
Ahn sangat tertekan dengan penculikan Alexsa, dia bahkan sangat larut dalam kesedihan. Hari sudah larut malam, Ahn masih menangis dalam kegelapan di rumah besar itu.
Dia menyesal karena meninggalkan Alexsa sendirian di rumah, dia tidak tahu kalau Gao sengaja melakukan ini dia sengaja menunggu Ahn pergi barulah ia masuk dan menculik Alexsa.
Ahn sangat frustasi dan menumpahkan semua kesedihannya pada minuman nya, ia terus minum di kamar nya dan bersandar pada lemari yang di pakai Alexsa untuk bersembunyi.
"Kenapa, kenapa aku sangat ceroboh. Kenapa, kenapa semua terjadi secara tiba-tiba. Aku harus bagaimana?" Ahn mengusap wajah nya dengan kasar.
Ruangan gelap itu semakin membuat Ahn tenggelam dalam suasana, Bahkan matanya menjadi merah karena banyak menangis.
__di tempat Gao__
Mobil yang membawa Alexsa terus melaju tak berhenti, mereka semua berjumlah 10 orang dan menggunakan 2 mobil.
Mobil pertama seperti mobil pengantar barang dengan box besi di belakangnya, sedangkan mobil kedua adalah mobil pribadi Gao berwarna hitam mengkilat.
Di dalam mobil Gao hanya ada 3 orang, supir, Gao dan Alexsa. Sisanya ada pada mobil yang satunya.
"Tuan, kemana tujuan kita. Hari sudah larut malam, kita harus istirahat." Pengemudi itu menanyai Gao yang sedang mengelus rambut Alexsa.
"Kita berhenti saja di gudang perbatasan kota." Gao hanya menatap sebentar pengemudi itu.
Mobil itu melaju dan 30 menit kemudian mobil sampai ke gudang tua yang di maksud. Gudang itu terlihat sangat terbengkalai, hanya lampu jalan yang meneranginya.
Gao menggendong Alexsa masuk melalui pintu belakang. Di luar gudang itu tampak seperti tidak terawat, namun saat masuk ke dalam nya itu terlihat cukup bagus dan dapat di tinggali.
"Sementara waktu kita akan istirahat disini." Gao masuk dan meletakan Alexsa pada sebuah meja kayu besar.
Alexsa dengan mulut di sumpal dengan handuk serta tangan dan kaki di ikat, ia hanya menggunakan dress putih selutut dan kardigan ungu serta memakai celana pendek selutut berwarna putih.
Seorang bawahan Gao berniat jahat pada Alexsa, dia menghampiri Alexsa dan mengusap wajah Alexsa.
Gao melihat itu dengan cepat menendang tangan bawahannya itu.
"Jauhkan tangan mu darinya!" Suara Gao tenang namun suara pukulan yang di hasilkan cukup keras di keheningan itu.
"Maaf tuan, maafkan Saya." Bawahan itu langsung mundur sambil memegangi tangan nya.
__ADS_1
"Kalian semua dengar,jangan sampai ada yang menyentuhnya sedikit pun. Aku tidak mau di tergores sedikitpun karena dia adalah uang untuk ku. Hanya aku yang boleh menyentuhnya, kalian mengerti!?" Gao melihat setiap wajah bawahan nya yang mengangguk sambil menunduk tak berani melihat ke arah nya.
Entah kenapa pria itu sangat di takuti, bahkan ukuran badannya tidak sebanding dengan bawahannya.
"Untuk malam ini kita beristirahat di gudang ini, kalian tidurlah biar aku yang berjaga." Gao bersikap dingin dan berjalan bagian jendela kecil di bangunan tua itu.
Semua bawahannya mencari tempat yang nyaman untuk istirahat, Gao duduk di tumpukan kayu menghadap ke luar jendela.
Malam yang panjang berlalu, pagi hari Alexsa terbangun karena efek bius yang sudah habis.
Alexsa membuka mata dan melihat ke sekitar nya, tidak ada seorangpun di sana. Alexsa menyadari kalau tangan dan kakinya Ter ikat. Alexsa mendorong saputangan itu dengan lidahnya dan dia dapat menutup mulutnya dengan baik.
"Aku dimana? Apa-apa Gao membawaku? Diamkan mereka?" Alexsa melihat setiap sudut bangunan dan tidak melihat seorang pun di sekitar nya.
"Aku harus kabur." Alexsa menggeser kan badan nya ke tepi meja ia duduk dan melompat dari meja, suara lompatan itu terdengar oleh Gao yang berada di laut gudang.
Gao bergegas masuk ke dalam dengan beberapa bawahan nya.
"Kau sudah bangun sayang?" Gao menghampiri Alexsa yang berdiri di atas lantai dengan kaki yang di ikat.
Alexsa segera melompat untuk menjauhi Gao, namun kakinya yang terikat membuat nya sulit bergerak.
"Mau kemana sayang? Kau tidak bisa lari dari ku sekarang. Hahaha.." Gao berjalan di belakang Alexsa.
"Ups, hati-hati nona, kau akan terjatuh." Gao langsung menangkap tubuh Alexsa.
"Lepas, jangan menyentuh saya." Alexsa jatuh ke pelukan Gao.
"Jangan melawan nona, aku tidak akan menyakitimu." Gao dengan lembut menyibak rambut yang menutupi wajah Alexsa.
Alexsa yang tidak suka di sentuh Gao membenturkan kepalanya ke mulut Gao dengan keras dan membuat pria itu langsung menutup mulutnya, bibir Gao pecah karena terbentur.
Gao langsung terlihat marah, dia meludah ke samping Alexsa
dan ada sedikit darah di lidah itu.
"Kau, sudah ku peringatkan. Jangan memberontak!!" Gao menggenggam pipi Alexsa dan mengangkat kepala Alexsa tinggi-tinggi.
"Haah, aku tidak akan segan menyakitimu. Jadi tolong jaga sikapmu nona manis!" Gao menepuk kedua pipi Alexsa.
"Kenapa kau menculik ku! Aku tidak punya urusan dengan mu!" Alexsa berteriak kepada Gao.
"Kau ingin tahu? Kau ingin tahu mengapa aku menculik mu! Itu karena kau sudah membantu Ahn dalam menggagalkan proyek ku! Jika saja kau tidak membantu nya maka aku akan memenangkan proyek itu dan satu lagi, kau membuat Helen pergi dari ku!" Suara Gao tenang namun suaranya yang berat membuat Alexsa takut.
"Aku tidak membantu Ahn."
__ADS_1
"Tidak katamu, lalu bagaimana Ahn bisa mendapatkan rekaman suara kalau aku dan Halen sedang membicarakan proyek ini! Siapa lagi kalau bukan kau, dan Ahn akan membayar semua nya. Jika Ahn tidak mau memberikan proyek itu padaku, jadi terpaksa aku harus menjual mu. Hahaha..." Raut wajah Gao langsung berubah dari marah langsung tertawa.
Alexsa sangat takut melihat wajah pria itu, apalagi di sekelilingnya ada 10 orang pria dengan tampang sangar memperhatikan nya.
"Cepat, siap kan mobil. Kita lanjutkan perjalan!" Gao langsung menyuruh bawahan nya menyiapkan mobil.
Alexsa tau kalau dia akan pergi lebih jauh jadi dia melepaskan cincin perak di jari telunjuk nya.
"Ikut aku sayang!" Gao langsung menggendong Alexsa seperti menggendong karung beras.
"Tidak.. lepaskan! Jangan bawa saya!" Alexsa terus memberontak tapi Gao tidak menghiraukan nya, dia langsung membanting Alexsa ke dalam mobil dan melaju meninggalkan gudang tua.
___dirumah ahn___
Ahn dengan mata merah menatap kosong ke arah lemari, pak Zhang datang dan memanggilnya dari luar namun tak ada jawaban jadi dia langsung masuk kekamar Ahn.
"Ahn! Kau mendengar ku! Ahn, kau dimana!" Pak zhang berteriak di setiap pintu kamar atas.
Pak Zhang melihat Ahn duduk di lantai dan sebotol anggur besar di tangannya.
"Apa ini! Ahn jangan jadi lemah, kau ini kenapa selalu mudah sekali terjatuh dalam kegelapan!" Pak Zhang mengguncang tubuh A
Ahn Lang lemah.
"Aku bersalah ayah, aku meninggalkan nya." Ahn berlinang air mata menatap pak Zhang.
"Aku tau, ingat lah Alexsa menunggu mu. Kau juga punya kai, jangan sampai dia melihatmu seperti ini. Bagaimana bisa kai melihat tiang yang membuat nya kuat sekarang retak, pikirkan bagaimana kai nanti."
Ahn mengangkat kepalanya, "ayah, kai dimana? Apa kau meninggalkan nya?" Ahn langsung melihat ke luar pintu kamar.
"Iya, aku meninggalkan nya di Hera, jangan takut dia aman disana."
"A-ayah, jangan tinggalkan dia. Bagaimana jika sesuatu terjadi." Ahn segera berdiri.
"Tidak akan terjadi apapun, tenangkan dirimu dulu. Kita akan mencari Alexsa."
"Tapi kemana!? Kemana aku harus mencarinya ayah!?" Ahn sangat mudah marah saat seperti ini.
"Kita akan cari di kantor polisi dulu, siapa tahu ada cctv polis yang merekam mobilnya."
Ahn langsung mengangguk dan merapikan dirinya. Ia juga mencuci muka dan mandi karena aroma alkohol dari mulutnya sangat kuat.
Setelah bersiap, Ahn dan ayah nya pergi ke kantor polisi untuk mencari info mengenai mobil yang masuk ke pekarangan rumahnya.
Dan memang di temukan beberapa mobil memasuki jalan ke rumah Ahn namun yang paling mencurigakan adalah sebuah mobil hitam dengan bercak darah di gagang pintu belakangnya.
__ADS_1
Diketahui mobil itu melaju ke luar kota saat malam hari, jadi Ahn dan pak Zhang langsung saja mengikuti mobil itu.