, kalian bisa lakukan apapun." BEI meregangkan sedikit tubuhnya karena digunakan menopang 2 orang.
Seperti nya mereka benar-benar berada di bawah pengaruh minuman, Alexsa langsung melepas pakaian nya dan hanya menyisakan pakaian dalam nya.
BEI langsung berbalik saat Alexsa mmengangkat baju nya.
'dasar, aku masih disini mereka sudah seenak nya.' BEI langsung menutup pintu dan kembali pada Gao.
Gao sudah menunggu di tangga. "Bagaimana, apa berhasil?" Gao melihat wajah BEI yang terlihat kesal.
"Tentu saja, bahkan mereka sudah tak menganggap ku. Sudah lah jangan di pikirkan, besok pagi-pagi sekali kita harus memastikan nya lagi agar situasinya lebih meyakinkan."
"Baiklah, aku juga sudah mengatur botol bir tadi, jadi kita akan aman." Gao tersenyum miring pada BEI.
Kakak-adik ini sering membuat senyuman aneh tanda kesepakatan atau suasana hati mereka, terutama senyuman Gao senyuman nya memiliki banyak arti dan juga berfungsi menutupi amarah dan kesedihan nya karena sudah terbiasa kan dari kecil.
Sekitar pukul 6 pagi, Gao masuk ke kamar Ahn dan Alexsa untuk memastikan keadaan.
Gao masuk diam-diam dan menyaksikan kalau Ahn dan Alexsa sudah tidur tanpa busana di tutupi selimut putih. Pemandangan ini sangat memalukan dan Gao langsung keluar dari kamar.
"Cih, memalukan sekali sikap ku. Untuk apa memastikan dan meragukan rencana BEI." Gao sedikit kesal dan malu lalu pergi ke luar rumah untuk berjalan-jalan.
Sudah jam 7 pagi, pak Zhang kebetulan keluar dari kamar bersama dengan BEI yang juga keluar dari kamar nya.
Aroma bayi yang lembut, pak Zhang dapat menciumnya saat melihat BEI menutup pintu kamar nya.
"BEI, kau harum sekali." Pak Zhang senang mencium aroma ini seperti kehangatan ibu Diana.
"HM.. aku selalu mematuhi perkataan ibu, dia selalu menyuruhku memakai minyak ini ketika kelaut kamar. Dia ingin melindungi kulit lembut ku." BEI tidak merasa keberatan dengan perkataan pak Zhang.
Saat sampai di lantai dua, BEI ingat kalau rencana nya dan ia melihat pintu kamar Ahn sedikit terbuka.
'apa mereka sudah bangun?' BEI memperhatikan pintu yang terbuka sedikit.
"HM.. ayah, lihat pintu kamar kakak pertama terbuka." BEI ingin membuat pak Zhang juga menyaksikan rencana nya.
__ADS_1
"Iya benar."
Mereka berjalan untuk menutup pintu, tapi sat akan menutup pintu pak Zhang melihat pemandangan itu.
"Astaga, pasangan ini. Mereka bahkan tak menutup pintu." BEI bersikap seolah-olah tak tahu apa-apa.
"Sudah lah, biarkan mereka. Jangan memandang nya." Pak Zhang langsung menutup pintu.
'bagus, sekarang pria tua ini juga melihat nya.' BEI tersenyum licik memperhatikan pak Zhang dari belakang.
Kai terbangun dan langsung mengejar pak Zhang. "Kakek, selamat pagi."
"Ah, cucu kakek sudah terbangun. Ada apa?" Pak Zhang langsung memeluk kai.
"Tidak ada, hanya rindu kakek. Paman Gao..?Kai melihat ke arah BEI.
"Bukan, aku BEI. Kau bilang sudah bisa membedakan kami, tapi Gao terlihat seperti serigala liar. Dan kau harus ingat tanda di mata ku ini." BEI mengangkat rambut di sebelah kirinya dan memperlihatkan bekas luka bakar itu pada kai.
Kai langsung bersembunyi pada pak Zhang.
"Hahaha.. BEI, sudah jangan usili dia."
Beberapa waktu berbicara, sekarang sudah pukul 8, seharusnya mereka sudah sarapan dan Ahn pergi ke kantor.
BEI, Kai, dan pak Zhang sudah duduk di meja makan.
Gao datang membawa beberapa buku baru yang di belinya di luar.
"Gao, membeli buku lagi? Apa yang di kamar masih kurang? Maksud ku jika kau masih ingin aku akan pesankan lagi yang baru." Pak Zhang menyapa Gao yang baru datang.
"Tidak apa, buku di kamar itu hanya cerita anak-anak." Gao duduk dan meletakan buku di hadapannya.
Gao tak biasa menunggu orang lain saat makan, jadi saat makanan sudah di siapkan di hadapan nya ia akan langsung memakannya.
Beberapa menit kemudian Ahn dan Alexsa datang dengan wajah ceria dan tersenyum.
"Ahn, ada apa ini? Kenapa kau terlihat sangat senang." Pak Zhang melihat raut wajah bahagia Ahn, dan Alexsa yang selalu menempel pada Ahn.
"Tidak ada ayah, hanya hal biasa dalam hubungan." Ahn duduk di samping kai.
"Aku tahu, cepat lanjutkan makan mu. Kau harus ke kantor kan?" Pak Zhang mengangguk beberapa kali karena tahu yang di maksud.
__ADS_1