Kamu Milik Ku

Kamu Milik Ku
Rumah Pohon


__ADS_3

Disana ada seseorang wanita paru bayar yang sedang membuat kan beberapa gelas minuman. "Untuk siapa itu bu, banyak sekali? Alexsa menghapiri wanita yang sedang mengadukan teh di beberapa cangkir.


"Ini, pak Ahn yang menyuruh saya membuat kan untuk para tamu rapat hari ini." Ibu itu terlihat sangat terburu-buru.


"Ini biar saya yang mengantarkannya bu, ibu lanjut saja tugas yang lain." Alexsa langsung mengambil ahli nampan dari tangan wanita itu.


"Wah, terimakasih yah nak. Ini sangat membantu, ibu permisi lanjut kerja yah." Wanita itu tersenyum dan pergi meninggalkan Alexsa.


Alexsa membawa cangkir berisi teh itu ke ruang rapat, seperti biasa Alexsa mengetuk pintu setelah terdengar kata 'silakan' baru Alexsa membuka pintu masuk.


Terlihat banyak sekali pebisnis yang sudah tua, mungkin saja seangkatan pak Zhang. Alexsa tersenyum dan meletakkan teh di meja persegi panjang dari marmer itu.


"Silakan tuan." Alexsa menaru teh satu persatu di depan pengusaha itu.


Para pengusaha yang sudah berumur itu melihat Alexsa dengan tersenyum. Rambut Alexsa yang sedikit berwarna cokelat serta wajah nya yang lembut membuat pengusaha itu terpanah.


"Nona, berapa usia mu?" Aku punya seorang putra yang seperti nya seumuran dengan mu." Seorang pengusaha dengan ramah bertanya pada Alexsa.


"Putra saya juga ada, dan sekarang sedang di Belanda menyelesaikan bisnis pariwisata. Mungkin nona mau berkenalan dengan nya." Seorang pengusaha terakhir yang Alexsa berikan teh juga bertanya.


Alexsa tersenyum dan menatap Ahn. "Permisi tuan-tuan, wanita ini sudah menjadi isteri saya. Jadi tidak bisa berkenalan dengan putra tuan semua." Ahn menghampiri Alexsa dan merangkul pinggang Alexsa.


"Oo, kalian suami isteri? Tapi Ahn bukankah kau sudah bercerai, apakah pak Zhang mengizinkan mu menikah lagi?" Seseorang pria tua dengan kepala botak bertanya.


"Tentu saja, pernikahan saya yang ini tidak begitu mewah, saya hanya mengelar nya dengan pengusaha dekat dan saudara.


"Kenapa tidak mengundang kami?" Pria botak itu kembali bertanya.


"Itu karena kalian semua berada di luar kota saat itu, aku tidak ingin menggangu perjalanan bisnis kalian, dan lagi pula tuan-tuan semua baru kembali karena akan ada pertemuan itu kan?" Ahn tertawa kecil saat menjelaskan.

__ADS_1


"Hahaha..iya Kau benar. Kami sedang jauh jadi tidak bisa datang, kau ini memang putra Zhang selalu saja tidak mau merepotkan orang lain." Pria yang mengaku anak nya ada di Belanda tadi juga tertawa.


Singkat cerita rapat berakhir, Ahn kembali ke ruang kerja nya begitu juga Alexsa.


"Pak, rapat tadi tentang apa?" Alexsa bertanya saat melihat Ahn santai di kursi nya.


"Bukan sesuatu hal yang penting. Hanya pertemuan biasa karena mereka sudah lama tidak ke kota ini."


"Kalau boleh saya tahu mereka siapa pak?"


"Mereka teman ayah ku, dan karena mereka lah bisnis ku yang sempat hampir hancur berdiri kembali." Ahn tersenyum saat mengenang masa itu kembali.


Ahn langsung menegakkan punggung nya dan duduk lurus, "tentang pertemuan minggu depan apakau sudah siap-siap." Ahn menanyakan tentang kesiapan Alexsa.


"Tentu, aku akan ikut. Tapi kenapa aku harus bersiap?"


"2 hari lagi kita akan pergi, dan kau akan ke pertemuan besar untuk pertama kali nya.


Mereka melanjutkan kerja seperti biasa, hinga pukul 2 siang perkerjaan Ahn selesai lebih cepat. Dan Ahn ingin mengajak Alexsa pergi ke suatu tempat.


Perkerjaan Ahn hari ini lebih cepat selesai, Ahn mengajak Alexsa ke suatu tempat untuk menghabiskan waktu bersama.


"Kita akan kemana, pak?" Alexsa bertanya saat mobil Ahn mulai melaju.


"Aku ingin mengajak mu ke suatu tempat. Sudah lama sekali aku tidak mengunjungi tempat itu ." Ahn terus menatap pada jalanan.


Alexsa bingung namun dia tetap tenang karena Ahn tidak mungkin berniat jahat pada nya.


Satu jam di perjalanan, mereka sampai pada rumah pohon kecil di pinggir pantai.

__ADS_1


"Apa anda ingin memperlihatkan sesuatu pada saya?" Alexsa turun dari mobil dan melihat pantai dengan pasir hitam dan ombak yang cukup besar.


"Aku merasa nyaman disini. Sesuana yang hening membuat ku selalu lupa dengan rumah di kota besar itu." Ahn berjalan ke arah rumah pohon dan Alexsa mengikuti dari belakang.


Ahn memanjat di tangga yang menempel pada pohon besar dan dia sudah sampai pada teras rumah kayu itu.


Alexsa juga ikut memanjat namun merasa kesulitan karena dia memakai sepatu hak tinggi.


"Lepas saja sepatu mu. Kau tidak bisa naik jika seperti itu." Ahn menerikaki dari atas.


"Alexsa melepaskan sepatu hitam yang di gunakan nya dan ikut naik ke atas.


"Di atas ini cukup indah bukan?" Ahn duduk di pinggiran rumah kayu yang menghadap ke laut.


"Indah?" Ini agak mengerikan pak, liat ombak yang mengamuk menghantam karang itu membuat ku merinding. Apalagi rumah ini berada di atas pohon." Alexsa berdiri agak jauh dari Ahn karena ia juga takut pada ketinggian.


"Duduk lah, disini kuat dan aman. Kau akan merasa kan ketenangan di sini." Ahn menepuk posisi di samping nya menyuruh Alexsa duduk.


Alexsa yang akan duduk melipat rok abu-abu selutu nya karena angin di sana cukup kencang. Saat Alexsa duduk ia juga merasakan kenyamanan namun dia tetap takut karena di bawah kaki nya ada batu karang yang terus saja di hantam ombak dengan laut.


"Bapak benar, disini nyaman namun apa tujuan bapak membawa saya kesini?" Alexsa merapihkan rambut yang menutupi wajahnya.


"Tidak ada, aku hanya ingin ke tempat ini sebentar agar kau tau di mana harus mencari aku ketika aku tidak pulang." Ahn tersenyum menatap laut lepas.


"Kenapa anda tidak ingin pulang?" Seharusnya anda tidak berfikir seperti itu.


"Haah..Alexsa posisi ku sekarang aku adalah seorang bos, anak, ayah, dan suami. Tanggung jawab ku besar aku butuh tempat pelarian untuk semua masalah ku.


Tidak ada yang mengerti tentang ku sebelumnya bahkan aku sendiri tidak mengerti dengan hidup ku. Aku bahkan tidak tahu untuk apa aku hidup selain untuk uang, bagi ku semua nya hanya palsu." Ahn mulai mengungkapkan beban pikiran nya selama ini.

__ADS_1


"Pak, anda berstatus suami sekarang dan saya adalah isteri. Tugas isteri adalah menjadi tempat suami merasa nyaman, saya akan menjadi tempat bapak menaru semua permasalahan dan aku juga yang akan menjadi penawar saat kehidupan anda terasa pahit." Alexsa menyentuh tangan Ahn dan tersenyum melihat Ahn.


"Tapi Alexsa, sayang nya aku sudah tidak punya cinta untuk mu. Aku tidak punya rasa cinta kepada siapa pun bahkan untuk Kai. Aku selalu berusaha untuk memberikan nya segala yang dia minta namun aku belum bisa memberikan anak itu cinta seseorang ayah sehingga dia menjadi nakal dan keras." Ahn mengangkat tangan nya yang di sentuh Alexsa.


__ADS_2