
Deva merenggangkan tubuhnya yang pegal, karena semalaman dia tidur di sofa yang hanya mampu menampung sebagian tubuhnya. Egi yang sejak tadi terbangun, hanya melirik sekilas melihat pergerakkan yang Deva lakukan.
"Aduh...tubuhku terasa remuk," gumam Deva sembari duduk tegak di sofa.
Matanya kemudian melihat Egi yang tampak santai membaca koran pagi, yang entah pria itu mendapatkannya darimana.
"Bapak sudah mandi?" tanya Deva.
"Masih menunggu seseorang yang bangunnya siang. Aku nggak mau dibantu orang lain selain kamu." Jawab Egi.
"Maksudnya apa nih?" tanya Deva.
Egi menutup korannya, dan kemudian meletakkannya disamping tempat tidur.
"Ambillah air dan handuk kecil. Lap tubuhku, aku sudah kegerahan." Jawab Egi seperti tanpa dosa.
"Apa? nggak mau! itu bukan tugas saya pak. Masih banyak perawat disini yang bisa melakukannya. Apaan nyuruh saya," Deva menolak dengan tegas.
"Gajimu akan utuh,"ucapan Egi membuat Deva jadi dilema, dan itu membuat Egi menyembunyikan senyumnya.
"Mau tidak? kalau nggak mau gajimu akan dipotong separuh lagi," ujar Egi.
"Apaan sih pak? kok main potong-potong aja. Ini pemaksaan namanya," ucap Deva dengan wajah kesal.
"Gaji utuh, atau dipotong separuh!" Egi menekankan.
Gigi Deva bergemeratuk. Dengan wajah masam dia menuruti kemauan Egi. Wanita itu kemudian mengambil handuk kecil dari dalam loker, dan juga sebaskom air yang berisi air hangat.
"Lepas bajunya!" ucap Deva.
"Nggak bisa! susah karena ada selang infus." Jawab Egi.
Dengan bibir cemberut, Deva membuka kancing baju Egi dan melepaskannya dengan pelan hingga jarak mereka kedua nyaris terkikis habis.
"Busyettt bagus banget badan ini orang. Tapi sayang calon perjaka tua. Mantap banget ini kalau tidur sama om tua hihihi," Deva terkekeh dalam hati.
Srupppp
Egi tiba-tiba meraup wajah Deva yang tertangkap basah senyum-senyum sendiri meskipun nyaris tak terlihat.
"Bocah ingusan dilarang berpikiran mesum," ucap Egi.
"Eh? si-siapa yang berpikiran mesum? bapak pikir kenapa sampai hari ini bapak belum menikah? itu artinya nggak ada yang berselera menikah dengan bapak. Bapak tahu kenapa nggak ada yang berselera?" tanya Deva.
"Kenapa?" tanya Egi yang terkena jebakkan Batman.
"Bagus diluar, belum tentu bagus didalam," ucap Deva setengah berbisik.
Griyuuutttt
Egi menarik pipi Deva dengan gemas, hingga wanita itu mengusap-usap pipinya yang sedikit merasa sakit.
__ADS_1
"Kamu itu masih kecil, darimana kamu mendapat pelajaran seperti itu? cepat selesaikan pekerjaanmu, dan jangan berpikiran yang macam-macam," ucap Deva.
"Ckk...nggak di Jakarta, nggak di Bali, aku selalu dibilang anak kecil. Aku ini sudah tergolong dewasa, kan sudah 18 tahun, hampir mau 19 tahun," gerutu Deva namun masih bisa di dengar oleh Egi.
"Kamu dari jakarta? kamu kabur dari rumah?" tanya Egi.
"Eh? i-iya. Jadi bapak jangan galak-galak sama saya. Kasihanilah sang musafir ini." Jawab Deva sembari menyeka tubuh Egi dengan lembut.
"Kamu tidak boleh begitu. Kasihan orang tuamu. Seperti itu nggak mau dibilang anak kecil. Hanya anak kecil yang suka kabur-kaburan," ujar Egi.
"Bapak nggak tahu masalahnya. Aku kabur juga ada alasannya," ucap Deva.
"Emang apa alasannya?" tanya Egi.
Deva terdiam. Dia tidak mungkin menceritakan semua masalah yang tengah dia hadapi. Melihat Deva yang terdiam, Egi jadi menghela nafas.
"Jadi di bali kamu ngontrak?" tanya Egi yang kemudian dianggukki oleh Deva.
"Jadilah pelayan di rumahku. Gajimu akan kunaikkan dua kali lipat," ujar Egi.
"Pelayan?" tanya Deva.
"Kenapa? daripada kamu ngontrak. Di rumahku kamu bisa tinggal gratis, dapat makan, dapat gaji. Kami juga tidak perlu jadi OG di kantor. Pekerjaanmu cuma beres-beres kamarku dan juga masak buat aku. Beres-Beres rumah sudah ada sendiri yang mengerjakan." Jawab Egi.
"Tapi saya nggak bisa masak," ujar Deva.
"Segala sesuatunya bisa dipelajari. Aku akan memakan apapun yang kamu masak," ucap Egi.
"Ya sudah aku setuju. Tapi benar ya dua kali lipat gajinya," ujar Deva yang mengalihkan pembicaraan, agar Egi tidak lagi membahas masalah dirinya yang kabur.
"Entah anak siapa ini. Gadis sekecil ini sudah berani kabur sejauh ini. Anak jaman sekarang benar-benar mengerikan. Daripada anak ini terjebak pergaulan bebas, lebih baik dia tinggal di rumahku saja. Jadi aku bisa mengawasinya," batin Egi.
"Nanti urus kepulanganku. Aku sudah sehat, dan nggak perlu di opname lagi," ucap Egi.
"Tapi bapak masih deman," ujar Deva.
"Rawat di rumah saja. Saya tidak suka suasana rumah sakit. Lagian saya cuma demam biasa, bukan sakit jantung. Jadi rawat di rumah saja," ucap Egi.
"Iya baiklah tuan majikkan," cibir Deva.
Deva dengan telaten mengganti pakaian majikkannya itu, dan kemudian menyuapinya makan.
"Sekarang kamu bersih-bersih, habis itu cari sarapan. Setelah itu baru urus administrasi. Nanti biar aku telpon pak made buat jemput kita pulang," ujar Egi.
"Emm," Deva menganggukkan kepalanya.
Setelah membersihkan diri dan sarapan, Deva segera mengurus administrasi kepulangan Egi. Supir juga sudah menjemput mereka, dan membantu Deva mendorong kursi roda.
"Dimana kontrakkanmu? sekalian kita mampir saja buat mengambil semua barang-barangmu," tanya Egi.
Deva kemudian menunjukkan jalan menuju kontrakkannya. Setelah sampai disana, Devapun berkemas kilat.
__ADS_1
"Apa yakin tidak ada yang ketinggalan?" tanya Egi.
"Nggak ada tuan." Jawab Deva.
"Pak Made. Ayo jalan," ucap Egi.
Mobil itupun melaju dengan kecepatan sedang. Hingga sampailah mereka pada sebuah rumah mewah.
"Mewah juga ini rumah. Tapi sayang penghuninya model begini. Apa sih yang ada dalam pikiran pria yang lambat menikah? apa memang tidak laku, pilih-pilih, atau ada kelainan?" batin Deva.
"Kamarmu yang ini, dan kamarku yang ini," ujar Egi sembari menunjuk kearah kamar yang berada disebelah kamarnya.
"Kenapa harus bersebelahan?" tanya Deva.
"Biar enak kalau aku ada perlu sama kamu " Jawab Egi.
Deva membantu Egi berbaring diatas tempat tidur. Egi menggeleng-gelengkan kepalanya sembari memejamkan mata.
"Kenapa? masih pusing ya pak?" tanya Deva.
"Iya." Jawab Egi.
"Bapak tidur saja dulu. Nanti saya akan turun ke bawah buat makan siang untuk bapak," ujar Deva.
Tap
Egi meraih tangan Deva, menghalangi wanita itu pergi dari kamarnya.
"Disini saja dulu. Tolong pijat kepala saya, rasanya pusing sekali," ujar Egi.
Deva menuruti permintaan Egi. Wanita itu memijat kepala Egi dengan lembut, hingga pria matang itu tertidur lelap.
"Dia sangat tampan kalau sedang tidur. Pas melek aja macam beruang kutub dan menyebalkan," gumam Deva.
Deva menutup pintu kamar Egi, dan turun kebawah untuk membuat makan siang. Namun masalah tentu saja datang, karena Deva sama sekali tidak bisa memasak.
"Bagaimana ini? apa pak Egi akan mati setelah makan masakkanku? aku bahkan tidak tahu caranya membuat telur dadar. Deva, kamu baru sadar. Kalau ternyata kamu itu sangat payah," gerutu Deva.
Deva bergegas membuka media sosial YT untuk membantunya memasak makan siang. Beruntung Deva lumayan cerdas, jadi dia tidak terlalu sulit mencerna apa yang tutorial katakan.
"Bagaimana pak rasanya?" tanya Deva harap-harap cemas, saat sup ayamnya mulai dicicipi oleh Egi.
"Agak asin sedikit. Tapi masih bisa dimakan. terima kasih ya?"
"Pak. Apa saya bisa mengundang juru masak ke rumah? aku pengen kursus memasak," tanya Deva.
"Boleh. Biar nanti kamu tidak bosan di rumah. Lagian anak gadis juga harus pandai memasak. Biar nanti saat kamu punya suami, suamimu tidak mengeluh dengan hasil masakkanmu." Jawab Egi.
"Apa jadinya kalau dia tahu, kalau usia segini aku sudah jadi janda," batin Deva.
Egi menyantap sup buatan Deva hingga tandas. Bahkan kening pria itu sampai mengeluarkan keringat.
__ADS_1