Kamu Milik Ku

Kamu Milik Ku
Menyelamatkan Alexsa


__ADS_3

Selesai bersiap, mereka semua masuk ke mobil, BEI yang menyetir sementara Alexsa dan Gao duduk di kursi tengah.


"HM...tuan, apa semua akan baik-baik saja?" Alexsa melihat Gao yang memandang ke luar jendela.


"Kenapa? Semua akan baik-baik saja selama kau patuh dan mengikuti perkataan ku. Aku akan mengantar mu dengan selamat ke tangan Ahn." Gao melihat Alexsa yang terlihat cemas.


"Entah lah, aku merasa sesuatu yang buruk menghampiri, Aku merasa tidak tenang." Alexsa melihat ke arah Gao dan menggenggam tas di tangannya dengan erat.


"Kalau begitu kemari, aku akan memenangkan mu." Gao memeluk Alexsa dan Alexsa bersandar pada dada Gao.


BEI melihat itu semua, ia terlihat muak namun tak bisa melarang kakak nya itu.


"Tuan, apa aku boleh bertanya mengenai masa lalu mu? Maksud ku.. ini kan menjadi pertemuan terakhir kita, bisa ceritakan sedikit tentang mu?"


"Kenapa bertanya seperti itu, aku tak ingin menjawab pertanyaan itu. Lagi pula aku akan mengunjungimu setelah peristiwa ini." Gao hanya mengusap kepala Alexsa.


"Tapi aku ingin tahu sedikit tentang mu saja, oh iya, waktu aku pertamakali keluar dari rumah sakit di kota ini, aku tak memiliki uang apapun jadi aku menjual anting-anting ku. Aku ingat ada seseorang yang memakaikan nya pada ku waktu sebelum aku di buang, apa kau tahu mengenai anting itu?" Pertanyaan Alexsa


membuat BEI dan Gao saling menatap dari kaca depan mobil.


"Anting? Anting mana yang kau katakan. Tak ada anting saat kau di buang."BEI tiba-tiba langsung menjawab.


"BEI? Kau tahu mengenai aku dibuang? Aku bahkan tak mengatakan kalau aku di buang." Alexsa langsung menjauh dari Gao.


Gao langsung mendekap Alexsa lagi agar tetap memeluknya.


"Begini Alexsa .. maksud BEI adalah malam di saat kau akan melahirkan Helen


membawamu ke rumah sakit untuk melahirkan anak mu dan setelah Helen pulang kami tak tahu lagi mengenai mu, jadi kami pikir Helen membuang mu. Dan mengenai anting itu, anting berwarna Ruby ya?" Gao terlihat gugup saat menjelaskan. Hampir saja BEI membuat rencananya gagal.


"Iya? Apa kau tahu?"


"Anting itu aku yang memberikan nya, aku mencurinya dari Helen antik mu. Aku tahu Helen akan berbuat jahat pada mu dan aku tahu kau wanita pintar dan tidak lemah, jika kau tersadar kau akan menjualnya. Dan itu terjadi kan." Gao tertawa kecil setelah mengatakan itu.


"HM.. tapi bagaimana bisa BEI tahu mengenai aku yang di buang, apa kau menceritakan ku pada BEI?" Pertanyaan Alexsa membuat Gao terdiam sejenak.


"Begini, kau ingat saat aku mengatakan selama kau hamil kau di bius apa kau ingat?"


"Iya, lalu?"

__ADS_1


"BEI yang turun tangan mencari dan mengatur dosis bius untuk mu. Tapi karena kau terlalu kuat, Helen memutuskan menambah dosisnya." Gao berbohong yang sebenarnya terjadi adalah dia yang menambahkan dosis bukan Helen. Dan untuk masalah anting Gao berbicara jujur.


"Jadi kau tahu semua ini? Kenapa tak memberitahuku BEI?"


"Kenapa menyalahkan ku, kau tak pernah bertanya." BEI tak ingin banyak bicara takut membongkar banyak masalah lagi.


Setengah jam berkendara mereka sampai ke gedung tua yang di maksud. Gao dan Alexsa segera naik ke lantai 3 gedung bekas itu, gedung terlihat sudah tua dan hanya ada beton seperti bekas terbakar.


"Tuan, kenapa kita harus di atas sini?" Alexsa menaiki tangga bersama Gao.


"Kau ingat, aku mengatakan kalau aku akan meminta tebusan dari Ahn bukan? Nah untuk itu aku perlu mengancamnya. Kau tolong bekerja sama dengan ku ya."


"Tapi jangan lukai aku ya." Alexsa sedikit cemas saat sampai di lantai 3.


"Tenang saja, aku tak akan melukaimu sedikit pun."


Mereka sampai pada sebuah tiang di atas gedung itu.


"Tuan apakah aku akan di ikat?" Alexsa melihat Gao mengeluarkan tali.


"Tidak perlu, kau pura-pura di ikat saja. Aku hanya akan menggulung tali ini. Pegang lah." Gao menyuruh Alexsa memegang gulungan tali.


"Jangan cemas, Ini hanya mainan." Gao memperlihat kan pisau palsu itu bisa melengkung.


"Apa aku harus sungguh-sungguh seperti di Tawan?"


"Tentu saja, jika tidak bagaimana bisa Ahn memberi ku uang. Kau tolong bekerjasama dengan ku. Jika kau berpikiran ingin lari ingatlah kalau di depan sana sudah di tanam beberapa peledak jangan kabur jika tak ingin kaki mu hancur."


"Apa? Baik..baiklah aku akan menurutimu." Alexsa sedikit khawatir dengan rencana dari Gao.


BEI datang membawa sebuah megaphon dan memberikan pada Gao.


"Ini gunakan untuk berbicara dengannya. Alexsa aku katakan pada mu kau harus tetap mengikuti perkataan kakak ku, jangan mencoba kabur."


"Tenang saja, dia sudah ku peringatkan." Gao tersenyum sedikit pada BEI.


"Sebentar lagi para awak media akan datang, jika kau pandai berbicara buat lah Ahn merasa bersalah dan membayar hutang nya."


"Tenang saja, aku pandai memojokkan nya. Kau berjaga saja di bawah."

__ADS_1


Mendengar perintah Gao, BEI langsung pergi ke lantai paling bawah. Di kerangka gedung bekas itu ada 2 buah tangga yang menghubungkan antara lantai, dan di jaga oleh beberapa orang bawahan Gao.


Satu jam kemudian, awak media berdatangan, 20 menit setelah itu mobil Ahn sampai di lokasi yang di tuju.


"Lihat, itu mereka." Gao berbisik pada Alexsa.


Alexsa melihat ke bawah dan 2 buah mobil hitam berhenti. Ahn turun dari mobil bersama pak Zhang.


Di hati Yura mulai terbesit rasa senang, ia senang ternyata Ahn menepati kata-kata nya untuk menyelamatkan nya.


Beberapa detik setelah nya Helen juga keluar dari mobil itu.


"Wah, aku pikir dia tak akan membawa wanita nya." Gao sangat pandai dalam manipulasi otak Alexsa.


Alexsa juga kesal melihat kehadiran Helen karena pengaruh dari Gao.


Para awak media di sana mengarahkan kamera pada Ahn dan keluarga nya yang datang membawa koper.


"Kenapa bisa ada mereka disini?" Pak zhang berbisik saat berjalan bersama Ahn.


"Sudah pasti pria itu yang melakukannya." Ahn tidak bisa bersuara keras karena para media mengerumuni mereka.


Ahn sampai di hadapan gedung, Mereka berjarak 10 meter dari gedung.


"Ahn.. kau datang rupanya, perlihatkan uang nya." Gao berteriak dengan megaphone di tangan nya.


Ahn membuka koper di tangannya dan memperlihat kan uang nya.


"Lepaskan Alexsa yang sekarang!" Ahn berteriak keras kepada Gao.


Seorang wartawan memberikan megaphone pada Ahn.


"Lepaskan Alexsa sekarang! Atau aku tak akan memberikan uangnya." Ahn balik mengancam.


"Bagus, berikan uang nya pada pria berbaju putih itu." Gao memberi isyarat pada BEI.


BEI maju ke hadapan Helen dan mengambil koper satu persatu.


Helen menyadari wajah itu, itu adalah wajah BEI. Helen terdiam melihat mata BEI.

__ADS_1


"BEI...?" Helen terkejut melihat kalau itu benar-benar BEI.


__ADS_2