
Pagi hari setelah kejadian malam itu, mereka berdua belum terbangun. Sekitar pukul 9 Gao terbangun dan kepalanya terasa sangat berat, ia menoleh dan melihat Alexsa tertidur di sampingnya.
"Tunggu, wanita ini semalam apakah sudah mengganti pakaian nya? Kenapa gaun berwarna coklat itu ada di lantai." Gao duduk di atas kasur dan melihat gaun yang Alexsa kenakan semalam saat pergi bersamanya ke bar.
"Apa ini?" Tak sengaja tangan Gao meraih pakaian dalamnya sendiri.
"Haah.. bagiamana.. bagaimana mungkin?!" Gao dengan panik merasakan apakah dia masih memakai pakaian nya, ternyata semua sudah terlepas dari tubuhnya.
"Tidak, aku tidak melakukan nya kan?" Jantung Gao berdetak cepat.
Ia melihat Alexsa masih dalam keadaan tidur, Alexsa tidur menghadap padanya dan di tutupi selimut putih dari lengannya hingga ke bawah.
"Tidak, aku tidak melakukan nya. Aku akan lihat, jika pakaiannya masih ada, berarti aku hanya berhalusinasi. Jika tidak.. aku tidak tahu lagi." Gao bingung dan baru kali ini ia merasa cemas.
Gao memegang ujung selimut dan memejamkan matanya, lalu menarik selimut itu ke bawah 2 detik kemudian ia membuka matanya.
"A...a...apa, a..a..aku, aku melakukan nya? Dengan wanita ini? Tidak..itu tidak benar." Gao menutup kembali selimut itu dan segera memakai celananya dan pergi keluar kamar.
Gao merasa sedikit takut dan cemas jantungnya berdetak cepat, ia berdiri di atas tangga dan menggeleng beberapa kali.
Ia terkejut karena Alexsa tidak memakai pakaian di tubuhnya, itu artinya ia telah bermalam dengan Alexsa. Gao masih merasa tidak percaya, tiba-tiba seorang bawahan menghampirinya.
"Ada apa tuan, apa anda sedang tidak sehat?" Penjaga itu melihat Gao yang menutupi wajah dengan tangannya.
"Aku.. aku tidak melakukannya.. semuanya tidak benar.." Gao terus berbicara pada dirinya sendiri.
"Tuan, ada apa?" Pria itu bertanya pada Gao yang terlihat cemas.
"Apa kau ingat, semalam aku bersama wanita itu tidak melakukan apapun bukan?" Gao menunjuk ke arah kamarnya.
"Tuan melakukan apa?"
"Wanita.. wanita itu, dia tidak tidur bersamaku semalam kan? Maksud ku, aku tidak bermain dengannya kan?" Gao cemas dan matanya lebar meminta penjelasan dari bawahannya itu.
"Mengenai itu, tuan melakukannya." Penjaga itu jujur kepada Gao.
"Tidak, aku tidak.." Gao terdiam.
"Iya tuan melakukannya, kami semua berjalan di belakang tuan dan ada 3 orang yang berjaga di depan tangga ini termasuk saya, dan kami bertiga mendengar tuan bermain dengan wanita itu. Suara itu baru berhenti setelah hampir jam 3 pagi." Penjaga itu menjelaskan semua yang ia ketahui malam tadi.
"Jadi.. jadi aku sudah bersamanya,haha.. ini..ini sangat memalukan sampai kau mendengarnya." Gao tersenyum masam mendengar penjelasan penjaga itu.
"Tuan hebat, bisa bermain 3 jam dengan wanita itu." Penjaga itu malah memberi pujian untuk Gao.
"Diam..! Jangan sampai kau dan semua yang mendengar itu membocorkan ini, jangan biarkan siapapun tahu mengenai ini. Kau yang bertanggung jawab!" Gao langsung berteriak pada bawahannya itu.
"Baik tuan.. saya tidak akan memberitahu siapapun." Penjaga itu langsung ketakutan dan pergi dari hadapan Gao.
"Cih, aku ternyata sudah tergoda untuk bermain dengannya. Wanita itu memang jala*g." Gao sedikit tersenyum dengan tindakannya.
_dua jam setelah itu.._
Sudah pukul 11 siang, Alexsa baru terbangun dan kepalanya terasa sangat berat. Alexsa membuka matanya sedikit dan melihat kedepan, ternyata dia sudah di kamar Gao.
"Argh.. pria itu membuatku minum terlalu banyak, kepalaku sakit." Alexsa mengeluarkan tangannya dari selimut, tiba-tiba Alexsa menyadari kalau dia tidak memakai apapun.
"Eh? Apakah aku..?" Alexsa melihat kedalam selimut, tak ada pakaian yang menutupinya.
"A..a..apa ini, kenapa..? Kemana pakaianku?" Alexsa duduk dan menutupi dirinya dengan selimut, melihat sekeliling dan menyadari semua pakaiannya ada di lantai.
"Haah? Kenapa begini? Apa..apa pria itu, tidak..aku tidak melakukan apapun dengan ya." Alexsa menggeleng dan berusaha menyingkirkan pikiran negatif dari kepalanya.
Masih dalam keadaan duduk di atas kasur, tiba-tiba Gao membuka pintu dan membuat Alexsa terkejut.
__ADS_1
"Sudah bangun?" Gao langsung berdiri di depan pintu.
"Aa..! Jangan melihatku pria mesum! Apa yang kau lakukan pada ku!" Alexsa melempar bantal kepada Gao di depan pintu.
Bantal itu bahkan tak sampai ke kaki Gao, Gao hanya dengan tenang memandangnya.
"Apa yang aku lakukan? Aku tidak melakukan apapun."
"Jangan berbohong, bagaimana bisa aku percaya dengan iblis seperti mu! Katakan yang sebenarnya, apa yang terjadi setelah aku banyak minum!" Alexsa dengan keras berteriak pada Gao.
"Kau mabuk dan pingsan, aku membawa mu pulang dan semua selesai." Gao dengan nada tak peduli menjelaskan.
"Lalu bagaimana dengan diriku yang sekarang, bagaimana kau mejelaskan mengenai pakaian ku!?"
"Semua wajar, jika kau terlalu banyak minum kau akan merasa kepanasan. Dengar, setelah aku mengantarmu ke kamar kau langsung melepas pakaian mu aku tak ingin melihat mu jadi aku keluar dari kamar ini. Kau sudah tahukan aku tidak tertarik dengan tubuh mu!" Gao melipat tangannya dan bersender ke pintu.
'benar juga, pria ini tidak tertarik dengan tubuhku.' Alexsa langsung terdiam mendengar ucapan Gao.
"Cepat turun, kita harus makan." Gao memberi isyarat dengan menoleh kecil ke arah luar kamar.
Alexsa hanya diam dan menarik selimut untuk menutupi dirinya, baru beberapa melangkah berjalan Alexsa terjatuh dan terduduk di lantai.
"Kau kenapa?" Gao langsung berlari menghampiri Alexsa.
"Aku..aakh.., rasanya sakit."
'apa, dia merasa sakit? Bukankah ia sudah tidak gadis lagi?' kening Gao berkerut memikirkan itu.
"Sudah.. jangan pura-pura lemah. Aku juga tidak akan memakan mu. Cepat bersihkan dirimu dan turun kebawah." Gao masih bersikap tidak peduli dan meninggalkan Alexsa.
Di luar pintu sudah ada beberapa orang bawahan yang mendengar perkataan Gao tadi.
"Tuan pura-pura tidak peduli, padahal dia baru bermain dengan wanita itu semalam." Seorang penjaga berbisik pada rekannya.
"Sstt.. jangan sampai tuan mendengarnya." Mereka langsung diam.
"Kalian siapkan makan siang saja nanti, untuk sarapan aku sudah tidak tertarik. Dan jangan lupa berikan wanita itu makanan setelah dia selesai mandi." Gao memberi perintah dan meninggalkan kamar.
____di tempat Ahn___
Perjalanan membahas investasi yang di lakukan Ahn sudah selesai, ia kembali ke kota nya dan langsung menuju Hera Gold.
"Papa...!" Kai langsung berlari ke pangkuan Ahn.
"Dimana kakek mu?" Ahn menggendong putra 6 tahunya dan berjalan ke dalam ruangan.
"Kakek sedang menemui tamu. Papa apakah Alexsa akan kembali?"
"Itu.. aku akan mengurusnya nanti." Ahn menurunkan kau di atas sofa.
"Papa, Alexsa sudah pergi selama 6 hari. Ini sangat lama, papa bisa telepon dia kai sangat merindukan Alexsa." Kai merengek menatap Ahn yang meletakan tas kerjanya di atas meja makan.
"Jangan manja, sudah aku bilang kan Alexsa sedang bekerja. Sudah jangan tanya tentang dia dulu aku lelah." Ahn langsung menaiki tangga dan masuk ke kamarnya.
Di kamar, Ahn merasa sangat tidak berguna. Ia terdiam menatap ke luar jendela di kamar itu. Ahn menghembuskan nafas dengan kasar dan memikirkan apa yang harus dia lakukan untuk mencari tahu keberadaan Alexsa.
Tiba-tiba dari luar kamar terdengar ketukan pintu dan suara pak Zhang.
"Ahn, apa kau sudah pulang? Ada yang ingin aku bahas, ini mengenai Alexsa." Suara pak Zhang berbisik dari sela pintu.
Ahn langsung membuka pintu dan melihat pak Zhang sudah berdiri di sana.
"Mengenai apa ayah?" Ahn membuka pintu dan menyuruh pak Zhang masuk.
__ADS_1
"Begini, tadi aku menemui polisi yang bertugas mencari tahu kemana mobil itu pergi, dan dari rekaman cctv terakhir kali mobil yang membawa Alexsa
mengarah ke kota Dijin dan berhenti di gudang perbatasan kota. Dan polisi juga sudah menyelidiki tempat itu, tak ada bukti selain cincin perak ini. Apakah ini milik Alexsa ?" Pak Zhang memperlihatkan sebuah cincin perak kepada Ahn.
Ahn mengambil cincin itu dan memperhatikan baik-baik. "Benar ini milik Alexsa, aku pernah melihatnya saat dia berada di kantor. Apa itu artinya Gao membawanya ke kota Dijin?"
"Mungkin saja, tapi polisi tidak bisa menyelidiki kasus lebih jauh karena sudah keluar dari kota ini." Pak Zhang juga memperlihat kan beberapa foto hasil cctv.
"Kebetulan sekali, proyek ku yang sekarang juga berada di kota itu. Jadi kita akan kesana." Ahn merasa senang karena beberapa bukti sudah terkumpul.
____di tempat Gao___
Selesai makan bersama Alexsa dan Gao kembali ke ruang baca membicarakan sesuatu.
"Ada apa kau menyuruhku kesini tuan?"
"Begini, kau sudah satu Minggu disini. Sudah saat nya aku memberitahukan kepada Ahn mengenai mu dan meminta tebusan, aku tak bisa terus merawat mu." Gao mencoba mencari alasan padahal ia hanya tak ingin kalau Alexsa tahu bahwa dia bermain semalam dengannya.
"Haah, benarkah.. aku sudah sangat menunggu saat ini." Alexsa merasa senang mendengar nya.
"Tapi ini tak akan mudah, aku akan menyulitkan Ahn untuk beberapa waktu." Gao tersenyum kecil menatap Alexsa.
"Jangan, jangan susahkan tuan Ahn. Berikan saja ia petunjuk dan jangan Bebani dia. Dia sangat sibuk, aku takut dia kelelahan." Alexsa tak senang mendengar ucapan Gao.
"Ini tidak akan seru tanpa ada sesuatu yang menantang. Kau kembalilah ke kamar mu, rawat dirimu agar Ahn memberikan ku harga yang lebih tinggi." Gao langsung mengusir Alexsa.
Tak ingin mencari masalah, Alexsa langsung mematuhi Gao dan kembali ke kamar.
Setelah Alexsa pergi dari ruangan itu, Gao langsung mengunci ruangan dan mengambil sebuah telepon tali di ruangan itu.
~~panggilan telepon kepada Ahn
Ahn sedang duduk di dalam kamarnya sendirian sambil melihat foto-foto dari cctv.
~"halo, siapa ini?" Ahn mengangkat telepon dari nomor tak di kenal.
"Ahn, kau mengingat ku?"
"Sialan, dimana Alexsa!" Ahn langsung marah mendengar suara itu.
"Bagus, kau masih mengingat ku. Aku menelepon bukan untuk memberitahu mengenai Alexsa, aku ingin membahas soal putra mu dulu."
"Kenapa dengan putra ku? Kau tidak ada masalah dengan ya, jika kau berani menyentuhnya akan ku pastikan kota Dikin akan habis dalam semalam!"
"Oh, kau sudah tau rupanya. Kota ini cukup luas, kau tak akan bisa menemukan ku dengan mudah. Kembali ke pembicaraan ku, sampai mana tadi? Oh iya, putra mu." Gao malah mempermainkan Ahn.
"Apa yang ingin kau katakan, aku harap ini bukan omong kosong!"
"Santai lah Ahn, siapa nama putra mu? O iya aku ingat, Han Kai-huang benar begitu? Kau tahu sebuah rahasia mengenai nya?"
"Apa tujuan mu, bicara yang jelas!"
"Putra mu bukan anak mu dengan Halen."
"Apa? Apa maksud mu.. jelaskan!" Ahn langsung terkejut mendengar ucapan Gao. Sayangnya Gao langsung mematikan teleponnya.
"Halo..! Gao kembali dasar bajingan!" Suara amarah Ahn terdengar oleh pak Zhang yang kebetulan lewat.
"Ada apa Ahn? Apa semua baik-baik saja?" Pak Zhang membuka pintu kamar.
"Ayah, aku baik-baik saja. Jangan khawatir ini hanya masalah kantor." Ahn menyembunyikan kenyataan.
"Baiklah, tapi jangan berkata kasar seperti itu. Kai ada di rumah jangan sampai kau mengatakan kata-kata kotor padanya." Pak Zhang kembali menutup pintu dan meninggalkan Ahn.
__ADS_1
"Apa maksud pria itu, kenapa ia mengatakan kalau kai bukan putra ku dengan Helen? Apa semua ini ada hubungannya dengan penculikan Alexsa?" Ahn sangat bingung dengan ucapan Gao tadi.