
Helen memegang pundak Ahn yang masih berlutut di tanah. " Ahn, bukankah sebaiknya kita melihat Alexsa ? Ayo kita ikuti Gao." Helen takut salah bicara di saat seperti ini.
"Iya, tapi.. tapi aku tak ada kekuatan untuk menyetir, tolong bantu aku." Ahn mengulurkan tangannya pada Helen.
Helen dengan sabar memapah tubuh Ahn ke mobil, pak Zhang dari dalam mobil melihat kedekatan mereka hatinya merasa tak senang, tapi ia lebih tidak senang ketika mengetahui kalau kedua putra nya yang lain masih hidup.
Helen mendudukkan Ahn di kursi samping pengemudi, dan ia yang memakai mobil ke rumah sakit.
BEI sangat ahli dalam berkendara, tangan dan kaki nya sangat bisa berkoordinasi dengan baik, walaupun situasi jalan sedang ramai ia sama sekali tak menurunkan kecepatan.
"BEI.. hati-hati, jalanan sedikit ramai." Gao dengan cemas memperhatikan wajah Alexsa dan ada banyak darah di tangannya.
"Tenang saja kak, apa darahnya masih mengalir?" Bei tetap fokus pada jalanan.
"Iya, kita harus bergegas."
"Kak, ada suntikan untuk mencegah darah nya semakin banyak. Ambil di kotak warna hijau di bawah kakimu."
"Kenapa tidak katakan dari tadi, aku sudah melihat kotak nya." Gao langsung meraih kota hijau dengan tangan kiri dan membuka nya.
"Ada banyak suntikan, yang mana yang berfungsi menghentikan darah?" Gao melihat setiap suntik di dalam kotak itu.
"Ambil yang di tutup dengan warna biru. Suntikan di samping luka nya, akan membantu Tempak Tuka membentuk jaringan lebih cepat." BEI sangat ahli dalam dunia medis, karena dia bekerja pada lab kesehatan terbesar di negara itu.
Gao melakukan seperti yang BEI katakan, benar suntikan itu membantu darah nya tidak mengalir.
BEI memakai mobil dengan sangat cepat, sehingga jarak tempuh rumah sakit yang seharusnya 15 menit sampai hanya dalam waktu 8 menit.
"Cepat, panggil kepala dokter bedah disini. Bantu aku menyelamatkan wanita ini!!" Gao langsung menerobos antrian dan mendesak para suster.
Seorang pria muda memakai baju putih dokter meminta Gao tenang, namun BEI datang dan malah mengancam pria itu.
__ADS_1
"Jangan menolak, sekarang juga cepat bawa wanita ini keruang operasi. Sebuah peluru bersarang di kepalanya!" BEI mengangkat kerah baju dokter muda itu.
BEI tidak pernah menyentuh orang lain dengan kulitnya langsung selain kakak nya ia selalu menyentuh orang lain dengan sarung tangan medis, namun sekarang ia melampaui nya demi Alexsa.
Seorang dokter menyadari situasi ini dan langsung membawa Alexsa ke atas meja operasi.
"Tuan, tenang lah. Kami akan melakukan operasi nya, tuan tunggu di luar." Dokter itu mendorong tubuh Gao menjauhi pintu, dan lampu di atas pintu nya berwarna merah.
"Ingat, kalian harus menyelamatkan nya! Jika tidak aku akan meledak kan satu rumah sakit ini!!" Gao sangat marah dan memukul pintu ruangan itu.
"Kak, jangan begini. Kau mengganggu para dokter, tenang lah dan mereka akan berusaha." BEI meraih tangan Gao dan menyuruhnya duduk.
"Kau..kau tahu ilmu medis kan? Kalau begitu masuk kedalam dan pastikan kondisi Alexsa." Gao masih terlihat panik.
"Kak Gao! Tenang lah, aku memang tahu tapi aku hanya tahu mengenai pengobatannya. Jika kau semakin se enak mu mungkin kau yang akan menyebabkan kematian Alexsa!" BEI mencoba menenangkan Gao.
"Kau jangan bicara macam-macam! Tidak ada yang akan mati nanti!" Gao melihat wajah BEI yang masih terlihat biasa saja.
Gao melepaskan tangannya dan duduk dengan gelisah, BEI merapikan kerah bajunya. Ia tak mengerti kenapa kakak nya sekarang malah seperti Ter obsesi dengan wanita itu.
BEI tak ingin menambah masalah jadi dia duduk 2 kursi lebih jauh dari Gao. 10 menit kemudian, Ahn, Helen dan pak Zhang sampai di rumah sakit dan langsung menemui Gao.
"Gao, dimana Alexsa?" Ahn seperti tak pernah bertengkar dengan Gao dan suaranya melunak.
Gao kembali marah setelah melihat Ahn di hadapannya, Gao mendorong Ahn dan memukul nya beberapa kali. Helen melihat itu dan langsung memisahkan kakak-adik itu.
"Sudah, kalian ini ada apa? Sudah di rumah sakit masih ingin bertengkar!. Ahn apakau tidak apa-apa?(membantu Ahn berdiri). Gao jaga sikap mu, ini rumah sakit!" Helen membatu Ahn yang lemah duduk di kursi tunggu.
"Kau tidak usah sok memperhatikan ku, semua masalah ini berasal dari kalian berdua! Jika kalian tidak.."Gao terhenti mendengar suara pak Zhang berteriak.
__ADS_1
"Diam!! Gao sikap mu sangat buruk, jangan bertengkar di keramaian!" Pak Zhang menatap Gao dengan marah.
"Siapa kau malah mengatur sikap ku? Sepertinya mata mu telah dibutakan kasih sayang hingga tak dapat melihat kalau aku hanya melindungi Alexsa tapi putra mu jelas-jelas menembaknya. Apa kau masih ingin membelanya?"
"Putra mana yang kau maksud? Kalian bertiga putra ku, kenapa malah saling menyalahkan." Pak Zhang melihat mata Gao, dan dari mata Gao ia bisa melihat betapa pedulinya ia dengan Alexsa.
"Agh..! Aku muak dengan semua ini!" Gao pergi meninggalkan pak Zhang yang menatapnya.
"Haah, anak itu." Pak Zhang menunduk kan kepala.
"Ayah, kau tahu mengenai dia kenapa tidak memberitahu ku?" Ahn mengangkat kepalanya dengan tatapan lemah.
"Aku tidak bisa memberitahu mu saat itu, maafkan aku." Pak Zhang tetap saja menyembunyikan sesuatu dari mereka.
"Kenapa? Apa kau tidak bisa membuka rahasianya? Kenapa menyembunyikannya dari putra mu?" BEI melipat kaki nya dan menatap pak Zhang dengan tatapan mata yang tenang.
"Sudah aku katakan kalian semua putra ku, BEI aku tahu kau sangat baik. Tolong jangan terlalu terpengaruh dengan Gao ya," pak Zhang seperti lebih menyayangi BEI.
"Aku masih normal dari mereka berdua. Ahn..maksud ku Kakak pertama dia terlalu banyak mendapat cinta hingga tak bisa melihat dari sisi orang lain sedangkan kakak kedua dia terlalu banyak kebencian sehingga apapun yang dia lihat hanyalah kebencian. Aku mendapatkan cinta tapi juga di ajarkan kehidupan keras, bagaimana bisa aku menjadi monster seperti mereka berdua." Baru kali ini mereka melihat BEI tersenyum.
Gao yang pergi karena marah, ia pergi ke kamar mandi dan mencuci darah Alexsa pada lengan bajunya. Ia melihat dirinya di cermin wastafel, "apa BEI benar, hanya seorang wanita dan aku jadi seperti ini? Apa aku sudah bersikap benar?" Gao merapikan rambut dan mencuci wajahnya.
Gao keluar dari kamar mandi melihat sekeliling, ia merasa sedikit bingung 'kenapa Alexsa memelukku tadi? Apa dia sengaja melakukan nya?' Gao terdiam sebentar di depan pintu kamar mandi.
Gao sudah tenang dan ia kembali ke ruang tunggu, ia melihat hanya ada BEI dan pak Zhang yang menunggu.
"Kak, dari mana?" BEI bangun dari duduk nya melihat Gao datang.
"Membersihkan pakaian ku, bagaimana apa dokter sudah keluar?" Gao duduk di samping BEI.
"Belum, kami juga sedang menunggu."
__ADS_1
"Kemana yang lain?" Gao tak sengaja melihat ke arah pak Zahng.