
"Aku tidak peduli, jika kau tetap mau disini kau bisa tidur di lantai. Aku tak akan beranjak dari sini." BEI tetap dengan santai memasukan satu persatu potongan buah semangka ke mulut nya.
Alexsa tak bisa diam lagi, dia menghampiri BEI dan terlihat kesal.
"Kenapa? Mau menarik ku? Aku peringatkan jangan sentuh aku! Aku tak pernah menyentuh kulit manusia lain selain kakak ku." BEI menunjuk Alexsa dengan jari lentiknya.
"Benarkah? Kalau begitu aku tak akan menarik mu, sekarang pergi dari kasur ku!" Alexsa melihat BEI yang santai meluruskan kaki nya di atas kasur.
"Tidak, aku sudah katakan aku akan disini. Jangan menyuruhku mengulangi kata-kata ku!" BEI semakin tak peduli ia tetap memakan semangka dengan tenang.
Alexsa kesal dengan sikap BEI yang sangat anak-anak, jadi dia mengambil sepotong semangka dari mangkuk di tangan BEI.
"Hei..! Kenapa kau tidak meminta izin ku!" BEI menarik mangkuk semangka nya.
"Kenapa? Kau membagi kasur ku, lalu kenapa kau tidak mau membagi semangka mu? Apa kau se pelit ini?" Alexsa mengambil sepotong semangka lagi dari mangkuk BEI.
"Kau ini! Kapan aku mau berbagi dengan mu! Jangan mendekati ku, jangan menyentuhku, aku benci dengan semua makhluk bernama wanita." BEI menjauhi Alexsa dan duduk semakin di tengah kasur.
'apa yang dia alami sehingga seperti ini? Apa masalalu nya?' Alexsa melihat BEI yang bahkan tak memperdulikan dirinya.
"Kenapa masih menatap ku? Cepat cari kamar lain, aku tak akan pernah membaginya dengan mu!"pandangan mata yang sama dengan Ahn, terlihat marah namun peduli.
"Baiklah, aku akan mengatakan ini pada Gao." Alexsa kesal dan keluar dari kamar.
"Berani sekali merebut kamar ku, lihat saja setelah Gao pulang dia pasti akan mengusir pria arogan itu, sesukanya mengambil tempat ku." Alexsa kesal berjalan ke ruang baca. Karena memang hanya ada dua kamar di villa ini, selebihnya adalah kamar dari bawahan Gao.
Sampai di ruang baca, Alexsa berhenti. Ia teringat kalau Helensedang bersama dengan Ahn, ia berpikir sejenak dan langsung terlihat marah.
"Apa-apaan ini, kenapa aku memikirkan pria itu. Dia bahkan tak pernah menanyai keadaan ku." Alexsa sudah lebih kuat dari sebelumnya, ia duduk di sebuah kursi dan membaca buku yang ada di atas meja.
"Gao pasti membaca buku ini." Alexsa membuka buku mengenai hutan dan perburuan.
Beberapa menit membaca Alexsa merasa mengantuk dan tertidur di kursi itu. Dalam tidur nya Alexsa mengalami mimpi buruk, ia melihat kalau Ahn meninggalkannya. Alexsa terbangun lagi dan langsung menangis.
"Kenapa Ahn tidak menjemput ku, apakah dia benar-benar sudah tak peduli dengan ku?" Alexsa menangis karena sangat merindukan Ahn, ia tak senang di tempat ini.
Alexsa tak tahu kalau Gao tak memberi sedikitpun petunjuk dari penculikan ini, Ahn tidak bisa berbuat banyak selain menunggu kabar dari Gao.
Alexsa lupa kalau dia memiliki baju kotor di kamar atas, dia ingin mencucinya dan segera naik ke kamar atas lagi.
Sampai di kamar atas, Alexsa melihat BEI duduk di pinggir ranjang menepuk dadanya dan beberapa kali berusaha batuk.
__ADS_1
"BEI aku kesini hanya untuk..." Alexsa terhenti saat mata pria itu memerah menatap nya.
Tangan BEI terus menepuk dada, dan Alexsa mengerti pria itu tersedak.
"Aku..aku akan membantu mu." Alexsa segera menghampiri namun ia ingat dengan perkataan BEI. Ia sama sekali tak ingin di sentuh.
"Aku.. aku minta maaf, tapi aku hanya ingin membantu mu." Alexsa mendekat ingin membantu, namun BEI masih dengan sikap egois nya tak ingin di sentuh.
Matanya memerah, terlihat BEI kesulitan bernafas dan nafasnya terdengar pendek. Beberapa detik kemudian bee terjatuh ke atas kasur dan ia masih memegangi leher nya.
"Tolonglah, aku hanya ingin membantu mu. Jangan sombong seperti ini." Alexsa mengangkat kaki BEI ke atas kasur dan meluruskan nya.
Tak ingin disentuh, Alexsa mengambil Bantar dan meletakan di atas dada BEI dan menekan beberapa kali. Tak terlihat kemajuan, bahkan besi terlihat lebih lemah.
"Maafkan aku, tapi ini untuk menyelamatkan mu." Tak ada cara lain, Alexsa mendekatkan wajah nya pada wajah BEI, menutup hidung BEI dan memberinya nafas buatan.
BEI terlihat menolak, namun matanya ber air karena benar-benar sudah tak bisa bernafas. 'uhuk..uhuk..huk.." beberapa kali terbaik setelah di beri nafas buatan, sekarang BEI bisa bernafas normal.
"Aaagh.. menjauh dari ku!" BEI langsung mendorong Alexsa menjauhi nya.
"Aakh.. kau ini kenapa? Aku sudah membantu mu, tak ingin berterimakasih tidak masalah, tapi sikap mu yang seperti ini apakah pantas? Aku sudah menyelamatkan nyawamu, apakah kau harus tetap kasar padaku?"
"Kenapa? Aku tak meminta mu membantu ku, kau sudah mencuri ciuman pertama ku dan apakah aku harus berterimakasih?" BEI terlihat marah.
"Cih, aku tak mendapat apapun. Buah ku sudah habis, aku harus mengambilnya lagi." BEI beranjak dari kasur.
"Tak ada terimakasih, dia malah menyalahkan ku? Apa orang-orang disini memang egois dan arogan?" Alexsa melihat punggung BEI yang perlahan menghilang dari balik pintu.
Alexsa kembali mengingat wajah BEI saat di tolong ya tadi ia melihat kalau bulu mata BEI berwarna hitam bukan nya pirang atau abu-abu. Bukankah kalau dia albino warna nya lebih putih?
Yura mengikuti BEI ke dapur dan terlihat BEI sedang memilih sesuatu dari dalam kulkas.
"BEI, aku ingin bertanya pada mu. Apa kau benar-benar albino?" Yura duduk di kursi meja makan.
"Tidak, aku normal. Aku bukan albino, kakak ku hanya mencemooh ku dengan kulit putih susu ini." BEI terus memmeriksa ke dalam kulkas.
"Kulit mu memang putih, bahkan lebih putih dari ku. Satu hal lagi, apakau benar-benar adik kandung Gao?"
"Tentu saja, memangnya kenapa?" BEI mengeluarkan sebuah apel dan mencucinya.
"Tapi kenapa marga mu berbeda dengan Gao? Marga mu malah sama dengan Ahn, Ahn-lian Huang. Tapi tidak menggunakan 'huang' sedangkan Gao memakai marga 'Daijin'apa ada yang bisa kau jelaskan?" Alexsa menopang dagu di atas meja.
__ADS_1
"Kenapa aku harus menjelaskan pada orang luar seperti mu, kau juga Taka akan mengerti." BEI memotong apel menjadi beberapa bagian.
"Jelaskan saja, Gao sudah menganggap ku dekat. Jadi kau bisa mengatakannya."
"Nama Kakak juga menggunakan 'lian' tapi ia tak ingin memakai nama itu, nama aslinya adalah Lian-Gao Daijin. Tapi dia sangat jarang di panggil begitu. Dan dia hanya menyebut namanya sendiri Daikin. Apa kau mengerti? Memiliki marga yang sama tak selalu memiliki hubungan yang sama, kenapa menyamakan nama ku dengan nama org mu." Bei duduk di hadapan Alexsa dan memakan apel nya.
"Maksud mu Ahn?, Tentu saja aku tidak menyamakan hubungan mu dengan nya, dia hanya putra tunggal. Bagaimana bisa aku menyamakan hubungan nya dengan mu." Alexsa langsung
BEI malah terlihat semakin tidak peduli dan tak melihat Alexsa. Tiba-tiba Gao masuk ke dapur.
"Ada apa ini? Apa kalian sedang membicarakan sesuatu?" Ia masuk membawa beberapa kantong berisi makanan dan buah.
"Tidak, aku hanya menanya tentang nama pada BEI." Alexsa melihat Gao yang datang.
"Aku akan tidur dikamar atas, kakak Carikan kamar untuk wanita ini." BEI melihat ke arah Gao.
"Baiklah, Alexsa kau tidur di ruang baca saja. Aku akan tidur di sofa luar " Gao meletakan kantong di atas meja.
"Tapi bukankah kau mengatakan kalau malam akan sangat dingin? Sebaiknya dikamar bersama BEI." Alexsa terlihat menghawatirkan Gao.
"Kau menghawatirkan aku? Tenang saja aku hanya akan tidur di luar untuk malam ini, BEI tidak suka berbagi dan aku juga tak ingin tidur bersama mu." Wajah Gao terlihat manis jika tersenyum.
"Satu malam? Lalu kau akan kemana?" Alexsa terlihat bingung
"HM.. begini aku akan mengantar mu kepada Ahn besok siang. Aku tau kau merindukannya bukan?"
"Tidak, aku tidak merindukan nya. Bisakah aku tinggal disini beberapa hari lagi?" Alexsa berbohong, sebenarnya ia memang ingin kembali pada Ahn namun mengingat kalau Ahn bersama Helen itu sangat menyakitkan hatinya.
"Aku tak bisa meminta mu tinggal lagi, lagipula perjanjian awalnya adalah aku menculik mu dan aku akan meminta tebusan atas namamu. Kau ingat kan, aku harus memperluas jangkauan bisnis senjata ku? Karena Ahn yang memenangkan proyek itu maka aku merasa sangat di rugikan."
"Aku mengerti, besok aku akan pergi. Kau bisa melepasku." Alexsa terlihat murung namun hatinya sangat ceria.
"Besok akan menunjukan apakah Ahn menyayangimu atau tidak, apakah dia bersedia menebus mu atau tidak." Wajah Gao serius.
Alexsa tahu kalau Ahn akan menebus nya tapi keraguan untuk meninggalkan Gao ada di hatinya, apakah Alexsa memiliki perasaan untuk Gao?
_next? Terimakasih sudah mampir 😁🙏
_tinggalkan jejak sebagai pembaca yang baik,
_maafkan kesalahan dalam pengetikan kata yang tidak di mengerti 🙏
__ADS_1
_sampai jumpa di bagian selanjutnya ⏳ love you all 💌🤗