KAU GADAIKAN DIRIKU

KAU GADAIKAN DIRIKU
47. Menemui Hanggono


__ADS_3

Ceklek


Hanggono sangat terkejut saat melihat kedatangan Deva didepan paviliunnya. Pria berusia senja itu bahkan langsung memeluk Deva dengan erat.


"Kakek. Sebaiknya kita bicara didalam saja. Aku nggak mau ada orang lain yang melihat aku datang kesini," ujar Deva.


"Loh. Kenapa? kamu kemana saja selama ini? kakek menghubungi nomormu tidak aktif. Kakek tanya Decky, katanya kamu tengah liburan. Tapi anehnya tiap bulan kakek ke rumah kalian, dia selalu bilang kamu liburan. Ini sebenarnya ada apa?" tanya Hanggono.


Hanggono kemudian menatap perut Deva yang masih tampak rata. Padahal seharusnya perut cucu menantunya itu sudah membuncit. Deva menatap Hanggono, dia tahu kegelisahan pria tua itu. Deva kemudian meraih tangan Hanggono, dan mulai menata kalimatnya agar dia tidak salah dalam berkata-kata. Karena sejujurnya Deva takut memberikan kabar yang mengerikan.


"Kakek. Sebelumnya aku minta maaf, karena selama ini aku banyak berbohong sama kakek. Tapi terus terang aku tidak bermaksud melakukan itu, ini semua karena kak Decky sudah menipu kita semua," ucap Deva.


"Apa maksudmu?" tanya Hanggono yang masih belum mengerti dengan penjelasan Deva.


"Ka-Kakek. Sebenarnya Deva sama sekali nggak hamil. Ini semua rekayasa dari kak Decky yang mengatakan kakek tengah mengalami penyakit yang berat, dan di vonis dokter hanya bisa bertahan hidup 2 bulan,"


"Tapi sekarang aku mengerti, dan yakin. Kalau semua ucapannya selama ini adalah bohong. Aku sangat bersyukur kakek baik-baik saja, dan perkataan kak Decky tidak kejadian," sambung Deva.


"Ja-Jadi maksudnya kamu hamil itu cuma kebohongan?" tanya Hanggono yang kemudian dianggukki oleh Deva.


Tubuh Hanggono tersandar di sofa. Dan Deva benar-benar sangat merasa bersalah.


"Kakek. Aku benar-benar minta maaf. Aku nggak bermaksud menyakiti hati kakek. Sekarang aku sudah tahu apa tujuan kak Decky melakukan itu semua," ujar Deva.


"Apa alasannya?" tanya Hanggono.


Deva kemudian menceritakan semua kejadian yang menimpa dirinya selama ini. Hanggono sangat terkejut mendengar semua cerita Deva. Tubuh pria itu seperti lemas tak bertulang, bahkan dia sempat meneteskan air matanya.


"Hancur. Hancur sudah HANG GROUP ditangan manusia kotor seperti itu," Hanggono tampak tertunduk sedih.


"Kakek. Sebenarnya aku tidak ingin mengatakan ini sama kakek. Tapi aku harus mengatakannya. Karena kakek harus tahu apa yang sudah diperbuat oleh cucu kakek itu," ujar Deva.


Hanggono kembali menatap Deva, karena dia penasaran ulah apalagi yang sudah cucu laki-lakinya lakukan.


"Empat bulan yang lalu aku sudah bercerai dengan kak Decky," pernyataan Deva sangat mengejutkan Hanggono.


"Dia dengan tega menggadaikan aku pada temannya, karena kalah judi 900 juta. Kami membuat kesepakatan, aku harus tinggal bersama temannya selama 6 bulan. Sementara aku meminta talak 3 dari kak Decky. Setelah aku berhasil mendapatkan akta cerai, aku kemudian pergi bersama temannya. Tapi untungnya aku berhasil kabur, dan meninggalkan uang hasil butik 900 juta sebagai pelunasan hutang kak Decky,"

__ADS_1


"Kakek. Apa aku salah sudah mengambil langkah perceraian itu?" tanya Deva.


"Maafkan kakek Deva. Gara-Gara kakek, kamu mendapatkan perlakuan sekejam itu. Kakek tidak menyangka kalau Decky ternyata menipu kita mentah-mentah seperti ini. Dia bahkan masih berhubungan dengan wanita liar itu," ucap Hanggono dengan penuh penyesalan.


"Sudahlah kek. Aku sudah mengikhlaskan semuanya. Maksud kakek baik menjodohkan aku dengan kak Decky, tapi memang jodohku sama dia harus sesingkat itu," ujar Deva.


"Oh ya. Deva juga sekalian ingin melakukan serah terima sertifikat butik itu sama kakek. Sertifikat itu masih ada sama kakek kan?" tanya Deva.


"Masih." Jawab Hanggono.


"Karena sertifikat yang aku kasih sama kak Decky buat disimpan di brankas itu, itu sertifikat duplikat," ujar Deva yang kemudian membuat Hanggono tertawa keras.


"Cerdas kamu. Sekarang apa rencanamu?" tanya Hanggono.


"Sekarang aku sudah pindah tempat kuliah. Aku harap kakek merahasiakan keberadaan aku ya kek! soalnya aku sudah buat masalah dengan temannya itu," ujar Deva.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Hanggono.


"Aku sudah mematahkan burung masa depan pria mesum itu." Jawaban Deva membuat mata Hanggono terbelalak, namun sesaat kemudian pria tua itu malah tertawa keras.


"Deva. Aku senang karena butik itu jatuh ditangan orang yang tepat sepertimu. Aku tidak bisa membayangkan kalau itu jatuh ke tangan wanita liar itu. Butik itu adalah hadiah kakek untukmu, jadi kamu tidak perlu mengembalikannya. Kelolah saja dengan benar, itu sudah buat kakek dan nenekmu senang," ujar Hanggono.


"Kami tenang saja. Ini akan menjadi urusan kakek. Sebaiknya kamu cepat mencari pasangan baru, agar ada yang melindungimu. Kamu tidak bisa terus-terusan bersembunyi seperti ini. Dengan menjadi istri orang, mereka pasti berpikir dua kali buat mencelakaimu," ujar Hanggono.


"Bagaimana kalau aku lapor polisi saja?" tanya Deva.


"Katakanlah mereka tertangkap. Mereka punya uang, hukum jaman sekarang bisa dibeli. Dipenjara bahkan mereka bisa tidur layaknya di hotel. Terus kalau sudah keluar, apa kamu pikir mereka tidak akan mencarimu lagi?"


Deva terdiam. Dia jadi membayangkan hal-hal yang mengerikan.


"Apa menikah kembali menjadi solusi yang tepat menurut kakek?" tanya Deva.


"Ya. Apalagi kamu menikah dengan orang berkuasa, dan banyak uang." Jawab Hanggono.


Deva jadi terkekeh mendengar ucapan Hanggono.


"Siapa yang mau menikahi aku kek? apalagi orang kaya raya dan berkuasa. Dia bisa memilih pasangan yang jauh lebih baik dari aku. Kalau ada yang seperti itu, tentu aku tidak akan menolak," ujar Deva.

__ADS_1


"Apa kamu masih mempercayai kakek?" tanya Hanggono.


"Tentu saja. Kenapa?" tanya Deva.


"Kakek yang akan mencarikan jodoh untuk melindungimu." Jawab Hanggono.


Deva jadi terdiam. Untuk urusan jodoh, tentu saja dia sangat takut terulang kembali seperti luka lamanya. Namun Deva percaya takdir, termasuk takdirnya dipertemukan dengan Hanggono.


"Kalau itu terbaik menurut kakek, aku akan menurutinya," ucap Deva.


"Kalau begitu tunggulah kabar baik satu atau dua bulan ini. Paling lama 3 bulan. Jadi kamu harus bertahan selama itu, dan menjaga diri baik-baik," ujar Hanggono.


"Iya kek. Aku mengerti maksud kakek," ucap Deva.


Deva hanya bisa tertawa dalam hati. Karena dia berpikir, tidak mungkin Hanggono bisa menemukan jodoh sempurna seperti yang pria tua itu angankan. Namun Deva ingin menghargai Hanggono, karena pria itu begitu sangat melindunginya.


"Lalu bagaimana penghasilan butik?" tanya Hanggono.


"Aku menyuruh orang-orang kita buat mentransfer ke rekeningku. Tapi sayangnya aku tidak bisa menggunakannya karena takut terlacak oleh kak Decky." Jawab Deva.


"Kenapa tidak membuat akun bank yang baru?" tanya Hanggono.


"Aku masih takut kek." Jawab Deva.


Hanggono kemudian bangkit dari tempat duduknya dan berjalan kearah kamar pribadinya untuk mengambil sebuah kartu ATM.


"Pakailah ATM kakek yang ini. Disini isinya tidak terlalu banyak, kamu bisa mentransfer uang hasil butik kesini," ujar Hanggono


"Lalu bagaimana dengan isinya?" tanya Drva.


"Ambil saja. Anggap itu kompensasi untuk kesulitanmu selama ini." Jawab Hanggono.


"Kakek jangan begitu, aku tidak bisa menerima kebaikkan kakek yang terlalu banyak padaku," ujar Deva.


"Kamu itu cucuku. Aku sudah tua, buat apa menyimpan uang banyak. Lagian ada seseorang yang tidak pernah membuat kakek dalam kekurangan. Kamu gunakan saja ATM itu. Berikan nomor Wa mu, biar nanti kakek kirim nomor rekening dan Pin lewat chat," ujar Hanggono.


"Baik kek. Nanti aku akan chat kakek lebih dulu. Makasih ya kek," ucap Deva.

__ADS_1


"Jaga dirimu baik-baik Deva," ujar Hanggono yang kemudian membuat kepala Deva mengangguk.


Setelah berbincang banyak hal, Devapun pamit pulang. Dia sangat lega, karena dia sudah menemui dan menjelaskan masalahnya pada Hanggono.


__ADS_2