KAU GADAIKAN DIRIKU

KAU GADAIKAN DIRIKU
87. Gonjang Ganjing


__ADS_3

Hoek


Hoek


Hoek


Wajah Egi tampak pucat pasi. Tubuh pria itu juga terlihat kurus dan lemah. Sudah hampir dua bulan dia mengalami mual muntah, dan juga tidak bisa makan dengan benar. Setiap apa yang dia makan, selalu berakhir kedalam washtafel. Dan itu benar-benar membuatnya lemas setelahnya.


Melihat keadaan suaminya yang lemah, tentu saja Deva jadi sedih. Sementara dirinya bisa makan enak, dengan berat badan sudah naik hampir 4 kilo.


"Om kita ke rumah sakit saja ya? aku khawatir banget ini. Om terlihat kurus dan pucat. Aku nggak mau Om sakit," ujar Deva dengan air mata yang meleleh di pipi.


Egi menyeka air mata Deva yang tengah menangis tersedu.


"Aku nggak apa-apa. Aku malah bersyukur yang mengalami hal ini adalah aku. Jadi aku bisa merasakan semua penderitaan yang dialami ibu hamil. Mungkin kalau kamu yang merasakannya, aku akan kebingungan. Kamu nggak usah khawatir ya! semua ini pasti akan berlalu dengan cepat," ujar Egi.


"Tapi keadaan Om saat ini sudah mengkhawatirkan. Pokoknya Om nggak boleh membatah lagi. Om harus di Opname sekarang juga," ujar Deva.


Lagi-Lagi Egi harus menuruti permintaan istrinya itu. Tapi dia sangat senang, karena Deva sangat memperhatikan dirinya. Dan sesuai rencana, saat ini Egi langsung di opname di ruang Vip.


Sementara itu di tempat berbeda Olivia tersenyum senang, karena Decky sudah membangun 25 butik atas namanya.


"Makasih ya sayang. Kamu memang yang terbaik," ujar Olivia.


"Sekarang apa kita bisa merencanakan pernikahan kita?" tanya Decky.


"Tentu saja." Jawab Olivia dengan senyum semringah dibibirnya.


"Kalau begitu besok kita akan pergi ke rumahku untuk meminta restu, dan sekalian kita bicaran tentang tanggal yang pas buat pernikahan kita," ujar Decky.


"Jangan besok deh. Lusa aja," ujar Olivia.


"Kenapa harus lusa?" tanya Decky.


"Besok jadwal kocok arisan dengan klub sosialita. Dan itu memakan waktu yang lumayan." Jawab Olivia.


"Ya sudah oke," ujar Decky.

__ADS_1


Tanpa Decky tahu, dikantor sudah terjadi gonjang ganjing. Pengeluaran perusahaan sangat membengkak karena Decky menggunakan uang perusahaan, untuk urusan pribadi. Dan itu sangat-sangat merugikan perusahaan.


"Kalau begini caranya, HANG GROUP akan bangkrut. Sejak tuan Decky di nobatkan sebagai direktur utama, dia sangat semena-mena menggunakan uang perusahan. Seolah dia sangat percaya diri, kalau suatu saat HANG GROUP tidak akan runtuh,"


"Kamu benar. Apa kita perlu melaporkan hal ini


pada tuan Hanggono? karena beliaulah yang membangun perusahaan ini jadi besar,"


"Benar juga. Siapa tahu dengan melaporkan hal ini, keadaan perusahaan menjadi membaik. Karena nggak ada gunanya kita mendiskusikan hal ini pada tuan Decky. Temperamennya sangat buruk, dan juga sok berkuasa,"


Semua kepala departemen tengah berdiskusi saat ini. Mereka ingin melaporkan semua yang dilakukan Decky pada Hanggono. Siang itu Hanggono yang tengah bersantai, mendapat beberapa orang tamu yang tentu saja dia kenal.


"Ada apa gerangan, sampai membawa kalian berkunjung ke rumahku," tanya Hangono.


"Maaf tuang Haggono. Maksud kedatangan kami berdua, karena ingin mengajak tuan Hang untuk berdiskusi." Jawab Firman sang kepala departemen keuangan.


"Apa yang bisa saya bantu?" tanya Hangono.


Firman kemudian menceritakan semua rangkainan kejadian yang perusahaan alami saat ini. Tentu saja Hanggono sudah bisa menebak hal ini akan terjadi di masa depan. Hanya saja dia tidak menyangka HANG GROUP akan runtuh secepat itu.


"Jadi apa yang harus kami lakukan untuk menyelamatkan perusahaan tuan?" tanya Firman.


"Jadi kita harus membiarkan HANG GROUOP runtuh begitu saja?" tanya Firman.


Wajah Hanggono mendadak mendung. Dia sangat sedih, karena hasil kerja keras yang dia bangun begitu cepat hancur.


"Mungkin sebaiknya kalian bersiap-siap, atau membuat ancang-ancang mencari tempat bekerja yang baru. Kalian orang-orang yang berkompeten dan bisa diandalkan. Pasti tidak susah bagi kalian untuk mencari pekerjaan." Jawab Hanggono dengan wajah sedih.


Firman dan Hendri jadi sedih mendengar ucapan Hanggono. Karena mereka sangat dekat dengan Hanggono saat pria senja itu masih memimpin perusahaan.


"Semoga ada keajaiban. HANG GROUP sudah mendarah daging dalam tubuh kami. Rasanya sedih sekali kalau kami harus pergi begitu saja," ujar Firman.


"Betul kata pak Firman. Mungkin bekerja di perusahaan lain, tidak senyaman seperti di HANG GROUP," Timpal Hendri.


"Jangan begitu. Minimal kalian harus memikirkan anak dan istri kalian di rumah. Bekerja dimana saja itu akan sama saja. Kalau kalian berkompeten dan bisa diandalkan, bos kalian pasti akan memperlakukan kalian dengan baik," ujar Hanggono.


"Ya sudah kalau begitu kami pulang dulu tuan. Maaf sudah mengganggu waktu libur anda," ujar Hendri.

__ADS_1


"Tidak masalah. Aku senang kalian berkunjung," ujar Hanggono.


Hendri dan Firman kemudian pergi dari paviliun kediaman Hanggono. Setelah mantan bawahannya itu pergi, Hanggono meringkuk diatas tempat tidurnya sembari menangis. Pria senja itu hingga melewatkan makan siang dan makan malamnya.


"Tuan besar. Sudah waktunya sarapan," seorang pelayan mengetuk pintu kamar Hanggono.


"Sepertinya tuan besar melewatkan makan siang dan makan malamnya. Dan ini tidak ada jawaban, apa tuan besar sakit?" gumam pelayan.


Pelayan itu kemudian memaksa masuk, dan mendapati Hanggono tidak sadarkan diri. Pelayan itu kemudian berteriak meminta tolong. Dan berkat bantuan security dan supir, Hanggono berhasil dilarikan ke rumah sakit.


"Om. Pelayan bilang kakek dilarikan ke rumah sakit," ujar Deva setelah selesai menerima telpon.


"A-apa? kok bisa? apa yang terjadi?" Egi langsung menarik selang infusnya dan Deva tidak bisa protes lagi.


"Dimana papa dirawat?" tanya Egi.


"Sayang. Kamu kan...."


"Sayang. Aku tidak perduli dengan nyawaku, aku rela mengorbankan nyawaku demi papa," tanpa sadar Egi sedikit melukai hati Deva.


"Kita jenguk bersama. Kakek di rawat di rumah sakit ini juga," ujar Deva.


Egi tidak ingin membuang banyak waktu. Dia bergegas melihat keadaan Hanggono, meski dengan menggunakan pakaian pasien.


"Pa. Papa kenapa pa?" baru saja membuka pintu, Egi sudah memberondong Hanggono dengan pertanyaan. Dan ternyata disana sudah ada Rizwan dan istrinya. Serta Decky yang membawa Olivia.


"Apa yang terjadi kak?" tanya Egi pada Rizwan, karena Hanggono masih memejamkan mata.


"Kata pelayan papa melewatkan makan siang dan makan malamnya. Mungkin papa lemas, karena tidak mendapatkan asupan makanan." Jawab Rizwan.


"Dan yang bertanggung jawab semua yang terjadi tentu saja Om. Dia memilih tinggal bersama Om, karena dia percaya Om bisa menjaganya dengan baik. Tapi apa yang terjadi sekarang? semenjak menikahi janda, kamu jadi terbuai dan lalai," timpal Decky.


"Sebaiknya tutup mulutmu yang ngakunya berpendidikkan itu. Atau aku akan menyumpalnya dengan cabai satu ton!" hardik Deva yang membuat semua orang terkejut, termasuk Hanggono yang langsung terbangun dari pingsannya.


"Lancang! bocah ingusan, beraninya kamu membentakku. Kamu pikir kamu itu siapa?" hardik Decky.


"Kamu akan lihat aku siapa, kalau aku sudah berhasil mencabut semua rambut dikepalamu itu." Jawab Deva.

__ADS_1


Diluar dugaan, Deva langsung menjambak Decky, dan sangat sulit dilepaskan. Namun saat Decky ingin meninju perut Deva, Egi mencengkram tangan keponakkannya itu.


__ADS_2