
"Berhembus angin malam
Mencengkram menghempas
Membelai wajah ayu
Itulah kenangan yang terakhir denganmu," Hanggono menembangkan sebuah lagu yang dipopulerkan oleh penyanyi legendaris Broery Marantika.
Pria berusia itu bernyanyi dengan menggoyang kursi goyangnya, sembari menatap foto almarhum istrinya yang sangat dia rindukan. Suara tembang itu memecah kesunyian disekitar paviliun yang dikelilingi oleh pohon-pohon besar.
Ceklek
Hanggono bahkan tidak mendengar dan menyadari saat seseorang membuka pintu dan melangkah kearahnya. Hanggono terlalu terbuai dengan tembang lawas itu, bersama kenangan manis yang membuatnya sesekali tersenyum.
"Sepertinya ada yang kangen," ucap Egi dari arah belakang telinga Hanggono.
Hanggono menghentikan nyanyiannya, dan menoleh kearah belakang. Wajah keriput itu tersenyum saat melihat kedatangan Egi. Egi segera memutari tubuh Hanggono, dan memeluk erat tubuh ringkih itu saat pria tua itu berdiri minta dipeluk.
Pok
Pok
Pok
"Anak nakal. Kamu membiarkan orang tua ini lama menunggu. Hem?" Hanggono menepuk-nepuk punggung Egi dengan lumayan keras.
"Maaf pa." Jawab Egi.
"Papa merindukanmu," ujar Hanggono.
"Egi juga rindu papa," ucap Egi.
"Bagaimana keadaan papa? apa lutut papa masih sakit? Egi membelikan alat canggih buat papa terapi. Papa juga bisa terapi sendiri nanti," tanya Egi sembari mengeluarkan alat yang dia beli dari negara Jepang.
""Sendiri? jadi kamu masih mau membiarkan papa hidup sendiri ya?" tanya Hanggono dengan raut wajah kecewa.
"Ikutlah Egi menetap di Bali pa. Egi dengan senang hati akan mengurus papa." Jawab Egi.
"Kamu kan tahu sendiri surganya papa disini. Kalau kamu membawa papa pergi, itu artinya kamu memisahkan papa dengan kenangan mamamu. Dan papa nggak mau mati dalam keadan lupa segalanya," ujar Hanggono.
"Papa ngomong apa. Papa pasti panjang umur," ucap Egi.
__ADS_1
"Kenapa usahamu itu tidak kamu pusatkan saja di Jakarta. Orang-Orang Jakarta juga sangat membutuhkan alat kontrasepsi darurat itu. Kalau disana jumlah permintaan memang meroket, tapi kan kamu bisa menyuruh orang kepercayaanmu buat ngelolah usaha kamu disana," ujar Hanggono.
"Egi lagi berusaha membuat papa bangga. Sebentar lagi uang Egi akan cukup. Egi berencana akan membangun pabrik besar di Jakarta. Egi ingin pabrik yang Egi bangun menjadi pabrik yang paling besar di dunia," ucap Egi.
"Benarkah? kapan kamu akan membangun pabriknya? berapa kekurangan modalnya? katakan pada papa, papa akan memenuhi semua kekurangannya," tanya Hanggono.
Egi tersenyum saat mendengar pertanyaan dari Hanggono. Dibimbingnya Hanggono agar duduk di sofa bersamanya.
"Pa. Kalau aku minta modal sama papa sekarang, itu sama saja usahaku selama ini sia-sia. Egi kan pengennya usaha ini benar-benar hasil kerja keras Egi selama ini. Nggak lama lagi kok. Egi janji 6 bulan lagi pabrik itu akan mulai dibangun," ujar Egi.
"Benarkah? hebat kamu nak. Dalam waktu 10 tahun, kamilu bisa membangun perusahaan sendiri," ucap Hanggono dengan bangga.
"Ini juga berkat do'a papa kan?" ucap Egi sembari tersenyum.
"Emm...begini saja. Bagaimana kalau kamu mulai bangun saja pabriknya dari sekarang. Nanti kan kekurangannya, bisa diangsur perlahan sampai kamu punya uangnya," tanya Hanggono.
"Siapa yang mau mengawasi proyek pembangunannya pa? Egi nggak mungkin bolak balik Bali Jakarta terus?" tanya Egi.
"Kamu serahkan saja semuanya sama papa." Jawab Hanggono.
"Ckk...papa. Papa itu inget umur dong pa. Kaki papa juga bermasalah. Mana mungkin Egi mau membebani papa lagi? terlebih aku nggak mau kak Rizwan, kak Rina dan Decky salah paham lagi sama aku. Nanti dikiranya aku merongrong papa," ucap Egi.
"Jadi maunya papa aku harus bagaimana?" tanya Egi.
"Pokoknya serahkan saja semuanya sama papa. Kamu tinggal design saja bangunannya mau seperti apa. Setelah design selesai, nanti papa akan menghubungi arsitek langganan papa. Biar dia yang bertanggung jawab membangun pabrik itu." Jawab Hanggono.
Grepppp
Egi memeluk Hanggono dengan senyum merekah dibibir pria berusia 30 tahun itu. Hanggono menepuk-nepuk punggung putra kesayangannya itu dengan rasa bangga.
"Makasih ya pa. Kalau begitu aku percayakan semuanya sama papa. Aku akan menunjuk orang-orang yang berkompeten untuk mengurus usaha di Bali. Secepatnya aku akan pindah ke Jakarta," ucap Egi.
"Papa sangat bangga dengan pencapaianmu nak," ujar Hanggono.
"Itu belum terwujud pa. Nanti setelah pabriknya sudah dibangun dan peresmian, Egi pengen papa yang memotong pita peresmiannya," ucap Egi.
Cup
Hanggono mencium kening putranya itu dengan rasa haru.
"Do'a papa akan selalu menyertai langkahmu nak," ucap Hanggono.
__ADS_1
"Makasih pa. Oh ya dimana rumah Decky yang baru? aku mau ke rumahnya besok. Aku belum ngucapin selamat buat dia," tanya Egi.
"Mereka masih bulan madu di Jepang." Jawab Hanggono.
"Mereka masih di Jepang? tahu gitu aku nemuin mereka di Jepang aja. Lama juga ya mereka liburan, sudah seminggu kan ya?" tanya Egi.
"Papa yang menyuruh mereka untuk menambah waktu bulan madunya. Kakek ingin segera menimang cicit, jadi kakek ingin mereka bekerja keras." Jawab Hanggono sembari terkekeh.
Egi hanya bisa menggelengkan kepalanya saat mendengar ucapan Hanggono.
"Tapi maaf loh pa. Egi nggak bisa pulang lama, apalagi mau menunggu mereka sampai kembali. Aku cuma dua hari disini," ujar Egi.
"Kenapa cepat sekali?" tanya Hanggono.
"Kali ini papa nggak bisa rewel lagi. Bukankah papa sendiri yang pengen Egi cepat pindah? Egi harus segera menyelesaikan pekerjaan dan merekrut orang-orang untuk menghandle kantor disana." Jawab Egi.
Hanggono menghela nafas. Jelas saja dia harus mengalah kali ini. Paling tidak dirinya sangat senang, karena Egi sudah ada rencana ingin pindah ke Jakarta. Dan itu hanya butuh waktu 6 bulan lagi.
"Baiklah papa akan diam kali ini. Apa kamu sudah makan malam?" tanya Hanggono.
"Belum. Aku sengaja mengosongkan perutku, hanya untuk makan malam dengan papa." Jawab Egi.
"Baiklah. Papa akan hubungi pelayan agar mengantarkan makanan untuk kita berdua. Apa yang ingin kamu makan. Hem?" tanya Hanggono.
"Apa saja. Egi masih seperti dulu, nggak pernah pilih-pilih makanan." Jawab Egi.
"Karena dipantai sana kamu sudah kenyang ya? kan banyak sumurnya," tanya Hanggono.
"Sumur? kenapa jadi lari kesumur?" tanya Egi.
"Susu dijemur." Jawab Hanggono dengan tawa yang keras.
Sementara Egi hanya melotot mendengar banyolan pria berusia senja itu.
"Ya tuan besar?" tanya seorang pelayan diseberang telpon.
"Tuan muda kedua pulang. Bawakan kami berdua makan malam di paviliun." Jawab Hanggono.
"Baik tuan." Jawab Pelayan.
Sembari menunggu makan malam, sembari Egi dan Hanggono bercerita banyak hal. Hingga mereka selesai makan malampun, mereka kembali melanjutkan perbincangan itu. Dan tidak terasa mereka mengobrol hingga pukul 2 dini hari. Hanggonopun tanpa sadar tertidur. Egi menatap pria berusia senja itu sembari tersenyum. Egi menarik selimut untuk Hanggono hingga ke leher pria itu. Diapun mematikan lampu utama dan menggantinya dengan lampu tidur kemudian ikut berbaring disamping Hanggono.
__ADS_1