Kamu Milik Ku

Kamu Milik Ku
Bab 61 KMK


__ADS_3

Gao menaruh Alexsa di atas tempat tidurnya.


"Silahkan keringkan dirimu, aku akan bawa gaun merah muda itu ke atas." Gao berbalik dan keluar dari kamar.


"Apa-apaan dia, Halen bilang kalau dia sangat kejam. Lalu apa ini? Aku bahkan ragu kalau aku sedang di culik." Alexsa meraih handuk di atas kursi.


Handuk itu masih agak basah, mungkin karena Gao menggunakan nya tadi.


Alexsa sedang mengelap tubuh nya dengan handuk, lalu tiba-tiba Gao masuk ke kamar tanpa mengetuk.


"Ini pakaian mu." Gao menatap Alexsa yang sedang mengapa tubuhnya dengan handuk.


"Aaa!! Kau ini kenapa tidak sopan, ketuk pintu dulu baru masuk! Cepat berbalik!" Alexsa sangat malu dan menutup dirinya dengan handuk.


"Kenapa aku harus mengetuk, kau lupa? Ini kamar ku. Lagi pula aku tidak tertarik dengan wanita bekas seperti mu." Gao dengan dingin tetap melangkah ke kamar dan tak menghiraukan Alexsa yang gemetar di sudut pintu.


"Kalau sudah selesai turunlah, aku tidak suka menunggu." Gao kembali menutup pintu kamar.


"Aaagh, dasar bajingan itu. Dia bersikap manis beberapa menit yang lalu dan sekarang bersikap dingin padaku. Maksud nya apa mengatakan aku wanita bekas? Ahn saja belum pernah menyentuh ku!" Alexsa kesal membanting handuk nya ke lantai.


15 menit kemudian, Alexsa


turun dan menuju meja makan. Terlihat di sana semua bawahan Gao yang ada di villa itu berada di ruang makan. Suasana yang sangat menegangkan, semuanya memakai pakaian hitam hanya Alexsa dengan gaun merah muda yang ceria.


"Kemari, aku sudah menunggu mu." Gao melayangkan pandangan tajam pada Alexsa yang masih memegang ujung pegangan tangga.


Alexsa menghampiri Gao, di meja makan yang panjang dengan jumlah kursi 12 buah, ini terlalu banyak jika hanya di gunakan oleh Gao seorang. Namun dengan jumlah bawahan sebanyak ini, tidak heran jika Gao mau berbagi kursinya.


"Duduk lah dimana pun kau suka, makanan akan segera di hidangkan." Gao tetap dengan wajah dingin menatap Alexsa.


Tak ingin mengambil resiko, Alexsa duduk di barisan paling jauh dari Gao. Gao masih memperhatikan Alexsa dengan tatapan dingin.


"Bawakan makanannya!" Suara lantang Gao memenuhi ruangan.


7 orang koki yang semuanya laki-laki membawa banyak hidangan tanpa berhenti, bahkan meja yang sepanjang 10 meter dengan lebar 2 meter itu hampir penuh.


Setelah semua makanan terhidang Gao mulai memakan sepotong daging steak di depannya.


'apa ini? Semua ini terlalu banyak, apa dia akan menghabiskan semua nya?' Alexsa menatap aneh pada Gao yang makan dengan tenang.


"Kenapa menatap ku, habiskan!" Gao kembali memotong sepotong ayam di hadapannya.


'Aku serasa ingin muntah, makanan ini terlalu berlebihan untuk makan siang. Ini seperti jamuan besar.' Alexsa dengan ragu mengambil sebuah kue kering dan menuang segelas susu ke cangkirnya.


Baru memakan beberapa kue, Alexsa berkata kalau dia sudah kenyang.


"Aku sudah kenyang, apa aku bisa pergi?" Alexsa mengusap mulut nya dengan tissue.


Gao yang meminum segelas wine menatap Alexsa.


"Apa? Kau bilang sudah kenyang?" Gao langsung berdiri dan menghampiri Alexsa.


"Kau bahkan tak menyentuh daging di hadapan mu, makan itu juga batu boleh selesai." Gao menghampirkan sepiring besar ikan panggang ke hadapan Alexsa.

__ADS_1


"Tidak tuan, aku benar-benar sudah kenyang." Alexsa menolak permintaan Gao.


"Kau menolak ku rupanya, aku tidak ingin memakai kekerasan jadi tolong makanlah!" Gao mendekatkan wajah nya pada Alexsa.?


"Tapi aku sudah kenyang, aku tidak ingin makan lagi." Alexsa menggelengkan kepalanya tetap menolak.


Tiba-tiba Gao langsung marah dan mengambil sepotong besar ikan langsung memasukan nya ke mulut Alexsa dengan paksa.


"Aku bilang makan! Aku tidak suka penolakan!" Gao sangat kasar sehingga membuat wajah Alexsa kotor dengan daging ikan itu.


"Lepaskan, baiklah saya akan makan. Menjauh dari saya!" Alexsa menolak dan tak sengaja menendang Gao.


Tindakan itu kembali membuat Gao marah, dalam kemarahan Gao menarik pakaian Alexsa di bawah ketiak sebelah kanan dengan kuat hingga pakaian itu robek.


Alexsa terkejut, dia tidak menggunakan dalaman di dadanya karena itu sudah kotor jadi Yura melepas nya untuk di cuci. Sedangkan gaun merah muda itu memperlihatkan seluruh bahunya.


Robekan itu cukup besar da tak dapat di tutupi dengan tangan, Alexsa panik dan menghilangkan tangan nya di dada.


"Ah tuan, kenapa melakukan ini!" Alexsa menatap Gao dengan marah.


"Sudah berapa kali aku katakan, jangan menolak ku. Aku tidak suka penolakan, sudah aku katakan bukan jika kau semakin melawan dengan ku maka cepat atau lambat semua benang yang menutupi tubuhmu akan aku hancurkan perlahan." Gao menarik kursi Alexsa mendekatinya.


"Tapi.. tapi aku.." Alexsa tak bisa berkata-kata melihat wajah mengerikan itu.


"Makan, atau kau yang akan di makan!" Bisikan Gao membuat merinding, Alexsa melihat semua pria tinggi di sekelilingnya di mengerti maksud Gao dengan 'dimakan'.


"Baik.. baik saya akan makan lagi." Alexsa segera mengambil ikan dengan sendok di tangan kanan nya sementara tangan kirinya masih menutupi bekas robekan di baju nya walaupun itu tetap memperlihat kan kulit perut Alexsa.


"Tuan aku sudah memakan nya, apa aku boleh pergi?"


"Apa benar-benar sudah tidak ada ruang di perut mu?"Gao memperhatikan perut Alexsa yang bergerak karena bernafas.


"Iya, tentu saja. Bahkan sekarang saya merasa ingin muntah." Alexsa menutupi mulut nya agar tidak muntah di hadapan Gao.


"Baiklah, silahkan berdiri." Gao memegang tangan kanan Alexsa yang dan menggandengnya ke tangga.


"Semua nya, kalian bisa makan!" Gao mengangkat tangan kirinya mengisyaratkan kalau para bawahan nya bisa makan, benar saja mereka langsung menyerbu makanan n


Alexsa tersisa di atas meja.


Alexsa terkejut dengan kejadian, para bawahan yang berdiri tegap seperti tak punya kelemahan langsung berubah seperti binatang kelaparan, bahkan mereka tak menggunakan sendok saat makan.


"Abaikan saja, mereka memang begitu. Jadi kau mengerti kan, apa maksud ku dengan kata 'mereka lapar' ?" Gao melihat Alexsa yang masih terpaku melihat mereka makan.


"Iya." Alexsa hanya mengangguk sedikit.


Gao menyuruh Alexsa mengganti pakaian nya, dengan syarat harus memperlihatkan pundak dan lengan atasnya. Tak ada pilihan lain Alexsa menuruti Gao.


Setelah berganti pakaian Gao menarik tangan Alexsa dan mengajak nya ke ruang baca. Sampai di ruangan itu, banyak sekali buku yang tak terhitung jumlah nya.


"Apa tuan suka membaca?" Alexsa memperhatikan sekeliling.


"Tentu, kau bisa melihat apapun yang kau suka." Gao melepaskan tangan Alexsa.

__ADS_1


Alexsa menghampiri sebuah buku yang di lihat nya sejak awal memasuki ruangan ini. Gao duduk di kursi kulit dan mengambil sebuah buku secara acak.


Gao menarik buku besar berwarna hijau di hadapannya, di buka nya lembaran demi lembaran. Terdapat tulisan tangan dengan bahasa aksara di dalamnya.


Alexsa mengerti buku ini sedikit karena dia suka membaca tulisan aksara lama.


Dia terdiam saat beberapa tinta pudar menuliskan nama Lian Zhang-huang.


'apa ini, kenapa tertulis nama pak Zhang?' Alexsa membalik Lembata tua itu. Banyak sekali tinta yang sudah memudar dan tak bisa di baca.


Gao memperhatikan Alexsa yang dengan serius menatap buku itu. "Ada apa? Kau mengerti yang tertulis di dalam nya?"


"Aku.. aku bahkan tidak mengerti huruf nya." Alexsa berbohong pada Gao.


"Itu hanya buku silsilah keluarga ku, buku itu berisi 4 keturunan. Dan mungkin aku yang ke 4 di sana.' Gao tidak peduli tetap melanjutkan bacaan nya.


'benarkah Gao adalah yang ke empat? Ada nama pak Zhang di buku ini, apa sangkutan nya?' Alexsa terus membalik lembaran buku yang tidak memiliki tulisan dengan jelas lagi.


Alexsa meletakan kembali buku itu dan mengambil buku lain, banyak sekali di dalam perpustakaan pribadi Gao buku tua, tahun terbitnya bahkan lebih tua dari umur Alexsa.


Beberapa jam di sana, suasana hening membuat Alexsa tersadar. Dia melihat Gao dan ternyata pria itu tertidur dengan wajah yang di tutupi buku.


Alexsa memperhatikan Gao beberapa menit, kemudian di berpikir untuk kabur dari ruangan itu. Alexsa berdiri perlahan dan berjalan ke arah pintu diam-diam.


Saat membuka gagang pintu suara Gao mengagetkan nya "mau kemana sayang?"


"A-aku.. aku ingin ke toilet." Alexsa membeku beberapa saat dan langsung berlari keluar dari ruangan itu.


Gao mengambil sebuah headset kecil dari balik jas nya. "Awasi wanita itu, jangan sampai keluar dari pagar." Gao memberi isyarat pada penjaga di luar rumah.


Alexsa melihat sekeliling rumah, tidak ada tanda-tanda penjaga. Alexsa langsung berlari ke pintu utama, baru membuka pintu sedikit ia melihat beberapa penjaga sedang berjaga di pintu utama. Alexsa menutup pintu dan berpikir sejenak, ia memutuskan akan melewati pintu belakang.


Alexsa berjalan dengan cepat dan memperhatikan sekitar pintu belakang tidak ada penjaga, ia membuka pintu sedikit dan mengamati tidak ada penjaga di sana. Alexsa langsung keluar dan menutup pintu perlahan.


"Ya, aku akan kabur dari neraka ini." Alexsa melihat ke kiri dan kanan tak ada siapapun jadi dia memutuskan untuk memanjat pagar pembatas setinggi 3 meter itu.


Alexsa menumpuk beberapa batu dan berusaha meraih puncak dari pagar itu.


"Iya, sedikit lagi. Aku harus bisa." Dengan susah payah kedua tangan Yura menggenggam puncak pagar.


Saat akan mengangkat tubuhnya ke atas, tiba-tiba dua tangan besar menyentuh pinggangnya dan mengangkat tubuh nya. Membuat genggaman Alexsa pada puncak pagar terlepas.


"Eh, siapa ?" Alexsa melihat ke bawah, seorang pengawal dengan tubuh besar tinggi mengangkat nya dengan sangat mudah.


"Kau ingin kabur nona cantik, jangan berpikir semudah itu." Pria tinggi itu langsung membalik badan Alexsa seperti mengangkat karung beras.


Badan pria itu tinggi besar, sedangkan tubuh Alexsa yang hanya 163 cm bukanlah hal yang sulit baginya. Alexsa memberontak dan memukul punggung pria itu.


Tak ada respon darinya, namun setelah beberapa saat pukulan itu mulai terasa sakit. Penjaga itu melakukan sebuah tindakan yang membuat Alexsa langsung terdiam.


Penjaga itu dengan sengaja menepuk pinggul Alexsa dan mengelus nya beberapa kali, "apa kau memang berbau seperti stroberi yang matang? Aku belum pernah 'mencicipi' stroberi sebelumnya"


'a-apa? Dia tidak sedang menghina ku kan?' jantung Alexsa langsung berdetak cepat mendengar perkataan penjaga itu.

__ADS_1


__ADS_2