
Gao kembali dari membeli makan siang. Gao dan BEI makan di kamar Gao karena mereka berdua tak terbiasa dengan suasana makan di rumah ini.
__2hari kemudian__
Saat sarapan pagi, BEI membawa obat yang telah di buat nya. Obat itu berbentuk cairan berwarna bening, BEI sengaja membantu pelayang membawakan makanan ke meja, dan ia memasukan cairan obat itu kedalam susu untuk gelas Alexsa.
Mereka semua duduk di depan meja makan bersama, dan BEI membawakan segelas susu khusus pada Alexsa.
"Kakak ipar, minum lah dulu." BEI langsung menghampiri Alexsa dengan senyuman.
"BEI, terimakasih. Aku akan meminum nya nanti." Alexsa mengambil dan meletakan gelas.
"Jangan seperti ini kak, ayah kau tahukan aku tidak suka di tolak sekarang lihat apa yang Alexsa lakukan. Dia menolak pemberianku." BEI bertingkah manis dan mengadu pada pak Zhang.
"Alexsa. Jarang-jarang BEI mah bersikap seperti ini, kau terimalah pemberiannya."
"Baik ayah. Ini aku akan habiskan langsung." Alexsa meminum segelas susu dalam satu nafas sampai habis.
"Sekarang sudah kan, BEI duduk lah. Kita akan makan bersama." Ahn melihat BEI yang masih berdiri di samping pak Zhang.
"Baik, aku juga sudah lapar." BEI langsung duduk di samping Gao.
"Bagus, pekerjaan kita selesai. Tinggal ikuti alurnya." Gao berbisik saat BEI pura-pura mengambil sendok di depannya.
BEI mengangkat kedua alisnya dan langsung bersikap normal dan makan.
'aku tak pernah bersikap licik dan jahat sebelumnya kecuali untuk kakak, tak masalah jika itu akan menghancurkan ku. Aku akan membantu kakak bagaimana pun cara nya karena aku ingat bagaimana cara ia mendapatkan uang untuk makan kami waktu tinggal di jalanan.' BEI terus menyantap makanan nya.
Saat di pertengahan makan, obat yang di minum Alexsa bereaksi. Tiba-tiba Yura langsung lari ke wastafel dan muntah.
Semua langsung terkejut ada apa dengan Alexsa, kenapa tiba-tiba muntah saat makan?
"Alexsa, kenapa. Apa makanan nya tidak enak?" Ahn langsung menghampiri Alexsa membawa segelas air.
"Apa makanan nya beracun?" Pak Zhang memeriksa makanan Alexsa.
__ADS_1
"Semua nya tidak apa-apa, kenapa kau bisa muntah?" Pak Zhang sangat khawatir dengan Alexsa.
"Apa lagi, seorang wanita dan pria di kamar malam hari setelah minum. Lalu apa lagi yang akan terjadi?" Gao berbicara dan ia terlihat tenang.
"Benarkah? Tapi itu baru w hari yang lalu. Apa itu mungkin?" Ahn heran dengan ucapan Gao.
"Tidak apa tuan Ahn, aku pikir ini hanya sakit perut biasa." Alexsa mengelap mulut nya dengan tisu.
"Apa perlu bawa ke dokter?" Pak Zhang juga terlihat cemas.
"Tidak usah kakak pertama, ayah. Begini saja aku adalah seorang yang bekerja dalam hal medis, aku membawa beberapa alat di tas ku saat kesini. Aku akan mengambil nya." BEI langsung berlari ke kamarnya dan mengambil sebuah tast pack baru yang lebih modern dari pada yang kemarin yang hanya berupa kertas.
"Ini, coba pakai kalau tidak percaya." BEI memberikan alat itu pada Alexsa.
"HM.. dengan tes urin ?"
"Iya, Kaka ipar masuk lah. Dan kita akan lihat hasil nya bersama-sama."
Alexsa masuk ke kamar mandi dan semua nya duduk kembali di meja makan. Beberapa menit menunggu dan Alexsa keluar dari kamar mandi.
"Kita tunggu beberapa menit, kalau ada 2 garis berarti kau hamil jika hanya satu mungkin hanya mual biasa."
Mereka semua melihat tast pack di atas meja dengan serius, bahkan Gao juga diam-diam memperhatikan.
"Tidak ada, hanya satu garis." Ahn mulai bosan.
"Tidak papa, lihat sekarang sudah ada 2." Kai menunjuk ke tast pack.
"Benar, jadi apakah Alexsa benar-benar akan punya anak?" Pak Zhang langsung terlihat senang.
"Benar ayah, seorang anak akan datang ke dalam keluarga ini." BEI masih tersenyum dengan kebahagiaan palsu.
"Papa, apakah Kai akan memiliki adik?"
"Iya.. iya sayang kau akan segera mendapatkan adik." Ahn sangat senang dan langsung memeluk Kai.
__ADS_1
Mereka semua terlihat sangat senang dan bahkan Ahn tak henti mencium pipi dan kening Alexsa karena sangat senang.
Hanya Gao yang terlihat dengan wajah datar memandang mereka tersenyum "lalu apa? Apakah kita akan melakukan hal lain?" Gao berbisik pada BEI yang juga pura-pura tersenyum.
"Biarkan saja, kita hanya akan menunggu alur nya. Kau juga bisa menjaga calon anak mu. Tapi jangan sampai mereka curiga kak." BEI juga berbisik pada Gao.
"Terimakasih Alexsa, kau akan membawa cahaya baru ke rumah ini. Aku akan memberitahukan berita ini pada rekan kantor nanti, dan aku juga akan menaikan gaji mereka." Ahn sangat senang dia selalu tersenyum setelah mendengar kabar itu.
"Tuan, jangn berlebihan. Ini baru awal, aku takut sesuatu yang buruk terjadi." Alexsa menyentuh wajah Ahn yang terlihat sangat senang.
"Aku akan menjagamu, kami semua akan menjagamu dan tak akan membiarkan apapun mencelakai mu." Ahn sangat senang tak bisa di ungkap kan dengan kata-kata.
Setelah sarapan, Ahn langsung berangkat ke kantor. Kebetulan hari ini adalah jadwal kai kembali ke sekolah asrama.
"Kakek, kai tidak suka dengan kedatangan adik. Apa kita tidak boleh menolak adik?"
"Kai sayang, adik mu akan bermain dengan mu dan dia pasti akan sangat sayang kepada mu. Kau lihat paman BEI dan ayah mu mereka adalah adik dan kakak dan mereka sangat senang."
"Tapi ayah dan paman Gao juga kakak adik tapi mereka selalu terlihat dingin dan saling tidak peduli." Kai terlihat khawatir.
"Iya, tapi begitulah cara mereka memperlihatkan kasih sayang. Kai tenang saja, adik mu pasti sangat baik."
Tiba-tiba Alexsa datang membawa tas untuk keperluan kai kembali ke asrama.
"Kai sayang, mama sangat ingin bersama dengan mu lebih lama. Tapi kai harus kembali ke asrama, apakah tidak bisa ambil libur dulu?" Alexsa terlihat sedih menghampiri kai.
"Tidak bisa ma, tapi Kai akan pulang seminggu sekali melihat keadaan mama dan adik."
BEI dan Gao juga ada di ruang utama mendengar pembicaraan mereka.
"Ternyata anak itu sekolah asrama, pantas saja dia terlihat sangat terawat dan mandiri. Aku tak akan melakukan hal itu pada anak ku suatu hari nanti." Gao memperhatikan Kai yang tersenyum pada Alexsa.
"Kenapa kak, bukan kah asrama itu cukup bagus? Anak mu akan mandiri dan tidak cengeng lagi dan bonusnya anak mu akan pintar dan disiplin." BEI menonton tv namun tidak memperhatikan tv nya.
"Tidak, asrama hanya membuat anak ku kekurangan kasih sayang. Aku akan melihat perkembangannya secara langsung. Entah apa yang di lakukan asrama sampai-sampai anak sekecil itu bisa sangat patuh dan teratur."
__ADS_1
"Eh, kenapa tiba-tiba begini. Sejak kapan kakak memiliki kasih sayang?" BEI mencoba menggoda Gao.