KAU GADAIKAN DIRIKU

KAU GADAIKAN DIRIKU
12. Pindah


__ADS_3

"Ini rumah baru kita kak?" tanya Deva, saat mereka tiba di salah satu rumah mewah dikawasan elite.


Pagar rumah itu tinggi menjulang. Diperkirakan hampir mencapai 3 meter.


"Ya. Inilah rumah hadiah pernikahan dari kakek. Gimana? kamu suka tidak?" tanya Decky.


"Suka kak. Rumah ini terlihat mewah. Dan lingkungannya juga bersih." Jawan Deva.


"Ya iyalah mewah dan bersih. Kamu pikir keluarga Hanggono nggak mampu beli rumah semewah ini?" batin Decky.


"Turunlah. Didalam semua pelayan juga sudah disiapkan oleh kakek. Soal barang jangan khawatir, mereka semua yang akan membantu kita menurunkan dan merapikannya ke dalam lemari," ujar Decky.


"Emm." Deva mengangguk, dan membuka pintu mobil disisi sebelah kiri.


"Selamat datang tuan dan Nyonya Decky," ucap pelayan yang menyambut kedatangan mereka dengan ramah tamah.


"Kamu mau minum apa? biar pelayan mengantarkannya keatas nanti," tanya Decky.


"Tidak usah kak. Nanti aku bisa ambil sendiri." Jawab Deva.


"Jangan. Nanti kamu lelah naik turun tangga. Hem?" ucap Decky yang memberikan segudang perhatian pada Deva. Sehingga Deva begitu cepat terbuai oleh kebaikkan pria itu.


"Kalau begitu apa saja. Apapun yang dibuatkan, aku pasti makan dan minum," ujar Deva sembari tersenyum.


"Kalian dengar itu? nyonya akan memakan dan meminum apapun yang kalian suguhkan. Jadi kalau selesai kalian cepat antar keatas," ucap Decky.


"Baik tuan muda." Jawab Pelayan.


"Ayo kita naik keatas. Kamu pasti lelah kan?" ujar Decky.


"Aku nggak lelah kak. Jarak dari rumah kesini sekitar 20 menit, kita pergi juga naik mobil. Jadi aku sama sekali tidak merasakan lelah." Jawab Deva.


"Tapi tetap saja kakak nggak ingin kamu lelah. Bila perlu naik turun tanggapun akan kakak gendong," ujar Decky.


Deva terkekeh mendengar ucapan Decky hingga matanya mengeluarkan air.


"Kakak jangan begitu. Aku jadi merasa nggak punya kaki dan tangan kalau begitu," ucap Deva.


"Kamu itu istriku. Sudah sepatutnya aku memanjakanmu. Seperti ini misalnya,"


Greppp


"Akkkhhh...kak turunin aku. Aku malu kak," teriak Deva saat Decky tiba-tiba menggendongnya.


Deva mau tak mau mengalungkan kedua tangannya dileher Decky, dan mata mereka berduapun saling bertatapan.

__ADS_1


"Ya Tuhan .. aku nggak mungkin jafuh cinta sama kak Decky secepat ini bukan? jantungku saat ini rasanya mau melompat," batin Deva.


"Ayo bocah ingusan. Cepatlah kamu jatuh cinta padaku. Jadi saat kamu kucampakkan nanti, kamu menangis hingga 7 hari 7 malam. Saat ini kamu memamg kuperlakukan seperti ratu. Tapi saat waktunya tiba nanti, kamu akan kubuang seperti sampah," batin Decky


Tanpa keduanya tahu, salah seorang pelayan suruhan Hanggono memotret adegan romantis itu dan mengirimkannya pada majikannya itu.


Hanggono tersenyum saat dirinya mendapat chat dari salah seorang suruhannya.


"Sepertinya aku tidak salah menjodohkan Decky dengan Deva. Deva yang ceria mampu membuat Decky berubah secepat itu. Orang suruhanku juga bilang, kalau Decky tidak pernah lagi jalan dengan wanita murahan itu. Kalau begitu aku harus bergerak cepat, biar aku cepat dapat seorang cicit," ucap Hanggono lirih.


"Sepertinya aku harus menelpon Egi. Aku ingin bertanya tentang negara mana yang bagus buat cucuku bulan madu," ujar Hanggono.


Hanggono kemudian menghubungi Egi, yang tengah sibuk berbincang dengan calon patner bisnisnya. Mendengar ponselnya berdering, Egi meminta waktu untuk mengangkat telpon.


"Ya pa?" tanya Egi dengan suara lembut.


"Ada dimana kamu?" tanya Hanggono.


"Di London pa." Jawab Egi.


"Hemz...masih lama pulangnya ya?" tanya Hanggono dengan lesu.


Aneh memang. Hanya dengan Egi, Hanggono bisa merengek seperti bayi baru lahir. Dia begitu manja terhadap Egi, karena memang Egi tidak pernah berbicara kasar atau membantah ucapan Hanggono. Sejak Egi memutuskan menetap di kota Bali, Egi memang jarang pulang karena produk yang dia jual laku keras di kota itu.


"Papa ingin membeli tiket bulan madu untuk Decky dan istrinya. Apa kamu punya rekomendasi tempat yang bagus buat berbulan madu?" tanya Hanggono.


"Papa. Papa nggak boleh begitu. Kalau semua urusan rumah tangga mereka papa ikut campur juga, itu akan menyinggung istri Decky." Jawab Egi.


"Kok begitu?" tanya Hanggono.


"Ya siapa tahu istrinya Decky punya negara sendiri yang sangat ingin dia kunjungi. Kalau papa langsung membeli tiket tanpa bertanya, dia pasti tidak enak hati ingin menolak pemberian papa. Padahal dia punya keinginan sendiri. Sudah cukup papa mengatur perjodohan mereka, kalau sampai urusan ranjang papa ikut andil juga itu artinya papa merusak privasi mereka." Jawab Egi.


"Begitu ya?"


"Iya papaku sayang. Biarkan mereka menjalani rumah tangga seperti yang mereka inginkan. Terlebih kalau Decky sudah bisa belajar melupakan mantan kekasihnya itu. Kalau papa selalu ikut campur, takutnya Decky akan berontak lagi." Jawab Egi.


"Ya sudahlah kalau begitu. Mungkin sebaiknya papa tanyakan saja pada Decky," ucap Hanggono.


"Papa ini. Semangat sekali pengen mereka bulan madu. Kenapa hem?" tanya Egi


"Habisnya aku sangat ingin menggendong bayi lagi. Mau nunggu putraku yang gila bisnis kayaknya belum kelihatan hilalnya. Jadi aku pengen gendong cicit saja." Jawab Hanggono sekalian menyindir.


"Ya sudahlah kalau begitu, aku mau lanjut kerja lagi ya pa. Ingat! jangan ikut campur lagi," ucap Egi.


"Iya-Iya." Jawab Hanggono.

__ADS_1


Egi dan Hanggono mengakhiri percakapan itu. Hanggono yang tidak sabar langsung membuat panggilan kembali untuk Decky.


"Husstt...kakek," ujar Decky memberikan isyarat pada Deva dengan jari telunjuk dibibirnya Dan Deva hanya menganggukkan kepala tanda mengerti.


"Ya kek?" tanya Decky dengan suara selembut mungkin yang membuat Hanggono jadi tersenyum.


"Apa kalian sudah ada rencana bulan madu?" tanya Hanggono.


"Sudah." Jawab Decky.


"Kalian akan bulan madu kemana?" tanya Hanggono.


"Masih sedang berunding. Nanti akan kami kabari kalau kami mau berangkat." Jawab Decky.


"Oke. Kakek nggak akan ganggu kalian. Sepertinya hubungan kalian sangat baik. Kakek senang mendengarnya," ucap Hanggono.


"Decky sekarang sadar. Kakek pasti menginginkan yang terbaik untukku. Dan aku sangat bahagia sekarang," ujar Decky.


"Baiklah cucuku tersayang. Selamat bersenang-senang ya," ucap Hanggono.


"Makasih kek." Jawab Decky yang kemudian mengakhiri panggilan itu.


"Ada apa kak?" tanya Deva.


"Kakek menanyakan tentang rencana bulan madu kita. Menurutmu kita harus ke negara mana ya?" tanya Decky.


"Dalam negeri juga nggak masalah kak. Pariwisata di negara kita juga nggak kalah bagus kok." Jawab Deva.


"Tapi kakak sangat ingin mengajakmu keluar negeri. Apa ada negara yang ingin kamu kunjungi?" tanya Decky.


"Jepang." Jawab Deva.


"Bagus. Sepertinya semua berjalan sesuai rencana. Aku sudah menyuruh Olivia buat berangkat lebih dulu. Nanti dia akan aku ajak buat beli tiket dan semua kebutuhannya," batin Decky.


"Baiklah kalau kamu ingin pergi kesana. Nanti sore kita akan pergi beli tiket dan keperluanmu selama disana," unar Decky.


"Ya kak." Jawab Deva.


"Ya Tuhan...apa aku harus hilang kehormatanku saat disana nanti? ini terlalu cepat. Aku belum. siap," batin Deva.


"Emm...kita kan masih tahap pengenalan, kakak juga tidak mau kita buru-buru melakukan hal itu. Apa kamu tidak masalah kita cuma jalan-jalan saja selama disana? tapi ini tetap menjadi rahasia kita berdua," ujar Decky.


"Setuju kak." Jawab Deva dengan perasaan lega.


Decky dan Deva berbincang banyak hal sebelum akhirnya pelayan datang mengantari mereka minuman dan camilan.

__ADS_1


__ADS_2