
Ia juga mengganti pakaian yang di robek Gao, di bukanya lemari kayu tempat baju-baju Gao tersimpan.
Awalnya Alexsa ragu, karena takut memakai kemeja pendek lagi. Namun setelah di buka, di lemari itu ada banyak pakaian wanita namun semua nya di atas lutut dan bahu nya terbuka.
"Dia sebenarnya kenapa? Apa dia jahat atau baik? Aku tidak mengerti dengan pikiran orang ini." Alexsa mengambil sebuah pakaian berwarna putih dengan sekat di pinggang nya, namun pakaian itu tetaplah dress yang terlalu terbuka.
Alexsa merapikan dirinya dan melihat ke cermin. 'apa yang sudah aku lakukan sehingga aku harus masuk ke situasi ini?' Alexsa diam di depan cermin untuk beberapa saat.
Siang ini sudah pukul 3, seperti yang di perintahkan Gao. Para bawahan langsung masuk ke kamar dengan mendobrak pintu.
"Nona, tolong buka pintunya atau kami akan hancurkan." Suara seorang penjaga meneriaki dari luar.
"Tidak, aku tidak akan membuka nya. Kalian hanya akan mencelakai ku!" Alexsa berdiri di belakang pintu.
"Tuan Gao memberikan kami izin jika nona tidak mau membuka pintu maka kami terpaksa harus mendobrak pintu dan menyeret anda keluar!"
'apa? Dia akan semakin kejam.' Alexsa segera membuka kunci pintu.
"Ada apa? Kenapa harus dengan kekerasan." Alexsa membuka pintu dan melihat kehadiran 4 orang penjaga.
"Ikut kami!" Seorang penjaga langsung menarik tangan Alexsa.
"Ada apa ini, lepaskan. Saya bisa jalan sendiri!" Alexsa memukul tangan penjaga itu.
"Tuan Gao menyuruh kita harus cepat! Tuan sudah menunggu anda dari tadi." Penjaga itu tetap menarik Alexsa.
Mereka keluar dari lantai atas menuruni tangga, ternyata ada ruangan di belakang ruang perpustakaan Gao. Pintu nya pun tersamarkan dengan lemari buku.
Alexsa masih di tarik, karena kesal Alexsa menggigit tangan penjaga itu hingga berdarah namun penjaga itu sama sekali tak bergeming.
"Ini wanita mu tuan." Mereka menghadap Gao yang sedang berbaring di sebuah kasur.
Gao duduk dan menuang anggur ke dalam w buah gelas.
"Kau sudah bersiap ya? Lepaskan dia." Gao masih bersuara lembut menyuruh penjaga itu.
__ADS_1
Penjaga langsung melepaskan cengkraman tangan nya pada Alexsa. Tanpa di sengaja Gao melihat tangan penjaga itu berdarah.
"Kenapa kau berbuat kasar! Kalau kau mau aku menemui mu katakan saja kenapa harus memerintahkan orang untuk menarik ku!" Alexsa kesal berjalan mendekati Gao.
"Kau marah lagi? Aku yang menyuruh pria itu membawa mu kenapa kau malah melukai nya. Lihat di tangannya ada bekas darah." Gao memeluk Alexsa dan menyuruh Alexsa dengan lembut menatap tangan penjaga itu.
"Kau melukai nya, kau harus membayar." Gao menyibak rambut Alexsa yang menutupi lehernya.
"Apa, kenapa aku yang harus membayar. Dia yang terlalu kasar pada ku." Alexsa menjauhkan dirinya dari pangkuan Gao.
"Kau masih mau melawan ya, aku dengar dia juga belum pernah 'mencicipi' stroberi manis sebelumnya." Gao menghampiri gelas anggurnya.
Alexsa ketakutan mendengar itu, dia tahu maksud Gao. Dia gemetar menatap penjaga yang terlihat marah itu.
"Sekarang aku izinkan kau melakukan apapun kepadanya selama 10 menit." Gao duduk di sofa dengan mengangkat salah satu kakinya.
"Terimakasih tuan." Penjaga itu langsung menghampiri Alexsa dan memeluk nya dengan paksa.
"Tidak.. lepaskan aku! Tuan anda tidak bisa sekejam ini!" Yura berlari menjauhi penjaga itu.
"Lakukan sesuka mu, aku tidak akan melarang apapun yang kau lakukan." Gao dengan santai menuangkan anggur lagi ke gelasnya.
3 menit pertama penjaga itu baru berhasil menangkap Alexsa, ia langsung saja menggendong tubuh Alexsa ke atas kasur yang di tiduri Gao tadi.
"Lepas kan..! Tolong lepaskan, jangan siksa aku!" Alexsa memberontak dari pangkuan penjaga itu.
"Tidak.. tidak tuan jangan sentuh aku! Jangan..!" Alexsa menendang penjaga itu.
Menit ke 8, penjaga itu menindih tubuh Alexsa dan mencium leher Alexsa secara paksa.
Alexsa terus memberontak dengan kedua tangan nya.
"Aaahaa... Jangan! Jangan, tolong lepaskan aku.. haaa..." Suara Alexsa sambil menangis terdengar keras di ruangan itu.
"Waktu mu tinggal 1 menit lagi." Alexsa dengan santai meminum anggur di tangannya.
Penjaga itu memang tidak sampai me\*ye\*ub\*h\* Yura namun tangannya yang sudah menyentuh dada Alexsa beberapa kali serta tindakannya yang brutal membuat Alexsa histeris.
"10,9,8,7,6,..." Gao menghitung mundur waktu penjaga itu.
Alexsa terus menangis agar waktu ini cepat berlalu. "Ahaaa.. haaa..!" Suara tangisan Alexsa yang memilukan terdengar sampai keluar ruangan itu.
"3,2,1. Lepaskan dia, jika kau masih menyentuh nya aku akan langsung menembak mu di sini." Gao mengarahkan senapan ke arah penjaga itu.
Penjaga itu dengan patuh menuruti Gao, barusan ia berusaha mengangkat rok Alexsa namun karena waktu sudah habis dia tak jadi melakukan nya.
__ADS_1
"Jauhi dia!" Gao mendekati Alexsa yang menangis di atas kasur.
"Bagaimana? Masih mau melawan ku?" Gao duduk di pinggir kasur dan mengelus kaki Alexsa.
"Tidaak, jangan sentuh aku lagi! Kalian semua iblis, lebih baik aku mati daripada harus tinggal disini!" Alexsa menggeser dirinya ke arah meja dengan segelas anggur.
"Mati? Kamu saja takut dengan kematian bagaimana bisa kau menjemput kematian itu?" Gao tersenyum sinis menikah Alexsa yang acak-acakan.
"Aku tidak berbohong, aku akan bunuh diri disini." Alexsa langsung memecahkan gelas berisi anggur dan mengarahkan gelas itu langsung ke lehernya.
Gao tercengang dengan keberanian Alexsa"kau serius? Silahkan saja." Gao masih bersikap tidak peduli.
Namun pada saat Alexsa akan menggoreskan kaca itu ke lehernya tangan Gao langsung menghentikan pecahan kaca itu.
Tangan Gao memegang menggenggam pecahan gelas dan menarik nya dari tangan Alexsa.
"Kau tidak bisa, kau uang bagi ku!" Gao menggenggam erat pecahan gelas itu dan menyebab kan tetesan darah keluar dari genggaman itu.
"Jangan mengancam kau! Jangan mengulangi tindakan tadi!" Gao melempar pecahan kaca ke lantai dan pecahan kaca itu hancur berkeping-keping.
"Aku sangat tersiksa! Kau sangat biadab tidak kah kau memikirkan bagaimana perasaan ku! Kau.. kau sangat jahat, dasar binatang!" Alexsa mendorong Gao sekuat tenaga dan mengungkap kan kebenciannya.
"Terserah kau akan mengatakan aku apa, tapi aku tidak akan berhenti menyiksa mu jika kau tidak mau patuh atas kata-kata ku. Bersihkan dirimu aku tidak ingin seorang wanita kotor ada di rumah ku!" Gao berbalik dan memutar gelas anggur di tangan kirinya.
"Ahaaaa...! Aku ingin pulang, Ahn tolong jemput aku!" Alexsa menangis dan memanggil nama Ahn.
"Kau mencoba mengadu ya? Dasar ja**ng, cepat bersihkan dirimu. Aku jijik melihat mu!" Gao meninggalkan Alexsa yang masih menangis di atas kasur di ruangan itu.
Gao keluar dari ruangan itu namun tak menutup pintunya kembali, sebelum keluar dari ruang baca Gao berbalik dan kembali menggoda Alexsa.
"Kau menunggu apa? Apa mau mereka masuk juga, mereka semua lapar disini." Gao tersenyum aneh melihat Alexsa.
Alexsa tak mau kejadian itu Ter ulang, dia langsung bangkit dan menutupi seluruh tubuhnya dengan seprei putih kasur itu.
Alexsa langsung berlari keluar mengikuti Gao, para penjaga melihatnya dengan senyuman tipis. Alexsa sangat ketakutan dia tak berani berhenti dan langsung berlari menaiki tangga.
"Wanita itu jangan ada yang menyentuhnya tanpa izin ku!" Gao menatap semua bawahannya saat keluar dari ruang baca.
"Kau(menunjuk bawahan yang bermain dengan Yura tadi) Tindakan mu sangat berlebihan." Tamparan Gao langsung mendarat di wajah pengawal tadi.
"Maaf, maafkan saya tuan." Bawahan itu langsung berlutut di kaki Gao.
__ADS_1
"Berani sekali kau menyentuh tubuh nya dengan tangan kotor mu! Dia itu seperti seorang Dewi yang suci, dan tindakan mu seperti se ekor anj**g liar!" Gao dengan marah menendang bawahan nya itu.
"Maafkan saya tuan, saya tidak akan menyentuhnya lagi seumur hidup saya tanpa izin tuan. Tolong maafkan saya." Pria itu sepertinya sangat ingin selalu bekerja dengan Gao, bahkan walaupun Gao sudah menendang dan menampar nya.