Kamu Milik Ku

Kamu Milik Ku
Bab 63 KMK


__ADS_3

Gao berbalik dan mengisyaratkan tangan nya untuk menyuruh semua bawahan itu kembali ke pekerjaan masing-masing.



Gao berjalan menaiki tangga dan membuka pintu kamar.


Terlihat Alexsa sudah berbaring membelakangi pintu namun suara Isak tangis masih terdengar.


"Apa kau sudah tidur?" Gao mendekat melihat Alexsa.


Alexsa sudah tertidur, namun Gao terlihat menyesal atas tindakannya. Bagaimana bisa ia membiarkan Alexsa di sentuh pria lain. Gao melihat wajah Alexsa yang tidur dalam ketakutan, Gao menjadi tidak enak. Dia keluar dari kamar dan menutup pintu.


"Aku pikir aku sudah keterlaluan padanya, aku harus meminta maaf." Gao keluar dari kamar dan berjalan ke balkon rumah.


Dari atas di lihatnya sekeliling rumah, hanya ada rumput dan para penjaga tanpa ada interaksi lain.


"HM.. suasana di sini terlalu hening. Aku akan membawanya ke suatu tempat nanti." Gao duduk di sebuah kursi kayu.


Tiba-tiba ada sebuah kenangan terlintas saat Gao termenung, ia ingat bagaimana di usir oleh seorang pria dengan paksa, seorang wanita paruh baya yang memeluk nya, dan seorang anak laki-laki yang diam di depan pintu. Ingatan itu terlintas begitu saja, dan membuat Gao hampir menangis.


'apa ini, aku tidak bisa memikirkannya sekarang. Itu semua bukan urusan ku lagi.' Gao memejamkan matanya berusaha melupakan semua kenangan itu.


Tidak ada yang tahu tentang masa lalu Gao, hanya dia sendiri yang memendamnya. Walaupun semua kenangan di tulis dalam sebuah buku keturunan, namun ia tak pernah membuka dan melihatnya sedikitpun.



20 menit Gao tertidur di bawah cahaya matahari jingga sore itu, Gao melihat sekeliling hanya keheningan membisu seperti biasanya.



Gao turun dan kembali ke dalam rumah, saat kembali ke dalam. Gao melihat Alexsa baru kembali dari kamar mandi di bawah tangga, Alexsa mengelap rambutnya dan pakaian nya juga sudah di ganti dengan kaos biru muda di tambah celana hitam se lutut.



Mereka saling melihat beberapa detik namun hanya diam, Alexsa masih marah pada Gao sedangkan Gao merasa bersalah.


Alexsa berjalan ke kamar dan tidak menghiraukan Gao yang berdiri di hadapannya.


"Alexsa." Gao memanggil dari luar kamar.


Alexsa tak menoleh, ia hanya merapikan kaar dan berdiri di depan cermin menyisir rambutnya.


"Begini, maafkan aku. Aku tidak bermaksud menindas mu begitu, tapi.. kau tahu kan? Aku sangat tidak suka dengan penolakan. Jadi.. tolong maafkan aku" nada suara gau sangat lembut dan tulus. Apakah dia serius?


"Kau pikir maaf akan cukup? Aku bahkan tak bisa melihat kata 'tidak bermaksud' mu itu terletak dimana. Setelah kau menyuruh bawahan mu menyentuh ku! Itu sangat tak bisa di maafkan!" Alexsa tak melihat ke arah Gao namun dia dengan suara marah tetap menyisir rambutnya.


"Kau tahu, aku bukan pria sejahat yang kau pikirkan. Aku adalah seorang yang lembut, namun keadaan yang memaksa ku harus berbuat kasar."


"Aku tidak peduli. Mau kau adalah seorang yang lembut atau penyayang aku sudah tidak peduli, aku hanya bisa melihat sisi binatang mu."


"Baiklah, jika kau masih marah. Sebenarnya aku ingin mengajak mu keluar villa ini. Tapi karena masih marah ya sudah tidak jadi." Gao berbalik dan ingin meninggalkan kamar itu.


Alexsa diam sejenak 'keluar dari villa? Mungkin Aku akan ada kesempatan menelepon Ahn saat di perjalanan.' Alexsa langsung berlari menghampiri Gao.


"Kau bilang akan keluar villa kan? Apa masih mau mengajakku? Aku.. aku bosan." Alexsa menatap Gao ragu-ragu.


"Kau ingin ikut? Sebaiknya jangan kenakan pakaian seperti ini. Aku sudah suruh seseorang membawakan pakaian untuk mu, itu ada di ruang depan ambil dan pakai jika tetap ingin keluar villa." Gao tersenyum lalu meninggalkan Alexsa.


Setelah Gao pergi, segera Alexsa mengambil pakaian yang di katakan Gao. Di bawanya kembali ke kamar dan memakai nya.


"Ini cukup bagus, namun tetap saja terlalu terbuka. Aku rasa jubah kulit ini akan menutupinya." Alexsa mengambil jaket Gao dan mengenakannya.


Beberapa menit kemudia, Gao mendatangi Alexsa lagi. Pakaian Gao sangat formal dan resmi. Di juga terlihat rapi dan memakai dasi.


"Memangnya kita akan kemana?" Alexsa menghampiri Gao di depan pintu.

__ADS_1


"Hanya ketempat ku bekerja, apa kau sudah siap?" Gao memperhatikan Alexsa dengan jaket kulit panjang di badannya.


"Aku rasa pakaian ini terlalu terbuka, bisakah aku tetap memakai jaket ini?"


"Tentu, kau bisa memakai apapun yang kau mau. Kita akan pergi sekarang?" Gao kembali bertanya.


Alexsa mengangguk dan Pertaman kali setelah 5 hari di sini aku baru kali ini akan melihat apa yang ada di luar pagar 3 meter ini.


"Siapkan mobil! Aku akan membawanya ke luar." Gao memberi isyarat pada penjaga di bawah tangga.


Beberapa menit kemudia Alexsa dan Gao turun dari kamar, Alexsa sudah mengenakan pakaian yang panjang namun pakaian itu tetap terbuka di bagian kaki dan pundak nya, untuk menutupi itu Gao memakaikan Alexsa mantel bulu berwarna putih.



Mereka berjalan keluar berdua, dan Alexsa melihat halaman depan rumah itu.


'Apa akan ada kesempatan kabur dari nya? Aku sudah tak kuat tinggal dengan monster ini.' Alexsa memperhatikan pintu mobil yang terbuka.


Mereka masuk ke dalam mobil dan mobil melaju.


"Apa para bawahan mu ikut?" Alexsa melihat kebelakang dan melihat 2 buah mobil hitam mengikuti.


"Iya, semua untuk keamanan mu." Gao mengelus kepala Alexsa.


"bukankah aku sudah aman jika bersama mu?" Alexsa bersikap seolah dia memihak pada Gao.


"Ahaha.. kau benar, tapi kelinci nakal seperti mu bisa pergi kapan saja." Ternyata Gao mengetahui rencana Alexsa.


Alexsa langsung tersenyum masam dengan ucapan Gao.



Beberapa menit melaju, mobil ini bahkan belum keluar ke jalan raya hanya ada hutan di sana.



"Tuan, kita akan kemana?"


"Tempat yang belum pernah kau lihat."


Sudah 1 jam dan sampai lah mereka pada sebuah bangunan memanjang.


"Ayo kita masuk ke dalam." Gao membimbing tangan Alexsa memasuki bangunan itu.


Di dalam terlihat sangat gemerlap, apalagi ini adalah malam.


"Kita akan melakukan apa tuan? Tempat ini berbau seperti alkohol." Alexsa mendekat ke arah Gao karena banyak sekali pria dan wanita mabuk lalu lalang.


"Kita hanya akan melihat-lihat Dan perlu kau ketahui tempat ini adalah rumah bordil." Gao berbisik pada Alexsa karena suara musik di sini cukup keras.


"Apa? Apa akan ada prostitusi disini?" Alexsa melihat para wanita dengan pakaian terbuka.


"Tentu saja, para wanita disini menjual diri mereka. Apa kau ingin melihat ke dalam." Gao terus berjalan ke depan dan semakin banyak terlihat pria dan wanita dengan ke adaan mabuk.


Gao membawa Alexsa ke sebuah bangku bundar di pinggir kelompok manusia yang sedang dimabuk minuman dan musik yang keras.


"Tuan, tempat ini terlalu berisik!" Alexsa berbicara agak keras pada Gao karena suaranya tak akan bisa di dengar jika pelan.


"Apa? Kau mengatakan apa! Mendekatkan kesisiku!" Gao menarik lengan Alexsa dan tubuh mereka sangat dekat.


" tempat ini sangat berisik! Bisakah kita pindah?!" Alexsa mendekatkan mulut nya ke telinga Gao.


"Tidak, musik nya akan menurun seiring kau terbiasa di sini." Gao hanya menganggap itu sebuah hal biasa.


Beberapa menit berselang, datang seorang pengusaha muda dengan wajah yang sangat rupawan, di bawah kelap-kelip lampu pria itu terlihat sangat berkharisma.

__ADS_1


"Tuan, apa wanita ini dijual?" Pria itu duduk di samping Alexsa.


"Tidak, dia wanita ku. Jangan mendekat!" Gao menarik Alexsa lebih dekat dengannya.


"Wanita tuan? Bisa aku coba sedikit bagaimana rasanya!" Pria itu memaksa ingin mencium Alexsa.


"Apa kau sudah tidak bisa mendengar! Jangan menyentuh nya! Dia wanita ku, pilih saja wanita yang lain!" Gao mendorong pria itu agar menjauhi Alexsa.


"Tenang sayang, aku tak akan membiarkan orang-orang ini menyentuh mu!" Gao memeluk kepala Alexsa ke pangkuan nya.


Alexsa hanya terdiam, dia hanya bisa percaya dengan ucapan Gao sekarang.



Pria itu merasa tersinggung dan memutuskan meninggalkan mereka.


"Apa kau haus? Minumlah dulu!" Gao menuangkan segelas wine ke gelas hadapan Alexsa.


"Tidak, aku tidak minum itu." Alexsa menolak pemberian Gao.


Gao memaksa dan mengangkat gelas itu agar Alexsa segera meminumnya. "Cobalah, cobalah sedikit tidak apa!" Gao memaksa Alexsa meminum nya.


Penolakan itu tidak berguna, dan Alexsa


terpaksa meminum segelas anggur itu.


Hueek..


Alexsa menahan mulutnya agar tidak muntah, "jangan dimuntahkan sayang, harga nya sangat mahal." Gao mengusap punggung Alexsa beberapa kali.


Malam Sudah semakin larut, Alexsa sudah tidak sadar dan terlarut di bawah alkohol. Gao juga sudah minum cukup banyak hingga dia juga sudah mulai merasa tidak sadar.


Sebelum kehilangan kesadaran sepenuhnya, Gao menggendong Alexsa keluar dari bangunan itu dan segera masuk ke mobil.


"Cepat bawa kami kembali ke villa!" Gao setengah sadar memberi perintah.


Di dalam perjalanan pulang, Alexsa secara tidak sadar terus saja mengelus perut Gao yang terasa seperti batuan bersusun yang keras.


"Alexsa, jaga tangan mu! Jangan berlebihan!" Gao memperingatkan Alexsa yang memejamkan mata dan bersandar di bahunya.


"Huuh.. kau pemarah sekali, aku hanya ingin menyentuh nya." Alexsa dalam ke adaan mabuk dan semua itu tidak di sadari olehnya.


"Apa minuman tadi terlalu kuat? Dia hanya minum 5 gelas tadi, apa efeknya akan separah ini." Gao membuang tangan Alexsa yang mengelus perutnya.


"Hmmm.. aku ingin segera tidur.." Alexsa menggeser tubuhnya dan meletakan kepalanya di paha Gao, tindakan itu sangat membuat Gao terkejut.


"Hei..! Kenapa kau seperti ini! Arghh.. wanita ini sangat menyusahkan!" Gao terlihat kesal namun dia tetap mengelus kepala Alexsa.


Akhirnya mereka sampai ke villa dan Gao juga sudah sangat kehilangan kesadaran nya.


"Tuan, kita sudah sampai apa mau aku bantu membawa wanita itu?" Seorang penjaga membuka kan pintu untuk Gao.


"Tidak.. tidak..! Kau jangan sekali-kali menyentuh nya. Aku masih bisa membawanya ke atas, minggirlah!" Gao mendorong penjaga itu dari hadapannya.


Sekuat tenaga Gao berusaha keluar dari pengaruh alkohol itu, ia menggendong Alexsa memasuki villa dan berjalan menaiki tangga. Tubuh Gao sempoyongan namun ia tetap bisa membawa Alexsa ke dalam kamar.



Sampai di kamar Gao langsung meletakan Alexsa di atas kasur, ia sendiri juga sudah tidak bisa melihat dengan jelas karena pengaruh alkohol. Gao mengunci pintu kamar dan melepaskan sepatunya, ia melihat Alexsa tertidur dan pemandangan itu membuat Gao sangat tertarik pada Alexsa.


"Cih, kenapa aku harus tertarik dengan bekas Ahn? Hanya wanita biasa, sangat tidak menarik." Gao melempar jas dan sabuk pinggangnya. Ia berjalan mendekati Alexsa.


Gao melepaskan mantel bulu yang menutupi bahu Alexsa tidak ada perlawanan dari Alexsa karena memang Alexsa sudah seperti orang yang di bius dan tak tahu apa yang terjadi dengan dirinya.


"Sangat memalukan! Kenapa aku tertarik padanya?" Gao menatap wajah Alexsa yang memerah karena efek alkohol.

__ADS_1


Lama menatap Alexsa, Gao memiliki hasrat untuk bermain dengan Alexsa, tanpa sadar Gao dan Alexsa telah melakukan hubungan itu dan mereka baru tertidur setelah selesai di jam 3 pagi.


__ADS_2