
Sudah dua minggu sejak kejadian itu, Egi dan Deva tidak saling bertegur sapa. Mereka merasakan canggung satu sama lain, meskipun sebenarnya diam-diam Egi selalu masuk ke kamar Deva di tengah malam hanya untuk memastikan wanita itu baik-baik saja.
Dan di dua bulan mereka bersama, Egi mendapat panggilan telpon dari Hanggono.
"Ya pa?" tanya Egi dari seberang telpon.
"Egi. Kamu harus kembali secepatnya ya! ini perusahaan kamu sudah jadi 95%," ujar Hanggono.
"What? secepat itu pa?" tanya Egi.
"Kamu ngeremehin papa sih. Orang-Orang papa, sama patner bisnis papa itu semuanya orang hebat. Jadi kapan kamu pulangnya?" tanya Hanggono.
"Emm...oke kalau gitu aku selesaikan urusan kantor dulu, karena nggak mungkin aku main pindah gitu aja kan pa? jadi aku harus serahin semua urusan kantor sini dengan orang yang bisa aku percaya. Paling lama 3 hari deh." Jawab Egi.
"Terus gimana barang-barang yang akan kamu distribusikan?" tanya Hanggono.
"Nah itu dia. Karena itu perusahaan cabang, artinya aku harus berusaha dari nol lagi kan? makannya nggak bisa grasak grusuk pindahnya. Aku juga harus mencari orang buat kerjasama untuk memasok bahan mentah pembuatan barangnya." Jawab Egi.
"Papa tunggu kabar baiknya. Papa banyak juga yang ingin diceritakan sama kamu," ujar Hanggono.
"Oke pa. Nanti paling lama satu minggulah Egi pulangnya," ucap Egi.
"Ngomong-Ngomong apa dari sekarang kamu mulai merekrut karyawan buat pabrik dan perusahaan kamu?" tanya Hanggono.
"Boleh deh pa." Jawab Egi.
"Kalau begitu kamu kirimkan daftar karyawan apa saja yang kamu butuhkan. Nanti biar orang-orang papa yang menghandle semuanya," ujar Hanggono.
"Iya pa. Tapi kalau begini caranya, nggak mungkin waktu satu minggu buat aku nyelesaiin masalah disini. Karena aku akan pindah kantor, otomatis perusahaan disini harus ada penggantiku. Aku harus nemuin orang yang pas buat jadi wakil direktur," ucap Egi.
"Papa mengerti. Sepertinya memang waktu 6 bulan, waktu yang pas buat kamu kembali dan menetap disini," ujar Hanggono.
"Itulah sebabnya aku sudah memperkirakan waktu segitu pa," ucap Egi.
"Jadi butuh waktu dua bulan lagi ya? papa rasa dengan waktu segitu, cukup juga buat merekrut karyawan yang berkompeten. Jadi kalau gitu papa tunggu dua bulan lagi," ujar Hanggono.
"Makasih buat semuanya pa," ucap Egi.
"Sama-Sama. Papa bangga sama kamu," ujar Hanggono.
Egi menghela nafas, saat perbincangan itu berakhir. Terus terang, dia sudah merasa nyaman berada di Bali. Bukan apa-apa, dia sudah berada ditempat itu sudah hampir 10 tahun. Jadi baginya Bali sudah seperti rumahnya sendiri.
🌶️🌶️🌶️🌶️🌶️
Satu bulan kemudian....
__ADS_1
"Ini sudah 3 bulan, itu artinya aku harus kembali ke Jakarta. Nanti saat Om tua pulang, aku harus pamit nih," gumam Deva lirih.
"Hari ini aku harus masak yang spesial, karena aku pengen ini jadi malam terakhir yang tak terlupakan,"
Deva memutuskan untuk belanja ke supermarket. Hubungannya dengan Egi memang mulai membaik akhir-akhir ini, karena Deva tidak ingin saat dirinya pergi, malah meninggalkan kenangan buruk dengan Egi.
"Hari ini aku akan masak semua makanan kesukaan Om Egi," ucap Deva.
Deva bergegas memilih-milih bahan makanan yang dia butuhkan. Setelah selesai, dia segera pulang ke rumah untuk mengolahnya. Setelah berkutat hampir 2 jam di dapur, Deva akhirnya berhasil memasak beberapa menu hidangan.
Tepat pada pukul 5 sore, Egi tiba di rumah namun Deva tidak langsung mengajaknya buat makan bersama, karena Deva ingin mengajaknya makan malam.
Tok
Tok
Tok
Ceklek
"Ada apa?" tanya Egi.
"Makan malam yuk Om? malam ini aku masak semua menu kesukaan Om." Jawab Deva.
"Emm." Deva mengangguk.
Deva kemudian turun kebawah lebih dulu. Dan setelah menunggu hampir 5 menit, Egipun turun untuk makan malam bersama Deva.
"Wah...aku neerasa sejak kamu tinggal disini berat badan aku nambah loh. Kamu sengaja ya mau bikin aku gendut?" tanya Egi sembari menarik kursi kebelakang.
"Cuma gendut sebentar. Karena mulai besok, Om akan diet alami lagi." Jawab Deva.
Mendengar ucapan Deva, Egi jadi menghentikan gerakkan tangannya sembari menatap kearah wanita cantik yang ada didepannya itu.
"Maksudnya?" tanya Egi.
"Aku mau bicara serius sama Om, tapi kita sebaiknya makan dulu aja Om." Jawab Deva.
Egi kemudian mulai menyendokkan makanan dan mulai memasukkannya kedalam mulutnya.
"Gimana Om? enak?" tanya Deva.
"Banget. Kemampuan memasakmu sudah tidak perlu diragukan lagi." Jawab Egi yang kemudian kembali makan dengan lahap.
Mereka kemudian makan dalam diam. Setelah selesai makan malam, Deva mengajak Egi duduk ditaman yang diterangi oleh lampu-lampu kecil, dan juga lilin diatas meja.
__ADS_1
"Kamu yang membuat ini semua?" tanya Egi yang cukup terkesan dengan suasana romantis itu.
"Ya. Apa Om menyukainya?" tanya Deva semringah.
"Tentu saja. Tapi lebih dari itu, aku lebih penasaran untuk apa kamu membuat ini semua." Jawab Egi.
Deva menatap wajah Egi, dan entah mengapa dia jadi berat untuk mengatakan maksudnya.
"Tidak Deva. Kamu tidak boleh berat hati, karena lambat laut kalian pasti akan berpisah juga. Om tua bukan orang yang bisa aku jangkau, dunia kita sangat jauh berbeda. Daripada berurusan dengan orang dewasa, lebih baik aku minta bantuan dengan Rizky. Karena sepulang dari sini, aku harus mencari tempat tinggal baru," batin Deva.
"Om. Besok aku mau pamit pulang ke Jakarta," ujar Deva tanpa keraguan.
Egi yang hendak meraih minuman, menghentikan gerakkan tangannya. Pria matang itu menatap Deva dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
"Kenapa aku merasa tidak rela? tapi anak ini masa depannya masih sangat panjang. Dia juga punya keluarga, aku tidak mungkin menahannya disini selamanya," batin Egi
"Oh gitu. Jam berapa kamu mau pergi?" tanya Egi.
"Pagi-Pagi aku akan berangkat ke bandara Om. Aku juga sudah membeli tiketnya." Jawab Deva.
"Ya sudah. Biar besok pagi, aku akan mengantarmu ke Bandara sekalian berangkat kerja," ucap Egi.
Deva menatap wajah Egi. Entah mengapa dia merasa kecewa, karena Egi sedikitpun tidak berusaha menahannya. Deva kemudian tersenyum hambar, sembari meraih softdrink diatas meja.
"Makasih Om," ucap Deva yang kemudian menyesap minuman kaleng yang ada ditangannya.
Deva dan Egi berbincang banyak hal. Setelah malam semakin larut, barulah mereka mengakhiri perbincangan itu dan pergi ke kamar masing-masing.
🌶️🌶️🌶️🌶️
"Hati-Hati dijalan," ucap Egi setelah mereka tiba di Bandara.
"Emm." Deva mengangguk dan memasukkan sejumlah uang ke dalam tasnya.
Egi memang memberikan uang selain dari gajinya. Deva kemudian membuka mobil, namun gerakkan tangannya terhenti dan kemudian berbalik badan.
"Boleh aku peluk om untuk terakhir kalinya?" tanya Deva yang kemudian diangguki oleh Egi.
Grepppp
Deva memeluk Egi dengan erat. Egi juga mengeratkan pelukkannya. Tanpa pria itu tahu, Deva menyeka air matanya yang terlanjur jatuh dibalik punggung pria itu.
"Aku pergi Om," ujar Deva yang kemudian diangguki oleh Egi.
Deva kemudian turun, dan menyeret kopernya yang sudah diturunkan oleh supir. Tanpa Deva tahu, Egi tidak melepaskan tatapannya pada punggung Deva, hingga punggung itu menghilang.
__ADS_1